Euforia Sepeda Santai, Refleksi Perjalanan Sunan Kudus

Setelah beberapa kegiatan digelar pada hari Sabtu (2/4), esoknya Ahad (3/4) dilaksanakan napak tilas laku Kangjeng Sunan Kudus yang dikemas dalam kegiatan Sepeda santai. Seperti yang ditekankan oleh Ketua YAPIQ, H. Nadjib Hassan bahwa kegiatan ini memanglah “ngonthel” bersama akan tetapi harus dicermati kegiatan ini merefleksikan perjalanan Sunan Kudus.

Abdul Jalil, Sekretaris Panitia menjelaskan bahwa kedatangan Sunan Kudus dari Demak diawali dengan bertemu Thai Ling Sing di tanah Loram. Disanalah Kangjeng Sunan mengajak Ling yang merupakan mantan nahkoda Laksamana Cheng Ho untuk menyebarkan Islam dan membentuk pondasi Kota Kudus. Dari sinilah panitia menentukan rute yang dimulai dari Tanah Qudsiyyah di Jl. KHR. Asnawi sebagai main venue, kemudian menuju Desa Loram, tepatnya Masjid Wali.

Sepeda santai ala Qudsiyyah, terkandung maksud Napak Tilas

Sepeda santai ala Qudsiyyah, terkandung maksud Napak Tilas

Sesampainya rombongan di Masjid Wali disambut dengan tabuhan rebana dan lantunan Qosidah dari Grup Rebana Al-Mubarok dan diadakan pelepasan oleh Bupati. Uniknya,sebelum acara protokoler digelar, teater Qudsiyyah telah menyiapkan sebuah fragmen teatrikal pertemuan Sunan Kudus dan Thai Ling Sing di depan Gapura Masjid Wali.

Drama menceritakan kedatangan Sunan Kudus yang telah melepas semua jabatan di Kerajaan Demak dan meminta Ling untuk bersama-sama membentuk Kota yang sekarang dikenal dengan Kota Kudus. Menurut Jalil, Sunan Kudus menancapkan pondasi kota Kudus yang memiliki karakter, pandai dan cerdas serta lihai dalam berdagang. Hal tersebut digambarkan dari tokoh Ling yang meminta agar Sunan Kudus tetap memberikan kesempatan warga untuk terus berkreatifitas, mengembangkan seni dan berdagang. Sunan Kudus setuju bahwa hal tersebut tidak bertentnangan dengan Gusjigang, sebuah konsep untuk membentuk warga Kudus nantinya.

Setelah memberikan pidato, H. Mustofa, selaku Bupati Kudus melepas rombongan. Rute selanjutnya melewati kompleks GOR Wergu, Alun-alun Simpang 7, kembali ke Perempatan Jember dan finish di Tanah Qudsiyyah. Rombongan napak tilas lagi-lagi disambut rebana Al-Mubarok.

Ribuan peserta terlihat semangat mengingat pembagian doorprize telah menanti. Doorprize utama berupa 21 Sepeda dan masih disediakan hadiah lain oleh panitia. Tidak hanya untuk pemegang kupon saja, doorprize juga dibagikan untuk santri yang berani unjuk gigi dalam hapalan alfiyah, nadzoman karya Imam ibnu Malik yang diajarkan dalam kurikulum Qudsiyyah.

Penyerahan Doorprize Sepeda

Penyerahan Doorprize Sepeda oleh KH. Fatkhur Rahman

 

Acara diakhiri pukul 11.30 setelah doorprize selesai dibagikan. Ahmad Hasan, salah seorang alumni dan peserta menuturkan kegiatan ini tak hanya positif untuk fisik, tapi juga merekatkan silaturahmi alumni dengan Madrasah. Kesan bahwa kegiatan ini berlabel 1 abad dan tidak mungkin dijumpai lagi, menjadikannya momen yang tidak terlupakan, tuturnya.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply