Pertemuan Bersejarah Duo Pionir Dakwah di Kudus

Setelah rombongan Bupati Kudus memasuki halaman Masjid Wali Loram, seorang pria datang menyusul menunggang Kuda, berpakaian serba putih dan dikawal oleh pasukannya. Ternyata, Teater Qudsiyyah mementaskan fragmen teatrikal pertemuan Sunan Kudus dengan Thai Ling Sing, lakon bersejarah penyebaran dakwah di Kota Kudus. Bertempat di Areal Masjid Loram, pertunjukan ini disuguhkan sebelum acara protokoler pelepasan Sepeda Santai yang bertemakan “Napak Tilas Laku Kangjeng Sunan Kudus”.

Bicara mengenai kota Kudus Jawa Tengah, tak bisa lepas dari tokoh sentralnya, Sunan Kudus yang bernama Sayyid Ja’far Shodiq. Beliau adalah pendiri kota Kudus sekaligus tokoh sentral penyebaran agama Islam di Kudus pada abad ke-15.

Kesuksesan dakwah Sunan Kudus, dalam menyebarkan agama Islam terkenal dengan strategi dakwah yang damai dan tanpa menyakiti. Hal ini jelas terlihat salah satunya dari peninggalan Sunan Kudus berupa Menara Kudus yang merupakan lambang kedamaian yang diajarkan Sunan Kudus kepada generasi sesudahnya. Bangunan dengan unsur kental Hindu-Budha-Jawa-Islam tersebut menjadi penanda dakwah Sunan Kudus penuh

Perjumpaan Sunan Kudus dan Thai Ling Sing dipentaskan di Depan Peserta Napak Tilas

Perjumpaan Sunan Kudus dan Thai Ling Sing dipentaskan di Depan Peserta Napak Tilas Laku Sunan Kudus

dengan kedamaian dan tepa selira. Ajaran Sunan Kudus yang melarang anak cucunya menyembelih sapi, kian mempertegas ajakan damai ini. Dahulu, masyarakat Kudus banyak yang beragama Hindu dan hewan sapi merupakan hewan yang dihormati umat Hindu. Strategi berdakwah dengan pendekatan budaya, dengan menggunakan sapi dan melarang anak cucunya menyembelih sapi, terbukti efektif dan berhasil menyebarluaskan Islam di Kudus Jawa Tengah.

Tokoh Sentral, Sunan Kudus, dalam menyebarkan agama Islam di Kudus ternyata tidak sendirian. Sebelumnya telah ada Kyai Telingsing, yang terkenal dengan keahlian ukir dari China yang telah mukim di Kudus dan menyebarkan Islam. The Ling Sing (Telingsing), tiba pada sekitar awal abad ke-15. Konon, beliau datang ke Pulau Jawa bersama Laksamana Jenderal Cheng Hoo. Kyai Telingsing, tinggal di sebuah daerah subur yang terletak diantara sungai Tanggulangin. Di sana beliau bukan hanya mengajarkan agama Islam, melainkan juga mengajarkan kepada para penduduk seni ukir yang indah. Sebuah seni mengukir kayu dengan gaya Sung Ging sebagai sebuah maha karya ukiran kayu yang terkenal akan kehalusan dan keindahannya.

Perjalanan Sunan Kudus Menuju Kudus dan pertemuan dengan Kyai Telingsing inilah yang menjadi penanda awal menyebarnya Islam di tanah Kudus ini. Berdasarkan beberapa literatur yang ada, pertemuan antara Sunan Kudus dan Kyai Telingsing pertama kali terjadi di Loram, yang kini berdiri Masjid Wali Loram.

Drama menceritakan kedatangan Sunan Kudus yang telah melepas semua jabatan di Kerajaan Demak dan meminta Ling untuk bersama-sama membentuk Kota yang sekarang dikenal dengan Kota Kudus. Menurut Jalil, Sunan Kudus menancapkan pondasi kota Kudus yang memiliki karakter, pandai dan cerdas serta lihai dalam berdagang. Hal tersebut digambarkan dari tokoh Ling yang meminta agar Sunan Kudus tetap memberikan kesempatan warga untuk terus berkreatifitas, mengembangkan seni dan berdagang. Sunan Kudus setuju bahwa hal tersebut tidak bertentnangan dengan Gusjigang, sebuah konsep untuk membentuk warga Kudus nantinya. Setelah keduanya sepakat, mereka menetapkan “tajug” sebagai sentra penyebaran dakwah.

Qudsiyyah yang didirikan oleh KHR Asnawi, yang merupakan keturuan ke 14 Sunan Kudus, mencoba mengenang kembali, Napak Tilas Laku Kangjeng Sunan Kudus. Kegiatan Napak Tilas Laku Kangjeng Sunan Kudus ini dikemas dalam dua acara, yakni sepeda santai yang berlangsung Ahad (3/4); dan kirab seribu terbang yang menyimbolkan sambutan rakyat Kudus kala menyambut kedatangan Sunan Kudus yang datang dari Demak untuk menyebarkan dakwah dan akhlaq di Bumi Kudus.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply