Guru dalam Sanubariku

Secara umum, peran guru merupakan faktor penentu tinggi rendahnya kualitas output pendidikan. Namun demikian, untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adalah kemampuan professional, faktor kesejahteraan, dan lain-lain.

Ketukan palu di tangan wakil ketua DPR Zaenal Ma’arif yang membahana, menandai disahkannya RUU Guru dan Dosen menjadi UU.ketukan itu adalah akhir dari proses panjang pembahasan RUU yang menyita perhatian banyak kalangan pendidikan, masyarakat dan politisi.

Tepatnya 6 Desember 2005. Dengan disahkannya menjadi Undang-Undang, maka Negara kita mempunyai payung hukum untuk menata dan membangun hari depan guru dan dosen. Sehingga mereka akan menjadi tenaga professional dan bermartabat dan memiliki masa depan yang cerah. Dengan demikian, putera-puteri terbaik bangsa akan memilih  profesi guru dan dosen, sehingga nantinya kita akan memperoleh tenaga guru dan dosen yang lebih bermutu.

Sertifikasi

Sertifikasi itu akan menimbulkan dampak positif yang besar terhadap profesi guru di tanah air. Selain meningkatkan kualitas guru juga ada pengakuan pemerintah terhadap profesi guru. Tapi, harus ada lembaga yang benar-benar independen yang akan menerbitkan sertifikat. Selain agar tidak ada campur tangan pemerintah, juga dimaksudkan untuk menghindari pemalsuan dan permainann dalam penerbitan sertifikat.

Dalam upaya sertifikasi, pemerintah, harus mempermudah dengan memberi prioritas bagi mereka yang telah lama mengabdi dan menggunakan azas proporsional yang berkeadilan antara guru dan dosen, negeri maupun swasta.

Pelaksanaan sertifikasi kompetensi maupun sertifikasi profesi hendaknya dilaksanakan secara obyektif dan transparan serta tidak meminggirkan guru dan dosen yang belum mampu. Selain itu keberpihakan terhadap guru-guru dan dosen swasta non PNS supaya sungguh-sungguh diwujudkan secepatnya. Karena, merekalah penyumbang jasa yang ikhlas dan dedikatif terhadap usaha mencercaskan bangsa selama ini.

Pertanyaannya kemudian, kenapa dalam sertifikassi guru pemerintah tidak memaksimalkan program sebelumnya? Ini mungkin suudz-dzon penulis, kemungkinan hanya sekedar ganti kebijakan karena yang lama dinilai belum memadai.

Selama ini, sertifikat pendidik diberikan jauh dari logika professional. Malah di beberapa perguruan tinggi, pemberiannya berselemak nuansa KKN dan saling menguntungkan antara lembaga pemberi dan penerima. Sehingga hanya dijadikan “barang dagangan” yang siap untuk diperjualbelikan sebagai penambah tunjangan guru.

Hal ini memunculkan adanya upgrade habis-habisan oleh LPTK-termasuk Universitas eks IKIP-terhadap sertifikat mengajar. Sertifikat mengajar ini menjadi sangat penting dan bernilai, usai UU Guru dan Dosen disahkan. Karena berdasarkan sertifikat itu, guru dan dosen bisa mendapatkan berbagai fasilitas.

Kondisi nyata di lapangan menunjukkan  dari 1,6 juta guru di Indonesia tak satupun yang memegang sertifikat mengajar. Ini menyedihkan sekaligus membuka peluang bagi pihak tertentu untuk menggenot habis-habisan pengeluaran sertifikat pendidik. Jika ini terjadi, kiamat dunia pendidikan Indonesia berada di ambang mata.

Karena itu, usai UU Guru dan Dosen disahkan pemerintah wajib mengambil langkah ekstra cepat untuk mengeluarkan peraturan tentang sertifikasi terlebih dahulu, kemudian menyusun instrument peraturan perundang-undangan yang lain. Salah satu langkah itu adalah mengoversi akta mengajar (Akta IV) yang dimiliki guru menjadi sertifikat mengajar seperti tang dituntut UU Guru dan Dosen.

Nunggu Angin Segar

Pemberian tunjangan profesi bagi kelompok guru merupakan harapan yang harus di realisasikan secara kontinyu. Juga kepada dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan masyarakat dari sumber APBN/APBD, sebagaimna tertuang dalam pasal 53 merupakan angin segar bagi PTS maupun dosen non-PNS.

Akan tetapi kemampuan anggaran Negara/daerah untuk mereaalisasikan sepenuhnya komitmen tersebut belum final. Dalam arti detail komitmen tersebut baru akan tertuang dalam peraturan pemerintah sebagaimana diatur dalam ayat (4). Bila kemampuan anggaran Negara/daerah tidak mampu memenuhi jumlah tunjangan profesi yang telah ditentukan secara imperative pada ayat (2) maka beban tersebut jatuh pada anggaran PTS yang bersangkutan.

Padahal ketika UU Guru dan Dosen masih berupa RUU, harapan besar untuk meningkatnya kesejahteraan kalangan pendidik baik swasta maupun negeri secara drastic sempat terbit benderang. Ketika itu dijanjikan kesejahteraan mereka meningkat drastic dengan gaji yang akan ditetapkan sebesar dua kali gaji pokok PNS, plus tunjangan fungsional sebesar 50 persen dari gaji pokok.

Negara melalui UU ini, benar-benar menjadi tumpuan harapan untuk memperbaiki kesejahteraan pendidik. Semua orang tahu, kesejahteraan adalah salah satu faktor penting dan selama ini menjadi masalah bagi peningkatan kualitas guru. Kalau hal itu tidak direalisasikan, ya tak ubahnya dengan peppesan kosong. Sebab isinya hanya menegaskan bahwa guru adalah profesi. Sementara berkait dengan kesejahteraan guru belum diperhatikan. Sama artinya dengan mengulang lagu lama yang menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Harapan Kedepan

Menjadi harapan besar tentang peran profesionalitas guru dan dosen tidak hanya sebagai pengajar, namun sekaligus ilmuwan yang mempunyai sensivitas terhadap isu-isu social, politik, ekonomi, dan masalah-masalah sekitar yang sedang berkembang. Untuk itu, kompetensi guru tidak dibatasi pada sertifikasi saja, namun pada kemampuan dan keahlian mengaitkan, menganalisis, dan mendalami masalah dan realitas konkret sekitar dengan referensi buku-buku mutakhir. Kemapuan dan keahlian itu menjadi bumbu, contoh, dan sajian pembelajaran yang menarik, memotivasi dan menggairahkan karena member pencerahan sekaligus mendekatkkan peserta didik pada keadaan social sekitar.

Idealis pendidik, meminjam istilah sokrates adalah eutike, bidan yang membantu peserta didik melahirkan inovasi dan pengetahuan yang relevan sebagai pedagogi, yakni membebaskan peserta didik dari alienasi teoretis dan kehidupan. Sehingga layak disebut oleh peserta didik “Terpujilah Wahai Engkau Bapak Ibu Guru/Namamu Akan Selalu Hidup Dalam Sanubariku

*Alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus tahun 2003, mantan sekretaris redaksi jurnal Edukasi IAIN Walisongo Semarang 2006-2007, mantan ketua umum maqdis (Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang 2007-2008) dan sedang studi pada program pascasarjana pada almamater yang sama.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply