Jelajah Sekolah Menoro

SELAMA ini kota Kudus dikenal sebagai kota kretek dan kota santri. Sebutan kota kretek mengacu karena di tempat inilah lahir dan berkembang industri rokok kretek, rokok khas negeri ini. Dikenal sebagai kota santri karena masyarakatnya religius, berdiri banyak pondok pesantren dan madrasah sebagai institusi pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam.

Salah satu madrasah tua, pondasi pengkaderan keilmuan yang hingga ini tetap eksis adalah madrasah Qudsiyyah. Madrasah ini dikenal luas dengan sebutan Sekolah Menoro. Madrasah yang dimulai di emperen masjid Menara Kudus kini terus tumbuh dan telah berusia 100 tahun. Untuk menjelajah sejarah panjang berdirinya madrasah ini, buku berjudul KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah; Jejak Kiprah Santri Menara, ini sangat cocok menjadi referensi.

Dijelaskan, penggunaan nama madrasah di awal tahun 1900-an merupakan kisah yang tidak sederhana. Di tengah kebijakan pemerintah kolonial yang mengharuskan memakai nama school, penggunaan kata madrasah harus dilihat sebagai bentuk lain dari perjuangan masyarakat muslim merespon keberadaan penjajah dalam bidang pendidikan. Di saat beberapa institusi pendidikan madrasah membuat keputusan untuk bersikap moderat kepada pihak kolonial dengan melabeli kata school, maka Kiai Asnawi, sebagai pendiri Madrasah Qudsiyyah, tetap berteguh hati untuk tidak mengganti madrasah dengan memakai kata school. (hlm xvii)

Dengan panjang lebar, buku ini mengurai latar belakang kondisi Kudus pada saat awal abad ke-20. Masyarakat negeri ini sebenarnya sudah begitu tinggi gereget untuk belajar dan meningkatkan keilmuan. Terbukti banyak pemuda yang pergi belajar ke luar negeri. Begitu pula Kiai Asnawi menunaikan ibadah Haji ke Mekkah dibarengi dengan semangat belajar dan semangat mengajar di sana selama 22 tahun. Sekembalinya ke tanah air, kiai Asnawi disambut dengan kondisi ekonomi, sosial keagamaan yang penuh dengan dinamika. Dalam aspek keagamaan, muncul persaingan antara kubu yang hendak memurnikan ajaran Islam dengan kubu yang memadukan antara tradisi-tradisi Jawa bahkan Hindu dengan ajaran Islam. Dalam konteks ekonomi, terjadi persaingan dagang antara saudagar santri dengan orang-orang Cina yang akhirnya memicu berdirinya Sarekat Islam, sebuah organisasi Islam pertama yang berkembang di Kudus. Pada puncak perseteruan ekonomi ini, terjadi huru-hara besar anti Cina di Kudus pada Oktober 1918. Dalam catatan Castles, kiai Asnawi adalah salah satu tokoh yang terlibat dalam huru-hara tersebut.

Namun harus dicatat, untuk mengatasi dinamika yang terjadi di Kudus, kiai Asnawi tidak larut dalam suasana konfrontasi yang sedang berkecamuk di Kota Kudus. Strategi yang ditempuh adalah dengan menyiapkan sebuah pelembagaan keilmuan yang diawali dengan forum pembelajaran di Masjid Menara. Karena yang terpenting bagi kiai Asnawi justru tetap memikirkan bagaimana menyiapkan generasi terdidik di masa mendatang dalam balutan ahlussunnah wal jama’ah. Maka, tercatat sejak tahun 1917 kegiatan belajar mengajar telah dimulai walau belum ada nama maupun tempat yang pasti. Baru pada tahun 1919 M bertepatan dengan 1347 H, madrasah Qudsiyyah berdiri di samping Masjid Menara Kudus. (hlm 42-43)

Pendirian Madrasah Qudsiyyah tak bisa dilepaskan dari ketokohan KHR Asnawi. Melalui jejaring Haramain, kiai Asnawi terlibat dalam jaringan ulama Nusantara. Selama di Mekkah, beliau berguru kepada Ulama Jawa yang menetap di sana, diantaranya KH Sholeh Darat, KH Mahfudz Termas, Sayid Umar Satha. Tidak hanya itu, kiai Asnawi juga terhubung dengan HOS Cokroaminoto, tokoh kharismatik Sarekat Islam. Sehingga gelora kebangsaan anti penjajah, tentu tertanam untuk bergerak bersama membebaskan diri dari cengkeraman kolonial. Pemilihan lokasi dan nama madrasah merupakan hal yang menarik. Lokasi Menara dipilih sebagai gedung baru karena berada tepat di jantung peradaban Islam Kudus kuno dimana ajaran-ajaran Sunan Kudus secara kontinyu diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara pemilihan nama Qudsiyyah, dinisbatkan pada quds, atau Kudus. Sehingga secara arti bisa dimaknai madrasah Qudsiyyah adalah tempat orang-orang Kudus belajar mencari ilmu. Hal ini menjadi relevan mengingat sampai sejauh ini madrasah Qudsiyyah adalah pioner dalam Pendidikan Islam di Kudus. Di sisi lain, Qudsiyyah juga bisa dinisbatkan pada quds (suci), maka bisa diartikan Qudsiyyah sebagai tempat pembelajaran antara yang haq dan batil agar mampu menjadi pedoman berperilaku suci. (hlm 96-97)

Keberadaan madrasah yang terletak persis di dekat masjid Menara inilah yang kemudian masyarakat luas mengenal madrasah ini sebagai Sekolah Menoro. Karena, mulai dari gedung di sisi selatan masjid, berdampingan dengan tempat wudlu inilah, kelas-kelas madrasah Qudsiyyah bersumber. Kini, setelah 100 tahun berdiri, Madrasah Qudsiyyah telah mengembangkan tanah-tanah dan bangunan di kelurahan Kerjasan dan Damaran Kota Kudus. Bahkan, kini sekolah yang masih eksis dengan sekolah khusus laki-laki ini, telah merintis pendirian madrasah putri di desa Singocandi kecamatan Kota Kudus.

Selain membedah sisi historis madrasah, buku yang ditulis oleh tujuh orang yang sama-sama alumni Qudsiyyah ini, juga membedah kiprah madrasah dan kiprah alumni. Kiprah alumni selama ini bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme, saling mendukung satu dengan yang lain. Keberadaan Qudsiyyah dan perkembangannya selama ini mendapat suport yang positif dari alumni. Alumni yang tergabung dalam wadah IKAQ (Ikatan Alumni Qudsiyyah) juga telah berkembang begitu rupa. Organisasi ini berkembang di berbagai wilayah di tanah air, seperti di Jakarta dengan IKAQ Jabodetabek, di Semarang dengan nama Maqdis, di Yogyakarta dengan AlQY dan Demak dan Jepara yang menggunakan nama IKAQ Jepara dan IKAQ Demak.

Secara apik di akhir buku ini terdapat satu bab khusus yang mengurai tentang profil-profil alumni Qudsiyyah yang telah sukses di berbagai bidang. Baik itu di bidang pemerintahan, bidang hukum, bidang motivator dan pendidikan dan bidang-bidang lainnya. Buku ini cocok dibaca oleh masyarakat umum maupun kaum pendidik. Bagi kaum pendidik, bisa diambil hikmah metode dan cara yang digunakan untuk mengembangkan dunia pendidikan. Bagi masyarakat umum, buku ini cocok sebagai ibrah dan menggali bagaimana peran dan pengorbanan para tokoh terdahulu dalam mengembangkan Islam ala ahlussunnah wal jama’ah. Semangat itulah yang harus kita ambil pada diri kita sebagai generasi sekarang untuk melanjutkan dan mengembangkan apa yang telah dilakukan para tokoh terdahulu. (*)

Identitas Buku:
Judul : KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah; Jejak Kiprah Santri Menara
Penulis : H. M. Ihsan dkk.
Tebal : xxvii + 246 halaman
Penerbit : Pustaka Compass
Cetakan : Desember 2016
Peresensi : M. Kharis

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply