Menyelamatkan Lisan

Lisan adalah anugerah dari Allah swt bagi manusia. Melalui lisan, manusia dapat mengekpresikan apa yang ada dalam hati ataupun pikirannya. Dengan lisan manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya. Melalui lisan ini pula manusia dapat memahami keinginan serta memahami ucapan manusia lainnya.

Secara bentuk fisik, lisan dapat dimaknai sebagai lidah. Sehingga, dengan lisan ini manusia dapat merasakan aneka jenis rasa, mulai dari manis, asem, kecut, pahit, asin dan sebagainya. Beragam masakan dan minuman dengan beribu macam variannya tak akan terasa nikmat bila tiada lisan. Beribu manfaat lain dapat diperoleh dan dinikmati manusia dari lisan ini.

Namun demikian, tulisan ini akan fokus pada pemaknaan lisan yang diartikan sebagai (1) sesuatu yang diucapkan, atau (2) dengan tutur kata (percakapan), sebagaimana definisi lisan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Fungsi lisan, selain dapat berkomunikasi bagi manusia dengan manusia lainnya, adalah berkomunikasi dengan Allah swt. Komunikasi ini terlihat jelas dalam bentuk ritus ibadah seperti sholat, wirid, istighfar, bersyukur, berdo’a, membaca Alquran, dan sebagainya. Bahkan, keimanan seseorang salah satunya terpancar melalui lisan, yakni dengan mengucap dua syahadat, sebagai bentuk kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan kesaksian Muhammad utusan Allah. Begitu pula sebaliknya, kekafiran juga bisa terlihat dari ucapan lisannya.

Di sisi yang lain, lisan juga berperan penting dalam ritus ibadah sosial yang diatur dalam Islam. Seperti dalam pernikahan, khususnya dalam akad nikah, dalam jual beli, persewaan, hutang piutang, dan sebagainya. Lisan berperan sangat penting. Dalam ijab qabul pernikahan misalnya, fungsi lisan menjadi pokok, begitu pula dalam jual beli dan sebagainya. Melalui lisan ini adalah sebagai bentuk ekpresi seseorang dalam akad yang terjadi.

Begitu besar apa yang dapat diambil manfaat dari lisan. Tetapi bila disalahgunakan, atau tidak digunakan sebagaimana mestinya akibatnya sangat fatal. Sebuah pepatah “mulutmu adalah harimaumu” menggambarkan bahwa dari lisan atau perkataanmu dapat mendatangkan bahaya dan malapetaka. Artinya, lisan kita berpotensi untuk mendatangkan keburukan maupun kebaikan.

Bila lisan mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, kata-kata yang jorok atau bahkan kata-kata yang menghina, minimal akan membuat orang lain sakit hati. Bahkan dengan hal ini, besar kemungkinan akan membuat orang lain memusuhinya. Bila dibiarkan, permusuhan dan ketidakharmonisan akan berkembang luas. Tidak sedikit contoh yang bermula dari satu ucapan kotor saja, berkembang menjadi perkelahian bahkan pertikaian yang tiada berujung.

Godaan lisan lainnya adalah berbohong. Hal ini kerap dilakukan dengan seribu alibi dan alasan. Para ulama telah bersepakat bahwa dusta atau bohong adalah memberikan atau menyampaikan informasi baik berupa laporan, data, pertanggungjawaban dan sebagainya yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan kenyatannya.

Berdusta bisa diklasifikasi menjadi tiga buah, berdusta dengan perkataan, yaitu perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan, berdusta secara tertulis, yaitu membuat suatu kontrak, transaksi, laporan, berita dan lainnya yang tidak sesuai dengan kejadian atau keadaan yang sebenarnya, dan berdusta dalam hati, artinya hatinya mendustakan sedang mulutnya membenarkan.

Untuk menyelamatkan lisan agar tidak sering berdusta, Nabi saw telah mewanti-wanti untuk menghindari kedustaan ini. Secara jelas dalam hadis Nabi dikatakan bahwa berbohong adalah salah satu ciri orang munafik. Dan orang munafik akan diganjar dengan neraka yang paling pedih.
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari)

Menurut Syekh Mustofa al-Golayaini, peran lisan menjadi penting untuk melihat benar tidaknya seseorang. Bahkan tidak hanya itu, beliau mengingatkan, lisan saja tidaklah cukup, tetapi perlu dibuktikan dengan perbuatan. Dengan tegas beliau mengatakan, orang yang shiddiq adalah orang yang perbuatan dan perilakunya sesuai dengan perkataannya.

Dengan demikian sangatlah penting menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang kotor ataupun perkataan yang dusta. Siapapun dan apapun motif yang dikandungnya, berbohong tidaklah baik. Tiada manusia yang ingin dibohongi, maka jauhilah kebohongan. Tiada manusia yang ingin disakiti, maka jauhilah kata-kata kotor dan menyakitkan.
Dengan tegas Nabi mengingatkan, hendaklah kalian berkata-kata baik, atau lebih baik diam. Waallahu A’lam. (*)

Dimuat di Cermin Hati, Radar Kudus Jawa Pos, Edisi Jum’at 14 September 2012

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply