DOKTRIN AL-FARAID AL-SANIYYAH

(RESENSI: KITAB Al-FARAID AL-SANIYYAH)

 

MUNGKIN banyak orang yang hanya mendengar kata ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) dan belum mengetahui apa itu ahlussunnah wal jama’ah. Ahlussunnah wal jama’ah dalam arti luas adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi dan para sahabat-sahabatnya.  Sebenarnya istilah ini berikut pengertiannya adalah dari Nabi sendiri ketika menjawab pertanyaan sahabat tentang satu golongan (dari 73) yang akan masuk surga karena sebelumnya Nabi bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan yang 72 akan masuk neraka sedang yang satu golongan masuk surga. Dan satu golongan yang dimaksud Nabi inilah golongan ahlussunnah wal jama’ah.

Kitab al-Faraid al-Saniyyah yang disusun oleh KH M Sya’roni  Ahmadi adalah suatu kita yang mengulas tentang Aswaja yang digali dari dalil-dalil Al-Quran, Hadis, dan aqwalul ulama yang menjadi dasar bagi doktrin-doktrin (ajaran) aswaja. Penyusunan kitab ini dilatarbelakangi oleh adanya golongan lain yang membantah dan menganggap bid’ah terhadap doktrin-doktrin ahlussunnah wal jama’ah. Kitab ini berusaha menjawab anggapan-anggapan yang kurang pas tentang doktrin aswaja dengan menggunakan dasar dalil-dalil yang kuat.

Sebenarnya bid’ah mempunyai arti secara lughowi dan syar’i. Secara lughawi bid’ah artinya memunculkan sesuatu yang baru (tidak ada pada zaman Nabi), baik berupa ibadah maupun adat. Bid’ah dalam arti ini ada 5 macam, pertama bid’ah wajibah seperti mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof. Kedua, bid’ah mendubah seperti, membangun madrasah dan pondok. Ketiga bid’ah makruhah seperti memberi hiasan pada masjid. Keempat bid’ah mubahah seperti mode pakain zaman sekarang yang tidak bertentangan dengan syara’. Dan kelima, bid’ah muharramah seperti aqidah yang batal dan melenceng dari sunnah Nabi. Sedang arti bid’ah secara syar’i ialah menambah atau mengurangi tatanan syara’ yang dilakukan setelah masa sahabat, dengan catatan tidak ada keterangan dari syara’ baik secara qauli atau fi’li baik sharih maupun isyarah.

Ulama’ salaf menerangkan bahwa pokok-pokok bid’ah dalam masalah aqidah akanmerujuk pada 7 kelompok yaitu, Mu’tazilah (pimpinan Washil bin Atha’), Syi’ah (pimpinan Abdullah bin Saba’), Khawarij (pimpinan Nafi bin Azraq), Murji’ah (pimpinan Jahm bin Sofwan), An-Najjariyah (pimpinan Muhammad bin Husain an Najjar), Al-Jabariyah (pimpinan Tholuth al-A’sham dan Jahm bin Sofwan), dan Al- Mujasiyah (pimpinan Ibnu Taimiyyah).

Keseluruhan dari tujuh golongan di atas mempunyai aqidah-aqidah yang batal. Pada ukuran tertentu menurut Khawarij misalnya orang yang melakukan dosa besar dihukum kafir, sedang menurut Mu’tazilah ia berada pada posisi manzilatun bainal manzilatain (tidak kafir  dan tidak mukmin) sedangkan menurut doktrin Aswaja, mereka hanya fasiq tetapi masih mu’min (Hal 5-6).

Doktrin-doktrin Aswaja yang digugat oleh golongan lain antara lain tentang diperbolehkannya wasilah, adanya syafa’at, membaca sejarah maulid Nabi, membaca manaqib, dan membaca talqin. Menurut kitab ini semua praktik tersebut tidak melanggar syara’ dan pernah diajarkan Nabi walaupun tidak bersifat ekplisit.

Pengertian wasilah yang dimaksud di sini ialah meminta sesuatu kepada Allah melalui perantara orang lain, baik masih hidup maupun sudah meninggal. Hujjatul Islam, Al- Ghazali mengatakan bahwa orang yang dapat diambil berkahnya semasa hidup dapat pula diambil berkahnya sesudah meninggal. Dari sini, kita tahu bahwa di dalam berwasilah tidak ada unsur menyekutukan Allah karena orang yang berwasilah hanya meminta kepada Allah namun melalui perantara (tidak langsung). Nabi dan para sahabat sendiri pernah mempraktikannya wasilah dengan perantara orang yang sudah meninggal (hal 12-13).

Berkenaan syafaat, Rasulullah SAW bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat dan orang yang pertama kali diterima syafa’atnya dan aku tidak sombong” (HR Ahmad dan Tirmidzi). Dari hadis ini kita tahu akan adanya syafaat yang diberikan oleh Nabi. Sedang arti syafa’at sendiri adalah memintakan suatu kebaikan dari pihak lain untuk orang lain. Selain Nabi Muhammad, pihak yang juga bisa memberikan syafa’at antara lain para Nabi, para ulama dan syuhada’. Akan tetapi yang bisa memberikan al-Syafatul Udzma hanya Nabi Muhammad SAW.

Maulid Nabi misalnya dengan al- Barzanji sebenarnya hanyalah membaca sejarah Nabi. Manaqib juga hanya membaca sejarah para wali. Pelaksanaan ritualnya pun tidak menyimpang  dari aturan syara’. Alangkah tidak adil kalau kita diperbolehkan membaca sejarah para pejuang bangsa sedangkan membaca sejarah Nabi dan wali tidak dibenarkan. Dalam konteks ini Nabi pernah bersabda: “Barang siapa menulis sejarah seorang mu’min sama halnya ia menghidupkanya, dan barang siapa membaca sejarahnya bagaikan ia menziarahinya dan barang siapa menziarahinya maka ia akan mendapatkan keridha’an Allah di surga” (hal 7).

Adapun membaca Talqin, walaupun Nabi semasa hidup tidak pernah melakukannya dan ketika meninggal juga tidak ditalqin, namun Nabi pernah memerintahkan sahabat untuk mentalqin saudaranya yang sudah meninggal. Talqin ini didasarkan karena orang yang sudah meninggal bisa mendengar ucapan orang yang masih hidup sebagaimana sabda Nabi: “Demi dzat yang menguasai diriku, kalian tidak lebih mendengar terhadap apa yang aku ucapkan dari apa mereka (orang yang sudah meninggal). HR Bukhari Muslim (hal 17).

Pada bagian akhir kitab ini disebutkan syarat-syarat seseorang yang bisa menjadi mufti (orang yang  memberikan keterangan hukum) yaitu, harus mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, hadis-hadis yang berhubungan dengan hukum, kaidah-kaidah fiqih, furu’iyyah fiqh, perbedaan pendapat di antara para imam, madzhab yang sudah tetap, Nahwu dan shorof, ilmu bahasa ilmu ushul, ilmu ma’ani, ilmu bayan, ilmu menafsiri ayat, sifat-sifat para rawi hadis, hal-hal yang sudah disepakati dan yang masih khilaf, Nasikh mansukh, dan Asbabun Nuzul (hal 40).

Dengan membaca kitab ini wawasan kita tentang ahussunnah wal jama’ah akan bertambah luas dan akan menyadari bahwa doktron-doktrin aswaja benar-benar sesuai degan Nabi melalui sunnah-sunnahnya. (*)

  • Judul     : Al-Faraid Al-Saniyyah
  • Penulis  : KH. M. Sya’roni Ahmadi
  • Tebal     : 47 Halaman

diambiil dari majalah EL-QUDSY edisi 8 tahun 2000

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply