Mengupas Shalawat dari Seni dan Sisi Akademis

Setiap hal dibahas dalam disiplin ilmu tersendiri, begitu pula syair arab klasik. Syair yang masyhur di Indonesia berupa shalawat dan Qosidah memiliki cabang ilmu tersendiri yang disebut “Arudl”.

QUDSIYYAH – KUDUS Unik, Qudsiyyah mengadakan seminar dengan fokus pembahasan yang unik. Mengambil Tema “Menggali Khazanah Syair Shalawat”, seminar ini fokus pada ilmu Arudl yang notabene sudah langka. Bekerjasama dengan KOMPAQ dan FORMI UMK, seminar yang diadakan di Auditorium UMK (Universitas Muria Kudus) pada Jumuah (20/5) tersebut dihadiri hampir 500 peserta dari sekolah dan pondok. Peserta telah melakukan registrasi 2 minggu sebelumnya kepada panitia.

Langka; bukan hanya jarang yang belajar, tetapi karena tak banyak yang menguasai dan mengajarkan ilmu arudl. Seperti yang disampaikan Keynote Speaker, KH. M. Saifudiin Luthfi bahwa ilmu Arudl makin jarang dikaji karena membahas syair arab dan literatur klasik peninggalan ulama. Tak banyak yang tahu bahwa seni syair arab ini dianalisis secara akademis dengan arudl.

Sejarah keilmuan Arudl justru muncul jauh setelah para pencipta syair klasik tiada dan Imam Kholil merumuskan beberapa pola atau wazan sebagai kerangka syair yang telah ada, jelas Kyai Saifuddin. Ilmu arudl tidak hanya bertujuan untuk mengetahui kesalahan sebuah syair, melainkan untuk menciptakan dan menggubah syair sesuai dengan aturan dan polanya. Ternyata banyak shalawat yang tidak tergolong syair karena tidak sesuai dengan bahar atau jenis syair.

Arief Budiman, pemateri pertama dalam seminar tersebut menjelaskan betapa banyak penggunaan syair dalam masyarakat. Dosen sastra asia-barat ini mengungkap bahwa masyarakat kebanyakan tidak mengetahui yang mereka lagukan adalah syair, sebaliknya banyak prosa arab yang justru dianggap sebagai syair.

Pola syair arab juga digunakan untuk membuat puisi berbahasa jawa atau Indonesia, biasanya dilagukan di musholla, masjid dan pengajian. Meskipun berasal dari arab atau timut tengah, namun nyatanya syair arab sangat famiIiar di Indonesia. Ini dikarenakan dakwah menggunakan seni dinilai efektif, ditambah lagi dinyanyikan dengan indah. Mengingat dakwah dengan seni telah diprakarsai oleh para walisongo dalam penyebaran islam dahulu.

Pemateri lainnya, Miftakhur Rahman dan Ashfal Maula berkolaborasi dalam penyampaian praktek ilmu arudl kepada para peserta. Kang Khur -sapaan Miftakhur Rahman- dengan singkat menjelaskan bahar yang telah dikodifikasi dalam ilmu arudl. Satu persatu kang Khur menjelaskan pola dan shalawat yang menggunakan pola tersebut. Selain pola, seniman yang masih aktif menciptakan syair arab ini menjelaskan dilengkapi dengan pola ketukan atau not nada agar para peserta bisa lebih memahami.

Kang Khur yang masih mengajar Bahasa Arab di MTs Qudsiyyah ini bergantian dengan Gus Apank, sapaan Ashfal Maula. Gus Apank melengkapi lagi dengan mencontohkan bagaiman arudl juga berguna dalam membuat nada lagu. Ilmu arudl terbukti berguna untuk menggubah syair shalawat menjadi lagu yang indah, salah satu buktinya adalah lagu-lagu Al-Mubarok. Gus Apank yang merupakan pembina Al-Mubarok menyanyikan beberapa syair dari Bahar Kamil, Wafir, dll dengan contoh shalawat yang sudah familiar bagi peserta.

Seminar Arudl merupakan satu dari berbagai rangkaian dauroh ilmiyyah yang disiapkan oleh Panitia Satu Abad Qudsiyyah. Rencananya, panitia juga akan menggelar Seminar yang kan membahas fenomena Bedhug Dhandang dari sisi budaya dan keilmuan falak pada Senin-Selasa (30-31/5) di Hotel Griptha.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply