Menuju Khittah Pesantren

Islam adalah benar-benar agama yang diturunkan untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan Allah. Indikasinya adalah dapat dipahami bahwa semua ajaran Islam yang diturunkan oleh Allah mempunyai dimensi-dimensi kemanusian yang begitu kuat. Dalam menguatkan perannya menciptakan kemaslahatan di bumi, Islam menaruh perhatian besar pada keilmuan. Sehingga paradigma keilmuan yang diusung oleh Islam mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu berorientasi pada nilai ketuhanan dalam rangka menciptakan tatanan etika yang tinggi, dan pada akhirnya untuk menjunjung tinggi kemulyaan manusia.
Paradigma keilmuan sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam nampaknya mampu dipahami oleh generasi-generasi pendahulu,dengan semangat ketuhanan sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, dipadu dengan semangat yang tinggi-tinggi untuk bermanfaat seluas-luasnya untuk kepentingan manusia di masa depan, kiranya dapat menjadikan keilmuan para ulama-ulam terdahulu cenderung progresif sehingga dapat memposisikan nya menjadi pioneer ilmu pengetahuan di tingkat dunia, tepat ketika orang barat tengah berkubang dalam kegelapan kebodohan. Hebatnya lagi peran serta ilmuwan Islam tidak hanya berkutat ilmu kegamaan bahkan merambah ke ilmu-ilmu modern.
Skerang, ketika berbicara tentang pesantren dapat dirunut sejarahnya hingga walisongo, karena dewan walilah yang pertama kali menggagas berdirinya sebuah lembaga yang bertujuan menyebarkan ajaran agama Islam yang dinamakan pesantren. Dari lembaga tersebut diharapkan ajaran keislaman terutama tentang Tauhid mampu merubah kemusyrikan yang dijalankan oleh penduduk setempat, demikian juga tentang akhlaqul karimah mampu menjadikan tabiat hewan masyarakat setempat menjadi Islami dengan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian paradigma islam terhadap keilmuan sudah sepantasnya dapat dicerdasi oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan islam.
Setelah sekian abad perjalanan pesantren dalam sejarah keislaman Indonesia, hingga saat ini mampu bertahan dan tetap eksis, kendati dunia luar syarat dengan lompatan perubahan yang begitu cepat. Lalu, kiranya perlu dicermati, perihal factor apa yang menjadikan pesantren tetap sebagai mercusuar ajaran Islam yang kuat hingga saat ini. Penulis berpendapat bahwa hal itu tidak lain karena pesantren mampu bermetamorfosis dengan sempurna, dalam artian pesantren mampu mencerdasi segala lompatan dinamika yang ada dengan tidak menjaga jarak terhadap perubahan dengan tetap bertahan pada konstruksi identitas yang sama. Identitas tersebut mempunyai rancang bangun yang kokoh dengan tiga pilar penting, yakni Tauhid, moral dan ilmu. Penulis berkesimpulan tiga pilar itulah merupakan khittah pesantren yang harus terus diperjuangkan.
Bila kita membaca realitas, kadang terbesit dalam benak kita anggapan dapat di temukannya situasi dimana pesantren pada saat tertentu diposisikan secara berpunggungan terhadap realitas yang berakibat adanya jarak yang begitu lebar, kendati pada saat lain dalam posisi berbanding lurus yang tentunya menjadikan psantren tak ubahnya menara gading yang rentan sekali dihinggapi penyakit gagap realitas. Anggapan ini semestinya tidak perlu ada, karena pesantren dengan karakternya yang khas elah teruji sejarah mampu bertahan sebagai mercusuar ajaran Islam.
Oleh karena itu penulis beranggapan bahwa munculnya kekhawatiran tersebut merupakan sebuah gambaran adanya pembusukan intelektual yang terjadi pada masyarakat pesantren. Pembusukan tersebut semakin jelas, ketika realitasnya, seringkali pesantren dijadikan sebagai alat legitimasi kepentingan-kepentingan tertentu oknum masyarakat pesantren, disamping itu mainstream paradigma keilmuan pesantren dibangun minim sekali (untuk tidak mengatakan tidak ada) berorientasi pada kemanusiaan, melainkan mengulang peristiwa haman membangun menara untuk Firaun dalam rangka menemui Tuhan.
Berangkat dari logika bahwa ketika salah satu organ tubuh yang busuk jika tidak diamputasi, secara medis akan menjalar ke organ lain yang sehat, maka scenario amputasi pembusukan intelektual sangat mendesak untuk dilakukan, dengan memutuskan jaringan-jaringannya yang sekian lama berurat akar. Disini lah momentum penting yang harus digunakan pesantren untuk dapat berinteraksi secara positif-konstruktif dengan perubahan dan lompatanya yang terjadi di dunia luar, hal ini merupakan bagian penting dari proyek transformasi pesantren. Dan perlu penulis tegaskan bahwa transformasi pesantren tidak dapat dicurigai sebagai bentuk pengikisan identitas pesantren, melainkan sebagai upaya mengokohkan pesantren sebagai mercusuar ajaran Islam disamping juga sub kultur budaya bangsa Indonesia. Jadi, transformasi merupakan sebuah keniscayaan bukan?.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply