PESANTREN DAN PELUANG KERJA

 

Tema Pesantren dan dunia kerja, menjadi menarik jika dilihat sebagai sebuah peluang. Term pasar dan tenaga kerja tidak mengimajinasikan tempat tertentu dimana ada penjual dan pembeli yang sedang melakukan tawar menawar, akan tetapi lebih pada transaksi yang mempertemukan supplay dan demand tenaga kerja.  Secara teoritik, tenaga kerja dalam konteks pasar diklasifikasikan sebagai sumber daya. Oleh karenanya, ia masuk kategori barang substitusi, yang selalu dibandingkan dengan tenaga kerja lain dan atau teknologi, sehingga out put dan produktivitas-lah yang menjadi parameter utamanya. Seiring dengan perkembangan global, dan tidak kongruennya supplay dan demand tenaga kerja, maka persaingan sumber daya manusia makin ketat.

Pesantren dengan karakter khas, visi dan misi pendidikannya tidak mungkin terhindar dari supplay dan demand tersebut. Tentunya, tetap sesuai dengan tujuan dan target pendidikan yang dimaui oleh lembaga pendidikan yang disebut pesantren. Mengapa? Karena, pesantren juga menghasilkan produk pendidikan yang akan menghadapi kehidupan nyata dengan problematikannya. Oleh karena itu, agar alumni pesantren dapat bersaing di era global, dibutuhkan kesiapan kualitas SDM yang berkompeten dan tanggap terhadap lingkungan global. Pendidikan  pesantren yang juga menjadi bagian penting pendidikan Nasional juga mengambil peran dan bagian dalam penyiapan generasi yang siap bersaing dengan produk pendidikan lainnya, terutama pendidikan umum maupun kejuruan. Dalam konteks ini,UNESCO pada tahun 1997 merekomendasikan kurikulum pendidikan harus mengandung empat komponen pokok, yaitu : learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Rekomendasi ini diharapkan menjadi perspektif pendidikan di seluruh dunia, termasuk pesantren. Tanpa memperpanjang perdebatan bahwa pesantren sesungguhnya telah melaksanakan empat hal tersebut dalam batas-batas tertentu.

Diukur dari substansi kompetensi, pendidikan sesungguhnya ingin membentuk dan membekali seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang “pekerjaan” tertentu” (Kepmendiknas no. 045/U/2002). Oleh karena itu, tiga hal pokok yang harus ada dan menjadi ukuran dalam kompetensi sebagai persyaratan dunia kerja adalah adanya kemampuan tindakan (skills), kecerdasan (knowledge), dan tanggungjawab (attitudes). Oleh karena itu, kompetensi lebih menunjuk kepada seperangkat tindakan inteligen penuh tanggung jawab, yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu.

Sebuah tindakan dikatakan bersifat “inteligen”, apabila didasarkan kepada kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan optimal, baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi, maupun etika. Secara terpadu, diidealkan singkron antara kompetensi kemasyarakatan. Juga, antara kompetensi kognitif, verbal, intelektual, sikap, dan motorik. Dengan demikian, kompetensi menyangkut kesiapan seseorang untuk melakukan tugas atau pekerjaan secara bertanggung jawab, dalam arti didukung oleh kemampuan, ketrampilan, dan kemahiran sedemikian rupa, sehingga berakhir dengan keberhasilan yang memuaskan.

Dalam konteks pendidikan Pesantren, persoalan kompetensi akan sangat urgen dan menarik ketika dikaitkan dengan term ilmu agama dan keberagamaan. Mengapa? Sebagian jawabannya adalah karena pesantren adalah lembaga pendidikan yang sangat berkompeten di bidang agama dan berada di dalam komunitas civitas santri dan pesantren dengan basis ilmu agama atau keberagamaan. Oleh karena itu,sesuatu yang tidak mungkin dihindarkan adalah membangun rumusan konsep menurut apa yang dimaui oleh ajaran agama itu sendiri, dengan memanfaatkan sarana religius maupun intelektual, dalam rangka pemahaman dan pemanfaatannya pada kehidupan masyarakat beriman. Dalam konteks santri dan pesantren, kompetensi agama dan keberagamaan dapat dirumuskan sebagai kemampuan, kemahiran dan ketrampilan setiap muslim (dimulai dari kalangan terdidiknya), untuk memahami dan mengaktualkan ajaran AI-Qur’an dan Sunnah Rasul se­cara optimal, sehingga mendatangkan efek positif bagi upaya mengatasi permasalahan kehidupan di satu sisi dan mendorong tercapainya kesejahteraan serta kemajuan kehidupan masyarakat pada sisi yang lain.

Pada titik inilah, perspektif keilmuan di Pesantren diharapkan memenuhi dan memberi jawaban praktis langkah-langkah pemahaman sampai pada aktualisasi ajaran AI-Qur’an dan Sunnah Rasul bagi kepentingan hidup riil di zaman kini, antara lain dapat ditempuh melalui gerak epistemologi, dari keniscayaan untuk memposisikan keduanya sebagai nilai-nilai dasar kehidupan yang bisa disejajarkan atau menjadi sumber perumusan filosofis Islami, kemudian dipakai rujukan dan atau pijakan penelitian empiris untuk membangun pedoman “teoritis ilmiah” dan di atas atau berdasarkan itu dilakukanlah praktek keberagamaan secara benar, dengan mengikutsertakan prosedur operasional yang bersifat teknologis, dalam arti dapat dipertanggungjawabkan validitas dan transferabilitasnya, baik dari segi keilmuan maupun etika.

Ketrampilan keberagamaan menjadi sesuatu yang sangat potensial, sehingga seluruh proses pendidikan kita berujung dan berakhir kepadanya. Agama dan keberagamaan adalah dua term yang memiliki muatan pengertian yang berbeda. Namun, memisahkan keduanya adalah hal yang sangat tidak mungkin. Agama adalah norma dan ajaran sedangkan keberagamaan adalah wujud atau respon terhadap ajaran atau norma tersebut (Muslim Kadir, Hal. 11).

Atau dapat diformulasikan secara sederhana bahwa untuk melahirkan perilaku sebagai respon terhadap wahyu, maka berangkat dari paradigma ahkamy, falsafy, irfany, sebagai pijakan aktualisasinya menjadi efektif dan produktifd jika daur akhirnya menggunakan paradigma ‘amaly. Dalam bahasa lain, merupakan gerak epistemologis dari nalar bayany, burhan dan, wijdany, kemudian berujung pada ‘amaly. Dengan catatan, bahwa daur keilmuannya merupakan dialog kreatif-konstruktif antara tata pikir deduktif llahiah dan induktif insaniah, antara idealitas wahyu Tuhan dan realitas kehidupan orang-orang beriman. Kompetensi keberagamaan, mau tidak mau harus mendasarkan diri pada kriteria kebenaran sensual, rasional, etis, dan sekaligus transendental, menurut terminologi fenomenologis.

Jika ini yang menjadi substansi rumusan kompetensi, maka target tujuan pendidikan adalah produktifitas yang mampu memenuhi pasar kerja santri maupun alumni Pesantren. Unsur dasar dalam produktifitas ini adalah perbuatan atau perilaku secara terstruktur dan berorientasi kepada hal yang bersifat konkret praktis, produktif, sesuai keperluan dan permintaan pasar, sehingga memperoleh pengakuan atas dasar validitas ilmiah. Unsur-unsur tersebut dapat dikonsepkan menjadi kompetensi dan karena berbasis keberagamaan, maka disebut kompetensi keberagamaan. Kompetensi keberagamaan menghasilkan keterampilan yang dapat dipergunakan untuk pemberdayaan potensi agama dalam rangka memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah dalam praksis kehidupan umat. Bidang keterampilan seperti inilah yang akan menjadi aspek aksiologi dan teknologi perilaku dalam Islam.

Dengan cara pikir yang demikian, maka secara filosofis, definisi kerja bagi warga pesantren sebenarnya agak berbeda dengan kerja yang kita pahami selama ini. Bagi pesantren, kerja adalah kerja asketik yang lahir dari tradisi tasawuf, yakni zuhud. Dalam terang makna ini, kerja akhirnya tidak an sich bersifat material melainkan spiritual. Hal ini bisa dipahami karena karakter keislaman pesantren yang bersifat fiqh-sufistik. Artinya, keislaman pesantren berbentuk fiqhiyah pada “bangunan luarnya”, namun berisi tasawuf pada “bangunan dalamnya”. Ini yang membuat kiai dan santri, amat taat dengan batasan syari’ah pada level hukum pribadi dan sosial, namun ketaatan tersebut tidak menjadi ketaatan buta yang kaku -selayak kaum Wahabi- karena berisi kedalaman sufistik pada level batin (Wahid, 2001:169).

Tradisi ini yang melahirkan etos asketik. Yakni satu etos yang mengarahkan segenap langkah hidup kepada kehidupan ukhrawi. Tentu keukhrawian di sini tidak berarti anti materi dan ekonomi, sebab dalam tradisi tasawuf, dunia (al-dunya) lebih dimaknai sebagai ma siwallahma siwallah ini tentu tak melulu material, karena hal-hal immaterialpun bisa menjadi dunia, ketika penghadapannya bukan kepada Allah.

Dampak dari etos ini jelas. Yakni penghidupan ranah spiritual dari santri, melampaui segala kefanaan dan kesulitan jasadi. Hal ini membawa dampak positif. Yakni ketahanan mental dari warga pesantren, ketika menghadapi sarwa kekurangan pada tataran jasmaniah ekonomis. Karena santri telah terbiasa mengedepankan “kehidupan ruhani”, maka segenap kekurangan yang bersifat fisik, tidak menjadi problem utama baginya. Tradisi ini bisa kita lihat di dalam puasa. Dalam puasa, seorang muslim meninggalkan makan-minum. Meninggalkan “penghidupan biologis” untuk menghidupkan “yang batin” dalam dirinya. Etos inilah yang akan melahirkan sikap ora gumunan, ketika sang santri mengalami kekurangan materi, maupun sebaliknya, kelimpahan ekonomi. Miskin atau kaya sama saja. Beruntung atau berhasil sama saja. Sebab bagi tradisi zuhud, pergantian situasi tersebut hanya bersifat fisik, yang harus menjadi jalan bagi pengayaan batin.

Pada level sosial, terma kerja dalam tradisi pesantren lebih bersifat khidmah kemasyarakatan. Hal ini lahir dai konteks sejarah berdirinya pesantren awal di negeri ini, yang merupakan strategi para ulama untuk memperbaiki moral masyarakat. Maka Pesantren Tebu Irengpun didirikan Kiai Hasyim Asy’ari untuk menepis ekses negatif dari pendirian pabrik gula di daerah Jombang, yang membawa etos sekular, mabuk-mabukan dan segenap perilaku irreligion. Epos pendampingan kiai kepada masyarakatpun telah menjadi tradisi yang diterima secara umum. Karena kiai tidak hanya ditempatkan sebagai guru ngaji, melainkan tempat bertanya bagi segala hal, sejak nama bayi, rencana nikah, rencana kerja, hingga doa untuk keselamatan panen sawah. Dari sinilah kita mafhum, kepada definisi jihad dalam kitab I’anatut Thalibin tidak bima’na perang melawan kaum kafir, melainkan pemberian bantuan ekonomi, pakaian dan tempat tinggal bagi kaum tak punya.

(segala selain Allah). Maka sikap hidup yang condong unkhrawi adalah sikap hidup yang hanya menfokuskan niat kepada Allah, dengan resiko memalingkan diri dari selain-Nya. Terma Perluasan institusional

Sementara itu kerja yang kita pahami selama ini adalah kerja ekonomis. Di dalamnya manusia menjadi homo economicus (makhluk ekonomis) yang menjadikan nilai keuangan sebagai nilai utama. Dalam homo economicus, ruang hidup manusia terbatas pada ruang privat. Yakni ruang tempat manusia memenuhi kebutuhan pribadinya sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan biologis. Pada titik ini, manusia seakan hidup tiada beda dengan spesies binatang secara umum, yang hidupnya hanya beradaptasi dengan alam. Dalam kaitan ini, ruang privat dari manusia sering dibedakan dengan ruang publik, tempat manusia hidup tidak hanya untuk dirinya, melainkan untuk mewujudkan kebaikan bersama. Maka kebutuhan utama dalam ruang publik ini tak hanya ekonomi, melainkan perwujudan nilai-nilai kemanusiaan. Yang terpenting bagi manusia bukan hidup (biologis) itu sendiri, tetapi pertahanan manusia sebagai manusia yang memiliki jiwa, nilai, dan cita-cita kemanusiaan.

Pemilahan antara ruang privat dengan ruang publik ini terkait dengan pemilahan tiga bentuk perilaku manusia. Pertama, kerja (labor). Kerja adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk yang butuh makan, tempat tinggal, pakaian dan menjaga denyut jantung agar tidak berhenti. Kerja adalah usaha ekonomis, agar perut tidak lapar, dan nafas tetap berhembus. Kedua, karya (work). Usaha ini adalah penciptaan manusia atas benda-benda di dunia, untuk menjaga keajegan dunia agar bisa dimanfaatkan manusia secara sosial. Maka, sekolah dibangun sebagai karya pendidikan, agar manusia bisa belajar secara sistemik. Jalan dilebarkan agar manusia bisa melapangkan transportasi. Karya adalah usaha yang melampaui kebutuhan bilogis, karena ia terkait dengan pembangunan dunia secara sosial.

Ketiga, tindakan (action). Dalam usaha ini, manusia bertindak secara bersama untuk mewujudkan kebaikan bersama. Jadi, jika karya hendak membangun bentuk material dari kehidupan bersama. Maka tindakan hendak mengarahkan karya material itu, demi tujuan kebaikan bersama, seperti keadilan, kesejahteraan, ketuhanan, dan kemanusiaan itu sendiri (Arendt, 1998:7-17).

Semestinya, pesantren bisa mengarahkan diri kepada tiga bidang di atas sekaligus. Pesantren bisa mengadakan pelatihan kerja dengan cara membiasakan usaha mandiri. Misalnya, pembuatan usaha makanan untuk konsumi santri sendiri. Mendirikan usaha percetakan untuk santri sendiri. Mendidik santri agar menjadi pengajar, di dalam pesantren sendiri. Pelatihan kemandirian usaha mandiri ini yang akan mencipta etos wiraswasta pada diri santri, yang akan bermanfaat ketika santri telah lulus pesantren. Tentu pada titik ini, pesantren akhirnya tidak an sich menjadi lembaga pendidikan agama. Ia terlebih “perusahan kecil” yang menopang dirinya sendiri, melalui penciptaan usaha mandiri, di mana para santri bekerja untuk memenuhi kebutuhan kesantrian.

Merujuk pola pikir yang selama ini berkembang, maka pasar kerja dimaksud memiliki bentuk maupun model yang sifatnya tradisional, institusional dan dan Inovatif kreatif. Pasar kerja tradisional, adalah medan pengabdian alumni pesantrenI dalam posisinya sebagai “santri berkompeten”, ketika secara alami berperan misalnya selaku maballigh atau pimpinan organisasi keagamaan. Pasar kerja institu-sional, tercermin misalnya ketika alumni pesantren diangkat menjadi guru, di daulat menjadi pimpinan masyarakat beragama atau tokoh agama. Pasar kerja inovasi-kreatif, diperoleh berdasarkan kemampuan individual untuk merespon tuntutan masyarakat segmen tertentu, misalnya terlibat dalam pengelolaan madrasah atau sekolah, bahkan mendirikan pesantren, mengajar privat agama di kalangan keluarga elit tertentu maupun madrasah diniyyah, mendirikan kelompok bimbingan haji plus, dan lain-lain. Pasar kerja lintas sektoral, ditandai oleh cukup banyaknya alumni pesantren plus di era reformasi ini, misalnya terjun ke dunia politik, pemerintahan, menjadi wartawan, pengusaha, dan sebagainya. Sedangkan pasar kerja transformasi keilmuan, adalah idealitas ke depan, ketika pesantren berhasil menembus batas tradisionalnya, dan berkembang sedemikian rupa untuk memasuki wilayah dunia ilmu dan teknologi dalam lingkup yang seluas-luasnya untuk bekerja, berkarya dan bertindak sesuai kapasitas ilmu yang dikuasainya.

Dari sekian bentuk pola yang selama ini ada sesungguhnya adalah pola-pola kerja lama yang menurut penulis belum mendasarkan diri kepada validitas keilmuan yang dimiliki. Artinya bahwa pasar kerja yang ditekuni oleh para alumni pesantrenI belum maksimal memberdayakan basic ilmu agama dalam praktis dan teknis kerja. Bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidika dan bidang apa saja adalah medan besar yang dapat disinggahi oleh para alumni. Akan tetapi, satu hal yang harus tidak boleh terlupakan bahwa bagaimana memberdayakan agama menjadi keberagamaan adalah hal mutlak yang menjadi peluang kerja yang belum dipenuhi oleh alumni pesantren di luar pesantren yang telah berafiliasi dengan pendidikan formal atau pendidikan umum. Inilah yang penulis sebut sebelumnya sebagai tantangan dan peluang “Memberdayakan Agama menjadi Keberagamaan”. Mewujudkan perilaku beragama atau keberagamaan adalah segmen pasar kerja para alumni pesantren.

Hal yang sama pada karya dan tindakan. Dalam kaitan ini, pesantren tak disangsikan lagi, sebab ia memang bergerak di bidang pendidikan. Dari sini pesantren telah mendidik santri agar berkarya, baik sebagai pengajar agama, kiai, dan segenap prestasi pendidikan dalam bidang keislaman. Hanya saja, untuk poin tindakan, pesantren memang belum maksimal, sebab hal ini meniscayakan keterlibatan pesantren dalam pendampingan masyarakat. Tindakan akhirnya menjadi “karya kesekian”, sebab fokus pesantren adalah karya pendidikan.

Pada titik inilah diperlukan suatu perluasan institusional agar pesantren bisa lebih mampu beradaptasi dengan kondisi kekinian, khususnya dalam konteks lapangan kerja. Perluasan institusional ini penulis maksudkan sebagai perluasan wilayah pesantren, dari lembaga pendidikan Islam (klasik) kepada wilayah kehidupan sosial modern.

Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan melakukan kerjasama kelembagaan antara pesantren dengan sekolah kejuruan (SMK). Tujuannya jelas, memasukkan kurikulum kejuruan kerja kedalam sub-kurikulum pesantren. Penulis sebut sub-kurikulum, karena pelajaran kejuruan harus berada di bawah kurikulum utama keislaman. Artinya, perluasan wilayah ini hanya berada di “level teknis”, sehingga tidak mengganggu “level substansi” pesantren, yakni keagamaan. Perluasan institusional ini juga bisa dilakukan dengan penciptaan jalan struktural, agar lulusan pesantren bisa kuliah di perguruan tinggi manapun. Tentu langkah ini memerlukan perjuangan struktural pada level kebijakan pendidikan nasional.

Dalam kaitan inilah gagasan pesantren berbasis madrasah, atau madrasah berbasis pesantren perlu diejawantah. Langkah ini diperlukan sebagai “persiapan dasar” bagi perluasan institusional tersebut. Kenapa? Karena pesantren yang merupakan lembaga kultural, butuh lebih dimanajerialkan pada level institusi pendidikan. Dengan membasiskan pesantren pada madrasah, maka pesantren bisa memiliki bangunan institusional yang lebih manajerial. Etos manajerial ini yang akan melempangkan jalan bagi perluasan institusional tersebut.

Hanya saja perluasan institusional ini tidak boleh menggangu landasan dasar dari nilai-nilai pesantren. Hal ini sebenarnya sederhana, karena urusan kerja adalah urusan otak-tangan, yang terpisah dengan nilai keagamaan pada level batin. Urusan otak-tangan tak boleh merusak batin, sebab wilayah batin adalah kesunyian transendetal bersama-Nya. Artinya, kebutuhan untuk menciptakan lapangan kerja bagi para santri, tak boleh merusak tujuan utama pesantren, yakni mendekatkan hamba kepada Khaliq, melalui pendidikan Islam. Pesantren tetaplah tempat bagi para santri mempelajari tanda-tanda kebesaran-Nya. Hanya saja perluasan institusional dalam kerangka kerja material juga diperlukan, agar para santri tidak gagap dengan kenyataan yang sering bersifat lahiria, bukan batiniah. Wallahu a’lam

* Penulis adalah Ketua Umum IKATAN ALUMNI QUDSIYYAH (IKAQ)  dan Ketua LTNU (Lajnah Ta’lif wan Nasyar)  NU Cabang Kudus * Tulisan ini dimuat di Bulletin SUARA NU Edisi April 2011

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply