MEMBEDAH MISTERI AL-QUR’AN

(RESENSI: Kitab al-Tashrih al-Yasir)

 

Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang diberikan kepada Rasul Muhammad sebagai ktab suci bagi kaum muslim, sekaligus menggantikan kitab-kitab yang terdahulu. Berfungsi sebagai pengganti, tentunya al-Qur’an lebih sempurna dan lebih indah dari kitab-kitab sebelumnya, baik isi maupun sastra yang terkandung di dalamnya. Dan sebagai sumber hukum kaum muslim, tentunya di dalamnya terkandung segala macam ilmu yang dibutuhkan. Akan tetapi sebagian besar dari kita belum bisa memahami sastra yang terkandung di dalamnya. Sehingga banyak yang salah dalam memahami al-Qur’an.

Mungkin inilah salah satu alasan bagi Syekh Abdul Aziz al-Zamzami untuk menyusun nadhom ilmu tafsir yang mempelajari al-Qur’an dari segi penurunannya, sarat-sarat pembacannnya, lafal-lafal, arti yang berhubungan dengan lafal, yang berhubungan dengan hukum, dan lain sebagainnya.

Karena karangan Syekh al-Zamzami ini masih berupa nadhom atau syair, jadi bagi pemula masih kesulitan untuk memahami apa yang terkandung dalam syair-syair tersebut. Untuk itulah, maka KH. M Sya’roni Ahmadi menyusun sebuah kitab yang menjelaskan isi kandungan dalam nadham ilmu tafsir tersebut. Bagi kalangan santri, hal demikian dikenal dengan istilah syarah.

Kitab tersebut kemudian diberi nama al-Tashrih al-Yasir dengan harapan agar mudah difahami oleh para pemula. Karena memang diperuntukkan bagi pemula, maka penjelasan dalam kitab ini menggunakan bahasa yang sederhana dan susunanannya begitu sistematis. Penjelasan-penjelasan kitab ini sendiri dinuqil dari kitab Nuqoyah buah karya imam al-Islam Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuti al-Syafi’i.

Sangat tepat sebuah syair yang mengatakan “Sebenarnya semua ilmu sudah terdapat dalam al-Qur’an, tetapi keterbatasan kapasitas akal manusialah yang menyebabkan belum tergalinya ilmu tersebut”.

Kitab al-Tashrih al-Yasir ini disusun oleh KH Muhammad Sya’roni Ahmadi kira-kira pada tahun 1972 M/1392 H dengan tebal sejumlah 79 halaman. Fihris (daftar isi) kitab ini dimulai dengan pegertian ilmu tafsir itu sendiri, kemudian baru memasuki pokok pembahsan imu tafisr, yang dimulai dengan muqoddimah dan diakhiri dengan sebuah khatimah.

Sedang pembahasannya terbagi dalam enam bagian, yakni bagian yang membahas tentang penurunan al-Qur’an, cara-cara pembacaannya, lafad-lafadnya, arti-arti yang berhubungan dengan lafad, dan lain sebagainya.

Untuk mempelajari al-Qur’an, terlebiih dahulu kita harus mengetahui apa itu al-Qur’an. Di dalam muqoddimah kitab ini diterangkan, al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang satu surat saja sudah bisa I’jaz (mengalahkan musuh). Ini merupakan definisi dari ulama salaf. Sedangkan menurut ulama’ khalaf ditambah dengan kalimat  “dan merupakan ibadah jika dibaca”. Hal ini dimaksudkan untuk mengeliminir ayat-ayat yang sudah di-nasakh bacaannya.

Salah satu persolan yang jadi pembahasan adalah tentang tafsir dan ta’wil. Apakah maksud tafsir dan ta’wil itu sama apa berbeda? Dalam muqoddimah ini juga diterangkan bahwa tafsir dan ta’wil itu berbeda. Sebab, tafsir adalah memastikan kehendak Allah dalam mengartikan suatu kalam. Dan hal ini tidak diperbolehkan kecuali menggunakan keterangan dari Nabi atau sahabat yang hidup di masa turunnya al-Qur’an. Sedangkan ta’wil hanya mengartikan kalamullah dengan arti yang lebih pantas atau masyhur.

Pada bagian pertama kitab ini, menerangkan tentang proses diturunnya al-Qur’an, macam-macam surat/ayat, mulai dari surat makiyyah, madaniyyah, hadlori, safari, dan sebagainya. Dalam hal ini diterangkan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi tidak langsung berupa kiab yang utuh, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kondisi. Di bagian ini juga diterangkan tentang asbabun nuzul di mana disebutkan bahwa asbabun nuzul dibagi menjadi empat, yaitu marfu’, munqothi’, nurani, dan mardud.

Pada bagian kedua, diterangkan bahwa qira’ah al-Qur’an ada 3 macam, yakni qira’ah mutawatir (qiro’ah sab’ah), qiro’ah ahad, dan qiro’ah syadzah. Dari ketiga qiro’ah tersebut, yang boleh digunakan untuk membaca al-Qur’an hanya qira’ah mutawatir. Untuk lebih memperjelas keterangan maka dituliskan daftar para qurro’ beserta para rawinya, baik dari qiro’ah mutawatir, ahad, maupun syadzah.

Pada bagian ketiga membahas tentang cara-cara pembacaan al-Qur’an, salah satu hal yang dibahas adalah waqaf. Waqaf menjadi suatu hal yang penting karena jika kita berhenti pada tempat yang benar bisa-bisa merubah arti dari al-Qur’an. Jadi kita harus tahu tentang waqaf agar tidak salah dalam membaca dan mengartikan ayat.

Waqaf, dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu waqaf mukhtar, wakaf kafi al jaiz, waqaf hasan al mafhum, dan waqaf qabih al matruk. Selain itu dijelaskan juga menerangkan tentang imalah, mad, tahfiful hamzah, dan idgham.

Setelah itu kita menemukan keterangan tentang lafal-lafal al-Qur’an pada bagian ke lima. Di sini kita akan dikenalkan pada majaz, tasbih, isti’arah, dan sebagainya. Keterangan ini menjadi sangat penting karena akan mengetahui bahwa lafal-lafal al-Qur’an tidak cukup hanya diartikan menurut arti lughowi karena di dalamnya terkandung sastra yang sangat dalam.

Sebagaimana diketahui, bahwa al-Qur’an merupakan sumber hukum bagi kaum muslim, maka kita akan dikenalkan bagaimana para ulama’ dalam mengambil hukum dari al-Qur’an. Ada yang dengan cara menakhsis suatu ayat dengan ayat yang lain, ada yang dengan hadis, atau dengan cara di-ta’wil, dan sebagainya.

Pada bagian akhir dari pokok bahasan ilmu tafsir membahas tentang arti lafal yang berhubungan dengan lafal. Sebenarnya pembahasan ini sudah dijelaskan dalam ilmu ma’ani, tetapi karena hubungannya yang erat dengan al-Qur’an maka hal ini juga dibahas tentang fashl, washl, ijaz, ithnab, musawah, dan qashr.

Selain penjelasannya menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas, setiap pembahasan dalam kitab ini dilengkapi juga dengan contoh-contoh sehingga kita lebih mudah memahaminya.

Untuk melengkapinya di bagain akhir kitab juga disusun tentang nama-nama yang terdapat dalam al-Qur’an, baik itu nama para Nabi, malaikat, maupun yang lain. Selain nama asli juga disebut nama-nama kunyah yang terdapat dalam al-Qur’an. Untuk nama kunyah hanya ada satu nama di dalam al-Qur’an yakni Abu Lahab, yang terdapat dalam surat al-Lahab juz 30. Sedang nama laqab seperti al-Masih yaitu laqab dari Nabi Isa.

Selaian itu juga dijelaskan tentang nama-nama yang disamarkan, seperti mu’minum min ali fir’aun (surat Ghafir ayat 28). Yang dimaksud tersebut adalah fizqil, selain itu masih banyak nama-nama yang disamarkan dalam al-Qur’an.

Inilah sedikit gambaran tentang kitab al-Tashrihul al- Yasir buah karya KH M Sya’roni Ahmadi. Jika anda ingin mendapatkan rahasia yang terkandung dalam kitab ini maka pelajarilah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Jadi tunggu apa lagi … (*)

majalah El-Qudsy Edisi 10 tahun 2002

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply