Santri Jangan Ragu Sanad Qudsiyyah

Santri harus meneladani KHR. Asnawi karena meneladani orang sholih adalah kebaikan. Tidak seharusnya, santri meragukan Madrasah Qudsiyyah yang didirikan oleh mbah Asnawi, karena mbah Asnawi memiliki mata rantai sanad keilmuan yang shahih ketika belajar di tanah Hijaz. Salah satu guru beliau adalah Syekh Nawawi al-Bantany dan terus menyambung hingga Nabi Muhammad SAW.

Salah satu poin tersebut disampaikan oleh Habib Aidrus bin Muhammad bin Yahya dalam pengajian “Meneladani Dakwah KHR. Asnawi” yang digelar di Masjid Nurul Mubin, Dukuh Gilang Desa Bae, Kec Bae. Kudus, Minggu (24/4)

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka 1 abad Qudsiyyah. Dalam acara yang dihadiri sekitar 4000 jamaah tersebut, Habib Aidrus meneruskan, sepulangnya ke tanah air, KHR. Asnawi tidak mendirikan pondok pesantren seperti umumnya lulusan hijaz. Habib Aidrus mencontohkan KH. Hasyim Asy’ari yang mendirikan pondok sepulang dari Hijaz. Akan tetapi mbah Asnawi justru mendirikan madrasah yang kemudian dikenal dengan nama Qudsiyyah pada 1337 H./ 1919 TU. Pilihan beliau adalah “firosah” dari Allah sehingga beliau memilih memprakarsai yang lebih maslahah di Kudus, yakni madrasah dibandingkan ponpes Raudlatut Tholibin di rumahnya Bendan, Desa Kerjasan.

Pelaksanaan pengajian didahului pembacaan maulidurrasul bersama Habib Ali bin Utsman, Habib Ali bin Abdul Qodir, Habib Hudallah, ustadz H. ashfal Maula dan Ustadz Ahmad Mushoffa. Maulid diiringi oleh penerbang dari Kec. Bae

Pengajian malam tersebut ditutup dengan Doa oleh KH. Noor Halim. Kegiatan roadshow pengajian ini terus berlanjut hingga Mei 2016. Pengajian selanjutnya digelar di wilayah Gebog. Rencananya akan dilaksanakan di Masjid baitul Adhim, Dukuh Ngaringan Desa klumpit Kec. Gebog Kudus pada Rabu (27/4). panitia pelaksana, Ali Yahya berharap acara mendatang bisa sesukses acara di Papringan, melihat animo masyarakat Kaliwungu yang tinggi malam ini.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply