Ramadan, Proklamasi, dan Semangat Pemuda

Ramadan merupakan bulan yang agung. Bulan paling mulia diantara 12 bulan yang lainnya sebagaimana hari Jum’at dianggap sebagai sayyidul ayyam, penghulu hari diantara hari-hari lainnya. Hadis Rasul mengkonfirmasi hal itu ”Bulan Ramadan itu rajanya bulan diantara bulan-bulan lainnya, sedang rajanya hari adalah hari Jum’at” (HR. Thabrani dari Abdullah bin Mas’ud). Oleh karena itu siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadan karena keimanan dan perhitungan, maka diampuni dosa-dosanya (Hadis Muttafaq Alaih).

Saat Ramadan tubuh kita merasa ringan untuk senantiasa beribadah kepadaNya dengan shalat berjamaah di masjid, shalat Tarawih, qiyamullail, tadarus Alquran, sedekah dan macam-macam ibadah lainnya.

Semangat Ramadan membawa spirit perubahan dan jihad li I’lai kalimatillah. Tercatat berbagai peristiwa penting pada zaman Rasulullah terjadi bertepatan dengan bulan Ramadan. Perang badar, dan penaklukan kota Makkah (fathu Makkah), datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam, semua bertepatan terjadi pada bulan Ramadan. Di Indonesia, Ir. Soekarno membaca teks proklamasi Kemerdekaan RI bertepatan ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah Puasa. Saat proklamasi dibaca pada 17 Agustus 1945, umat Islam sudah sembilan hari menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun 1364 Hijriyah.

Fakta peristiwa-peristiwa di atas tentu saja semakin mengukuhkan kebenaran akan kemuliaan dan keistimewaan bulan suci Ramadan. Belum lagi ditambah fakta penting bahwa al- Qur’an al-karim juga diturunkan bertepatan dengan bulan penuh rahmat ini.

Ramadan adalah milik semua umat Islam. Ramadan tidak hanya milik para orang tua, yang terus tekun beribadah. Tidak hanya tidak hanya milik orang kaya yang mengeluarkan zakat dan banyak bersedekah. Ramadan adalah milik kita bersama, termasuk para pemuda.

Pemuda identik dengan semangat membara, energi yang berlebih, daya kreasi yang tak pernah terhenti, kekuatan yang tiada habis, dan caslon pemimpin masa depan. Pemuda merupakan subjek penggerak perubahan, pencipta ide kreatif, sekaligus objek yang akan menjadi contoh nyata dalam perubahan tersebut.

Pemuda harus menjadi penyemangat, pengaruh, dan penyusun skenario perubahan yang harus dilakukan. Ini setelah mengkritisi isu negatif yang membahayakan masyarakat, misalnya. Pemuda sebagai pencipta ide kreatif maksudnya adalah penggagas ide yang akan dilakukan dalam perubahan agar efektif dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. Sedangkan objek yang akan menjadi contoh berarti pemuda harus melaksanakan apa yang ia ucapkan. Sehingga, masyarakat semakin yakin dan percaya tentang apa yang ia ucapkan juga sukses ia lakukan. Dengan kata lain, mengajak orang lain membiasakan hal-hal baik melalui contoh nyata, melalui perilaku secara langsung.
Demikian harusnya para pemuda berperan dalam masyarakat. Namun, pemuda Islam, memiliki tugas lain dalam menjalani perannya, yakni harus tawazun, berimbang. Pemuda Islam harus seimbang dalam menjalani kehidupan dunia, hubungan dengan sang Kholiq, Allah Azza Wajalla dan hubungan antar sesama manusia dan lingkungannya. Kekuatan yang diperoleh dari hubungan dinamis ini adalah pengaruh luar biasa yang akan dengan luar biasa pula memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Melihat dari posisi dan potensi yang dimiliki pemuda, di tengah kemerosotan dan kebobrokan elit Negara pemuda diharapkan tampil sebagai pembawa perubahan. Dengan semakin maraknya kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang melanda negeri ini, pemuda harus tampil gemilang. Semangat Ramadan sekaligus semangat proklamasi 1945, harus menjadi landasan untuk berbuat dengan lebih baik terhadap bangsa yang sudah merdeka lebih dari enam puluh lima tahun ini.

Pemuda adalah jiwa seorang insan manusia yang memiliki ketangguhan dan semangat yang tinggi dalam memperjuangkan revolusi dan renovasi peradaban bangsanya menuju arah yang lebih baik. Kaum muda merupakan sosok yang penting dalam setiap perubahan, karena kaum muda bergerak atas nilai-nilai idealisme dan moralitas dalam melihat persoalan yang ada, demi tercapainya kesejahteraan bangsa. Mereka adalah sosok yang merindukan perubahan dan sesuatu yang baru dalam hidup ini.

Karena itu tidak berlebihan, jika founding father bangsa ini, Ir. Soekarno, berkata: “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Untuk itu, wahai pemuda muslim Indonesia, pemuda harapan bangsa, dengan semangat bulan yang penuh berkah ini, latihlah terus jiwa kepemimpinan dalam diri kita. Sebagai pemuda harapan bangsa, marilah terus melakukan optimalisasi diri. Tidak perlu memulai dari hal-hal yang besar, tapi mulailah dari hal-hal yang kecil. Mulailah dari diri kita sendiri, kemudian ajaklah lingkungan sekitar kita.

Perjuangan kita saat ini sudah bukan lagi dengan mengangkat senjata, bergerilya, dan berunding sana-sini, namun masih banyak bentuk perjuangan lain yang dapat kita lakukan untuk memaknai kemerdekaan dan menunjukkan nasionalisme kita. Menggunakan produk dalam negeri, berkarya dan berprestasi sesuai bidang masing-masing. Para pemuda juga harus bersatu satu sama lain dan jangan mudah terpecah belah demi keutuhan NKRI.

Peran kita saat ini adalah menjadi bagian dari masyarakat aktif mendorong kemajuan bangsa dengan melakukan berbagai kegiatan yang konstruktif, baik melalui organisasi kepemudaan maupun profesi yang digeluti. Peran masa depan dilakukan dengan membekali diri dan mengisi kompetensi. Sehingga ketika nanti mencapai tahap dewasa, pemuda dapat meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini dengan baik dan bertanggung jawab. (*)

Radar Kudus, Jawa Pos 3 Agustus 2012

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply