Parade Bedhug Dhandang Sambut Ramadlan

IMG_0549

Deretan Dokar Meramaikan Parade Bedhug Dhandang

QUDSIYYAH – KUDUS, Ada yang menarik melintas jalanan kota Kudus pada Selasa (31/5). Rombongan dokar dan arak-arakan replika Menara Kudus berparade dari pagi hingga siang. Parade yang digelar oleh Qudsiyyah masih dalam rangka memperingati satu abad Qudsiyyah ini mengambil tema Bedhug Dhandang. Ramadhan  1437 H tinggal menghitung hari, umat muslim di Kudus memiliki Bedhug Dhandang yang merupakan tradisi yang dimulai sejak zaman Sunan Kudus untuk mengumumkan mulainya bulan Ramadlan. Dalam kegiatan tersebut, bedhug kuno yang dahulu merupakan bedhug utama di Menara Kudus diarak juga. Bedhug yang dimusiumkan oleh YM3SK itu semakin menambah kesan historis dalam parade sembari ditabuh dengan nada khas “bedhug dhandang”. Denny, staf YM3SK menjelaskan bahwa ini kali pertama minitur menara dan bedhug bersejarah diarak.

Rombongan parade berangkat dari Hotel Griptha, disana para peserta yang sehari sebelumnya telah mengikuti seminar sudah berkumpul sedari pagi. Dokar berjumlah 20 ditambah 2 mobil yang membawa replika Menara Kudus dan bedhug tersebut menuju ke arah Demak.  Miftah selaku kordinator parade menuturkan bahwa perjalanan sebenarnya dimulai dari Karanganyar, dikandung maksud merefleksikan rombongan Sunan Kudus yang memasuki Kudus dari kerajaan Demak, melewati Sungai Serang.

Bedhug Kuno Menara Kudus yang diarak dan ditabuh selama Parade

Bedhug Kuno Menara Kudus yang diarak dan ditabuh selama Parade

Rombongan berlanjut ke Masjid Wali Loram, tempat dimana Sunan Kudus menemui Thai Ling Sing untuk mengatur strategi dakwah di Kudus. Setelah itu, perjalanan panjang menuju ke Desa Kauman, lokasi dimana situs Menara Kudus berada. “Karena sudah memasuki masa dhandangan, maka rombongan akan check point di MTs Qudsiyyah, untuk selanjutnya berjalan bersama ke Kompleks makam Sunan Kudus untuk berziarah,” jelas Miftah.

Setibanya di makam Sunan Kudus, rombongan yang kala itu berpakaian serba putih dan memakai udeng-udeng/ iket sebagai penutup kepala ini membaca tahlil dipimpin oleh Kyai Mas’an dan Kyai Fahruddin. Para peserta parade turut haru, salah satu peserta berkesan positif tentang perjalanan kirab yang tidak hanya mengingatkan kembali tradisi para leluhur namun mengajak agar tak lupa jasa-jasa leluhur melalui tradisi ziarah juga. Rombongan bertolak pulang ke Hotel Griptha lagi setelah sebelumnya melewati simpang tujuh alun-alun Kudus.

SEMINAR TRADISI BEDHUG DHANDANG

Sebelum Parade bedhug dhandang digelar, malam harinya diadakan seminar dengan Tema “Bedhug Dhandang; Napak Tilas Laku Sunan Kudus dalam Penentuan Awal Ramadlan”. Seminar yang terlaksana dengan kerjasama YM3SK dan KESBANGPOL-LINMAS Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan pada Senin malam (30/5) di Aula Hotel Griptha. Seminar ini membahas astronomi terapan, khususnya dalam penentuan awal Ramadlan oleh Sunan Kudus dan dihadiri oleh 100 peserta serta diisi oleh 3 pemateri;

  • Drs. H. M. Nadjib Hassan, Ketua YM3SK (Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus)
  • Fahruddin, M.Pd (Praktisi Falak/ Astronomi Islam)
  • Dr. Abdul Jalil, M.E.I. (Dosen dan Sejarawan)
_MG_7411

Seminar Tradisi Bedhug Dhandang; Napak Tilas Laku Sunan Kudus dalam Penentuan Awal Ramadlan

Nadjib menuturkan betapa bijak Sunan Kudus dalam menentukan awal ramadlan. Bedhug dhandang menjadi sarana mengumumkan awal wajib puasa Ramadlan. Pada masanya, para muslimin menunggu di halaman masjid sehingga banyak pedagang yang berdagang disana. Nadjib menyayangkan masyarakat hanya mengetahui dhandangan sebagai pusat keramaian saja, bahkan keadaan sekarang terlihat seperti pasar malam, tidak ada unsur kebudaayaan atau sejarah. Ia menengarai dhandangan lebih bersifat ekonomi dan komersil, terbukti tradisi dhandangan justru diolah oleh Dinas Pasar, dan bukanlah Dinas Kebudayaan. Nadjib khawatir jika dhandangan akan dikenang sebagai hura-hura menyambut ramadlan saja, dan lebih meguntungkan warga luar bukan menguntungkan warga setempat.

Pendapat yang sama diutarakan Jalil, pemateri kedua. Dhandangan memiliki nilai religi yang sangat tinggi. Semakin memperteguh fungsi Menara Kudus dan Masjid al-Aqsha sebagai pusat kota Kudus. Bedhug Dhandang ditabuh setelah ashar menjelang maghrib sebagai pertanda bahwa setelah matahari terbenam sudah memasuki bulan Ramadlan, sehingga amalan-amalan ramadlan seperti tarawih, qiyamul lail dan niat puasa bisa mulai dilakukan. Jalil yang juga akademisi ekonomi ini memperhatikan betapa banyak keuntungan pemerintah dalam hajatan dhandangan, namun sayang tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat. Para pedagang yang meramaikan dhandangan justru berasal dari luar Kudus, sedangkan penduduk asli tidak begitu banyak. “Pribumi harusnya yang paling kaya karena kegiatan dhandangan, bukannya malah setor kekayaan ke pedagang luar dan menguntungkan yang lain,” ugkapnya mengkritik.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply