PROFESIONALISME GURU AGAMA

MELIHAT jumlah guru agama Islam di Jateng yang ’’baru’’ 81.123 orang, tergolong relatif sedikit mengingat di provinsi ini ada 31.328.341 penduduk beragama Islam dari total populasi 32.643.612 jiwa. Ketidakberimbangan itu lebih kentara bila melihat usia produktif penduduk usia sekolah sebanyak 9.616.732 orang.

Dari jumlah yang relatif sedikit itu, banyak guru madrasah belum bersertifikat, termasuk 74.280 guru di bawah Ke­men­dikbud. ’Mereka termasuk kategori “guru yang tidak profesional”, dan harus segera diselesaikan. Program sertifikasi guru hingga 2015 merupakan salah satu upaya mencetak guru profesional.

Selain sekolah, masih ada lembaga pendidikan agama, seperti pondok pesantren, seminari, pasraman, pesantian, pabbajja, dan syuyuan untuk memper­kuat enam macam pendidikan keagamaan di Indonesia. Hal itu sesuai dengan PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pen­didikan Agama dan Keagamaan.

Khusus agama Islam, ponpes dan madrasah diniyah mempunyai peran strategis dalam membantu pemberdayaan agama. Di Jateng ada 4.473 ponpes dengan 35.769 kiai dan 451.501 santri. Adapun MI, MTs, dan MA berjumlah 124.193 dengan 987.704 murid dan 81.123 guru.

Banyak hal yang perlu dikritisi dari guru agama. Saat ini guru agama di sekolah (umum) selalu diidentikkan sebagai ustadz yang hanya bisa berceramah dan menasihati siswa. Materi yang diajarkan juga susah dipahami karena menggunakan Bahasa Arab dengan model pembelajaran monoton.

Akibatnya, peserta didik kurang atau tidak tertarik mengikuti pelajaran agama. Perlu membangun komunikasi untuk menghidupkan suasana kelas agar siswa lebih tertarik mengikuti pelajaran itu. Permasalahan lain adalah belum semua materi disampaikan secara interaktif. Pola pembelajaran masih didominasi ceramah.

Yang juga jadi persoalan adalah kualitas guru agama madrasah yang belum me­rata. Banyak guru be­lum bergelar S-1. Butuh akselerasi dan pola peningkatan kualifikasi mereka supaya bergelas sarjana yang benar-benar menguasai 4 kompetensi guru: sosial, kepribadian, pedagogik, dan profesional.

Guru madrasah juga harus mempunyai jejaring kemasyarakatan yang baik dan luas mengingat agama bukan hanya teori. Agama butuh penerapan di tengah masyarakat dan itulah pentingnya kompetensi sosial bagi guru madrasah. Jika guru agama tidak aktif terjun di masyarakat, dipastikan cara bersosialisasinya pun tidak baik, dan menjadikan pandangan agamanya doktriner.

Penunjang Praktik

Untuk itulah dibutuhkan guru agama Islam yang benar-benar profesional. Guru harus paham dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik sesuai UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bentuk profesionalitas guru agama Islam dapat diterapkan melalui lima hal dasar.

Pertama; penguasaan ilmu. Guru agama butuh keluasan bahan referensi sehingga tidak akan mengedepankan paham literal dan radikal. Termasuk menjawab kebutuhan siswa terkait penjelasan agama yang bersifat kekiniaan. Pembe­lajaran agama yang teoritis perlu diimbangi dengan penunjang praktik.

Kedua; mampu mengenalkan agama dengan baik dan menyenangkan. Inilah yang dinantikan oleh siswa, bahwa materi agama perlu diajarkan secara menyenangkan di kelas. Pemberian materi dapat ditunjang dengan bahan ajar VCD interaktif, wisata religius hingga diskusi kontemporer.

Ketiga; kesesuaian ucapan dan perilaku. Guru agama harus mampu menjadi orang saleh yang ramah bertutur dan cerdas bersikap. Keempat; menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat. Guru agama selalu menjadi tum­puan dan harapan mulia bagi siswa, maka teladan darinya betul-betul dinantikan.

Kelima; sukses menerapkan jiwa toleransi beragama. Hal ini menjadi sangat penting, sebab enam agama di Indonesia harus dikenalkan dengan baik.

Satu umat agama dengan umat lainnya dituntut hidup rukun. Jika guru agama tidak mempunyai sikap profesional, sangat dikha­watirkan agama dijadikan alat untuk memecah-belah bangsa ini.(*)

(Sumber: Suara Merdeka, 3 Juni 2013)

Tentang penulis:
M Rikza Chamami, Alumni Qudsiyyah dan  dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo Semarang

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply