Kesuksesan Pengusaha Kudus Karena Spiritualitas

QUDSIYYAH, KUDUS – Salah satu faktor penting keberhasilan pengusaha Kudus adalah spiritualitas mereka. Artinya tindak laku pengusaha berpengaruh besar terhadap maju mundurnya usaha. Tidak hanya persoalan manajemen, persoalan profit, transaksi dan strategi, tetapi yang justru lebih penting adalah persoalan spiritualitas mereka yang kemudian diwujudkan dalam perilaku seperti pelayanan, tanggungjawab sosial, dan tanggungjawab terhadap lingkungan hidup.

Demikian salah satu hasil penelitian Abdul Jalil, wakil sekretaris Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) Menara Kudus baru-baru ini. Ia menjelaskan, aspek spiritualitas masyarakat Kudus dicirikan sebagai santri yang ulet berwirausaha. Hasilnya, pada tahun 1910-an dimana bangsa ini masih terjajah, Kudus telah hadir sebagai kota industri rokok yang sangat terkenal.

“Sampai sekarang Kudus masih berjaya dengan industri rokok, industri lain juga berkembang” jelas pria yang juga sebagai dosen Ekonomi Islam STAIN Kudus.

Kesuksesan ini, kata Jalil, salah satu faktor pentingnya adalah soal spiritualitas. Spiritualitas seseorang, yang berbasis pada keimanan, dapat diwujudkan dengan sepuluh karakter untuk mengembangkan usaha. Sepuluh karakter ini adalah amanah, orientasi jangka panjang, kontrol diri, komparatif, sinergis, emphaty, kreatif, taktis, mandiri, dan belajar dari kegagalan. “Sepuluh karakter ini ditemukan dalam profil pengusaha Kudus yang membuat usahanya terus berkembang dan sukses,” tambah dosen dari Kaliwungu Kudus ini.

Hasil penelitian yang berjudul Spiritual Entrepreneurship, Study Transformasi Spiritualitas Pengusaha Kudus mengantarkannya meraih gelar doktoral pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jum’at (13/7/2012) dengan nilai cum laude. Penelitian ini juga menyoroti tentang proses transformasi yang memunculkan karakter kewirausahaan yang tercerahkan. “Karakter ini meliputi kepercayaan dalam bisnis, orientasi mengedepankan aspek keberlangsungan usaha, mengontrol diri dari hal-hal negatif, memberdayakan potensi, mensinergikan kemampuan, merasakan apa yang dialami lingkungan, berusaha menemukan hal baru, bertindak taktis, mengedepankan aspek kemandirian, dan selalu belajar dari kegagalan,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kesuksesan pengusaha Kudus tidak semata-mata keahlian manajemen bisnis yang matematis semata, tetapi perilaku terhadap lingkungan sosial jelas berpengaruh. “Bagaimana ia berperilaku terhadap karyawan, terhadap rekan bisnis, terhadap masyarakat sekitar, terhadap lingkungan sekitar itu juga berpengaruh,” kata dia yang lulus dengan disertasi berjudul .

Lalu kenapa ada yang gagal dan ada pula yang sukses? “Persoalannya adalah bagaimana seseorang tersebut mampu mentransformasikan keimanan menjadi sepuluh karakter wirausaha tersebut,” imbuh alumni Ma’had Aly Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo, Jawa Timur ini.

Ia menambahkan, pada masyarakat Kudus sepuluh karakter tersebut telah mengalami proses yang cukup panjang dan terkenal dengan sebutan Gusjigang, yakni bagus, kaji, dan ahli dagang. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply