SEKOLAH MENORO YANG TAK MAU KETINGGALAN ZAMAN

Sejumlah madrasah di Kabupaten Kudus memiliki peranan penting bagi dunia pendidikan. Beberapa berdiri sebelum Indonesia merdeka, seperti madrasah Mu’awanatul Muslimin dan Madrasah Qudsiyyah. Bagaimana kondisi madrasah saat ini, wartawan Suara Merdeka Rosidi menurunkannya dalam beberapa tulisan mulai hari ini.

DARI sekian madrasah yang ada di Kabupaten Kudus, nama Madrasah Qudsiyyah sangatlah dikenal. Orang umum sering menyebutnya “Sekolah Menoro”, karena salah satu tempat belajarnya memang menempati ruang di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus. Madrasah ini juga telah melahirkan ribuan generasi yang menjadi pemimpin umat atau tokoh masyarakat.

Menurut Wakil Mudirul ‘am (Wakil Direktur) Madrasah Qudsiyyah, KH Fathur Rahman, BA, madrash ini resmi berdiri pada 1919 yang bertepatan dengan 1337 H. Namun sebenarnya kegiatan kali pertama yang tercatat adalah tahun 1917,” katanya.

Jadi, Madrasah Qudsiyyah beberapa tahun lebih awal dari lahirnya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama, yang berdiri pada 1926. “Itu makanya Qudsiyyah tidak memakai embel-embel NU, kerena ia lebih dulu,” ungkap kiai Fathur.

Madrasah Qudsiyyah didirikan oleh KH Raden Asnawi, salah satu kiai kharismatik keturunan kanjeng Sunan Kudus  ke-XIV. ” Pendiri madrasah ini Mbah Asnawi. Beliau pula yang memimpin madrasah hingga tahun 1950-an,” tambah kiai fathur saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/6).

Hingga kini, telah terjadi lima kali pergantian kepemimpinan di Madrasah Qudsiyyah. Generasi pertama, yaitu KH Raden Asnawi (1917-1950), KH Noor Badri (1950-1958), KH Sya’roni Ahmadi (1958-1983), KH Ma’ruf Irsyad (1983-2006), dan Drs H Em Najib Hassan yang mimpin dari 2006 hingga sekarang.

“Perjalanan Madrasah Qudsiyyah sendiri pernah mengalami masa vakum (kekosongan-red) masa belajar, yaitu pada 1943-1950. Masa vakum dimulai sejak masa pendudukan Jepang. Saat itu yang berbau Islam dilarang, ” terangnya.

Setelah beberapa lama vakum, kegiatan belajar mengajar di Madrasah Qudsiyyah dimulai lagi pada 1350-an, dengan tokoh penggeraknya KH Ma’ruf Asnawi, KH Yahya Arif, dan kiai Syafi’i.

Tak Ketinggalan

Pelajaran yang diberikan kepada para santri Madrasah Qudsiyyah merupakan kajian-kajian kitab salaf, dengan bahan ajar utamanya kitab kuning ala pesantren.

“Dulu kami menggunakan kurikulum sendiri, tetapi seiring perkembangan zaman, kami mengikuti kurikulum KH Hasyim Asy’ari (Ma’rif-Red) sampai sekarang, ” kata kiai Fathur.

Wakil Mudirul ‘aam Madrasah Qudsiyyah yang juga mengenyam pendidikan di madrasah ini dari tahun 1967 hingga lulus tahun 1977 ini mengemukakan, kendati lebih dikenal kitab salafnya, pihak pengelola madrasah menginginkan agar santri-santrinya tidak ketinggalan zaman dengan perkembangan teknologi sekarang ini.(*)

Dimuat  di Harian Suara Merdeka, Edisi Rabu, 8 Juni 2011

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply