Ngaji Budaya Jawa, Teladani Walisongo

QUDSIYYAH, KUDUSAjining rogo soko busono, ajining jiwo soko laku lan toto kromo. Salah satu poin tersebut disampaikan oleh KH. A. Sudardi dalam pengajian “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi” yang digelar di Musholla Nurul Iman, Desa Jepang Pakis Kec Jati. Kudus, Minggu (30/4)

Beliau seakan mengklarifikasi bahwa busana iket yang kembali dipopulerkan oleh Guru Qudsiyyah dalam kegiatan-kegiatan. Para wali memakaikan iket setelah mengucap kalimah syahadah, iket menjadi simbol umat islam mengikat keimanan. Keterangan tersebut ada di Babad Jawa.

Kyai yang memerhatikan budaya Jawa ini juga nembang dhandanggula yang merupakan pesan Sunan Kalijaga. Tembang jawa mengandung pesan-pesan untuk bertindak laku mulia. Bahkan kitab Ta’limul Muta’allim memiliki kesamaan isi. Beliau menyayangkan budaya peninggalan walisongo ini tidak familiar bagi generasi muda. Salah satu bentuk tata krama adalah tata krama berbahasa. Jika telah memenuhi baik dalam berbusana dan tata krama, manusia akan mulia.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 2000 jamaah tersebut, KH. Fathur Rahman membenarkan pesan tembang jawa yang sangat indah. Jenis tembang jawa yang bermacam-macam merupakan representasi dari fase kehidupan. Beliau menjelaskan wijil sebagai awal lahir manusia ke dunia, dari sinilah orang tua mengajar putranya hingga terlihat keemasannya atau maskumambang. Selanjutnya manusia akan saling mencintai disimbolkan tembang asmarandhana, dan akhirnya pocung atau meninggal.

Pengajian malam itu dilengkapi napak tilas cerita berdirinya Qudsiyyah dan Nahdlatul Ulama oleh KH. Mas’ud. Betapa perjuangan pendahulu yang tidak sejalan dengan keadaan generasi saat ini.

Pelaksanaan pengajian didahului qiroatul quran, tahlil dan maulidurrosul sebagai ciri khas pengajian nahdliyyah. Sambutan dari Kades Jepang Pakis membuka secara resmi pengajian malam itu.

pembacaan maulidurrasul bersama Habib Hasan Bunumay dan ustadz H. ashfal Maula. Maulid diiringi juga oleh 150 penerbang dari Kec. Jati dan penerbang dari Polres Kudus.

Pengajian malam tersebut ditutup dengan Doa oleh KH. Saifuddin Luthfi. Suasana khidmah para hadirin mengamini runtutan doa.

Kegiatan roadshow pengajian ini terus berlanjut hingga Mei 2016. Pengajian selanjutnya digelar di wilayah Dawe. Rencananya akan dilaksanakan di Masjid Faidlur Rohman, Desa Cendono Kec. Dawe Kudus pada Ahad (8/5) mendatang. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply