Arsip Posting pada Bulan October, 2010

RAIH JUARA DI YOGYAKARTA

KUDUS-Ambalan KHR Asnawi Madrasah Qudsiyyah Kudus berhasil menorehkan prestasi di Yogyakarta. Dalam Temu Karya Pramuka Penegak IV Jateng-DIY pada 28 – 31 Oktober tersebut,  tim Pramuka MA Qudsiyyah tersebut sukses meraih juara umum III. Juara umum pertama diraih oleh MAN 3 Yogyakarta (putra) dan MAN 1 Klaten (putri) di posisi ke dua.

Tim yang beranggotakan 9 orang tersebut sukses menorekan beberapa kejuaraan dalam perkemahan di kota pelajar tersebut. Pada kegiatan yang digelar di Buper Rama Shinta Klompleks Prambanan, Sleman, Yogyakarta tersebut berhasil memboyong lima piala juara dan satu tropy juara umum III.

Prestasi tersebut disumbangkan melalui seni kaligrafi, pentas seni drama, kreasi masakan, pidato bahasa Jawa, dan Lomba Tulis Karya Ilmiah (LKTI). Seni Kaligrafi yang ditulis Tajus Syarof dan Miftakhul Falah ini sukses meraih juara pertama. Pentas seni dan drama yang melakonkan drama berjudul “Desa Kaujon” juga sukses berada di puncak. Disusul dengan kreasi makanan yang menggunakan bahasan dasar ketela juga meraih juraa pertama.  Sedang Pidato Bahasa Jawa meraih jura II serta LKTI yang ditulis oleh Ikhwan Syahri dan Arinal Haq meraih juara ketiga. (*)

DOKTRIN AL-FARAID AL-SANIYYAH

(RESENSI: KITAB Al-FARAID AL-SANIYYAH)

 

MUNGKIN banyak orang yang hanya mendengar kata ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) dan belum mengetahui apa itu ahlussunnah wal jama’ah. Ahlussunnah wal jama’ah dalam arti luas adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi dan para sahabat-sahabatnya.  Sebenarnya istilah ini berikut pengertiannya adalah dari Nabi sendiri ketika menjawab pertanyaan sahabat tentang satu golongan (dari 73) yang akan masuk surga karena sebelumnya Nabi bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan yang 72 akan masuk neraka sedang yang satu golongan masuk surga. Dan satu golongan yang dimaksud Nabi inilah golongan ahlussunnah wal jama’ah.

Kitab al-Faraid al-Saniyyah yang disusun oleh KH M Sya’roni  Ahmadi adalah suatu kita yang mengulas tentang Aswaja yang digali dari dalil-dalil Al-Quran, Hadis, dan aqwalul ulama yang menjadi dasar bagi doktrin-doktrin (ajaran) aswaja. Penyusunan kitab ini dilatarbelakangi oleh adanya golongan lain yang membantah dan menganggap bid’ah terhadap doktrin-doktrin ahlussunnah wal jama’ah. Kitab ini berusaha menjawab anggapan-anggapan yang kurang pas tentang doktrin aswaja dengan menggunakan dasar dalil-dalil yang kuat.

Sebenarnya bid’ah mempunyai arti secara lughowi dan syar’i. Secara lughawi bid’ah artinya memunculkan sesuatu yang baru (tidak ada pada zaman Nabi), baik berupa ibadah maupun adat. Bid’ah dalam arti ini ada 5 macam, pertama bid’ah wajibah seperti mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof. Kedua, bid’ah mendubah seperti, membangun madrasah dan pondok. Ketiga bid’ah makruhah seperti memberi hiasan pada masjid. Keempat bid’ah mubahah seperti mode pakain zaman sekarang yang tidak bertentangan dengan syara’. Dan kelima, bid’ah muharramah seperti aqidah yang batal dan melenceng dari sunnah Nabi. Sedang arti bid’ah secara syar’i ialah menambah atau mengurangi tatanan syara’ yang dilakukan setelah masa sahabat, dengan catatan tidak ada keterangan dari syara’ baik secara qauli atau fi’li baik sharih maupun isyarah.

Ulama’ salaf menerangkan bahwa pokok-pokok bid’ah dalam masalah aqidah akanmerujuk pada 7 kelompok yaitu, Mu’tazilah (pimpinan Washil bin Atha’), Syi’ah (pimpinan Abdullah bin Saba’), Khawarij (pimpinan Nafi bin Azraq), Murji’ah (pimpinan Jahm bin Sofwan), An-Najjariyah (pimpinan Muhammad bin Husain an Najjar), Al-Jabariyah (pimpinan Tholuth al-A’sham dan Jahm bin Sofwan), dan Al- Mujasiyah (pimpinan Ibnu Taimiyyah).

Keseluruhan dari tujuh golongan di atas mempunyai aqidah-aqidah yang batal. Pada ukuran tertentu menurut Khawarij misalnya orang yang melakukan dosa besar dihukum kafir, sedang menurut Mu’tazilah ia berada pada posisi manzilatun bainal manzilatain (tidak kafir  dan tidak mukmin) sedangkan menurut doktrin Aswaja, mereka hanya fasiq tetapi masih mu’min (Hal 5-6).

Doktrin-doktrin Aswaja yang digugat oleh golongan lain antara lain tentang diperbolehkannya wasilah, adanya syafa’at, membaca sejarah maulid Nabi, membaca manaqib, dan membaca talqin. Menurut kitab ini semua praktik tersebut tidak melanggar syara’ dan pernah diajarkan Nabi walaupun tidak bersifat ekplisit.

Pengertian wasilah yang dimaksud di sini ialah meminta sesuatu kepada Allah melalui perantara orang lain, baik masih hidup maupun sudah meninggal. Hujjatul Islam, Al- Ghazali mengatakan bahwa orang yang dapat diambil berkahnya semasa hidup dapat pula diambil berkahnya sesudah meninggal. Dari sini, kita tahu bahwa di dalam berwasilah tidak ada unsur menyekutukan Allah karena orang yang berwasilah hanya meminta kepada Allah namun melalui perantara (tidak langsung). Nabi dan para sahabat sendiri pernah mempraktikannya wasilah dengan perantara orang yang sudah meninggal (hal 12-13).

Berkenaan syafaat, Rasulullah SAW bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat dan orang yang pertama kali diterima syafa’atnya dan aku tidak sombong” (HR Ahmad dan Tirmidzi). Dari hadis ini kita tahu akan adanya syafaat yang diberikan oleh Nabi. Sedang arti syafa’at sendiri adalah memintakan suatu kebaikan dari pihak lain untuk orang lain. Selain Nabi Muhammad, pihak yang juga bisa memberikan syafa’at antara lain para Nabi, para ulama dan syuhada’. Akan tetapi yang bisa memberikan al-Syafatul Udzma hanya Nabi Muhammad SAW.

Maulid Nabi misalnya dengan al- Barzanji sebenarnya hanyalah membaca sejarah Nabi. Manaqib juga hanya membaca sejarah para wali. Pelaksanaan ritualnya pun tidak menyimpang  dari aturan syara’. Alangkah tidak adil kalau kita diperbolehkan membaca sejarah para pejuang bangsa sedangkan membaca sejarah Nabi dan wali tidak dibenarkan. Dalam konteks ini Nabi pernah bersabda: “Barang siapa menulis sejarah seorang mu’min sama halnya ia menghidupkanya, dan barang siapa membaca sejarahnya bagaikan ia menziarahinya dan barang siapa menziarahinya maka ia akan mendapatkan keridha’an Allah di surga” (hal 7).

Adapun membaca Talqin, walaupun Nabi semasa hidup tidak pernah melakukannya dan ketika meninggal juga tidak ditalqin, namun Nabi pernah memerintahkan sahabat untuk mentalqin saudaranya yang sudah meninggal. Talqin ini didasarkan karena orang yang sudah meninggal bisa mendengar ucapan orang yang masih hidup sebagaimana sabda Nabi: “Demi dzat yang menguasai diriku, kalian tidak lebih mendengar terhadap apa yang aku ucapkan dari apa mereka (orang yang sudah meninggal). HR Bukhari Muslim (hal 17).

Pada bagian akhir kitab ini disebutkan syarat-syarat seseorang yang bisa menjadi mufti (orang yang  memberikan keterangan hukum) yaitu, harus mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, hadis-hadis yang berhubungan dengan hukum, kaidah-kaidah fiqih, furu’iyyah fiqh, perbedaan pendapat di antara para imam, madzhab yang sudah tetap, Nahwu dan shorof, ilmu bahasa ilmu ushul, ilmu ma’ani, ilmu bayan, ilmu menafsiri ayat, sifat-sifat para rawi hadis, hal-hal yang sudah disepakati dan yang masih khilaf, Nasikh mansukh, dan Asbabun Nuzul (hal 40).

Dengan membaca kitab ini wawasan kita tentang ahussunnah wal jama’ah akan bertambah luas dan akan menyadari bahwa doktron-doktrin aswaja benar-benar sesuai degan Nabi melalui sunnah-sunnahnya. (*)

  • Judul     : Al-Faraid Al-Saniyyah
  • Penulis  : KH. M. Sya’roni Ahmadi
  • Tebal     : 47 Halaman

diambiil dari majalah EL-QUDSY edisi 8 tahun 2000

MEMBEDAH MISTERI AL-QUR’AN

(RESENSI: Kitab al-Tashrih al-Yasir)

 

Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang diberikan kepada Rasul Muhammad sebagai ktab suci bagi kaum muslim, sekaligus menggantikan kitab-kitab yang terdahulu. Berfungsi sebagai pengganti, tentunya al-Qur’an lebih sempurna dan lebih indah dari kitab-kitab sebelumnya, baik isi maupun sastra yang terkandung di dalamnya. Dan sebagai sumber hukum kaum muslim, tentunya di dalamnya terkandung segala macam ilmu yang dibutuhkan. Akan tetapi sebagian besar dari kita belum bisa memahami sastra yang terkandung di dalamnya. Sehingga banyak yang salah dalam memahami al-Qur’an.

Mungkin inilah salah satu alasan bagi Syekh Abdul Aziz al-Zamzami untuk menyusun nadhom ilmu tafsir yang mempelajari al-Qur’an dari segi penurunannya, sarat-sarat pembacannnya, lafal-lafal, arti yang berhubungan dengan lafal, yang berhubungan dengan hukum, dan lain sebagainnya.

Karena karangan Syekh al-Zamzami ini masih berupa nadhom atau syair, jadi bagi pemula masih kesulitan untuk memahami apa yang terkandung dalam syair-syair tersebut. Untuk itulah, maka KH. M Sya’roni Ahmadi menyusun sebuah kitab yang menjelaskan isi kandungan dalam nadham ilmu tafsir tersebut. Bagi kalangan santri, hal demikian dikenal dengan istilah syarah.

Kitab tersebut kemudian diberi nama al-Tashrih al-Yasir dengan harapan agar mudah difahami oleh para pemula. Karena memang diperuntukkan bagi pemula, maka penjelasan dalam kitab ini menggunakan bahasa yang sederhana dan susunanannya begitu sistematis. Penjelasan-penjelasan kitab ini sendiri dinuqil dari kitab Nuqoyah buah karya imam al-Islam Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuti al-Syafi’i.

Sangat tepat sebuah syair yang mengatakan “Sebenarnya semua ilmu sudah terdapat dalam al-Qur’an, tetapi keterbatasan kapasitas akal manusialah yang menyebabkan belum tergalinya ilmu tersebut”.

Kitab al-Tashrih al-Yasir ini disusun oleh KH Muhammad Sya’roni Ahmadi kira-kira pada tahun 1972 M/1392 H dengan tebal sejumlah 79 halaman. Fihris (daftar isi) kitab ini dimulai dengan pegertian ilmu tafsir itu sendiri, kemudian baru memasuki pokok pembahsan imu tafisr, yang dimulai dengan muqoddimah dan diakhiri dengan sebuah khatimah.

Sedang pembahasannya terbagi dalam enam bagian, yakni bagian yang membahas tentang penurunan al-Qur’an, cara-cara pembacaannya, lafad-lafadnya, arti-arti yang berhubungan dengan lafad, dan lain sebagainya.

Untuk mempelajari al-Qur’an, terlebiih dahulu kita harus mengetahui apa itu al-Qur’an. Di dalam muqoddimah kitab ini diterangkan, al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang satu surat saja sudah bisa I’jaz (mengalahkan musuh). Ini merupakan definisi dari ulama salaf. Sedangkan menurut ulama’ khalaf ditambah dengan kalimat  “dan merupakan ibadah jika dibaca”. Hal ini dimaksudkan untuk mengeliminir ayat-ayat yang sudah di-nasakh bacaannya.

Salah satu persolan yang jadi pembahasan adalah tentang tafsir dan ta’wil. Apakah maksud tafsir dan ta’wil itu sama apa berbeda? Dalam muqoddimah ini juga diterangkan bahwa tafsir dan ta’wil itu berbeda. Sebab, tafsir adalah memastikan kehendak Allah dalam mengartikan suatu kalam. Dan hal ini tidak diperbolehkan kecuali menggunakan keterangan dari Nabi atau sahabat yang hidup di masa turunnya al-Qur’an. Sedangkan ta’wil hanya mengartikan kalamullah dengan arti yang lebih pantas atau masyhur.

Pada bagian pertama kitab ini, menerangkan tentang proses diturunnya al-Qur’an, macam-macam surat/ayat, mulai dari surat makiyyah, madaniyyah, hadlori, safari, dan sebagainya. Dalam hal ini diterangkan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi tidak langsung berupa kiab yang utuh, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kondisi. Di bagian ini juga diterangkan tentang asbabun nuzul di mana disebutkan bahwa asbabun nuzul dibagi menjadi empat, yaitu marfu’, munqothi’, nurani, dan mardud.

Pada bagian kedua, diterangkan bahwa qira’ah al-Qur’an ada 3 macam, yakni qira’ah mutawatir (qiro’ah sab’ah), qiro’ah ahad, dan qiro’ah syadzah. Dari ketiga qiro’ah tersebut, yang boleh digunakan untuk membaca al-Qur’an hanya qira’ah mutawatir. Untuk lebih memperjelas keterangan maka dituliskan daftar para qurro’ beserta para rawinya, baik dari qiro’ah mutawatir, ahad, maupun syadzah.

Pada bagian ketiga membahas tentang cara-cara pembacaan al-Qur’an, salah satu hal yang dibahas adalah waqaf. Waqaf menjadi suatu hal yang penting karena jika kita berhenti pada tempat yang benar bisa-bisa merubah arti dari al-Qur’an. Jadi kita harus tahu tentang waqaf agar tidak salah dalam membaca dan mengartikan ayat.

Waqaf, dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu waqaf mukhtar, wakaf kafi al jaiz, waqaf hasan al mafhum, dan waqaf qabih al matruk. Selain itu dijelaskan juga menerangkan tentang imalah, mad, tahfiful hamzah, dan idgham.

Setelah itu kita menemukan keterangan tentang lafal-lafal al-Qur’an pada bagian ke lima. Di sini kita akan dikenalkan pada majaz, tasbih, isti’arah, dan sebagainya. Keterangan ini menjadi sangat penting karena akan mengetahui bahwa lafal-lafal al-Qur’an tidak cukup hanya diartikan menurut arti lughowi karena di dalamnya terkandung sastra yang sangat dalam.

Sebagaimana diketahui, bahwa al-Qur’an merupakan sumber hukum bagi kaum muslim, maka kita akan dikenalkan bagaimana para ulama’ dalam mengambil hukum dari al-Qur’an. Ada yang dengan cara menakhsis suatu ayat dengan ayat yang lain, ada yang dengan hadis, atau dengan cara di-ta’wil, dan sebagainya.

Pada bagian akhir dari pokok bahasan ilmu tafsir membahas tentang arti lafal yang berhubungan dengan lafal. Sebenarnya pembahasan ini sudah dijelaskan dalam ilmu ma’ani, tetapi karena hubungannya yang erat dengan al-Qur’an maka hal ini juga dibahas tentang fashl, washl, ijaz, ithnab, musawah, dan qashr.

Selain penjelasannya menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas, setiap pembahasan dalam kitab ini dilengkapi juga dengan contoh-contoh sehingga kita lebih mudah memahaminya.

Untuk melengkapinya di bagain akhir kitab juga disusun tentang nama-nama yang terdapat dalam al-Qur’an, baik itu nama para Nabi, malaikat, maupun yang lain. Selain nama asli juga disebut nama-nama kunyah yang terdapat dalam al-Qur’an. Untuk nama kunyah hanya ada satu nama di dalam al-Qur’an yakni Abu Lahab, yang terdapat dalam surat al-Lahab juz 30. Sedang nama laqab seperti al-Masih yaitu laqab dari Nabi Isa.

Selaian itu juga dijelaskan tentang nama-nama yang disamarkan, seperti mu’minum min ali fir’aun (surat Ghafir ayat 28). Yang dimaksud tersebut adalah fizqil, selain itu masih banyak nama-nama yang disamarkan dalam al-Qur’an.

Inilah sedikit gambaran tentang kitab al-Tashrihul al- Yasir buah karya KH M Sya’roni Ahmadi. Jika anda ingin mendapatkan rahasia yang terkandung dalam kitab ini maka pelajarilah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Jadi tunggu apa lagi … (*)

majalah El-Qudsy Edisi 10 tahun 2002