Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam Sarekat Islam: Refleksi Historis Gerakan Sarekat Islam Cabang Kudus (1912-1918)

DEKADE awal abad XX situasi politik di Indonesia mengalami dinamika yang signifikan. Kesadaran nasionalisme dikalangan pribumi semakin tumbuh seiring munculnya berbagai organisasi dan perkumpulan politik. Menariknya banyak dari perkumpulan politik tersebut diinisiasi langsung oleh kelompok pribumi. Sebut saja Budi Utomo dan Sarekat Islam yang menonjol dalam periode awal pergerakan nasional. Sarekat Islam berdiri di Solo pada tahun 1911 dengan nama Sarekat Dagang Islam. Peran SDI, yang kemudian dirubah tahun 1912 menjadi Sarekat Islam (SI) di Solo signifikan, bahkan cenderung radikal. Diantaranya adalah melindungi pengusaha pribumi dari pentrasi pengusaha Tionghoa dalam industri batik. Pada tahun-tahun berikutnya SI membuka cabang dibeberapa kota, seperti Surabaya, Semarang, dan tidak ketinggalan cabang Kudus.

Riwayat Sarekat Islam Cabang Kudus

Sarekat Islam Kudus berdiri pada tahun 1912 di bawah pimpinan Haji Djoepri yang merupakan pengusaha kretek.[1] Kepengurusan SI Kudus banyak didominasi oleh para haji dan ulama. Salah satu ulama yang berpengaruh waktu itu adalah KHR Asnawi yang menjabat sebagai penasehat SI Kudus. Beliau dilahirkan pada tahun 1861 dengan nama Raden Ahmad Syamsi, nama Asnawi disandangnya selepas pulang haji.[2] Selain aktif dalam Sarekat Islam Cabang Kudus, KHR Asnawi juga tokoh penting Nahdhatul Ulama’ Cabang Kudus.[3] Keterlibatan KHR Asnawi dalam Sarekat Islam dimulai dari keterlibatan beliau dalam jaringan ulama nusantara di Haramain. Pergaulan yang kosmopolit menghantarkan pertemuan KHR Asnawi dengan HOS Tjokroaminoto yang saat itu menjadi tokoh sentral Sarekat Islam. Maka sekembalinya ke tanah air, KHR Asnawi diminta secara khusus untuk mendirikan SI cabang Kudus. Ketokohan KHR Asnawi cukup diperhitungkan dalam peta politik nasional, sehingga beliau sering mendapat kepercaaan untuk menempati posisi strategis dalam beberapa organisasi.[4]

Awal kemunculannya, SI Kudus menonjolkan penguatan agama Islam dalam masyarakat Kudus. Hal ini dibuktikan dengn didirikannya dua madrasah, Muawanatul Muslimin pada tahun 1915, dan satu lagi madrasah yang berlokasi di Menara pada sekitar tahun 1918. Madrasah Muawanatul Muslimin Kenepan (M3K) berdiri tepatnya pada tanggal 7 Juli 1915 sebagai bentuk gerakan pendidikan yang dikampanyekan SI Kudus. Madrasah setingkat ibtidaiyah ini memiliki jenjang pendidikan 8 tahun yang terbagi dalam 8 kelas yang dimulai dari kelas 0.[5] Sementara itu Madrasah kedua yang berlokasi di Menara kemungkinan besar merupakan cikal bakal madrasah Qudsiyyah.[6] Karakteristik SI Kudus mungkin agak berbeda dengan SI kebanyakan waktu itu. Visi kemandirian ekonomi pribumi dan gerakan progresif kaum buruh menjadi trademark SI sehingga mendapat perhatian khusus pemerintah kolonial. Terlebih gerakan revolusioner yang mengancam rust en order sangat ditakuti pemerintah kolonial. Di Semarang misalnya SI menjadi creator gerakan pemogokan buruh kereta api pada tahun 1920.

Karakteristik SI Kudus yang cenderung bersifat keagamaan mungkin disebabkan dua hal. Pertama tidak bisa dipungkiri bahwa dominasi Haji dan ulama menjadi faktor penentu arah gerak maupun visi misi organisasi. Kedua adalah iklim perburuhan di Kudus tidak terlalu progresif sebagaimana Surabaya dan Semarang yang notabenenya memiliki pelabuhan dan menjadi kota industri dan perdagangan masa kolonial. Namun demikian dinamika SI Kudus selanjutnya mengalami pengaruh dan gejolak yang sama dengan SI Semarang. Friksi dalam SI seiring kehadiran kelompok yang terpengaruh paham sosialisme-komunisme yang dibawa oleh Sneevlit. Ketidak cocokan kelompok SI Kudus yang cenderung sosialis berujung pada pemisahan diri dari organisasi. Mereka yang keluar SI mendirikan organisasi sempalan PKBT (Perkumpulan Kaum Buruh dan Tani) yang dipimpin oleh Soerorejo dan Zaid Moehammad.[7] Pada tanggal 29 Oktober 1918 organisasi baru ini mengadakan rapat akbar di alun-alun Kudus. Isu-isu yang dibicarakan cukup progresif, diantaranya penghapusan lumbung desa dan sistem kesehatan berkeadilan.[8]

Huru Hara Kudus 1918

Momentum yang perlu dicatat dari eksistensi SI Kudus adalah peristiwa huru hara Kudus tahun 1918. Kronologi peristiwa ini diawali dengan pawai Toa Pek Kong yang diselenggarakan orang-orang Tionghoa dalam rangka menolak datangnya bala’ berupa penyakit influenza. Saat itu penyakit ini cukup menakutkan karena bisa berujung pada kematian. Sebenarnya perayaan ini mengantongi ijin pemerintah Belanda. Namun pawai terakhir yang diselenggarakan tanggal 30 Oktober 1918 berakhir denga chaos. Dalam arak-arakan Tionghoa terdapat orang Tionghoa yang berpakain layaknya haji yang ditemani sejumlah perempuan. Padahal rombongan arak-arakan ini melewati kawasan Menara Kudus yang pada saat itu berkumpul orang-orang         muslim pribumi yang sedang merenovasi masjid Menara. Tindakan ini dinilai oleh pribumi muslim sebagai aksi provokatif yang menyakiti hati mereka sebagai muslim.[9] Sebanarnya keributan yang berlangsung di kawasan Mesjid Menara ini bisa diakhiri dengan perdamaian di kantor Sarekat Islam Kudus pada tanggal 31 Oktober 1918 dengan sejumlah kesepakatan.[10] Sayangnya disaat yang sama sebagian kelompok juga telah merencanakan penyerangan terhadap orang-orang Tionghoa, bisa dikatakan sebagai aksi lanjutan yang berkonotasi balas dendam.[11] Dalam penyerbuan melibatkan massa antara 2000-3000 pribumi yang berdatangan tidak hanya dari Kudus menyebabkan 50 rumah orang Tionghoa terbakar.[12]

Pasca kerusuhan banyak dari tokoh SI ditangkap dan dipenjarakan. Setidaknya 68 orang diadili dengan hukuman yang bervariasai, termasuk KHR Asnawi yang menerima vonis 3 tahun penjara.[13] Benny G Setiono berpendapat peristiwa kerusuhan rasial Kudus tahun 1918 merupakan bagian dari politik adu domba Belanda dalam merespon gerekan militant SI yang semakin massif, termasuk di Kudus. Persaingan antara pedagang batik dan rokok kretek Arab dengan pengusaha Tionghoa sengaja dihembuskan. Kerusuhan diwarnai dengan aksi pembakaran rumah dan toko orang-orang Tionghoa yang disertai dengan penjarahan dan perampokan tidak lain merupakan ekses dari politik segresi pemerintahan kolonial yang memisahkan orang-orang Tionghoa dan pribumi dalam bidang politik, ekonomi, hukum dan kebudayaan. Peristiwa Kudus menjadi puncak dari rangkain kerusuhan rasial yang melibatkan kelompok Tionghoa dan Pribumi yang terjadi pada awal abad XX, setelah sebelumnya kerusuhan serupa berlangsung di Solo dan Surabaya pada tahun 1912.[14]           Pasca meletusnya huru-hara Bakar Pecinan, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kemunduran SI Kudus menjadi gejala umum SI pada waktu itu. Perpecahan SI antara kelompok Tjokroaminoto (SI Putih) dan Semaun-Sneevlit (SI Merah) berdampak pada keberlangsungan SI diberbagai daerah. Kekuatan SI Putih terkooptasi oleh SI Merah yang membuat mereka semakin lama menjadi lemah. Sementara itu bagi SI Kudus penangkapan sejumlah tokoh penting pasca huru-hara Kudus 1918 merupakan sebab khusus kemunduran SI Kudus.

Spiritualitas dan Mentalitas Gusjigang dalam SI Kudus

Kehadiran SI Kudus sejak pendirian sampai dengan masa kemundurannya merefleksikan beberapa hal. Pertama, kelompok haji memiliki posisi dalam diskursus pergerakan nasional. Kelompok haji yang tergabung dalam SI Kudus merupakan para pedagang sekaligus haji di Kudus Kulon.[15] Kalangan pedagang haji ini merupakan penggerak utama SI Kudus sehingga ketika tokoh-tokoh utamanya tertangkap pemerintah kolonial, SI Kudus berangsur-angsur mengalami kemunduran. Kedua, SI Kudus berperan dalam kemajuan pendidikan dan pengajaran Islam. Hal ini terbukti dari dua madrasah yang berdiri atas inisiatif langsung maupun tidak langsung dari SI Kudus. Sehingga SI Kudus memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda dengan SI pada umumnya. Bidang keagamaan yang dilipih SI Kudus juga terlihat dalam Anggaran Dasar organisasinya.

Ketiga, huru-hara Kudus tahun 1918 yang melibatkan tokoh-tokoh SI Kudus menguatkan identitas keislaman kelompok pedagang haji. Seperti dijelaskan diatas pemicu huru-hara Kudus 1918 didorong oleh ketersinggungan atas tindakan kelompok Tionghoa yang dinilai menyinggung kelompok muslim Kudus Kulon. Keempat, pedagang yang sekaligus santri (baca:haji) ini berpusat di wilayah Kudus Kulon semakin membuktikan bahwa Gusjigang merupakan spirit keberagamaan yang memiliki akar historis. Secara elaboratif hal-hal tersebut diatas menunjukan bahwa Sarekat Islam cabang Kudus saat itu telah mewarisi spiritialitas dan mentalitas Gusjigang yang selama ini menjadi identitas masyarakat Kudus Kulon. Secara sederhana Gusjigang adalah mereka yang memilki perangai bagus, memiliki pemahaman agama yang baik -secara mencolok mereka adalah haj-, dan pandai berdagang.[16]

Lebih jauh secara substantif penulis melihat Gusjigang sebagai dua hal utama yang relevan dalam melihat masyarakat Indonesia kontemporer. Dua hal tersebut adalah Gusjigang sebagai mentalitas ekonomi maysarakat dan Gusjigang sebagai spirit kegamaan. Secara holistik Gusjigang dapat diinterpretasikan dalam konteks masa kini sebagai enterpreuner yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat dan pribadi yang berintegritas tinggi. Jika melihat wajah perekonomian nasional saat ini, sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menjadi andalan baru dalam menopang perekonomian nasional. Kontribusi UMKM menentukan PDB Nasional (Produk Bruto Nasional) menjadi agenda utama pembangunan ekonomi nasional.[17] Keseriusan pemerintah juga terlihat dari upaya pemerintah mendorong lahirnya enterpreneur-enterpreneur baru. Gusjigang sebagai bagian dari masyarakat Kudus Kulon juga dapat interpretasikan sebagai masyarakat yang memarisi tradisi keislaman Sunan Kudus. Tokoh-tokoh SI masa lampau membuktikan bahwa mereka adalah haji dan ulama yang memiliki pemahaman Islam yang kuat namun juga moderat. Jika melihat wajah Islam Indonesia saat ini yang diwarnai dengan kemunculan kelompok-kelompok Islam fundamentalis dan intoleran. Dalam beberapa tahun terakhir gejala ini dilihat oleh Martin van Bruinessen sebagai conservative turn. Pasca kejatuhan Soeharto, Martin melihat wajah Islam di Indonesia mengalami pergeseran, dari Islam kultural ke islam politis. Contoh konkrit dari kelompok Islam politis adalah munculnya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang memiliki tujun mendirikan negara Islam di Indonesia. Islam politik juga melakukan infiltrasi pada level politik praktis dimana munculnya perda-perda syariat dibeberapa daerah. Sementara kelompok Islam intoleran termanifestasi lewat sejumlah aksi kekerasan dan konflik berbasis agama mulai dari aksi jihad, pemboman gereja hingga perusakan temoat ibadah.[18] Kondisi ini jelas mengkhawatirkan kondisi keberagamaan sekaligus ancaman NKRI. Maka Gusjigang sebagai spirit kegamaaan yang ramah merupakan agen-agen Islam moderat dan toleran yang bisa diandalkan dalam menangkal islam fundamentalis dan intoleran. Dua hal diatas menunjukan bahwa Gusjigang sebagai sebuah mentalitas ekonomi masyarakat dan spirit keagamaan yang bersumber pada kearifan lokal yang orisinil masih relevan dan memiliki kontribusi dalam menjawab tantangan Indonesia kontemporer.

            [1] Castle, Lance, Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus, Jakarta: Sinar Harapan, 1982. hlm., 103.

            [2] KHR Asnawi masih memiliki garis genealogis dengan Sunan Kudus. Dalam Abdurrahman Masud, Dari Haramain ke Nusantara: Jejak Arsitek Pesantren (Yogyakarta: Kencana, 2006), hlm., 210-212.

            [3] KHR Asnawi disebut terlibat dalam tragedi Bakar Pecinan tahun 1918 yang melibatkan komunitas muslim dan komunitas Tionghoa. Dalam laporan KHR Asnawi tertulis posisinya sebagai Penasehat SI Cabang Kudus. Beliau termasuk dari orang SI yang dipenjarakan terkait huru-hara anti Cina Kudus 1918. Lihat dalam Masyhuri, Bakar Pecinan, Konflik Pribumi vs Cina di Kudus Tahun 1918 (Kudus: Yayasan Cermin, 2006).

            [4] Dalam buku Modern Muslim Movement, Deliar Noer menyebutkan pada 31 Oktober-2 Nopember 1922 bersama KH Abdul Wahab mewakili Tasywirul Afkar, KHR Asnawi menghadiri Konggres Al Islam di Cirebon. Kongres ini sendiri dihadiri beberapa organisai dan gerakan Islam yang penting saat itu, antara lain SI, Muhamadiyah, dan Al Irsyad. KHR Asnawi juga sempat terlobat dalam komite Hijaz (cikal bakal NU) sebelum digantikan tokoh lain. Hal ini menunjukan posisi KHR Asnawi dalam skala politik nasional.

            [5] Dalam tulisan ini, penulis menyebutkan KH. M Arwani sebagai lulusan pertamanya yang kemudian mendirikan Madrasah TBS tahun 1928        di Kudus. Mansur, Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 156

            [6] Argumentasi ini penulis ajukan dengan melihat fakta historis bahwa KHR Asnawi merupakan tokoh penting dalam SI Kudus. Sementara KHR Asnawi adalah pendiri Madrasah Qudsiyyah yang berlokasi di kompleks Menara Kudus.

            [7] Masyhuri, Bakar Pecinan Konflik Pribumi vs Cina di Kudus tahun 1918, (Jakarta: Grafika, 2006), hlm., 40.

            [8] Rapat yang diadakan di gedung Johannes Bioscoop dihadiri 900 orang disaksikan oleh ketuanya M. Soeroredjo, dan Sekteraris N. Soerjowinoto. Djawa Tengah, Verslag pendek openbare Vergadering PKBT di Koedes, 31 Oktober 1918, hlm. 1.

            [9] Ketika sampai di depan Masjid Menara terjadi saling mennghina antara orang-orang pribumi dan orang-orang Tionghoa. Orang-orang muslim merasa terhina dengan arak-arakan yang mempertontonkan haji dan perempuan. Sebaliknya orang-orang Tionghoa tersinggung karena upacara Tao Pek Kong juga sakral bagi mereka. Lihat dalam Tan Boen Kim, Peroesohan di Koedoes: Soeatoe Tjerita Jang Betoel Telah Terdjadi di Djawa Tengah Pada Waktoe Jang Belon Sabarapa Lama, (Batavia: Tjiong Kon Lion, 1920), hlm., 86-88.

            [10] Sarekat Islam mewakili kelompok pribumi karena dianggap sebagai organisasi islam terbesar waktu itu. Selain iitu juga diduga beberapa oknum yang terlibat merupakan anggota SI. Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri Patih Martosoedirja mewakili Bupati Kudus, Polisi JW Snabilie, dan Letnan Tionghoa. op.cit. Masyhuri, hlm., 67-68.

            [11]Penyerbuan warga pribumi terhadap perkampungan Tionghoa di Kudus Kulon berlangsung sejak kira-kira pukul 20.00-02.00 dini hari. Ibid, hlm., 70

            [12] Kariboetan di Koedoes , Sin Po 6 Nopember 1918, hlm. 1.

[13] Lewat sejumlah tradisi lisan yang penulis terima selama menjadi santri Madrasah Qudsiyyah, meskipun KHR Asnawi dipenjara oleh pemerintah kolonial beliau masih tetap bisa mengajar santri-santrinya. Salah satu bukti ma’unah –kelebihan- dari KHR Asnawi.

            [14] Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, (Jakarta: Elkasa, 2003), hlm. 375-379

            [15] Tipologi Kudus Wetan dan Kudus Kulon merujuk pada pembagian masyarakat Kudus yang digunakan Lance Castle dalam memisahkan karakteristik masyarakat Kudus yang dipisahkan oleh garis kali gelis. Menurut Lance Castle masyarakat Kudus Kulon memiliki karakteristik religiusitas yang kuat daripada Kudus Wetan. Lihat dalam Castle, Lance. 1982. Tingkah Laku, Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok di Kudus. Jakarta: Sinar Harapan.

[16] Hasyim Asy’ari, Bersikap Satitahe Bergaya Milite, Suara Merdeka 4 September 200

[17] http://www.kemenkeu.go.id/Berita/peran-penting-ukm-dorong-perekonomian-indonesia

            [18] Lihat dalam Martin van Bruinessen, dkk, Conservative Turn: Indonesia dalam Ancaman Islam Fundamentalis, 2014, Bandung: Mizan Utama, hlm. 26-52.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply