Guru dan Budaya Menulis Siswa

Masyarakat patut bersyukur atas peningkatan perkembangan budaya menulis pada kalangan pelajar, bahkan dari tingkat SLTP, di Jawa Tengah. Bukti tumbuh kembang  budaya menulis itu, setidak-tidaknya bisa kita lihat dalam tiga hal. Pertama; makin banyak sekolah atau madrasah di provinsi ini yang memiliki majalah, buletin, atau majalah dinding (mading).Kedua; makin banyak sekolah atau madrasah mengadakan pelatihan jurnalistik, khususnya pada musim liburan panjang sekolah dan bulan Ramadan. Ketiga; makin banyak siswa sekolah dan madrasah bersilaturahmi ke kantor redaksi surat kabar, untuk melihat lebih dekat proses peliputan, editing, dan cetak.Itulah bukti nyata keberkembangan budaya menulis pada kalangan pelajar di Jateng. Mengingat peningkatan perkembangan budaya menulis itu memiliki manfaat sangat besar bagi siswa, mau tidak mau seluruh civitas sekolah ataupun madrasah, khususnya kepala sekolah dan guru harus terus mendorong budaya menulis itu.

Dalam konteks ini, kepala sekolah dan guru hendaknya tidak henti-hentinya memotivasi siswa untuk terus menulis, topik apa saja. Terlebih, dengan dukungan teknologi informatika, siswa bisa menggali banyak data. Semisal belum bisa menulis tuntas pun, artikel setengah atau tiga per empat jadi itu pun dapat disimpan dulu di hard disk, untuk nantinya dilanjutkan bila ada mood atau tidak lagi ujian/ ulangan.

Kepala sekolah dan guru di Jateng hendaknya mampu memberi gambaran segamblang-gamblangnya perihal prospek dan manfaat menulis kepada siswa. Bahwa sesungguhnya menulis itu secara cepat dapat menambah ilmu, memperluas pengetahuan, sekaligus mengasah kekritisan.  Sejatinya, menulis itu merupakan kegiatan mental atau kegiatan berpikir tingkat tinggi. Saat seseorang menulis, tanpa disadari di dalam diriya terjadi proses reaksi diri atas informasi-informasi yang terkait, lalu dari informasi-informasi itu diolah menjadi informasi baru. Proses ini mampu mengasah kemampuan intelektual (Mulyoto SPd; 2006).

Selain itu, menulis mempunyai dua prospek yang begitu menjanjikan. Pertama; prospek dalam hal finansial. Dengan menulis maka siswa bisa mendapat uang dari honor tulisan. Jangan tanya berapa nilainya karena berapa pun nominalnya pasti dapat membantu orang tua. Minimal bisa untuk beli buku atau  pulsa internet atau ponsel. Dalam hal ini ada banyak bukti bahwa seseorang dari golongan ekonomi lemah berhasil menyelesaikan sekolah dan kuliah berkat ketrampilan menulis di media massa.

Contoh Nyata

Kedua; prospek popularitas. Dengan menulis maka siswa memperoleh popularitas dengan mudah. Bayangkan, sekali tulisannya muncul di media massa, entah itu dalam bentuk puisi, cerpen, artikel, opini, atau karikatur dan sebagainya, pada hari itu juga nama diri dan nama sekolahnya ikut terpopulerkan.

Namun, lebih penting dari itu semua adalah ada  uswah hasanah ataupun contoh nyata dari kepala sekolah dan guru. Dalam konteks ini, kepala sekolah dan guru hendaknya bisa menunjukkan dan memberi contoh budaya menulis kepada siswa. Jangan sampai guru hanya memerintah siswa menulis, tetapi ia tidak pernah menulis.

Karena itu, bila kita menginginkan siswa memiliki budaya menulis yang baik dan kuat, mau tidak mau ke depan tiap kepala sekolah dan guru sanggup dan mampu memberi teladan dalam menulis. Alangkah bangganya siswa-siswi kita, bila hari ini tulisan kepala sekolah dan guru muncul di media A, esoknya tulisan guru yang berbeda terbit di media B, dan hari selanjutnya tulisan guru yang lain terbit di media C, begitu seterusnya.

Penulis sangat yakin bila kepala sekolah dan guru mampu memotivasi siswa untuk terus menulis dan sekaligus mampu memberi teladan dalam menulis maka budaya menulis di kalangan siswa-siswi di Jateng tumbuh makin subur. (*)

Oleh: M Saifuddin Alia

mantan pemred Majalah El-Qudsy MA Qudsiyyah Menara Kudus, dan Majalah Edukasi IAIN Walisongo Semarang, fasilitator pelatihan jurnalistik siswa
** Tulisan ini dimuat pada Harian Suara Merdeka pada 10 Desember 2012
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply