MENYAMBUT ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA) DENGAN KREASI DAN INOVASI

Sebagai bagian dari warga dunia, Indonesia tidak bisa menghindar dari system perdagangan global. Perdagangan global merupakan hubungan ekonomi antar negara yang diwujudkan dengan pertukaran barang dan jasa yang saling menguntungkan. Di tingkat nasional, perdagangan global mewakili proporsi seluruh produksi yang melintasi batas negara, dan di tingkat global, globalisasi perdagangan mewakili proporsi seluruh produksi dunia yang digunakan untuk impor dan ekspor antarnegara.

Perdagangan global mensyaratkan banyak hal. Salah satunya adalah diberlakukaknnya mekanisme pasar bebas. Pasar Bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya. Pasar bebas (free trade) tidak hanya ditandai pergeseran aktivitas ekonomi, tapi seluruh komponen yang terlibat juga bergeser, seperti pertumbuhan (growth), stabilitas (stability), efisiensi (Efficiency), kesempatan kerja (full employment), pemanfaatan sumber daya lain (use of other resources), pilihan (choice), partisipasi (participation), imbalan (compensation), dan kepemilikan (equity).

Dalam pasar bebas (free trade), perputaran ekonomi bertumpu pada modal melalui mekanisme pasar. Pelaku utamanya adalah para pemilik modal besar dan perusahaan-perusahaan trans-nasional (Multinational Corporation, MNCs) yang didukung oleh regulasi internasional seperti GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), WTO (World Trade Organisation), GATS (General Agreement on Trade in Services), TRIPs (Trade Related Intellectual Property Right), TRIMs (Trade Related Invesment Measures), AoA (Agreement on Agriculture) dan sebagainya.

Tali temali pasar bebas (free trade) dengan sekian variable yang melilitnya diatas menjadikannya sebagai agenda politik dan ekonomi yang cukup krusial. Dikatakan agenda pilitik dan ekonomi karena keduanya sudah “menyatu”. Realitas politik tidak bisa dilepaskan dari factor ekonomi, begitu pula sebaliknya.

Pada tahun ini, tepatnya Desember 2015, Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, akan memasuki era baru penerapan perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara, yakni AFTA (Asean Free Trade Area). AFTA merupakan wujud dari kesepakatan negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan perdagangan bebas dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi dan menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.

Ada banyak kesepakatan dalam AFTA, antara lain adalah penghapusan pembatasan komoditas, penghapusan bea masuk impor komoditas yang berada dalam General Exception, diberlakukannya CEPT- AFTA (Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area), yakni tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif bagi komoditas tertentu yang terkait dengan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan manusia, binatang, dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya.

Dengan diberlakukannya AFTA, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dengan basis produksi yang tunggal pula. Arus barang, jasa, investasi, tenaga terampil dan modal akan berputar secara bebas diantara Negara ASEAN. Disana akan terbuka peluang seluas-luasnya. Mereka yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif akan meraup keuntungan besar, sementara yang tidak memiliki daya saing akan menjadi pasar, untuk tidak mengatakan objek, bagi pihak lain.
Disnilah masalahnya. Indeks daya saing global (Global Competitiveness Index/GCI) Indonesia tahun 2014 berada di peringkat 34 dari 144 negara. Setingkat lebih tinggi atas Spanyol yang berada di peringkat ke-35, Portugal di 36, Kuwait di peringkat 40, dan India yang berada di peringkat 71. Namun di level ASEAN sendiri, peringkat Indonesia masih kalah dengan Singapura yang berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Namun masih mengungguli Filipina yang berada di peringkat 52, Vietnam di peringkat 68, Laos di peringkat 93, Kamboja di peringkat 95, dan Myanmar di peringkat 134.

Dengan posisi ini, dapat dikatakan bahwa posisi Indonesia belum terlalu siap. Namun sekarang bukan waktunya lagi mempertanyakan kesiapan Indonesia, apalagi mengeluh. Siap atau pun tidak siap, Indonesia tidak bisa lari dari kenyataan penerapan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara mulai Desember 2015.

Pada aras inilah Qudsiyyah perlu tampil ambil bagian. Secara normatif, Qudsiyyah diharapkan mampu memberikan landasasan norma agar penanganan pasar bebas (free trade) tetap mengacu kepada fitrah kemanusiaan. Sementera secara praktis Qudsiyyah diharapkan mampu menyodorkan konsep yang mampu mengayomi warganya dari serangan modal yang kian masif. Para siswa sejak dini harus didorong menjadi pribadi yang ulet, tangguh dan kreatif, sehingga pada gilirannya nanti mampu mampu bertarung di pasar bebas dengan berbagai inovasi.

Inovasi adalah suatu ide baru bagi seseorang atau kelompok yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah tertentu.penciptaan sesuatu yang baru. Inovasi identik dengan kreatif. Banyak definisi mengenai apa itu kreatif. Namun secara umum disebutkan bahwa karakteristik orang yang kreatif adalah selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, dan dapat melakukannya dengan cara menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreatifitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga, tetapi dapat diimplementasikan, setelah melalui tahap exploring, inventing, dan choosing. Cara berpikir dan bertindak inilah yang akhirnya menjadikan seseorang menjadi mandiri.

Kemandirian (autonomy, independency, self relience) berarti hal atau keadaan seseorang yang dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian berasal dari kata dasar diri, sehingga diskursus kemandirian tidak dapat dilepaskan dari perkembangan diri itu sendiri. Diri adalah inti dari kepribadian dan merupakan titik pusat yang menyelaraskan dan mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Kemandirian juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang tidak bergantung kepada otoritas dan tidak membutuhkan arahan secara penuh.

Pada dasarnya kemandirian dapat dimanifestasikan dalam bentuk sikap maupun perbuatan, karena sikap merupakan dasar dari terbentuknya suatu perbuatan. Kemandirian juga dapat menjadi tolok ukur seseorang dalam menentukan perilaku diri sendiri hingga akhirnya dapat dinilai. Dengan demikian, kemandirian adalah keadaan seseorang yang dapat berdiri sendiri, tumbuh dan berkembang karena disiplin dan komitmen sehingga dapat menentukan diri sendiri yang dinyatakan dalam tindakan dan perilaku yang dapat dinilai.

Ada beberapa indikator sebuah kemandirian (self-relience). Antara lain adalah tidak adanya kebutuhan yang menonjol untuk memperoleh pengakuan dari orang lain. Mereka mampu mengontrol tindakannya sendiri dengan penuh inisiatif. Beller (1986) menyebut kemandirian ditandai dengan keberanian mengambil inisiatif, mencoba mengatasi masalah tanpa minta bantuan orang lain, memperoleh kekuatan dari usaha, dan mengarahkan tingkah laku menuju kesempurnaan. Lima komponen pokok kemandirian adalah progresif, ulet, inisiatif, pengendalian dari dalam (internal focus of control) dan kemantapan diri (self esteem, self confidence).

Secara sosial, Emil Durkheim melihat makna dan perkembangan kemandirian dari sudut pandang masyarakat. Kemandirian merupakan elemen esensial dari moralitas yang bersumber pada masyarakat. Kemandirian tumbuh dan berkembang karena dua faktor, yaitu disiplin dan komitmen terhadap kelompok. Oleh sebab itu, individu yang mandiri adalah individu yang berani mengambil keputusan yang dilandasi oleh pemahaman akan segala konsekuensi dari tindakannya, sehingga kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individualisasi yaitu proses realisasi kedirian dan proses menuju kesempurnaan. (*)

TULISAN INI DISAMPAIKAN DALAM CERAMAH ILMIAH PPQ PADA SABTU, 2 MEI 2015

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply