MENGURAI TAWURAN, YAPIQ GELAR SEMILOKA SE- JATENG

QUDSIYYAH, KUDUS – Guna mengurai marakanya tawuran di dunia pendidikan akhir-akhir ini, Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus akan mengadakan seminar dan lokakarya pendidikan tingkat Regional se- Jawa tengah bertempat di Hotel Griptha Kudus pada Sabtu (20 Oktober 2012).

Ketua Panitia Zaenuri Rahadian mengatakan tawuran pelajar yang merupakan wujud kekerasan di negeri ini sangat mencoreng dunia pendidikan. Padahal, pendidikan di Indonesia proses yang dengan sengaja dilakukan untuk tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa serta berbudi pekerti luhur.

“Dalam rangka menanggapi aksi kekerasan pelajar tersbut, Semiloka akan membincang akar masalahnya, apakah tawuran itu menjadi problem tradisi, karakter atau kurikulum, sekaligus dicarikan solusinya,” katanya.

Zaenuri mengungkapkan kejadian tawuran telah membuka kesadaran banyak kalangan bahwa pendidikan yang dibangun pemerintah terlalu berorientasi pada nilai akademik semata. Semua potensi pendidikan diarahkan untuk mengejar nilai ujian.

“Anak didik yang lemah secara akademik akan termarjinalkan oleh sistem yang ada saat ini. Anak yang gagal ujian nasional misalnya, kerap dicap sebagai siswa yang bodoh.” ujarnya.

Sekarang ini, imbuhnya, perlu membumikan pendidikan yang mengedepankan pendidikan karakter untuk segera diterapkan. Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana dalam menanamkan nilai-nilai sehingga terinternalisasi dalam diri peserta didik yang mendorong dalam mewujud dalam sikap dan perilaku yang baik.

“Dengan kata lain, pendidikan karakter hakikatnya adalah menanamkan budi pekerti dan menebarkan kebajikan.” tandasnya.

Kegiatan ini, jelas Zaenuri, bertujuan menemukan dan merumuskan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai moral bangsa dan kehidupan berlandaskan pada pendidikan karakter.

“Selain itu, untuk memberikan masukan kepada pemerintah terkait dengan kurikulum pendidikan dan refleksi kritis atas pendidikan yang dilaksanakan dalam berbagai bentuk dan modelnya,” terangnya.

Kegiatan yang akan dimulai pukul 08.30 WIB itu, para pakar dan praatisi pendidikan yang hadir adalah Prof Dr H Nur Syam, MSi (Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI) berbicara tentang Konflik dan Integrasi dalam Sejarah Sosial Bangsa Indonesia, Drs Hartoyo, MA PhD (Staf Ahli Mendikbud/Unnes Semarang) tentang Pendidikan Karakter sebagai Determinasi Anarkisme Pelajar, Prof Dr Mudjahirin Thohir, MA (Budayawan/Guru Besar UNDIP Semarang), Membongkar Tradisi Tawuran Pelajar di Indonesia.

Sementara H Hasyim Asy’ari, SH MSi PhD (Praktisi Hukum) membincang Kontribusi Politik dan Hukum dalam Menyelesaikan Tawuran Pelajar, Dr HM Ihsan, MAg (Praktisi Pendidikan) tentang Formula Pendidikan Agama Islam yang Humanis, bukan Anarkis dan Slamet Budi Cahyono (Ketua Masyarakat Ilmiah Pemuda Indonesia (MIPI)/Ketua Young Entrepreneur Society) menyampaikan Testimoni Pelaku Tawuran yang Sukses Menjadi Pengusaha dan Peneliti.
Sedangkan selaku peserta, panitia telah mengundang sekitar 500 peserta dari kalangan guru dan OSIS SMA/SMK/MA ,Mahasiswa, pengasuh pondok pesantren dan tokoh masyarakat, intansi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan se-Jawa tengah.

”Kami berharap semua peserta bisa hadir untuk memberi masukan kritis terkait pendidikan kepada pemerintah,” pungkasnya. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply