Generasi Harus Berprinsip Budaya

Dalam hal budaya, Nabi Muhammad adalah figur yang menjaga bahkan memperbaiki budaya. “Pesan tersebut disampaikan oleh KH. Ahmad Asnawi dalam acara CISS (Ceramah Ilmiah Siswa) yang diadakan Kamis (28/4) di Aula Ponpes Raudlatul Muta’allimin, Langgardalem. Beliau mencontohkan budaya rodloah atau menyusui di Tanah kelahiran Nabi. “Ketika nabi mendapatkan risalah, menyusui dijadikan sunnah dan diatur dalam tatanah syariah”, imbuhnya.

Kebudayaan Kudus yang sebelumnya ada dan dijalankan oleh komunitas sebelum kedatangan Sunan Kudus pun diadopsi sehingga tidak menyakiti yang lain. Beliau mencontohkan fungsi blangkon sebagai satrur ro’si atau tutup kepala yang bentuk dan kegunaanya seperti sorban. “Bukan memaksakan sorban dalam budaya jawa. Budaya yang diadopsi dengan syariat tidak akan menimbulkan keresahan dan fanatik,” tandasnya dalam acara bertajuk “Kudus dalam Potret Budaya Lokal”

Pemateri lainnya, Dr. Ihsan menambahkan budaya lokal “Gusjigang” sebagai local wisdom warisan Sunan Kudus. Gusjigang harus dibumikan mengingat makna dan kegunaannya. Tidak sepenuhnya budaya bersifat kuno, beliau mencontohkan budaya ater-ater yang mulai pudar. “Budaya harus dilestarikan meski bisa disesuaikan dengan situasi kekinian, ater-ater bisa menggunakan menu hamburger”, jelasnya dengan canda.

Dikuatkan dengan penjelasan Drs. Zaenuri dari Dinas Pendidikan bahwa generasi sekarang harus punya prinsip budaya. Itupun menurut KH. Ahmad Asnawi selama tidak bersebrangan dengan agama.

Kegiatan CISs memang merupakan annual program yang rutin dilaksanakan PPQ, menurut ustadz Hanafi, Pembina PPQ. Kegiatan ini diikuti oleh santri Qudsiyyah dari MTs hingga MA, dan turut mengundang delegasi dari sekolah mitra. Untuk tahun ini kegiatan, tercatat 33 peserta dari 14 sekolah mitra.

 

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply