PPQ Peringati Harlah ke 50

QUDSIYYAH, KUDUS – Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) yang merupakan organisasi siswa Madrasah Qudsiyyah kini telah berusia setengah abad. Di usia yang cukup mapan ini, diadakan Harlah untuk kali pertama sejak kelahirannya pada 1 Juli 1961 TU atau 18 Muharram 1381 H.

Puncak Harlah dilaksanakan dengan mendatangkan mantan ketua PPQ  dari awal, dan berlangsung  di Aula Madrasah Aliyah Qudsiyyah, Kerjasan, Kota Kudus, pada Rabu (7/9/2011).

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ), Drs. H. Em Nadjib Hassan dalam sambutannya berpesan supaya PPQ berbenah diri mulai dari meneliti lagi AD/ART hingga progam kerja yang  menunjang kesuksesan PPQ. Dengan begitu, nantinya PPQ mampu menjadi organisasi yang konsisten baik di skala lokal, maupun luar sekolah. “Coba kita tingkatkan organisasi kita dengan terus membenahi diri,” tegas mantan ketua PPQ periode 1974/1975 yang merupakan PPQ pertama sejak dibukanya tingkat Madrasah Aliyah Qudsiyyah.

Beberapa mantan ketua PPQ juga berpartisipasi sebagai narasumber dalam acara yang juga dihadiri delegasi OSIS dari sekolah di Kudus, Jepara, Demak, Pati. Salah satu narasumber Drs. Noor Aflah, dalam dialognya menuturkan tentang peluang pengembangan PPQ. Penguasaan kitab kuning yang dimiliki santri Madrasah Qudsiyyah menjadi acuan kualitas dan kuantitas kemajuan Madrasah dalam bidang ilmu salaf. “Karena melihat realita  sekarang menurunnya kualitas kitab kuning di beberapa Madrasah salafiyyah,” terang beliau yang sekarang menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tak hanya peluang pengembangan PPQ, beliau juga mengingatkan akan tantangan yang patut diberi perhatian khusus. “Kenakalan remaja saat ini harus menjadi perhatian PPQ, mengingat kenakalan remaja dari tahun ke tahun kian beraneka ragam,” tandas beliau.

Sementara itu di akhir acara, para mantan ketua PPQ yang hadir juga dipersilahkan menyampaikan pesan-pesannya. Dari beberapa pesan yang disampaikan, satu hal yang pasti bahwa untuk kepengurusan PPQ kedepannya tidak hanya merencanakan progam kerja dalam setahun, akan tetapi juga merencanakan progam-progam untuk beberapa tahun kedepan.

Edi Suyatin  selaku mantan ketua PPQ periode 1994-1995, berpesan untuk menghidupkan kembali organisasi Ikatan Pelajar Madrasah Aliyah Salafiyyah (IPMAS), karena telah vakum selama satu dekade terakhir. “IPMAS itu sebagai suatu wadah pengembangan para santri dalam hal ilmu salafiyyah, lewat kegiatan semacam bahsul masail yang diikuti Madarasah Salafiyyah di Karisidenan Pati dan sekitarnya,” ungkap mantan ketua PPQ yang memutuskan segera menikah saat lulus Aliyah tersebut. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply