SILATURRAHIM YAPIQ DENGAN PBNU: MENYAMBUNG KEMBALI SEJARAH QUDSIYYAH DENGAN NU

QUDSIYYAH, JAKARTA – Setelah sempat tertunda beberapa waktu, niat Madrasah Qudsiyyah Kudus bersilaturrahim ke kantor PBNU akhirnya terwujud. Pada Kamis pagi (10/10) sekitar 70 orang yang terdiri atas pengurus, dewan guru dan staf yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah tiba di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jl. Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.

Peserta rombongan yang diangkut oleh dua bus itu disambut langsung oleh Wakil Ketua Umum PBNU, H. As’ad Said Ali, Ketua PBNU H. Maksum Mahfud, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Enceng Shobirin dan Ketua LAZISNU KH. Masyhuri Malik.

Dalam sambutannya, H. Em Nadjib Hassan selaku ketua rombongan sekaligus Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) mengungkapkan bagaimana hubungan historis antara Qudsiyyah dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Ia mengungkapkan, Madrasah Qudsiyyah didirikan oleh Mbah Raden Asnawi pada tahun 1919. Mbah Raden Asnawi juga salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. “Bahkan NU di Kudus adalah cabang pertama yang diresmikan keberadaannya oleh Nahdlatul Ulama,” tutur Nadjib di hadapan pengurus PBNU dan sekitar 100 orang, termasuk alumni Qudsiyyah Jakarta, yang hadir pada acara silaturrahim tersebut. 

Jejak peninggalan dan bukti sejarah keberadaan Madrasah Qudsiyyah dan Nahdlatul Ulama di Kudus yang dirintis oleh Mbah Raden Asnawi dapat dilihat pada bangunan yang ada saat ini. Salah satunya adalah aktifitas belajar mengajar Madrasah Qudsiyyah yang berada di lingkungan Masjid dan Menara Kudus yang masih berlangsung hingga kini.

H. As’ad, Wakil Ketua Umum PBNU yang duduk di depan berdampingan dengan Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah, H Em Nadjib Hasan dan Ketua alumni Qudsiyyah (Ikaq), Muhammad Ihsan berdialog dengan peserta mengenai pesantren, pendidikan nasional, dan NU.

Menurut dia, pesantren dengan sistem pendidikan salafiyah berkontribusi besar terhadap kemajuan Islam Indonesia yang ramah dan menghargai perbedaan. Bagaimana pun, katanya, pesantren semacam ini harus terus dipertahankan.

Namun, lanjut As’ad, dirinya juga mengaku prihatin dengan kondisi beberapa pesantren salafiyah yang tidak sanggup mempertahankan keberlangsungannya. Karena itu, ia mendorong pesantren salafiyah tidak anti terhadap unsur luar yang relevan sebagai solusi agar pesantren bergaya tradisional ini tetap dapat diterima khalayak.

“Supaya tak hilang, pesantren salafiyah juga bisa mengakomodir, misalnya, SMK (Sekolah Menengah Kejuruan),” tuturnya seraya menegaskan bahwa sikap ini termasuk dari pelaksanaan prinsip pesantren al-muhafadhah ‘alal qadimis shalih wal al-akhdzu bil jadidil al-ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik mengambil hal baru yang lebih baik).

Di samping berdialog dengan jajaran PBNU, acara siang itu juga dimanfaatkan untuk berdialog dengan alumni. Salah satu alumni Madrasah Qudsiyah yang diminta memberikan sambutannya adalah Mustolihin. Alumni Qudsiyyah Jakarta yang berasal dari Kota Kudus ini, menduduki Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PBNU.

Mustolihin menceritakan bagaimana banyaknya peluang yang bisa dikerjakan bersama para alumni. Ia mengajak supaya peluang tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, terutama untuk pengembangan diri alumni dan Madrasah Qudsiyah pada umumnya.

Rombongan Yapiq berangkat menuju Jakarta sejak Rabu pagi. Sebelumnya, rombongan itu berziarah ke makam Sunan Kudus, Sunan kalijaga Demak Jawa Tengah, makam Habib Ahmad Pekalongan, Jawa Tengah, dan makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat.(*)

 Noor Aflah, Alumni Qudsiyyah

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply