Habib Syekh Hadiri Pengajian Satu Abad Qudsiyyah

Rindu para pecinta sholawat serasa terobati, ketika Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf hadir di Bumi Gemiring Kidul dalam rangka pengajian ‪#‎1abadqudsiyyah. Acara yang masih satu rangkaian Roadshow peringatan satu abad Qudsiyyah Kudus ini mampu menyedot perhatian warga Jepara dan Kudus, walaupun panitia belum mengkonfirmasi, diperkirakan 5000 jamaah hadir dan memeriahkan pengajian bertajuk Jepara Bershalawat; Meneladani Dakwah KHR. Asnawi pada Kamis (14/7/2016) malam.

Sembari Maghrib para jamaah telah memenuhi area depan panggung menunggu acara dimulai, dan setelah Isya panitia menghadirkan Jam’iyyah Al-Mubarok Qudsiyyah bersama Gus Apank untuk mengawali acara malam itu. Rangkain acara berlangsung seperti pembacaan Ayat suci Al-Quran dan Tahlil oleh alumni Qudsiyyah di Jepara. Kehadiran Habib Syekh tepat selepas doa Tahlil disambut meriah oleh ribuan pecinta shalawat yang hadir seraya membawakan poster “Kami Rindu Habib Syekh Hadir Di Kudus”. Saat ini Habib Syekh terus berdakwah dengan shalawat baik di dalam maupun luar negeri, dan memang telah lama beliau tidak hadir di Kudus sehingga pantas warga Kudus berbondong-bondong datang mengingat lokasi Desa Gemiring Kidul sangat dekat dengan perbatasan Kudus.Sebelum Habib Syekh memulai, beliau persilahkan Drs. Em. Nadjib Hassan, sosok yang sangat ingin ia temui dan tidak menyangka bertemu dalam momen malam itu. Nadjib selaku Ketua YAPIQ memberikan sambutan singkat dan menyatakan bahwa Qudsiyyah akan terus menyiarkan dakwah ahlussunnah wal jamaah seperti dzikir dan shalawat. Dengan telah sampainya usia yang ke-100 ini, Nadjib berharap Qudsiyyah menjadi semakin maju dan berkembang pesat. Apalagi dengan usia yang sudah cukup tua, eksistensi Qudsiyyah semakin tinggi dengan semakin banyaknya alumni yang berhasil menjadi sosok yang mampu bermanfaat di lingkungan masing-masing.

Lantunan merdu nan kuat ala Habib Syekh semakin indah dengan kehadiran penerbang dari Jepara dan Kudus seperti Hadroh Ahbabul Musthofa Kudus, Jam’iyyah Al-Mubarok Qudsiyyah, Penerbang Polres Kudus dll. Syi’ir Jawa yang dilagukan dengan nada sholawat beriringan dengan  Sholawat yang sering dibawakan oleh Habib Syekh, tak ayal para hadirin dengan lancar bershalawat bersama dan “hanyut” dalam pengajian malam itu. Beliau memang sering membawakan syair jawa yang konon merupakan karya Sunan Kalijaga ketika berdakwah dan beliau menemasnya dengan shalawat yang sangat pas diiringi dengan tabuhan Terbang Habsyi.

Hal yang tidak bisa dilupakan adalah ketika habib Syekh berulang kali mengucapkan selamat hari jadi kepada Qudsiyyah dalam beberapa lagu, salah satunya adalah lagu “Alfa Mabruk” yang beliau deklarasikan sebagai lagu ucapan ulang tahun untuk warga nahdliyyin. Setelah menyanyikan lagu tersebut, Habib Syekh menjelaskan bahwa 1000 keberkahan adalah arti dari lagu tersebut dan sudah sepatutnya menjadi persembahan untuk nahdliyyin yang berulang tahun. Selamat ulang tahun Qudsiyyah yang ke-100, beliau mengakhiri.

Dalam sela-sela bershalawat beliau juga mempersilakan keponakannya, Habib Muhammad bin Farid al-Muthohhar (Semarang) untuk memberikan tausyiah. Ceramah singkatnya menjelaskan tentang Dakwah KHR. Asnawi yang tegas dan istiqomah sebagai teladan. “KHR. Asnawi meniru dakwah sayyidina Umar yang tak pernah takut dan Tegas,”. Menjelang Qiyam,  Habib Syekh menuturkan, “Saya kangen ceramah yai Asnawi Kudus”, sambil memberikan microphone kepada KH. Ahmad Asnawi. Yai Asnawi pun memberikan ceramah tentang Muslimin yang berpuasa di Bulan Ramadlan bagaikan bayi yang baru lahir, karena mereka tidak akan dibenci justru disayangi oleh makhluk. Tak jarang dalam ceramahnya yang berisi dan sarat candaan, Yai Asnawi pun menyindir Habib Syekh untuk mampir lagi di Kudus dan bershalawat bersama.

Habib Syekh mengajak para hadirin untuk “qiyam” dan melantukan shalawat Nabi dari Kitab Simtud Duror. Setelah shalawat usai Gus Aapank dipersilakan untuk memandu peserta melantunkan shalawat Asnawiyyah dan Shalawat Qudsiyyah Satu Abad. Masih dalam keaddan berdiri, Habib Syekh mengajak hadirin menyanyikan Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” dan acarapun purna ditutup doa ikhtitam dari KH. Ahmad Asnawi.

Salah satu panitia kegiatan, M Zamroni mengatakan, kegiatan ini masih merupakan rangkaian dari peringatan satu abad Qudsiyyah dengan tema membumikan Gusjigang untuk kemandirian Bangsa. Pihaknya mengaku senang dengan antusiasme jamaah yang hadir pada pengajian dan selawat tersebut. “Ini merupakan hasil dari kerja sama dengan pihak-pihak terkait sehingga pengajian dan  selawat dalam rangka peringatan 1 abad Qudsiyyah di Jepara ini berjalan lancar,” ucapnya.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply