100 khataman, Ngalap Berkah KHR. Asnawi

Selepas maghrib, kawasan menara dipadati alumni Qudsiyyah yang akan melaksanakan 100 khataman dan fida’ akbar yg dihadiahkan untuk muassis dan masyayikh Qudsiyyah. Kegiatan ini akan mengkhatamkan al-qur’an sebanyak 100 kali dan membaca 100.000 kali surat al-ikhlas sebagai fida’. Acara yg pada Selasa Malam (5/6) berlangsung dari pukul 20.00 WIB dan rencana berakhir pd 24.00 WIB diawali dengan daftar ulang 500 peserta khataman dan 100 peserta fida’.

500 khatimin dibagi menjadi 100 grup yang bertugas menyelesaikan 1 khataman al-qur’an. Saiful, salah satu khotimin menuturkan rata-rata perpeserta membaca 6 juz. Menurut Ali Hakim, peserta di grupnya ada yang membaca 11 juz. Jalal Mahalli, koordinator kegiatan menuturkan bahwa setiap kelompok diusahakan ada yang hafidz sehingga dapat membantu peserta lain yang belum menyelesaikan porsinya.

Ihsan, Ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah pemaknaan “ngaji” dari konsep Gusjigang. Ahmad Nadjib, selaku Ketua YAPIQ menuturkan khataman dilaksanakan 100 kali dalam rangka 1 abad atau 100 tahun Qudsiyyah. “Karena 100 tahun acaranya, khataman juga 100 kali ditambah dengan fida”, tuturnya.

Peserta kompak memakai baju putih, bersarung batik dan memakai udeng-udeng sebagai penutup kepala. Menurut Abdul Jalil, panitia menggagas konsep ini untuk lebih menyerukan islam nusantara dan mengaplikasikan pakaian rakyat kauman dulu kala.

Acara berlangsung khidmah dan setelah genap 100 khataman begitu juga fida’ akbar, acara berakhir pukul 23.30 WIB. Kemeriahan dilanjutkan di Halaman depan Makam Sunan Kudus, tepat di Selatan Bangunan Menara, 100 ingkung telah ditata rapi untuk disuguhkan kepada para peserta. Ingkung merupakan makanan khas yang disajikan ketika prosesi bancaan, manaqiban maupun tirakatan. Ingkung yang berjumlah 100 merupakan symbol perjalanan Qudsiyyah yang telah berusia 100 tahun dalam hitungan qimariyyah.

100 Ingkung disajikan dan disantap kepungan di Halaman Depan Kompleks Makam Sunan Kudus

100 Ingkung disajikan dan disantap kepungan di Halaman Depan Kompleks Makam Sunan Kudus

Ingkung dinikmati secara kepungan merupakan tradisi santri yang tak kenal gengsi, mau berbagi dengan yang lain dan tidak memandang tinggi-rendah derajat lainnya. Perbedaan menyatu, luber dalam kebersamaan dan keharmonisan, begitu tutur salah panitia. Ingkung yang disediakan adalah nasi dengan lauk Opor Ayam yang masih utuh dan Sambel Goreng, kuliner khas Kudus.

Ngalap berkah”, begitulah kesan dari peserta khatmil Quran dan Fida’. Mereka percaya bahwa berkah para salafus sholihin akan berimbas dalam kehidupan mereka, itulah alasan mengapa tanpa pamrih ratusan peserta mengikuti kegiatan tersebut. Wahyu, salah seorang percaya bahwa tepat kegiatan ini diisi dengan khataman Al-quran karena Ak;quran adalah sumber berkah.

Yasfin, sekretaris panitia menjelaskan bahwa Kegiatan malam itu merupakan salah satu rangkaian jilid satu, karena masih ada puluhan kegiatan yg akan dilaksanakan panitia sampai bulan Agustus 2016. Kegiatan terdekat adalah roadshow da’wah sbg refleksi da’wah mbah Asnawi yg mengembara dr desa ke desa. Untuk pengajian pertama dilaksanakan tgl 17 April 2016 di Kec. Kaliwungu, tepatnya di Desa Papringan

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply