MENJAGA CITRA POSITIF KOTA KUDUS

 

 

PENANGKAPAN teroris Abu Tholut di rumahnya RT 4 RW 3 Dukuh Bae Pondok Desa Bae Kecamatan Bae Kabupaten Kudus beberapa waktu lalu, sedikit-banyak telah menjadikan citra positif Kota Kudus kembali tercoreng.

Kudus sebagai daerah yang dalam catatan sejarah masyarakatnya dikenal selalu menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme, kebhinnekaan, toleransi dan pluralisme, setidaknya dengan tertangkapnya teroris itu citra positif telah ternodai.

Sejatinya tercorengnya citra positif Kudus itu tidak lain dikarenakan akibat dari perilaku sebagian kecil warganya yang salah dalam memahami agama, khususnya dalam hal makna jihad. Karena kesalahan orang-orang semacam Abu Tholut itulah, Kudus saat ini sedikit demi sedikit mulai tercitrakan sebagai daerah yang kurang toleran dan kurang dalam menghormati kemajemukan.

Untuk itu, mau tidak mau tercorengnya citra positif tersebut harus segera diatasi bersama. Jangan sampai citra positif  Kota Kretek yang dibangun dengan susah payah oleh pendahulu itu terus ternodai. Apalagi sampai tergantikan dengan citra negatif. Makanya, segenap komponen masyarakat di Kudus harus segera bersatu-padu dan guyup menyelamatkan citra positif tersebut. Lebih dari itu seluruh masyarakat hendaknya berani menjamin  bahwa  ke depan  tidak  ada  satupun warga  Kota Kudus yang terlibat lagi dalam aksi terorisme.

Selanjutnya, mengingat warga Kudus yang terlibat dalam aksi terorisme selama ini adalah dikarenakan faktor kesalahan dalam memahami agama, khususnya dalam hal jihad maka ke depan seluruh tokoh agama di Kudus dalam menyampaikan teks atau ajaran agama, terutama dalam hal makna jihad serta spesifiknya dalam hal metode berdakwah, hendaknya selalu merujuk metode atau cara yang telah dipraktikkan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah sepanjang hayatnya dalam berdakwah senantiasa berlaku bijaksana,  lemah lembut, sopan santun, dan toleran.

Yang harus kita ingat dan yakini terus-menerus adalah bahwa dalam berdakwah Nabi Muhammad tidak pernah sedikitpun menggunakan kekerasan. Begitu pula dengan kata-kata kasar dan kotor yang dapat menyinggung perasaan orang lain, sama sekali tidak pernah ia lakukan.

Metode ataupun cara berdakwah seperti Rasulullah SAW yang dipraktikkan dengan konsisten oleh para penyebar Islam di Kudus, khususnya Kanjeng Sunan Kudus dan Kanjeng Sunan Muria. Yaitu berdakwah dengan bil hikmah wal mauidhah hasanah yang sarat dengan budi pekerti luhur. Hal itu jauh dari perilaku tidak terpuji, seperti halnya dengan kekerasan, kebrutalan, caci-maki, dan teror.
Metode Dakwah Sunan Kudus selalu berdakwah dengan penuh kasih sayang tanpa menusuk dan menyakiti perasaan sedikitpun. Bukti riilnya adalah pada waktu Sunan Kudus mendirikan Masjid Al Aqsha.

Menara masjid tempat mengumandangkan azannya sengaja dibangun dan didesain menyerupai tempat ibadah umat Hindu, yaitu menyerupai  Candi  Jago  di  Malang Jawa Timur. Hal itu sengaja dilakukan Kanjeng Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) semata-mata sebagai wujud toleransi pada umat Hindu sebagai umat mayoritas di Kudus pada waktu itu.

Namun, justru dengan menggunakan cara dan metode dakwah yang simpatik seperti itulah, agama Islam dapat diterima dengan baik serta bisa berkembang dengan pesat di Kudus. Karena berdakwah dengan selalu mengedepankan budi pekerti luhur, sikap yang humanis dan toleran itu, hakikatnya tidak lain adalah intisari dari ajaran Alquran itu sendiri.

Apalagi pada dasarnya agama Islam tidak mengenal adanya paksaan dalam beragama. Bahkan agama Islam itu lahir justru untuk membawa perdamaian dan kemaslahatan umat.

Berdasarkan dalil naqli itu, sama sekali tidak dibenarkan bila kita berdakwah untuk memaksa orang lain agar masuk agama yang kita anut. Tidak dibenarkan pula bila kita berdakwah disertai dengan aksi teror dan kekerasan.

Akan lebih efektif dan afdhal-nya para tokoh agama dalam berdakwah dan dalam mengajarkan metode berdakwah kepada para santrinya hendaknya menggunakan cara atau metode dakwah seperti yang dipraktikkan kedua wali tersebut.
Bila segenap tokoh agama di Kudus bisa mempraktikkan dan mengajarkan metode dakwah seperti itu,  niscaya ke depan tidak ada satupun warga Kudus yang terlibat lagi dalam aksi terorisme. (*)

– M Saifuddin Alia, Alumni Madrasah Qudsiyyah dan pengurus Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Menara Kudus

**dimuat di Harian SUARA MERDEKA, Edisi Jum’at, 31 Desember 2010

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/12/31/133775/Menjaga-Citra-Positif-Kota-Kudus

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply