Kenapa Bunyinya Khoir an-Nas, Anfa’uhum li An-Nas?

Sekilas, hadits yang sudah terpatri di otak ini seperti angin lalu. Sejak kecil hingga dewasa, mungkin kita, terutama saya, sudah ratusan kali mendengar bunyi hadits ini, lengkap dengan sanad, rawi maupun asbabul wurud. Sejak kecilpun kita mafhum dengan artinya. Lantas?

Sebentar. Begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, saya sedikit terusik dengan prilaku beberapa kawan yang tidak mau berkumpul dengan orang lain, entah karena berbeda agama, warna kulit bahkan pilihan partai. Ia memang bergaul dengan orang “lain,” tapi very limited. Sebatas mengenal. Itu saja.

Kebetulan kawan tadi seorang muslim. Ia pun hanya bergaul dengan teman muslim yang kebetulan orientasi partai, lingkungan hingga jenis pekerjaannya sama. Ia sendiri mungkin lupa bahwa ada “muslim” lain disekitarnya. Sepertinya, yang disebut manusia itu hanya orang muslim saja.

Saya pun langsung teringat dengan bunyi hadits diatas yang artinya kurang lebih, sebaik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Sewaktu saya masih kecil dulu, dengan lingkungan yang terbatas, yang saya anggap manusia tentu para tetangga, teman-teman sekolah, maupun teman bermain yang kebetulan semuanya muslim.

Tetapi, seiring perjalanan waktu, mata saya menjadi terbuka bahwa yang namanya manusia itu sungguh luas. Keterbukaan yang saya alami berawal ketika almarhum bapak saya membeli sebuah rumah yang kebetulan kanan-kirinya orang Cina dan non-muslim. Oleh ibu, saya selalu diwanti-wanti agar bersikap baik dan hormat kepada tetangga, siapapun dia.

Saya pun ingat hadits yang kira-kira artinya berbunyi “tidak beriman seseorang hingga ia memuliakan tetangganya.” Betapa dahsyat sabda Nabi ratusan abad yang lalu. Nabi tidak membatasi muliakanlah tetanggamu yang muslim saja. Tidak! Nabi hanya menyebut tetanggamu. Siapakah tetangga itu? Pada waktu kecil dulu, saya diajari bahwa definisi tetangga adalah 40 rumah yang berada di belakang, depan, kanan dan kirimu.

Saya menangkap bahwa pesan tersirat yang hendak disampaikan Nabi melalui hadits diatas adalah betapa penting bagi kita untuk menjaga ukhuwah basyariyah. Ukhuwah basyariyah ini berarti ajaran bagi kita untuk senantiasa menjaga tali silaturahmi kepada semua manusia, siapapun dia dan dari manapun asalnya. Apakah kita hendak menolong seseorang, tetapi bertanya apa agamamu dan dari mana asalmu? Tentu tidak lucu.

Karena itu, sejak zaman onta, Nabi sudah berkumandang sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Tidak hanya bermanfaat bagi umat muslim semata!

Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah tahun 2000. Sekarang pengurus NU Adelaide-South Australia.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply