KH SYA’RONI AHMADI RESMIKAN MA’HAD QUDSIYYAH

KUDUS-Ma’had Qudsiyyah Menara Kudus dibuka secara resmi pada Senin (1/11/2010). Bertempat di aula MTs Qudsiyyah, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus Ma’had tersebut diresmikan oleh KH M Sya’roni Ahmadi.
Sekitar pukul 10.00 WIB, secara resmi kyai yang juga Nadhir Madrasah Qudsiyyah tersebut meresmikannya dengan bacaan surat Al- Fatihah. Hadir dalam peresmian tersebut kasi PK Pontren Kemenag Kudus, H Su’udi, pengurus Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) Menara Kudus, Almudirul Aam Madrasah Qudsiyyah, Kepala tingkatan Madrasah Qudsiyyah, pengurus Ma’had Qudsiyyah serta wali santri.
Dalam mauidhoh hasanahnya, Kyai Sya’roni menekankan pentingnya pendidikan agama Islam, khususnya yang berlandaskan ajaran ulama salaf. Sebab, ajaran salaf ini sebagai pondasi dalam mengembangkan ajaran Islam.
Menurut  beliau, Ma’had Qudsiyyah menjadi salah satu bekal bagi para santri untuk lebih tekun dan mendalami ajaran Islam. Di samping itu, pendirian Ma’had di madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1919 ini diharapkan mampu menjadi hal positif meningkatkan keilmuwan para santri Qudsiyyah. “Madrasah ini didirikan oleh KHR Asnawi yang merupakan keturunan ke-13 Sunan Kudus,” ungkap salah satu kyai sepuh Kudus ini.
“Mudah-mudahan pendirian Ma’had ini dapat berkembang  dengan baik dan barokah,” sambung beliau.
Sementara itu, Ketua Yayasan  Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) Menara Kudus, H Nadjib Hassan dalam sambutannya mengungkapkan, pendirian Ma’had Qudsiyyah sebagai salah upaya yang dilakukan Qudsiyyah sebagai jawaban atas pelajaran salafiyah yang  terus-menerus terdesak oleh pelajaran-pelajaran umum. “Ini adalah jawaban untuk terus mempertahankan dan mempertahankan ajaran salafi,” terang Nadjib.

Ia juga menandaskan, Ma’had Qudsiyyah tidak hanya sekedar mengembangkan ajaran salaf yang konsen terhadap Fiqih, tetapi juga memadukan berbagai komponen yang mendukung dalam perkembangan dan kemajuan dunia. “Seperti kemajuan teknologi, dan sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, kemajuan  teknologi seperti internet akan menjadi media bagi para santri untuk mengembangkan keilmuwannya. Santri, lanjutnya, tetap akan dibekali dengan berbagai komponen mendukung kemajuan dan perkembangan zaman.

“Intinya, santri tidak boleh klutuk (ketinggalan zaman-Red), tetapi juga harus merespon kemajuan,” tandasnya.

Sedangkan Mudir (Direktur-Red) Ma’had Qudsiyyah H Fathur Rahman, menjelaskan, Ma’had Qudsiyyah ini diperuntukkan bagi siswa Qudsiyyah yang berprestasi. “Sementara untuk angkatan pertama ini kita batasi 40 santri yang rangking,” terangnya.

Dijelaskan, 40 santri tersebut berasal dari kelas X Madrasah Aliyah (MA) yang diseleksi melalui beberapa tahapan. Yakni tes tertulis yang bermaterikan pelajaran Nahwu Shorof,membaca kitab kuning Fathul Qorib serta menghafal bait-bait Alfiyyah. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply