MERINTIS “ASNAWIYAH” MENJADI SHOLAWAT NASIONAL NU

QUDSIYYAH, JOMBANG – Qudsiyyah Kudus berupaya terus melestarikan dan mengembangkan ajaran-ajaran dari pendiri dan sesepuh Qudsiyyah Kudus. Salah satu yang terus digencarkan adalah dengan memopulerkan Sholawat Asnawiyah, karya pendiri madrasah Qudsiyyah, KHR Asnawi di level nasional.

Selain aspek kesenian melalui Grup Rebana Al Mubarok Qudsiyyah, yang selalu memopulerkan Sholawat Asnawiyah, Qudsiyyah Juga berupaya mengenalkan Sholawat kebangsaan ini di kancah nasional. Salah satunya melalui pameran dalam Muktamar ke 33 Nahdlatul Ulama, di Jombang pada 1- 5 Agustus 2015.

Dalam pameran tersebut, Qudsiyyah mengambil peran untuk mengenalkan karya-karya KHR Asnawi yang merupakan salah satu pendiri NU dari Kudus. Salah satu karya monumental KHR Asnawi adalah sholawat Asnawiyah, dimana dalam liriknya merupakan wujud kecintaan dan nasionalisme KHR Asnawi terhadap Indonesia. Dalam teks sholawat Asnawiyah tersebut beliau berharap negeri ini selalu aman, damai dan masyarakatnya sejahtera, menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.

Melalui pameran tersebut, diharapkan masyarakat luas semakin mengenal karya pendiri NU, Sholawat Asnawiyyah, dan juga semakin mengenal lembaga Pendidikan Qudsiyyah. Madrasah Qudsiyyah ini merupakan Madrasah yang didirikan oleh KHR Asnawi pada tahun 1919 M, sebelum beliau mendirikan ponodk pesantren Raudlatut Tholibin. Upaya lain untuk memopulerkan sholawat Asnawiyah juga dilakukan para alumni Qudsiyyah, utamanya mereka yang duduk di dalam jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama tingkat pusat. Harapannya, sholawat pendiri NU ini menjadi salah satu sholawat “wajib” di ormas dengan jumlah angngota terbesar di Indonesia ini.

Dalam pameran di Mukatamar NU tersebut, Qudsiyyah bekerjasama dengan Yayasan masjid, Menara dan Makam sunan Kudus (YM3SK) dan menempati salah satu lokasi standa di komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain karya sholawat, berbagai keunggulan Qudsiyyah juga ditampilkan di sana, mulai dari penerbitan almanak (kalender), yang sejak lima tahun terakhir menyusun sendiri, kitab-kitab Qudsiyyah, yang merupakan karya asli dari para Masyayikh Qudsiyyah, produk jurnalistik karya santri, seperti majalah dan bulletin, hingga foto-foto Qudsiyyah tempo dulu, juga menghiasi stand Qudsiyyah Kudus. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply