FORMULA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG HUMANIS DAN RELIGIUS

 

A. Pendahuluan

Pendidikan, memiliki  peran  strategis  sebagai sarana  human resources  dan  human  investment. Selain bertujuan  menumbuhkembangkan  kehidupan  yang lebih  baik, pendidikan  juga telah  nyatanyata ikut mewamai dan menjacli landasan moral dan etik dalam proses pemberdayaan  jati diri bangsa.[1]  Sedemikian pentingnya pendidikan, terutama pendidikan agama Islam, maka wajar jika hakekat pendidikan merupakan proses humanisasi, yang berimplikasi pada proses kependidikan dengan  orientasi  pengembangan  aspek­aspek  kemanusiaan  manusia, yakni  aspek fisik-biologis  dan   ruhaniah-psikologis.[2]  Aspek   rohaniah­ psikologis inilah yang dicoba didewasakan dan di-insan kamil-kan melalui pendidikan sebagai elemen yang berpretensi   positif   dalam  pembangunan  kehidupan  yang  berkeadaban.[3]  Dari   pemikiran   ini,  maka pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan  fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil).[4]

Sementara itu, beberapa ahli mensinyalir terjadinya “dehumanisasi” pendidikan, dengan indikasi terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Bahkan pendidikan mengalami“kegagalan” apabila kita  lihat dari  beberapa  kasus  yang  muncul  ke  permukaan.  Kasus  kekerasan  yang  merebak  dalam kehidupan  kebangsaan dan  kemasyarakatan  kita, mengindikasikan bahwa  pendidikan belum mempunyai peran   signifikan  dalam   proses   membangun   kepribadian   bangsa   kita  yang punya jiwa sosial  dan kemanusiaan. Radikalisme agama adalah salah satu problem  nasional yang perlu dipecahkan. Salah satu upaya  strategisnya  adalah  dengan  membangun paradigma  pendidikan yang  berwawasan  kemanusiaan (humanis).  Pendidikan sesungguhnya  bukan  semata-mata  momen  “ritualisasi”,  tetapi  implemntasi  dua variabel  pokok  yaitu  teoritis  dan  praktis[5]   untuk  menghasilkan  insan-insan  pendidikan yang  memiliki karakter manusiawi dan sarat keilmuan yang meniscayakan jaminan atas perbaikan kondisi sosial yang ada.

Secara normatif,  Islam  telah  memberikan  landasan  kuat  bagi pelaksanaan  pendidikan. Pertama,Islam  menekankan  bahwa  pendidikan merupakan  kewajiban  agama  dimana  proses  pembelajaran  dan transrnisi Ilmu sangat bermakna  bagi kehidupan manusia. Inilah latar belakang turunnya wahyu pertama dengan  perintah  membaca,  menulis,  dan  mengajar.[6]   Kedua,  seluruh  rangkaian  pelaksanaan  pendidikan adalah  ibadah  kepada  Allah  SWT.  Sebagai  sebuah  ibadah,  m.aka pendicliktn merupakan   kewajiban individual sekaligus kolektif , Ketiga, Islam memberikan derajat tinggi bagi kaum terdiclik, sarjana maupun ilmuwan. Keempat, Islam memberikan  landasan  bahwa pendidikan merupakan  aktivitas sepanjang  hayat. (long life  education). Sebagaimana Hadist Nabi  tentang  menuntut  ilmu  dari sejak buaian ibu  sampai liang kubur).[7]  Kelima,  kontruksi   pendidikan  menurut   Islam  bersifat  dialogis,  inovatif   dan  terbuka  dalam menerima ilmu pengetahuan baik dari Timur maupun Barat.

Kemajuan teknologi dan globalisasi menghilangkan sekat dunia. Peristiwa yang terjadi eli belahan dunia sana, pada saat bersamaan bisa disaksikan eli dalam rumah kita sendiri melalui layar televisi, internet, dan fasilitas teknologi informasi  lainnya yang secara langsung maupun  tidak akan dapat mempengaruhi  perkembangan jiwa anak-anak  pada  usia  remaja  yang,  memiliki  kecenderungan   untuk  mencoba-coba sesuatu, tidak sabar, mudah  terbujuk  dan selalu ingin menampakkan egonya. Fakta tersebut memerlukan perhatian dari pendidikan, utamanya pendidikan agama Islam.

Pendidikan Agama Islam  (PAI)  pada sekolah, madrasah  dan  Perguruan  Tinggi selama ini lebihberorientasi pada norma agama daripada problem subyek diclik. Ajaran agama Islam dipaharni kemudian disistematisasi menjadi lima aspek yaitu Al-Qur‘an-Hadis,  Aqidah/Keimanan, Akhlak, Fikih/Ibadah dan SKI.  Sedangkan  para  ahli  merancang  pendidikan berangkat  dari  kondi.si obyektif  subyek  diclik secaramendalam,  kemudian  melakukan  analisis  halhal  apa  saja yang  diperlukan  oleh  subyek  didik  bahkan melakukan  diagnosis sampai ditemukan  persoalan-persoalan  yang ada pada subyek  didik. Dati  temuan­ temuan  itu  kemudian  mereka  rancang  sistem,  pola, atau  model  pendidikan. John  P.  Miller, misalnya, melakukan penelitian terhadap  subyek didik lebih dati tujuh tahun  dan menemukan  bahwa keterasingan siswa di sekolah menjadi pemicu  munculnya  berbagai penyimpangan,  seperti  tawuran,  pergaulan bebas, putus  sekolah, kecanduan  narkoba  bahkan  sampai bunuh  diri. Kemudian  dia rancang model pendidikanyang terkenal dengan nama Humanizing the Classroom, Models of Teaching in Affective Education.

Dua  konsep  tersebut  perlu  dikoneksikan  agar  terbentuk  sinergi antara  teks  ajaran  teiutama  al Quran  sebagai landasan  normatif  umat  Islam  dengan  praktek  pendidikan  Islam  di  era  global  seperti sekarang ini. Artinya, pendidikan Islam (PAI) sebagai misi pembentukan  insan kamil di era modem  dapat dianggap gagal dalam membumikan  universalitas ajaran Islam dan  terjebak  dalam dehumanisasi,  karena kurang  memperhatikan   aspek  peserta  didik.  Dalam  prakteknya,  Institusi  pendidikan  lebih  merupakan proses  transfer  ilmu  dan  keahlian  daripada  usaha  pembentukan   kesadaran  dan  kepribadian  anak  didik sebagai  pembimbing   moralnya   melalui   ilmu   pengetahuan   yang   dimiliki.   Padahal,   kecenderungan pendidikan yang sekedar transfer ilmu dan keahlian dan mengabaikan pembangunan  moralitas merupakan ciri utama dehumanisasi pendidikan.[8]

 

B. Konsep Pendidikan Humanis dan Religius

Merujuk pada  rumusan  dasar negara Republik Indonesia,  praktik  pendidikan  yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini  adalah pendidikan  yang bercorak  humanis religius. Konsep  ini ditarik dan diabstraksikan dari sila “Ketuhanan yang Maha Esa”, serta “Kemanusiaan  yang Adil dan Beradab”. Untuk menjaga dan menumbuhkan nilai-nilai humanis religius, bangsa Indonesia memiliki cara yang unik. Bukan sekulerisme radikal yang menjadi pilihan, sebab ia tidak mempedulikan  agama di ranah publik. Juga bukan kebijakan teokratis yang serba agama. Politik pendidikan agama konvensional yang menjadi pilihan. Melalui kebijakan ini, negara mengakui pluralitas agama sekaligus bertanggung  jawab mendidik warga agar menjadi pemeluk  agama  yang  taat.  Orang-orang  yang  taat  beragama diharapkan dapat  memantulkan cahaya religiusitasnya itu ke dalam sikap dan perilaku yang terpuji.

Gagasan pendidikan  yang humanis dan religius dapat dipertimbangkan  secara normatif  konseptual,termasuk  kebijakan politik pendidikan  agamanya. Namun  yang menjadi masalah adalah mengapa dalam perjalanan 68 tahun, gagasan dan  kebijakan  tersebut  diimplementasikan  belum  terlihat, bahkan  tampak semakin  kabur   dan   menjauh.   Bahkan   ada  kecenderungan   orang-orang   berpendidikan   tinggi,  yang seharusnya mampu menjadi teladan dalam menampilkan kepribadian luhur, menjadi sebaliknya yaitu gaya hidupnya hedonistik, serba permisif, menjarah kekayaan bangsa tanpa rasa bersalah, pamer kemilau kuasa dan  harta  semakin  kasat  mata  sementara  sebagian  besar  rakyat  hidup  dalatrt belitan  kemiskinan, dan penderitaan   yang  akut.  Alih-alih  menjadi  warga  negara  yang  berkarakter   humanis   religius,  outputpendidikan  kita  malah  melahirkan  dan  menumbuhkan  orang-orang yang  berkarakter  memiliki  (having char cter).  Merebaknya  karakter  ini  terlihat  begitu  mencolok dalam  bentuk  lahirnya  orang-orang  yangbermental serakah dan dan mabuk kekuasan.

Ada dua konsep yang perlu dirujuk, yaitu pendidikan humanis di satu sisi dan pendidikan religius disisi  yang  lain.  Pendidikan   humanis   merupakan   tanggapan   dan   kritik  terhadap   praktik   pendidikan tradisional.[9]  Ciri pendidikan  tradisional yang ditolak kalangan humanis  adalah: guru  otoriter,  pengajaranmenekankan buku  teks, siswa pasif hanya mengingat informasi  dari guru, ruang belajar terbatas di kelasyang terasing dari kehidupan  nyata dan  menggunakan  hukuman  fisik dan  menakut-nakuti siswa untuk membangun kedisiplinan. Konsep humanisme adalah  memanusiakan  manusia sesuai dengan  perannya sebagai khalifah di bumi ini.

Al-Qur’an  menggunakan  empat  term untuk  menyebutkan  manusia, yaitu basyar, al-nas, bani adamdan al-insan. Term basyar secara umum digunakan untuk menjelaskan bahwa manusia itu sebagai makhluk biologis. Sedangkan term al-nas (disebut 240 kali) digunakan untuk menjelaskan bahwa manusia itu sebagai makhluk  sosial. Kemudian,  term  bani adam diulang dalam al-Quran  sebanyak 7 kali[10]  menunjukkan bahwa manusia itu sebagai makhluk rasional dan kata keempat menggunakan  term al-insan diulang di dalam al-Qur’an sebanyak  65  kali dan  24  derivasinya yaitu  insa 18  kali dan  unas 6  kali[11]   digunakan  untuk menjelaskan  bahwa  manusia  itu  sebagai  makhluk  spiritual.  Dengan  demikian,  maka  manusia  memiliki potensi   unik   pada   ranah biologis,   sosial,  intelektual   dan   spritual,   yang   sangat   potensial   untuk dikembangkan oleh dan melalui proses pendidikan.

Praktik pendidikan  humanis bertujuan  memanusiakan  manusia  sehingga  seluruh  potensinya  dapat tumbuh  secara penuh dan  menjadi  pribadi  utuh  yang bersedia  memperbaiki  kehidupan.  Prinsip-prinsip  pendidikan  humanis  meliputi:  guru  sebagai  ternan  belajar, pengajaran  berpusat  pada  anak,  fokus  pada keterlibatan  dan  akivitas siswa, siswa belajar dari pengalaman  kehidupan  dan  membangun  kedisiplinan secara kooperatif  dan dialogis. Seorang  pendidik  humanis  selalu membuka  ruang  kebebasan  pada setiap individu  untuk  membangun   diri  sesuai  cita-cita  yang  dicanangkan.  Tujuan   pendidikan  religius  untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral dan menyiapkan siswa untuk hidup sederhana dan bersih hati.[12]

Integrasi dan sinergi keduanya dapat melahirkan konsep pendidikan yang ideal sesuai falsafah bangsa Indonesia. Pendidikan  humanis  religius adalah pendidikan  yang dapat  membangun moral  manusia yang baik (akhlakul karimah) dan  menumbuhkan kapasitas (kemampuan)  diri secara  penuh  sehingga mampu merealisasikan tujuan  kehidupan  secara produktif.[13]  Hakikat  pendidikan  humanis  menurut  Abdul  Munir Mulkhan  mencakup   tiga  entitas,  yaitu; 1)  Pendidikan  sebagai  proses   peneguhan   keunikan  manusia. Maksudnya,  kesadaran   keunikan   diri  sebagai  pengalaman   otentik   perlu   ditempatkan   sebagai  akar pendidikan,  pengembangan   politik  kebangsaan,  dan  kesalehan  religius. Keunikan  adalah  basis  pribadi . kreatif dan kecerdasan setiap orang dengan  kemampuan  dan sikap hidup berbeda.  2) Pendidikan sebagai proses  akumulasi pengalaman  manusia.  Ma ksudnya, proses pendidikan  perlu ditempatkan  sebagai media pengayaan  (akumulasi)   pengalaman.   3)  Pendidikan   sebagai  proses   penyadaran.   Hakikat   pendidikan menurut Mulkhan tidak lain sebagai proses penyadaran diri dari realitas universum. Penyadaran bukan awal sebuah  dinamika  kehidupan  melainkan  akar  dari  seluruh· dinamika  kehidupan   yang  terus  aktual  dan terpelihara. Sementara itu, aplikasi konsep  pendidikan humanis Abdul  Munir Mulkhan dalam pendidikan agama Islam menyentuh wilayah tujuan, kurikulum, evaluasi, metode, pendidik dan peserta didik.

Sesungguhnya, praktikpendidikan di Indonesia  bercorak religius sebab  pendidikan  agama diajarkan sejak usia dini sampai perguman  tinggi. Terlebih dilembaga pendidikan yang bernapas  keagamaan seperti madrasah maupun sekolah-sekolah  keagamaan. Hanya penyajiannya masih bersifat parsial dan te.rlalu berat pada dimensi ritual. Dalam  perspektif  humanis  religius, pendidikan  agama dis,uguhkan  untuk: memupuk sikap positif terhadap kehidupan, memahami  kenyataan sosial dan kontradiksi  yang ada dalam masyarakat dan   merangsang  siswa  untuk   mengamalkan   iman   dalam  seluruh   dimensi   kehidupan.   Sebagaimana dikemukakan eli atas, tidak begitu mengejutkan  bahwa praktik pendidikan eli sekolah kita cenderung  tidak humanis.

 

C. Pendidikan Agama Islam Berbasis Pesantren

Secara umum esensi perubahan  yang dialami oleh madrasah adalah untuk meningkatkan  kualitas dan mensejajarkan madrasah dengan sistem persekolah  (sekolah umum). Meskipun pada kenyataannya sampait saat ini masih terjadi perbedaan  persepsi dalam implementasi,  terutama  dalam memaknai,  merumuskan, dan mewujudkan ciri khas Islam. Apa dan bagaimana implementasi pendidikan  yang dijiwai ajaran agama Islam? Satu hal yang mereka sepakati adalah rumusan dan implementasi  dijiwai ajaran agama Islam ini harus diberikan dalam bentuk  formal yang terumuskan  dalam kurikulum  yang tersimbolkan  dalam mata pelajaran. Rumusan  implementasi[14]  “pendidikan  yang dijiwai suasana  keagamaan”,  sesuai kapasitas dankonteks masing-masing relatif sudah  terumuskan  dan terlaksana. Karena  pemahaman  untuk  rumusan ini lebih mudah untuk elipahami dan eliwujudkan dalam praktik. Secara umum, madrasah mewujudkan suasana keagamaan ini dilaksanakan dalam bentuk penciptaan lingkungan madrasah dengan berbagai kegiatan yang bersumber  dari nilai/ajaran  islam· yang berujung  pada  terciptanya  budaya  yang Islami, mulai dari cara berpakaian, bertutur kata, pergaulan sampai pada berbagai bentuk latihan/  praktik ritual keagamaan. Secara teknis p.elaksanaan kegiatan tersebut ada yang terstruktur dalam format  kurikuler, hiden curriculum maupunekstra kurikuler.[15]

Berangkat dari beberapa  fakta bahwa  pesantren  adalah model  pendidikan agama islam yang telah terbukti berhasil mencetak generasi tafaqquh fi al diin dan berakhlak karimah. Tentunya, tanpa melupakan beberapa kelebihan dan kelemahannya.  Melihat dan berangkat dari keunggulan pesantren,  perlu dilakukan sintesa yang mengarah pada sistem pendidikan agama Islam berbasis pesantren. Maknadan pengertian “basis”  harus  disikapi secara  luas  dan  komprehensif.  Artinya,  kata  basis  tidak  hanya  merujuk pada pengertian  fisik, akan  tetapi  yang  jauh  lebih  urgen  adalah  basis  nilai  dan  kultur  pesantren.  Secara institusional, madrasah  memang  memiliki kelebihan dibanding pesantren  dalam hal tata administrasi dan birokrasi  pendidikan. Hal  ini  merupakan  pengelolaan  modern  atas  sistem  pendidikan, yang membuat sistem madrasah terukur, jika elibanding dengan pola pesantren yang lebih bersifat kultural. Disamping itu, pesantren  di sisi lain memiliki kelebihan yang bisa menyempurkan  sistem pendidikan Islam dimadrasah. Kelebihan ini terletak pada sistem pendidikannya yang mengakar  pada tradisi keilmuan Islam dan tradisi dari peradaban Islam itu sendiri. Dengan  demikian, upaya penyempurnaan pendidikan Islam kita haruslah mengarah pada pendasaran kembali sistem pendidikan Islam kepada tradisi Islam, meskipun tetap dengan tata kelola institusional ala madrasah. Di dalam proses penyempurnaan  ini, tentu ada hal-hal dari madrasah yang dikurangi. Upaya ini merupakan  usaha  untuk  mendedominasikan sistem  sekolah  atas  pendidikan Islam. Salah satunya melalui penambahan  mata pelajaran keilmuan Islam, sehingga pelajaran Islam tidak lagi minimalis, melainkan maksimalis.

Memang di satu titik telah terjadi persilangan antara madrasah  dan pesantren.  Hal ini terjadii pada pesantren  yang  mendirikan   madrasah   dii   dalamnya.  Serta  madrasah   yang  memiliki  sistem  nilai  dan kurikulum   pesantren.   Pada  . yang   pertama,   pesantren   telah   menyempurnakan    diri   sehingga   mau memasukkan pola sistem sekolah ke dalam sistem pendidikan tradisionalnya. Hal ini tentu menggugutkan tesis keterbelakangan pesantren.  Hal yang sama terjaeli pada madrasah yang telah mengadopsi sistem nilai dan kurikulum pesantren.  Dalam  kaitan ini, madrasah telah menyempurnakan  diri melalui pesantrenisasi sistem pendidikannya.

Seperti telah dijelaskan  di atas, konsep pendidikan agama Islam berbasis pesantren  adalah adopsi nilai dan sistem pesantren  dalam pengelolaan  madrasah sebagai  “sekolah  umum”  dengan  Islam sebagai “ciri khasnya”. Tujuan  dari konsep ini adalah dalam rangka penguatan  atas berbagai kekuarangan yang terjaeli pada  madrasah,  terurtama   bidang  PAI.        Merujuk  pada  SI  dan  SKL,  perbedaan   antara  sekolah  dan madrasah adalah t’erletak pada tujuan dan cakupan materi PAL Tujuan mata pelajaran PAl  eli SMP/SMA adalah: (1) memberikan wawasan terhadap  keberagaman agama di Indonesia,  (2) meningkatkan  keimanan danketaqwaan  siswa. Karena  rumusan   tujuannya  yang lebih  simpel  (global), maka  PAl  untuk  SMA diberikan secara global dalam satu mata pelajaran. Berbeda dengan SMP /SMA, karena Islam menjadi ciri khasnya maka komposisi PAI  untuk  MTs./MA  menjadi lebih banyak (mata pelajaran dan alokasi waktu),dan  pembahasannya  lebih  mendalam   dalam  rangka  mencapai  tujuan  spesifiknya.  Sebagai  sub-sistem  pendidikan nasional, ada  tiga  tujuan  yang harus  dicapai  oleh  MTs./MA,  yaitu: (a) tujuan  pendidikan nasional, (b) tujuan pendidikan menengah, dan (c) tujuan spesifik pendidikan MTs./MA.

Karena mengadopsi  nilai dan sistem pesantren  maka operasional  kegiatan madrasah   menerapkanmodel boarding  school (asrama) dengan  mengadopsi  konsep  sistem “pondok” atau pemondokan bagi para santri sebagaimana telah lama eliterapkan dalam sistem pendidikan pesantren. Unsur esensial yang diadopsi dari sistem ini adalah pada aspek sistem full days school, dimana proses belajar mengajar bisa dilaksanakan tidak hanya pada aspek  kurikulum  formal  saja tetapi  juga pada  aspek  hidden  curriculum, sistem  nilai dan kultur pesantren.

Pesantrenisasi  madrasah  dan  sekolah  sebagai upaya penguatan  kembali  pendidikan agama Islam didasarkan dari adanya  sebuah  kesadaran  bahwa  madrasah  kita perlu  dikembalikan  kepada  basis nilai kultur, dan  arah  pendidikan  yang menjadi  pijakan awalnya.[16]  Hal ini  terjadi  karena  lembaga  pendidikah Islam kita tersebut  cenderung  semakin  dijauhkan  dari basisnya. Madrasah  adalah  modernisasi  pesantren yang mengadopsi  sistem  kelas  sekolah  modern,  berstandarkan   pendidikan  Barat.  Hanya  saja di  dalam madrasah,  nilai, corak, silabus pendidikan,  dan arah pengetahuan  berbeda  dari sekolah  karena ia berpijak dari nilai-nilai Islam. Namun  dalam konteks  Indonesia,  termasuk  dalam konteks  Kudus,  madrasah  amat dekat dengan  pesantren,  karena pesantrenlah  yang menjadi lembaga pendidikan  awal Islam di negeri ini, yang  merupakan   kesinambungan   kultural  dari  tradisi  pendidikan   Nusantara   era  Hindu-Budha,   yakni padepokan  dan Mandala.

Memang jika tidak hati-hati, pergeseran   dari   sistem   kepesantrenan   menjadi madrasah bisa berdampak  pada  bergesemya  nilai-nilai keislaman anak  didik. Hal ini terjadi karena  nilai kepesantrenan tidak selalu bisa diakomodir  oleh  sistem  madrasah  yang mengadopsi  sistem  sekolah.  Perges ran ini bisa kita lihat dari beberapa  hal. (1) Pesantren  yang menganut sistem everyday lift kyai dengan kepemimpinannya  menjadi model bagi bagi para santri dalam pendidikan  maupun  dalam kehidupan  sehari-hari. (2) Kualitas guru madrasah yang tidak sebijak kiai pesantren. (3) orientasi pendidikan di  madrasah cenderung pragmatis, sementara  di pesantren  para santri lebih tulus dalam belajar untuk  mendalami  dan menguasaiilmu keislaman.[17]

Pada titik inilah madrasah  sebenarnya  diharapkan menutup  “lubang  hitam” pendidikan  kita, dengan menggerakkan  nuansa  keislaman  di  sistem  sekolah.  Namun  madrasahpun kurang bisa memaksimalkan potensi keislaman tersebut,  karena pada level sistem, ia masih terkonstruk dalam paradigma sekolah yang memiliki kelemahan fundamental  tersebut. Hal ini terjadi karena dalam madrasah ada dua kurikulum, yakni kurikulum pendidikan  nasional dan kurilmlum lokal madrasah.  Dualisme  kurikulum inilah yang membuat madrasah  tidak  bisa  memaksimalkan   potensi  keislaman.  Selain  dualisme  ini,  sistem  pendidikan,  baik menyangkut   metode   pengajaran   guru,  standar   penilaian,  dan  capaian  akhir  pendidikan,   yang  masih mengekor  pada  sistem  sekolah.  Dari  sini  jelas terlihat,  bahwa  madrasah  an  sich tidak  bisa  diharapkan menjadi penyempurna  sistem  pendidikan  kita yang penuh  kelemahan.  Perlu  ada  terobosan  radikal yangmemijakkan konsep, sistem, dan praktik pendidikan  pada ranah filosofis dari pendidikan  itu sendiri, yang merupakan usaha manusia untuk memanusiakan  dirinya.

 

D. Penguatan Madrasah dan Sekolah  Berbasis Pesantren

Pola  madrasah   berbasis   pesantren   berangkat  dari  kebutuhan   untuk   merumuskan   suatu  sistem pendidikan  Islam  yang  baru.  Kebaruandari  sistem ini  terletak  dalam  basis  filosofisnya,  yang  hendak menjadikan  kepesantrenan  sebagai  basis pendidikan dari madrasah.[18]  Disebut basis  filosofis,  karena madrasah berbasis pesantren  berangkat  dari kehendak untuk mengembalikn sistem pendidikan  madrasah kepada dasar filosofis dari pendidikan Islam yang menurut penulis terdapat di pesantren. Secara jujur harus diakui  bahwa  saat ini  telah  terjadi defliosofisasi  pendidikan  Islam  di  madrasah,  yang  berujung  pada tercerabutnya dari landasan filosofis pendidikan  Islam itu sendiri. Proses defilosofi ini terjadi akibat prosesinstrumentalisasi, pragmatisasi, fungsionalisasi, dan mekanisasi pendidikan Islam   madrasah, yang membuatnya tercerabut dari nilainilai dasar pendidikan Islam.

Hal tersebut tentu bertentangan dengan  filsafat pendidikan  Islam yang  berangkat  dari rasionalitasnilai[19] bukan  rasionalitas  instrumental.  Rasionalitas  nilai  dalam  pendidikan   Islam  menyatakan  bahwa hakikat pendidikan dalam Islam  adalah  pembentukan karakter manusia berdasarkan  ontologi  keislaman. Ontologi manusia  ini berisi  tentang konsep “manusia ideal”  menurut   Islam,  yaitu  sebagai  hamba  (‘abdullah) dan· wakil Tuhan(khalifatullah). Sebagai hamba, manusia  harus mengarahkanhidupnya untuk beribadah.  Menjadi hamba  Tuhan.  Sementara  sebagai khalifatullah, manusia  adalah  pengejawantah  nilai­ nilai ketuhanan sehingga dunia bisa ditata dengan nilai-nilai tersebut.

Dari ontologi  keislaman  manusia  inilah, pendidikan  Islam dibangun. Jadi  pendidikan  Islam adalahpendidikan  yang dibangun  berdasarkan  rasionalitas nilainilai ontologi  Islam  atas  hakikat manusia; Olehkarena  itu,  elemen  keilmuan  dalam  pendidikan  Islam,  haruslah  mampu   memenuhi kebutuhan bagi pembentukan  manusia Islami. Dalam kaitan ini, pemenuhan  tersebut  akhirnya memuara  pada dua tugas manusia sebagai ‘abdullah dan khalifatullah.[20]   Dari dua tugas kehambaan  dan kekhalifahan ini, maka tidak ada lagi dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum. Sebab demi pemenuhan  tugas kekhalifahan, muslim haruslah mengetahui seluk-beluk dunia, agar ia bisa menata dunia dengan baik. Muslim haruslah menguasai ilmu  politik, ailtropologi,  ilmu  budaya, ilmu  bahasa, ilmu  sosial, filsafat, ilmu  teknik, dan segenap tradisi pengetahuan tentang manusia dan masyarakat yang tidak berasal dari khasanah keislaman. Standar keislaman dalam tugas penataan dunia kemudian bisa berarti dua macam. Bisa bersifat formalis, dalam artian, pelajar Islam menggunakan konsep Islam (misalnya politik Islam) sebagai rumusan penataan dunia atau bersifat substantif,yakni memasukkan nilai-nilai dasar keislaman dalam ruang lingkup yang tidak Islami.

Pada titik inilah, praktek  filsafat pendidikan  Islam hanya bisa diterapkan  dalam bentuk  madrasah berbasis  pesantren.  Tentu,  pola  idealnya sudah  diterapkan  secara  nyata  di  pesantren.  Dalam  hal ini, pesantren sebagai sub-kultur yang secara ideal telah memuat tiga sistem nilai pesantren. Hanya saja karena secara legal, lembaga pendidikan Islam formal di Indonesia adalah madrasah, maka pembentukan  sistem . pendidikan Islam yang ideal, berarti  pertemuan  antara konsep  madrasah  dan  konsep  pesantren.  Dalam kaitan ini,  pesantren  sebagai  nilai dan  sistem  pedagogis  penulis  jadikan basis pedagogis dari  sistem pendidikan madrasah. Oleh  karenanya, perumusan  sistem baru pendidikan ini tidak harus membuahkan lembaga pendidikan  yang benar-benar  baru,  yang belum  ada selama ini:  Perumusannya  terdapat  pada penempatakn kepesantrenan sebagai basis pedagogis dati madrasah. Dari sini basis pedagogis itu meliputi beberapa hal. (1) basis nilai, (2) basis pengajaran, (3) basis kultural.

Dengan cara ini, paradigma instrumental[21]  yang menjadi landasan pembentukan  madrasah, akhirnyaberganti dengan rasionalitas nilai. Madrasah dijalankan untuk mengabdi kepada nilai-nilai mendasar Islam. Dengan cara ini pula, siswa tidak akan terjebak dalam sistem tertutup  madrasah. Mereka mampu kembali kepada na ruralitas dan kulrurnya. Artinya, madrasah akan mengembalikan siswa kepada kewajaran natural sebagai manusia yang berhak berkembang, berinovasi dan merubah cliri. Sifat natural dari manusia ini yang meniscayakan sistem pendidikanterbuka. Sebab naturalitas manusia selalu berkembang  dan berubah, dan ia  tentu  membutuhkan  sistem  dinamis  yang memenuhi kebutuhan  bagi pengembangan  diri  tersebut. Dengan  gagasan madrasah  berbasis  pesantren,  siswa tidak akan terjebak menjadi  objek pedagogis dari sistem birokratis, tetapi berkultural pesantren.

Dengan mengadopsi sistem pesantren ini, secara umum ada empat hal penting yang dapat dicapai atau diperoleh secara simultan oleh madrasah dalam kapasitas dan statusnya sebagai  sekolah menengah umum berciri khas Islam. Capaian ini sekaligus merupakan keunggulan dan kelebihan madrasah bila dibandingkan dengan sekolah atau pendidikan Islam tradisionallainnya.  Bila hal ini dapat  diwujudkan, maka akan tercipta  produk  (output outcome)  dari proses  pendidikan  di madrasah  yang sesuai dengan ekspektasi  para penggunanya. Empat  hal tersebut  meliputi: (1) penguatan  atau pendalaman ‘ulum al-din sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan keberagamaan peserta didik. (2) Pendalamanmateri science (mata pelajaran umum) sebagai upaya untuk mencapai keunggulan komparatif sejalan dengan arus besar kebijakan pendidikan nasional. (3) Pemberian latihan ketrampilan untuk memberi bekal life skillsebagai bekal bagi lulusan untuk terjun dalam kehidupan bermasyarakat dengan keunggulan kompetitif. (4) Optimalisasi kegiatan ekstra dalam rangka  meirujudkan  “pendidikan   yang  dijiwai  dengan   suasana keagamaan”.            .

Model penguatan madrasah yang tidak hanya cocok untuk pengelolaan madrasah, tetapi lebih dari itu sistem dan/atau  model ini dipandang akan mampu mendekatkan kembali sistem pendidikan madrasah dengan “induk” yang melahirkan dan  membesarkan,  yaitu pesantren.  Dengan  model  ini  diharapkan. mampu  memenuhi  kekurangan  yang  selama  ini  menjadi  keprihatian  kita  bersama,  yaitu  minimnyapemahaman agama Islam. Model penguatan pendidikan agama Islam (PAI) dengan mengadopsi sistem pendidikan pesantren ini secara konseptual merupakan manifestasi dari divinity based education. Secara teknis model ini mengadopsi konsep boarding school  dan/ atau  full days school. Dengan konsep ini diharapkan tidakakan ada lagi kendala keterbasan waktu untuk proses pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kualitas. Karena dengan konsep ini pendidikan dan pembelajaran di madrasah  tidak hanya dalam formal kurikulum tetapi juga hidden curriculum.  Berangkat dari realitas objektif dan tipologi madrasah secara umum, penguatan pendidikan agama Islam pada madrasah dapat  diimplementasikan sesuai konteks dan kapasitas masing-masing  madrasah,  yaitu; (1) Model  Madrasah Pesantren   (MP),  (2) Model  Madrasah Lingkungan Pesantren (MLP), dan (3) Madrasah Sistem Nilai Pesantren  (MSNP).

 

E. Pola Pendidikan Agama Islam pada  Sekolah Umum

Secara spesifik, realitas kurikulum PAl  pada sekolah umum masih terpilah-pilah menjaeli aspek Al­Qur’an/Hadits, aqidah akhlak, fiqih dan tarikh Islam, mengkonsentrasilmn pada masing-masing mapel saja. Orientasi mempelajari al-Qur’an masih cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman  arti dan penggalian makna secara tekstual dan kontekstual. Sehingga, masing-masing aspek aqidah  akhlak, ibadah  dan  syari’ah  yang  eliajarkan hanya  sebagai  tata  aturan  keagamaan  dan  kurang elitekankan sebagai proses  pembentukan  kepribaelian sebagai ·konsekwensi  dari pengajaran agama islam tersebut. K.urang terciptanya suasana religius eli sekolah, madrasah maupun  PT yang seharusnya tercipta sebagai manifestasi dari potret lingkup terkecil dari efek pembelajaran pendidikan agama Islam.

Kurangnya ruang dan  waktu  bagi  peserta  didik untuk  mengeksplorasi  potensi  masing-masing individu sebagai wahana  ekspresi  PAI,  yang hanya dalam  durasi  dua   jam pelajaran  di  kelas memang tidaklah  akan  cukup  untuk menyampaikan  informasi  keagamaan yang begitu komplek. Apalagi jika tidak pandai mensiasati proses  pembelajarannya,  tidak  tertutup  kemungkinan  informasi  yang diterima pelajar hanya akan menyentuh aspek kognitif, tidak sampai pada domain afektif dan psikomotor.  Upaya untuk mensiasati keterbatasan ruang dan waktu, pembelajaran PAI dapat dilakukan secara integral antara intra dan ekstra kurikuler, diantaranya adalah:

1)  Menyelenggarakan pembinaan Rohani Islam

Kegiatan pembinaan rohani Islam, dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh pelajar yang beragama Islam. Untuk mewujudkan kegiatan ini perlu elibuat program kerja yang matang sehingga dalam pelaksanaannya tidak berbenturan  dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya,  didanai  dengan dana yang cukup, materi yang disampaikan dapat menunjang materi intrakurikuler dengan  menggunakan  metode  yang menyenangkan  tapi tetap  edukatif  serta memanfaatkan tenaga pengajar yang ada di lingkungan sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam.

2) Mengkondisikan Sekolah Dengan Kegiatan Keagamaan

Suasana keagamaan atau dengan istilah ekstrim Islamisasi kampus, dimaksudkan agar seluruh warga sekolah terutama  yang beragama  Islam bisa menjalankan sebagian syariat Islam di lingkungan sekolah sehingga situasi kondusif bisa tercipta di lingkungan sekolah tersebut. Ini sesungguhnya adalah dalam rangka memenuhi ruang dan waktu pelajar agar tidak mencari atau memanfaatkan  jarak waktudan jarak ruang untuk hal-hal yang mengarah kepada tindakan anarkhis dan tawuran.

3) Menggunakan Metode Integrasi dalam KBM mapel.

Secara  sederhana,   integrasi   lebih   mudah   elijalankan dengan   metode   Insersi,  yaitu  car. menyajikan  bahan   pelajaran  dengan   cara;  intisari  ajaran  Islam  atau   jiwa  agama/emosi   religiusdiselipkan/ disisipkan di dalam mata pelajaran umum.[22]   Untuk  menggunakan  metode ini guru agama harus  bekerja  sama  dengan  guru  mata pelajaran  lain  (mata  pelajaran  umum)   agar  pesan-pesan keagamaan bisa disampaikan melalui pelajaran umum dengan cara yang sangat halus, sehingga hampir tidak terasa bahwa sesungguhnya saat itu para pelajar sedang mendapatkan  suntikan  keagamaan oleh guru mata pelajaran yang bukan pelajaran agama. (*)

Oleh: DR. M. Ihsan, M.Ag, Ketua Umum IKAQ

Tulisan ini disampaikan dalam Seminar dan Lokakarya “Tawuran Pelajar: Problem Tradisi, karakter, atau Kurikulum?”, 20 Oktober 2012 di Hotel Griptha Kudus



[1] Kamadi Hasan “Konsep Pendidikan Jawa”, dalam ]urnal Dinamika  Islam dan Budaya Jawa, No 3 tahun 2000, Pusat PengkajianIslam Strategis, lAIN Walisongo Semarang, 2000, hal. 29

[2] Paulo  Freire  dalam  Pendidikan:   Kegelisahan  Sepanjang  Zaman (Pilihan  Artikel  Basts),  Sindhunata  (editor), Kanisius, 2001, sebagaimana dikutip dalam Resensi Amanat, Edisi 84/ Februari 2001,hal. 16

[3] Baca Pengantar Malik Fadjar dalam Imam Tholkah, Membuka Jendela Pendidikan, Jakarta,Raja Grafindo Persada, 2004, hal. v

[4] Achmadi, Islam paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta : Aditya Media, 1992, hal. 16

[5]Muslim Kadir, Dasar-Dasar Praktikum keberagamaan dalam Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1992, hal 296

[6]Perintah ini harus dimaknai seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya yaitu melakukan observasi, eksplorasi ilmu, eksperinemntasi, kajian, studi, analisis, penelitian, riset, penulisan ilmu secara komprehenshif.

[7]Simak Hadits yang dikutip Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, kairo, 1969, hal 5 dan 89

[8] Humanisasi dan deh anisasi adalah dua hal yang bersifat antagonistik. Dehumanisasi dalam pendidikan dimaksudkan sebagai proses pendidikan yang terbatas pada pemindahan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). Sedangkan humanisasi merupakan proses pemberdayaan masyarakat melalui ilmu pengetahuan. Lil1at Paulo Freire, Politik  Pendidikan:  Kebudayaan, Kekuasaan danPembebasan, terj. Agung Priliantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, Yogykarta,  Pustaka Pelajar & READ, 2002, hal. 190

[9]Munir Mulkhan, Nalar Spritual Pendidikan, Yogyakarta, Tiara wacana, 2002, hal. 127

[10]Ibid., hal 32

[11]Ibid., hal 119-120

[12] Zamakhsyari Dhofier, 1994, hal 21.

[13] Abd. Rachman Assegaf, Politik Pendidikan Nasional,· Pergeseran Kebijakan  Pendidikan Islam dari Proklamasi ke Reformasi, Yogyakarta, Kurnia Kalam, 2005

[14]Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingakat satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta, Raja Garfindo Persada, 2007, hal 211

[15] Nasution, Pengembangan Kurikulum,Bandtmg: PT Citra Aditya Bakti,1993, hal. 11

[16] Lihat  Marzuki  Wahid,  Pesantren Masa Depan;  Wa cana  Pemberdqyaan  dan TranifOrma si Pesantren,Bandung,Pustaka Hidayah,1999, hal. 223

[17] Zamakhsyari Dhofier,  Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta, LP3ES, 1994, hal. 16

[18] H.A.  Malik Fadjar  dalam  Kontekstualisasi Ajaran Islam 70 Tahun Munawir Sjadzal, Jakarta: kerja sama  IPHI  dan  Paramadina,1995, hal 513-514

[19] Dra. Zuhairi, dkk., Filsafat Pendidikan Islam,Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hal. 107-120

[20] Syed  Muhammad  Al-Naquib  Al-Attas,  The Concept  of  Education   in  Islam: A Framework   for  an  Islamic Philosop_of Education (Kuala  Lumpur:   Muslim  Youth Movement  of Malaysia, 1980), 90. Lihat pula Syed Muhammad Al-Naqwb Al-Attas, Islam and Secularism,Kuala  Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1978, hal. 18

[21] Ronald Alan Lukens-Bull, Jihad ala Pesantren di Mata Antropolog Amerika,Yogyakarta,Gama Media, 2004, hal. 149

[22]Interkoneksi dapat digunakan sebagai metode integrasi dan islamisasi. Lihat: Amin Abdullah dan Muslim Kadir

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply