Pesantren Berkontribusi Besar dalam Kesatuan Bangsa

QUDSIYYAH, KUDUS – Keberadaan pesantren di negeri ini telah membuktikan diri sebagai bagian penting yang telah berkontribusi besar dalam menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa ini.
Demikian dinyatakan Dr Abdul Jalil,M.E.I, Mudarris Ma’had Qudsiyyah Kudus, dalam seminar bertemakan “Tradisi Kebangsaan di Pesantren” pada Selasa (17/2/2015) di Aula Ma’had Qudsiyyah, Jl. KHR Asnawi Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Dalam seminar tersebut, Alumni Qudsiyyah tahun 1994 menjelaskan, komunitas pesantren loyal terhadap perjuangan kemerdekaan dan dukungan pada pendirian bapak bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang plural, di mana agama Islam tidak menjadi dasar berdirinya bangsa ini.

“KH. Wahid Hasyim, sebagai salah satu pendiri bangsa, dan tokoh NU dengan sadar dan penuh pertimbangan mendirikan bangsa Indonesia dengan dasar Pancasila tidak berdasarkan pada bingkai Negara Islam,” terangnya.

Dijelaskan, dalam Islam tidak diwajibkan suatu bentuk pemerintahan tertentu bagi pemeluknya. Umat Islam diberi kewenangan sendiri untuk mengatur dan merancang sistem pemerintahan sesuai dengen tuntutan ruang dan waktu. Setiap muslim wajib mematuhi hukum-hukum yang mengatur kemaslahatan umat, selama produk hukum tersebut tidak bertentangan dengan syara’

“Yang terpenting adalah perlindungan dan jaminan kepada warganya untuk mengamalkan dan menerapkan ajaran agamanya. Juga, untuk mengatur kesejahteraan dan kemakmuran warganya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, bahwa komitmen untuk terus menjaga tolerasi, dan mempertahnakan kemajemukan warga di hadapan Negara inilah yang merupakan sumbangan besar dari kalangan pesantren bagi bangsa ini.

Nara sumber lain, Subhkhan, SH Kanit V Satuan Intelkam Polres Kudus, mengatakan, santri harus turut serta mengisi bangsa ini sesuai dengan kapasitas dan posisinya masing-masing. “Semua harus bersinergi untuk terciptanya bangsa ini yang tetap bersatu, untuk kemajuan bangsa ini,” jelasnya.

Lebih lanjut ia berpesan kepada santri, untuk teruslah belajar, dan kemudian menjadi bagian dari masyarakat dengan tetap menjadikan nilai-nailai agama dan moral sebagai tuntutan perilakunya.

Seminar ini sendiri diikuti oleh sekitar 150 santri dan terselenggara atas kerjasama, Forum Silaturrahim Pesantren Kudus, dan Kantor Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Kabupatan Kudus. Selain dua nara sumber di atas, juga diisi oleh Ahmad Syafiq, S.Ag, SH, MH (Pengadilan Negeri Kudus) dan kepala Kesbangpol Kudus, Jati Sholekhah, SH (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply