QUDSIYYAH PANDEGANI DEKLARASI ANTI TAWURAN

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebagai bentuk keprihatinan maraknya aksi kekerasan, sejumlah pelajar dan stakholder pendidikan se-karesidenan Pati mendeklarasikan Anti tawuran. Kegiatan yang bersamaan saat acara semiloka “Tawuran Pelajar ; Problem Tradisi, Karakter atau Kurikulum?” di Hotel Griptha Kudus, Jateng, Sabtu (20/10) ini dipandegani dan dipimpin oleh Qudsiyyah Kudus.
Ketua umum Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ), M Aufa Hasan memimpin deklarasi yang diikuti oleh pelajar, pemuda, mahasiswa, guru serta tokoh organisasi kemasyarakatan, pejabat pemerintahan tersebut merupakan salah bentuk penolakan terhadap aksi tawuran.

Setelah itu, mereka yang berjumlah ratusan itu membubuhkan tanda tangan pada naskah deklarasi yang akan dikirim kepada kyang akan dikirim ke pejabat terkait di jajaran disdikpora dan kemenag masing-masing kabupaten. Naskah deklarasi yang dibacakan salah seorang pelajar Madrasah Qudsiyah Kudus itu berisi menjunjung tinggi nilai pancasila, menjaga NKRI, menjunjung nilai moral dan agama serta mengutuk aksi anarkisme dan siap menjadi tauladan bagi masyarakat.

Ketua Panitia Deklarasi, M Zainuri yang juga wakil ketua YAPIQ Menara Kudus, mengatakan, kegiatan deklarasi ini digagas sebagai bentuk keprihatinan atas terjadinya tawuran antar pelajar yang menimbulkan korban jiwa.

Sebelum deklarasi, sejumlah pakar dan praktisi pendidikan mengurai sekaligus mencari solusi terhadap peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan ini. Salah satu pembicara Slamet Budi Cahyono mengatakan kenakalan siswa masih dipandang sebagai biang keladi timbulnya tawuran pelajar. Hal ini diperparah dengan stereotipe masyarakat dalam menanggapi siswa nakal dinilai siswa gagal.

“Padahal bila dilihat secara holistik, kenakalan siswa ini sebagai wujud rasa kegalauan dalam menyikapi keadaan saat ini,” ujarnya.

Untuk menangani kenakalan tersebut, tambah Selamet, dibutuhkan tiga pola utama yakni pola pikir (mindset), pola konsumsi (akses informasi) dan pola sikap (tindakan nyata).
“Mestinya kenakalan harus menjadi sebuah aset yang perlu dikelola secara bijaknsa dan disalurkan tepat sehingga menghasilkan menghasilkan karya luar biasa dari siswa. Minset-nya, siswa nakal sama dengan siswa berakal,”tandasnya.

Sedangkan pola konsumsi akses informasi, siswa perlu dilakukan pengontrolan dan pengarahan tentang sumber informasi yang sesuai untuk dikonsumsi oleh siswa didasarkan pada segi usia. “Sebab, selama ini mereka minim memperoleh informasi positif karena aksesnya sangat mudah diperoleh di era perkembangan tegnologi informasi ini,” terang selamet. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply