PAPER SANTRI QUDSIYYAH TEMBUS 5 BESAR DI FILIPINA

QUDSIYYAH, FILIPINA – Hal yang tidak disangka dialami oleh Mirza Muchammad Iqbala, lulusan Qudsiyyah yang kini masih aktif sebagai Mahasiswa S1 UII Yogyakarta. Paper yang ia teliti bersama timnya diterima dalam  3rd International Conference on Education, Psychology and Social Science (ICEPSS). ICEPSS sendiri merupakan konferansi tentang psikologi, pendidikan dan pengetahuan sosial yang diselenggarakan oleh the International Research Enthusiast Society Inc. (IRES inc.), sebuah organisasi non-profit yang dibentuk sebagai penyelenggara beberapa riset internasional dalam berbagai disiplin ilmu dan menjembatani pertukaran keilmuan dan ide. ICEPSS 2016 diselenggarakan di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Mirza adalah putra asli Kudus yang berdomisili di Wergu Wetan, putra dari Mbah No. Saat ini ia merupakan mahasiswa semster 4, FBSB, UII Yogyakarta. Ia tak megira bahwa sering presentasi ketika masih studi di Qudsiyyah. Pribadi aktif yang juga menggeluti jurnalistik ketika tingkat tsanawiyyah dan aliyah ini juga sering presentasi dalam lomba-lomba karya tulis ilmiah.

Berkat kerja keras, Mirza yang merupakan ketua tim patut berbangga pasalnya paper yang mereka alihbahasakan ke bahasa Inggris diterima, mengingat paper yang diterima hanya 130 dari 230 paper yang masuk. Mirza pun berhak mengikuti konferensi di Filipina pada tanggal 19-21 Mei 2016 setelah diumumkan termasuk 47 yang lolos presentasi dan akan diterbitkan dalam jurnal. Bersama timnya, Dinu Hafidh Muvarizb, Akmal Maulana Luthfi Ridlo Sanggustic, Syafira Putri Ekayanid, Nyda Afsarie, ia berangkat menuju Filipina dan terus menyempurnakan paper selama di perjalanan.

Minder & Bangkit di antara Tokoh Pendidikan Dunia

Agenda hari pertama di Filipina adalah hari yang tak terlupakan, bukan hanya karena bertemu dengan pakar pendidikan, melainkan didaulat sebagai best five papers (5 paper terbaik) dalam ajang tersebut. “Saya pun berdiri dan kaget, paper kami disebut”, ungkapnya. “just go there, children”, sahut doktor disebelah mereka dan Mirza beserta tim turun untuk menerima penghargaan tersebut dengan sorakan riuh dari peserta yang mayoritas Dosen, Mahasiswa S2 dan Doktor. “Tangis banggapun tak terbendung,” lanjutnya “hanya kami presenter dari Indonesia dan mungkin yang termuda karena masih semester 4 program S1,” jelasnya.

MIRZA

Sedikit rasa gugup pada saat presentasi di Hiyas ng Bulacan Convention Center, Malolos City, Bulacan, Filipina.

Paper berjudul The Effect of PTC (Parent Teacher Communication) on Student Engagement of Elementary School Students: The Role of Communication Technology merupakan penelitian yang telah dijalankan selama setengah tahun bersama timnya. Di Filipina, Mirza pun harus presentasi dengan Bahasa Inggris didepan para akademisi. Meski mengaku minder namun ia mendapatkan semangat kembali setelah beberapa peserta berpangkat Profesor memberikan apresiasi. “Profesor Choi (Filipina) berkenalan dengan kami dan bertukar kartu nama, Prof. James (Korea Selatan) menawarkan beasiswa S2 untuk kelanjutan studi kami,” ungkapnya, “Saya didampingi Akmal presentasi lepas tanpa catatan dan terbawa suasana saja.” Mirza pun sukses membawakan paper hingga tanya jawab dan justru dibawakan dengan gaya lucu dan santai.

Kesan di Filipina

Filipina adalah negeri yang minoritas islam. Berbeda dengan Indonesia, dimana masjid dan makanan halal adalah hal yang wajar, tidak mudah mendapatkan semua itu di Filipina. Sebelum mengikuti acara Mirza dan tim mengunjungi kedai yang halal, meskipun mahal mereka memaklumi karena makanan pokok disana adalah nasi dan daging babi. Namun dalam acara tersebut, panitia menyediakan 2 pilihan makanan berbahan dasar babi atau bahan ayam. “Padahal peserta yang Islam hanya kami, namun panitia sangat menghargai kami,” jelasnya, “tidak hanya makanan, tempat sholat juga disediakan 5 waktu”.

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Salam Mirza dari Filipina untuk Satu Abad Qudsiyyah

Hari ketiga adalah waktu luang bagi Mirza beserta tim, tidak disia-siakan menyusuri jalanan Kota Malolos yang ramai. Keramaian khas hari Minggu tak berbeda dengan di Indonesia. Gereja dan gereja berjajar meneguhkan hati Mirza, ‘Terkadang aku bersyukur di Indonesia, makanan halal dan masjid masih banyak.

Sebagai negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua nasional, penggunaan Bahasa Inggris sangatlah wajar untuk masyarakat Filipina. Berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia, kesan Mirza dalam perjalanan wisatanya. “Pesanku buat anak Qudsiyyah, jangan remehkan Bahasa Inggris”, pungkasnya, “terbukti, dengan bahasa inggris lah kami berada disini”.

Setelah ini, Mirza fokus ke penelitian selanjutnya yang telah diterima di Malaysia dan Singapura. “Malaysia presentasi Juli, dan Singapura pada Agustus 2016,” jelasnya.

Reporter: Ahmad Arinal Haq

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply