INTEGRASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Belakangan ini pemerintah gencar mengampanyekan Pendidikan Karakter di Indonesia. Pendidikan Karakter diyakini mampu menjadi “obat mujarab” penyembuh problem kemasyarakatan yang semakin terjerembab dalam kasus asusila, anarkhisme dan tindakan koruptif di berbagai bidang kehidupan.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang pendidikan karakter, perlu diketahui bahwa karakter yang penulis maksud bukan sekedar berupa baiknya perkataan dan sikap an sich, melainkan sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. Dalam konteks ini, karakter bukan sebuah anugerah yang tiba-tiba ada, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan, kebiasaan, keberanian usaha keras dan bahkan dibentuk dari kesulitan hidup.

Kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa seseorang yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognitive development) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan akan nilai kebaikan tersebut.

Sebagai contoh saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai buruk oleh orang lain, bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan pendidikan karakter diperlukan penguatan aspek perasaan (affective development). Komponen ini dalam pendidikan karakter disebut desiring the good atau keinginan untuk berbuat kebaikan. Ketika tanpa aspek tersebut, seseorang hanya akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham dan hanya mengerjakan sesuatu ketika mendapatkan komando serta perintah.

 

 Desain Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan karakter mencoba membantu anak untuk melaksanakan perilaku yang baik, santun dan disiplin secara terus menerus, sehingga hal-hal tersebut secara relatif menjadi mudah untuk dilakukan oleh anak serta secara relatif anak menjadi merasa tidak biasa untuk melakukan hal-hal sebaliknya.

Sebagaimana diketahui, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius –seorang filsuf terkenal Cina– menyatakan bahwa anak pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah anak dilahirkan, maka anak dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi.

Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki anak sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan.

Perlu diketahui bersama, bahwa desain pendidikan karakter bergerak dari knowing menuju doing atau acting. William Kilpatrick menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Berangkat dari pemikiran ini maka kesuksesan pendidikan karakter sangat bergantung pada ada tidaknya knowing, loving, dan doing atau acting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter.

Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu Pertama, kesadaran moral (moral awareness), yaitu kesediaan seseorang untuk menerima secara cerdas sesuatu yang seharusnya dilakukan. Kedua, pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), yaitu mencakup pemahaman mengenai macam-macam nilai moral seperti menghormati hak hidup, kebebasan, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, tenggang rasa, kesopanan dan kedisiplinan. Ketiga, Penentuan sudut pandang (perspective taking), yaitu kemampuan menggunakan cara pandang orang lain dalam melihat sesuatu. Keempat, Logika moral (moral reasoning), adalah kemampuan individu untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu dikatakan baik atau buruk. Kelima, Keberanian mengambil menentukan sikap (decision making), yaitu kemampuan individu untuk memilih alternatif yang paling baik dari sekian banyak pilihan. Keenam, pengenalan diri (self knowledge), yaitu kemampuan individu untuk menilai diri sendiri. Keenam unsur adalah komponen-komponen yang harus diajarkan untuk mengisi ranah kognitif mereka.

Selanjutnya, Moral Loving atau Moral Feeling merupakan penguatan aspek emosi anak untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh anak, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), kerendahan hati (humility).

Setelah dua aspek tersebut terwujud, maka Perilaku moral (Moral Acting) sebagai outcome akan dengan mudah muncul baik berupa competence, will, maupun habits. Perilaku moral adalah hasil nyata dari penerapan pengetahuan dan perasaan moral. Orang yang memiliki kualitas kecerdasan dan perasaan moral yang baik akan memiliki kecenderungan menunjukkan perilaku moral yang baik pula.

Penanaman karakter pada anak merupakan proses penyesuaian kepribadian yang perlu memperhatikan bermacam-macam prinsip dasar pertumbuhan. Mekanisme penyesuaian tersebut pada dasarnya merupakan sebagian dari usaha kependidikan yang dilakukan oleh keluarga, sekolah, maupun masyarakat, serta berlangsung seumur hidup. Itulah sebabnya, perencanaan pembelajaran yang praktis, aplikatif dan memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak sangat diperlukan, dalam upaya pembelajaran nilai yang membawa muatan karakter bagi anak.

Salah satu nilai yang dapat dijadikan sebagai pijakan pembangunan karakter anak adalah nilai-nilai kebaikan sebuah daerah yang sudah mengakar kuat sebagai sistem budaya, yang kemudian disebut sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal menjadi sebuah tawaran yang menarik untuk pengembangan pendidikan karakter, karena pada dasarnya pengembangan karakter harus diikuti dengan pengintegrasian jati diri kebangsaan pada diri anak, jati diri kebangsaan atau nasionalisme pasti akan berkait erat dengan jejaring kebudayaan bangsa yang menjadi basis kebudayaan nasional.

 Kearifan Lokal Sebagai Basis Pendidikan Karakter

Kenapa kearifan lokal menjadi penting dalam pendidikan karakter? Karena pada dasarnya kearifan lokal merupakan kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai kebaikan yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas.

Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. Sehingga dengan mengintegrasikan kearifan lokal dalam desain pembentukan karakter anak, secara tidak langsung anak akan mendapatkan gambaran yang utuh atas identitas dirinya sebagai individu, serta identitas dirinya sebagai anggota masyarakat yang terikat dengan budaya yang ungul dan telah lama diugemi para pendahulunya.

Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari periode panjang, yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat, dapat menjadikan kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat, untuk hidup bersama secara dinamis dan damai.

Kearifan lokal yang digali, dipoles, dikemas, dipelihara dan dilaksanakan dengan baik bisa berfungsi sebagai alternatif pedoman hidup manusia. Nilai-nilai itu dapat digunakan untuk menyaring nilai-nilai baru atau asing, agar tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Khalik, alam sekitar dan sesamanya. Selain itu, kearifan lokal dapat menjadi benteng kokoh menanggapi modernitas dengan tidak kehilangan nilai-nilai tradisi lokal yang telah mengakar dalam sebuah komunitas masyarakat atau daerah.

Dalam pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, pedoman nilai-nilai kearifan lokal merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan anak. Sebagai sebuah kriteria yang menentukan, nilai-nilai kearifan lokal bisa menjadi sebuah pijakan untuk pengembangan sebuah pembelajaran yang lebih berkarakter. Kebermaknaan pembelajaran dengan lingkup kearifan lokal akan menampilkan sebuah dimensi pembelajaran yang selain memacu keilmuan seseorang, juga sekaligus bisa mendinamisasi keilmuan tersebut menjadi kontekstual dan ramah budaya daerah.

Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara inheren melalui pembelajaran, dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri, sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya “lain”. Nilai-nilai kearifan lokal itu meniscayakan fungsi yang strategis bagi pembentukan karakter dan identitas bangsa. Pendidikan yang menaruh peduli terhadapnya, akan bermuara pada munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif, santun dan kreatif.

Salah satu aplikasi pemanfaatan nilai-nilai kearifan lokal sebagai basis pendidikan karakter, misalnya apabila di daerah terdekat sekolah itu terdapat filosofi hidup yang merupakan landasan nilai kehidupan daerah tersebut, seperti filosofi alon-alon asal klakon (masyarakat Jawa Tengah),  rawe-rawe rantas malang-malang putung  (masyarakat Jawa Timur),  atau Gusjigang (masyarakat Kudus) dan masih banyak lagi. Maka guru dalam pembelajaran harus memulai memunculkan dan menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, sebagai pijakan dan spirit dalam setiap mendidik siswanya. Sehingga dari pola yang demikian, guru akan menjadi seorang fasilitator yang baik bagi internalisasi nilai-nilai kearifan lokal pada diri peserta didik yang bersinggungan langsung dalam proses pembelajaran.

Pada posisi ini, nilai yang terkandung dalam bingkai kearifan lokal sebuah daerah akan menjadi senjata yang ampuh untuk membangun karakter anak bangsa, agar memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sekaligus mampu menjadi penjaga kelestarian kearifan lokal tersebut melalui sikap keseharian yang berkarakter kuat.

Uraian tersebut di atas menjadi sangat logis, karena diakui atau tidak nilai-nilai kearifan lokal yang notabene merupakan sedimentasi dari nilai-nilai kebaikan yang dianut di sebuah daerah, nantinya akan memberikan warna positif bagi pembangunan karakter anak. Ketika warna positif kearifan lokal dominan dalam proses pembangunan karakter anak, maka kearifan lokal tersebut akan mampu mendinamisasi perkembangan karakter anak menuju arah yang lebih baik di masa yang akan datang.[]

Oleh: Khasan Ubaidillah, Alumni Qudsiyyah Kudus, Dosen IAIN Walisongo Semarang

Tulisan ini diambil dari Majalah El-Qudsy, Edisi 21 tahun 2013

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply