Mauludan, Jangan Campur dengan yang Haram!

Di bulan Rabiul Awwal ini, suasana maulid terasa hangat di benak kita. Di mana-mana terdengung shalawat-shalawat keagungan atas Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sudah menjadi tradisi kaum muslim di seluruh belahan dunia, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Bahkan, kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap pekan, seperti setiap malam Senin atau malam Jumu’ah. Bentuk peringatan ini diadakan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia di lingkungan masyarakat dari kota besar hingga ke pelosok-pelosok desa.  Masyarakat muslim di Indonesia pada umumnya menyambut maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat Nabi, pembacaan syair al-Barzanji, Simtud Duror, dan sebagainya. Tidak jarang, acara-acara tersebut juga diselingi juga dengan keramaian-keramaian untuk memeriahkan acara mauled Nabi seperti adanya perlombaan agama anak-anak, pengajian umum dan sebagainya.

Peringatan maulid nabi merupakan hal yang disunnahkan. Dalam Hadits Nabi disebutkan:

 

من عظم مولدى كنت شفيعا له يوم القيامة ومن انفق درهما فى مولدى فكأنما انفق جبلا من ذهب فى سبيل الله

 

Barang siapa memuliakan hari kelahiranku, maka aku akan memberikan syafa’at kepadanya di hari kiamat, dan barang siapa infaq sebanyak satu dirham untuk memuliakan hari kelahiranku, maka akan seakan-akan dia infaq sebesar gunung emas di jalan Allah.(Fatawa as-Subkah al-Islamiyyah, V, 5079).

Masyarakat sangat ekspresif dalam merayakan maulid Nabi.  Tidak hanya acara yang sederhana, acara yang megah dan meriah dilaksanakan dalam momentum peringatan maulid Nabi. Ada yang diiringi musik, rebana, bahkan ada juga yang berjoget.

Bagaimana sebenarnya bentuk perayaan yang demikian, masihkan disunnahkan, atau justru dilarang?

Mengenai musik, menurut Imam al-Ghazali hukum menyanyi diiringi dengan alat musik itu diperbolehkan dengan syarat: pertama, tidak dinyanyikan oleh perempuan yang haram dilihat dan lantunannya tidak menimbulkan fitnah. Kedua, tidak menggunakan alat-alat yang diharamkan oleh syara’ seperti seruling, gitar, dan kendang. Ketiga, tidak mengandung kata-kata kotor, bahkan pengingkaran terhadap Allah dan Rasulullah. Keempat, pendengar lagu lantas tidak langsung dikuasai nafsu kala mendengarnya. Kelima, lirik lagu memungkinkan mengaspirasi diri untuk menambah kedekatan kepada Allah. Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka, menurut Imam al-Ghazali, menyanyikan lagu dengan diiringi musik hukumnya haram. (Ihya’ Ulumiddin, II, 306-308)

Kriteria yang dipatok Imam Ghazali ini bukan tanpa dasar. Ada hadits Nabi yang mengungkapkan:

إن الله حرم الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام

Sesungguhnya Allah mengharamkan arak, judi, gendang. Dan setiap barang yang memabukkan adalah haram.

Juga hadits Nabi:

بعثت بكسر المزامر

Aku (Nabi) diutus untuk menghancurkan seruling.

 

Begitu juga dalam perayaan Maulid Nabi. Bila dalam perayaan tersebut diiringi alat malahi, maka diharamkan. Alat malahi tersebut, seperti segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak yang tidak dimaksudkan untuk dipergunakan hiburan atau dalam pelaksanaannya terdapat bentuk istikhfaf (meremehkan). (Kifayatul Akhyar, II, 201-202; Syarhu Sullamit Taufiq, 13; Faidu al-Qodir, VI, 433).

Sementara alat musik yang dihalalkan adalah seperti rebana. Karena ada hadits dari Rubayyi’ binti Muawwidz:

 

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم غداة بُنِيَ عَلَيَّ فجلس على فراشي كمجلسك مني وجويريات يضربن بالدف

 

Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (Khalid bin Dzakwan) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan/memukul rebana. (HR. Bukhari, 987)

 

Sedangkan ihwal berjoget, lagi-lagi ada setidaknya dua pendapat. Kubu pertama mengatakan kalau goyangan tubuh dan gemulai badan yang merangsang birahi hukumnya haram. Karena bagi yang mengatakan halal, orang tersebut termasuk fasik. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, IV, 2665)

Pendapat kedua menghalalkan. nampaknya dari ikhtilaf tersebut, pendapat yang menghalalkanlah yang lebih kuat. Karena ada hadits:

 

قدم وفد الحبشة فجعلوا يزفنون ويلعبون

 

Serombongan utusan raja Habasyah (Etiopia) datang kepada Nabi, lalu mereka menari dan menyanyi (di hadapan beliau).

Bahkan di riwayat lain, Rasul pernah memberi izin kepada ‘Aisyah untuk menyaksikan tarian orang-orang Zanuj (ras kulit hitam) di hari raya.

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali ternyata berpendapat kalau sebenarnya tarian itu tidak dilarang. Yang menjadikannya haram adalah faktor eksternal (luar). Maka ketika faktor itu hilang, maka tarian tidak menjadi masalah. Diambil dari hadits di atas, Nabi pernah melihat tarian orang dari delegasi Habasyah. Beliau tidak membenci gerak tubuh gemulai tersebut. Lagi pula, Allah tidak memberi hukuman bagi orang yang melakukan hal yang sia-sia. Andai saja ada seseorang bermain dengan meletakkan tangannya seratus kali di kepalanya selama seratus hari, tuhan tidak akan menghardiknya meskipun hal itu sia-sia. (Ihya’ Ulumiddin, II, 309)

Jadi, peringatan maulid Nabi hendaknya tidak menggunakan alat-alat malahi yang diharamkan. Sebab ketika hal yang halal dan haram berkumpul, maka akan menjadi haram. Sebagaimana dalam kaidah fiqhiyyah:

 

إذا اجتمع الحلال والحرام غلب الحرام

Apabila berkumpul antara yang halal dengan yang haram maka dimenangkan oleh yang haram.

 

Yang lebih penting lagi, perlu digarisbawahi, bahwa banyak hal yang dapat dilakukan untuk menunjukkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekadar membaca sejarah beliau, bukan hanya bershalawat atas beliau, tapi harus dilakukan dengan melakukan perintah dan sunnahnya dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan aturan syara’ yang sudah ada. [eLFa]

BULETIN EL-FAJR MA’HAD QUDSIYYAH KUDUS, Edisi 35/8 Februari 2013

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply