AJANG KREATIVITAS DAN KEMANDIRIAN

KREATIVITAS dibutuhkan dalam membuat majalah sekolah, selain dukungan dari pihak sekolah serta minat siswa yang besar dalam bidang jurnalistik. Siswa Madrasah Aliyah Qudsiyah Kudus punya tradisi menerbitkan majalah sekolah mulai tahun 1993 sampai sekarang. Penyaiapan kader pada siswa tingkat MA/SLTA kelas 1 dan 2 dengan membuat workshop dan ekstrakuliler jurnalistik membuat majalah tetap eksis adalah kunci dari keberhasilan mereka membuat majalah sekolah.

Pimred Majalah Qudsiyah “El Qudsy” tahun 2010 edisi ke 18, Ahmad Arinal Haq, menuturkan bahwa pembuatan majalah sekolah tidak sepenuhnya disokong oleh pihak sekolah. Tim redaksi juga dituntut untuk mencari dana secara mandiri dengan menjalin kerjasama perikanan dengan berbagai bidang usaha. “Anggaran dari sekolah tidak cukup untuk biaya cetak dan operasional kru redaksi yang jumlahnya sekitar 30 siswa, sehingga kami harus mencari iklan,” ujarnya.

Meski menjadi persoalan klasik, pendanaan, ternyata memacu diri untuk kreatif mencari peluang. Dalam penyajian tema majalah El Qudsy mempunyai ciri khas lain dari kebanyakan tema majalah sekolah, yakni dengan mengangkat tema-tema nasional yang sedang berkembang. Majalah El Qudsy edisi 2010, misalnya, mengangkat tema tentang Pasar Bebas. Materi tersebut ternyata terinspirasi dari pelajaran sekolah tentang kebijakan luar negeri sebuah negara. “Kami mengandalkan nara sumber berkompeten yang ada di Kudus,” kata pemuda yang disapa, Ari, Senin (3/1), di MA Qudsiyah.

Keunikan yang disajikan dari El Qudsy adalah sentuhan kajian kitab kuning yang disisipkan dalam seluruh kajian, termasuk tentang tema Pasar Bebas. Hal ini, menurut Ari, merupakan tanda kesantrian yang ditanamnkan melalui pendidikan di MA Qudsiyah. Sayangnya, persoalan pemilihan materi kerapkali menjadi perbicangan hangat, karena tim redaksi harus memertimbangkan segmen usia pembaca dari anak-anak hingga dewas. “Distribusi majalah El Qudsy sampai ke tingkat MI di Qudsiyah, juga ke perguruan tinggi yang ada di Kudus, serta masyarakat umum. Jadi soal tema terkadang dipertimbangkan matang,” katanya.

Dengan adanya rubrikasi yang mengakomodir semua segmen pembaca diharapkan bisa terjembatani keingintahuan tentang dunia luar. “Majalah ini sebagai wadah dari seluruh kegiatan yang ada di Madrasah Qudsiyah. Semuanya ada tentang Qudsiyah,” ujarnya.

Lebih Peka

Berjibaku dengan dunia jurnalistik membuat Ari merasa lebih peka dan kritis terhadap persoalan publik. Pengetahuan lebih tentang hal lain di luar pelajaran juga diperolehnya. Pengalaman menariknya adalah menemui nara sumber setelah berjanjian dua bulan. “Lama sih, sampai deadline majalah dan isu yang berlangsung terlanjur lewat,” katanya.

Pengalaman lain juga dialami oleh layouter El Qudsy edisi 2010 M Jamal Alwy. Pengetahuan yang didapatkan menyadarkan sebuah proses penyajian majalah yang tak gampang. Ia dan timnya harus menataletak sendiri majalah. “Semua proses dikerjalan secara mandiri oleh tim redaksi. Setelah selesai baru diberikan kepada percetakan untuk digandakan,” katanya.

Terhadap isu yang sedang berkembang serta pengetahuan umum, membuat Jamal, panggilannya, lebih peka dengan perkembangan persoalan nasional. Kemampuan menulis dan penguasaan bahasa lebih matang dan terasah. Mereka tidak sembarang membuat laporan. Setiap laporan harus dipertanggungjawabkan.

Menurut Kanis Barung dkk dalam buku Dasar-Dasar Penerbitan Majalah Sekolah (1998) dibenarkan adanya fungsi majalah sekolah sebagai tempat pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif dan atraktif. Setidaknya disebutkan ada enam arti penting majalah sekolah. Pertama, ajang mengasah kemampuan menulis. Kedua, melatih siswa kritis dalam membaca. Ketiga, dipakai dalam sumber belajar bahasa. Keempat, sebagai wahana pengembangan dan penguasaan kosakata. Kelima, mengajak siswa mencipta karya sastra. Dan keenam, melatih siswa untuk terampil berbicara dan menyimak sesuai dengan konteks komunikasi.

*Dimuat oleh Harian Umum Suara Merdeka Senin, 3 Januari 2011.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply