SIAPA IDOLAMU?

Sudah menjadi watak manusia, mengagumi, mengidolakan, bahkan meniru orang-orang yang terkenal atau orang-orang yang kebesarannya telah masyhur. Misalnya pesepak bola, penyanyi, pesulap, atau yang lainnya. Hal itu merupakan fakta yang sudah bisa kita lihat sendiri sekarang. Puluhan ribu pasang mata rela berdesak-desakan demi melihat aksi individu pemain di rumput hijau, maupun aksi tim kesayangannya dalam sepak bola. Begitu pula, bagi penyanyi kenamaan ataupun bagi pesulap yang handal, setiap kali konser digelar, ribuan penonton selalu datang dan membanjiri lapangan pertunjukan.

Padahal, dari semua yang diidolakan dari berbagai bidang itu, tidak semuanya muslim, ada juga yang beragama non-muslim. Ini misalnya Christiano Ronaldo (pemain sepak bola), Justin Bieber (penyanyi), atau kalau di Indonesia seperti Agnes Monica (penyanyi), juga pesulap Deddy Corbuzier (pesulap), adalah dari kalangan non-muslim.
Nama-nama tersebut, tentu tidak asing di telinga kita. Bahkan mungkin juga sebagian dari kita menjadi penggemar berat atau fans mereka.

Lalu, persoalan yang muncul adalah bagaimana hukumnya ngefans terhadap orang-orang tadi, padahal mereka adalah non-muslim?

Memang, hidup di dunia ini telah dilingkupi dengan banyak kenikmatan yang dapat melalaikan dan mengaburkan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran, 14)
Tentang pergaulan dengan orang kafir telah disebutkan dalam ayat berikut:

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوى وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. (al-Mumtahanah, 1)

Dalam kitab kuning, fans ditekstualkan dengan kata mahabbah atau mawaddah. Kedua kata itu mutaradif (sinonim). Sedangkan lawan katanya adalah bughdlu (benci). Sedangkan pengertian mahabbah (cinta) sangatlah banyak lantaran banyaknya pendapat para tokoh. Kita cuplik satu saja yaitu pendapat dari al-Ghazali, cinta adalah kecenderungan alami terhadap sesuatu yang melezatkan. (Mukhtashor Ihya’ Ulumud Din, 235)

Mahabbah itu ada dua. Yaitu, mahabbah diniy yaitu mahabbah yang didasari faktor agama, seperti mahabbah pada Allah, Rasul-Nya, dan sesama mukmin. Kedua, mahabbah thobi’iy yaitu kecintaan yang timbul karena hal itu sudah menjadi watak/tabiat manusia, seperti kecintaan pada istri, anak, kerabat, dan harta. Kadang, kecintaan secara tabiat juga disertai kebencian secara agama (cinta tapi benci). Seperti cinta seorang muslim kepada orang tuanya yang musyrik. Dari satu sisi (tabiat), dia pasti cinta kepada orang tuanya. Tapi dari sisi lain (agama), dia benci karena menentang Allah. Rasulullah pun demikian, Beliau cinta kepada pamannya (Abu Thalib) karena kerabat, padahal pamannya itu kafir. Dalam al-Qur’an:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (al-Qashash, 56)
Begitu pula sebaliknya, kadang ada juga kecintaan secara agama disertai dengan kebencian secara tabiat, seperti jihad. Secara tabiat, pastilah orang akan benci dengan peperangan. Tapi secara agama tidak seperti itu. (Ijabatus Syaikh Abdur Rahman al-Barrak, I, 40)

Kembali ke pokok persoalan, menurut pandangan fiqh, hukum mencintai dengan kecondongan hati terhadap orang-orang non-muslim adalah haram walaupun bukan karena kafirnya. Adapun hukum berkumpul bersama orang kafir secara lahiriyyah, hukumnya makruh selama tidak diharapkan keislamannya, atau karena kerabat, atau tetangga. Jika karena diharapkan keislamannya, tetangga, atau kerabat, maka hukumnya boleh. Hukum ini sama persis dengan hukum mencintai orang-orang fasik (fussaq). Haram jika tidak karena kerabat atau tetangga. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)

Tapi ada ulama lain yang berpendapat berbeda. Jika cintanya karena kekafirannya, maka haram hukumnya. Sedangkan jika mencintainya bukan karena kekafirannya, entah karena karya, prestasi, atau skillnya, maka makruh. Juga diperbolehkan mahabbah karena mengharapkan keislamannya, walaupun memang kita hanya bisa berharap saja, karena petunjuk hanyalah milik Allah semata. (Hasyiyatul Qolyubi, IV, 237)

Orang yang kagum terhadap seseorang, biasanya akan meniru orang yang dikagumi tersebut. Inilah dampak dari kekaguman itu. Buntutnya, jika rasa kagum itu sampai membuat kita meniru dalam hal yang haram, maka hukumnya pun haram. Begitu pun sebaliknya, jika kita menirunya dalam hal positif maka boleh-boleh saja. Hal ini berdasarkan hadits yang sudah akrab di telinga kita:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam kaum itu. (Sunan Abi Dawud, XI, 48)

Lalu bagaimana jika hanya teman?
Seperti yang dipaparkan di atas, berteman (berkumpul secara lahiriyyah) dengan orang-orang kafir hukumnya makruh. Dan jika orang kafir tersebut adalah tetangga, kerabat, atau orang yang diharapkan keislamannya, maka boleh. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)

Kesimpulannya, silahkan ngefans terhadap siapapun atau bahkan apapun sesuka Anda, tetapi tentunya dengan batasan-batasan yang tadi telah diutarakan.
Yang harus kita ingat adalah dalam hidup ini semua manusia pastilah memiliki pedoman hidup. Dan salah satu pedoman hidup kita adalah Islam yang menjadi agama kita. Dan dalam Islam pun sudah ada makhluk Allah yang diciptakan dengan sempurna dan paling pantas untuk dikagumi bahkan dicintai oleh seluruh umat manusia, karena dialah utusan Allah yang paling mulia, pembawa pencerahan dan cahaya Islam. Siapakah itu? Pembaca pastilah bisa menjawabnya sendiri. [eLFa]

Buletin El-Fajr Edisi 20

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply