Pendidikan Nurani dalam Ramadan

RAMADAN sebagai bulan suci Islam telah memberikan aroma segar dalam kehidupan beragama. Semangat keagamaan masyarakat terasa makin meningkat dibanding bulan sebelumnya. Masjid atau musala yang biasanya sepi jamaah, menjadi penuh. Kegiatan seremonial pun menjadi padat, mulai tadarus, istighatsah, tarawih, i’tikaf, majlis ta’lim dan pesantren kilat.

Para politisi yang selalu ”berseteru” pun tampak rukun. Begitu pula demo kenaikan harga BBM juga menjadi redup. Dunia penyiaran pun turut serta mensakralkan bulan ini. Televisi atau radio dengan ikhlas menyiarkan acara-acara keagamaan hampir tiap detik mulai waktu sahur hingga buka puasa. Ini artinya bahwa kesucian Ramadan benar-benar menjadi momentum berharga dalam mewujudkan pendidikan nurani umat.

Pendidikan nurani yang dimaksudkan adalah proses penataan diri untuk menjadi umat yang bertakwa. Di luar Ramadan terkesan sulit untuk menjalankan amanah tersebut. Karena secara sosiologis kondisi masyarakat di luar Ramadan tampak bebas. Mereka bisa saja melakukan kehendak yang dimiliki dan didukung dengan fasilitas yang tersedia.

Namun di bulan Ramadan , aktivitas keseharian dibatasi dengan kelelahan kondisi fisik, minimnya fasilitas dan tuntutan waktu. Kondisi fisik menjadi kurang energik karena menahan lapar dan dahaga. Fasilitas hiburan berkurang dan sebagian warung makan tutup. Sementara, waktu terlihat cepat berlalu, karena harus bangun tengah malam untuk sahur. Oleh sebab itulah, bulan ini sangat efektif untuk mencetak generasi muslim yang andal.

Puasa merupakan ujian tingkat tinggi. Umat Islam diuji untuk menahan seluruh hawa nafsunya; makan, minum, bersetubuh dan nafsu jelek lainnya. Bagi yang tahan uji, puasa menjadi ibadah yang terasa nikmat dan ringan. Lain halnya bagi yang gagal ujiannya, puasa dianggap ibadah yang menyengsarakan diri.

Makna Besar Ramadan

Melihat kondisi tersebut, Ramadan mempunyai tiga makna besar.

Pertama, sebagai bulan edukatif. Artinya, perjalanan hari demi hari dilalui dengan proses pendidikan nurani dalam menata mental umat. Sadar atau tidak, perjalanan puasa tidak mungkin mulus tanpa penataan mental yang kokoh. Target yang dicapainya menjadi tepat manakala umat Islam sadar menjalankan amalan Ramadan secara ikhlas. Rasulullah bersabda bahwa bagi siapa yang berpuasa dengan ikhlas, Allah akan mengampuni semua dosanya yang telah berlalu.

Kedua, mengajak tunduk pada perintah Allah. Sebelum perintah puasa Ramadan dijalankan, puasa sudah dilaksanakan sejak Nabi Nuh ketika selamat dari banjir bandang. Puasa Ramadan juga sudah diwajibkan pada orang Yahudi (kaum Musa) dan Nasrani (kaum Isa). Namun teknis peribadahannya berbeda dengan Islam, sebab Yahudi dan Nasrani berpuasa selama 50 hari.

Pada permulaan Islam, puasa juga sudah diperintahkan tiga hari setiap bulan dan puasa Asyura. Setelah perintah puasa Ramadan datang, perintah puasa setiap bulan dan puasa Asyura beralih menjadi sunnah.

Kehadiran perintah puasa Ramadan sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah: 183 memberikan dampak positif dalam bertunduk pada ajaran Allah. Walau puasa relatif berat untuk diamalkan, tetapi ketika perintah dijalankan dengan semangat tunduk pada Allah, maka beban terasa ringan. Inilah yang dimaksud dengan target puasa, menjadikan orang bertakwa (la’allakum tattaqun).

Menjadi muslim yang bertakwa bukan berarti hanya takut pada larangan Allah semata. Ia dituntut pula mengabdikan dirinya dengan menjalankan semua perintah Tuhan. Hal lain yang menjadi tuntutan bagi ”calon manusia bertakwa” adalah melestarikan perbuatannya menjadi kebiasaan hidup. Amalan yang tidak hanya bersifat seremoni Ramadan saja, melainkan berjalan sepanjang waktu. Karena banyak sekali orang yang tampak alim, rajin ibadah dalam Ramadan, tetapi setelah Ramadan habis ia kembali malas ibadah. Maka, Ramadan menjadi kunci keberhasilan atau kegagalan umat untuk mematuhi perintah Tuhan.

Ketiga, kepedulian terhadap fakir miskin. Dari dimensi sosial, Ramadan mengajak umat Islam untuk prihatin dan perhatian terhadap dhu’afa (kaum lemah). Bagi orang kaya, mestinya ia bisa saja makan di hotel berbintang dengan menu luar negeri. Namun karena ia berpuasa, ia rela meninggalkan itu. Dengan demikian, rasa lapar dan dahaga yang dirasakan oleh fakir miskin juga ia rasakan dalam bulan ini.

Kesamaan rasa tersebut secara langsung menjadikan motivasi bagi aghniya‘ untuk peduli pada fakir miskin. Kepedulian itu tidak sepatutnya berhenti pada perasaan saja, tetapi ditingkatkan pada kepedulian riil, berupa amalan zakat dan sedekah. Uluran tangan para aghniya‘ akan diterima dengan rasa gembira oleh fakir miskin. Fenomena ini akan mewujudkan Ramadan sebagai bulan kedermawanan.

Sikap dermawan dalam Ramadan ini tidak lepas dari perilaku Nabi. Dalam riwayat Ibnu Abbas dijelaskan bahwa Rasulullah adalah seorang yang paling dermawan. Nabi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan. Sesungguhnya Malaikat Jibril telah bertemu dengan Nabi setiap tahun pada bulan Ramadan hingga berakhir Ramadan. Rasulullah membaca Alquran di hadapannya. Apabila Rasulullah bertemu dengan Malaikat Jibril, maka Nabi adalah orang yang paling dermawan dalam hal-hal kebaikan melebihi angin kencang yang diutuskan.

Posisi Hati

Pengekangan nafsu dalam Ramadan mempermudah pelaksanaan pendidikan nurani. Sebab substansi pendidikan nurani ada pada ketenangan hati dan stabilitas nafsu. Pelaksanaan pendidikan nurani ini didukung dengan ibadah Ramadan yang berjalan secara bertahap, mulai sahur hingga buka. Dalam pelaksanaan puasa, tarawih dan tadarus Alquran juga mendukung proses pendidikan nurani. Hasil pendidikan nurani adalah membentuk manusia sadar terhadap peribadahannya dan peka sosial.

Kesadaran dalam diri manusia tumbuh dalam hati, sehingga untuk membentuk ketakwaan perlu sekali menata ketenangan hati dengan moral yang dikemas dengan pendidikan nurani. Namun sebaliknya, dosa dan kekafiran juga berkembang dalam hati jika tidak disertai dengan pendidikan nurani.

Hati atau nurani dalam Islam menjadi kunci dalam menemukan kesadaran ketuhanannya. Maka bagi Al-Ghazali, hati disebut sebagai acuan yang harus dikembangkan dalam pencapaian kehidupan rohani (Budi Munawar Rahman: 2004). Bahkan ia menafsirkan hati sebagai esensi dari kemanusiaan itu sendiri.

Ghazali membandingkan hati dengan sebuah kaca yang mencerminkan segala sesuatu di sekelilingnya. Jika hati ada dalam situasi yang kacau, di mana akal-budi -yakni potensi yang dapat mengembangkan suara hati ini- ditaklukkan dan tak dikenali, maka hati menjadi ”mendung dan gelap”. Artinya, orang mengalami perasaan-perasaan negatif, dan berakibat menjadi kurang cerdas secara emosi dan spiritual.

Dengan demikian, proses pendidikan puasa merupakan pusat pemberdayaan sumber daya manusia, agar mampu menumbuhkembangkan kehidupan yang saleh dengan penuh kesadaran pada Tuhannya.

Berangkat dari arti penting pendidikan nurani ini, Ramadan memiliki nilai historis dan filosofis, bahwa pendidikan dalam Ramadan telah ikut mewarnai, menjadi landasan moral dan etik dalam proses pemberdayaan jati diri muslim. Hal penting yang perlu dilakukan adalah melaksanakan pendidikan nurani sepanjang masa.

Penulis adalah Alumni Qudsiyyah dan Dosen IAIN Walisongo Semarang

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply