Haul Ke 59 KHR Asnawi Kudus

QUDSIYYAH, KUDUS – Rangkain kegiatan Haul ke 59 Pendiri Qudsiyyah dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, KHR Asnawi Kudus, berlangsung dengan beberapa acara. Oleh Santri madrasah Qudsiyyah, kegiatan ziarah di makam KHR Asnawi dilaksanakan pada Rabu dan Kamis 22-23 Maret 2017.

Dilanjutkan dengan kegiatan Tahlil Umum yang dilaksanakan pada Jumu’ah Pon, 24 Maret 2017 di komplek makam Menara Kudus. Tahlil umum ini terbuka untuk seluruh masyarakat dan dilaksanakan mulai pukul 15.30 WIB.
Puncaknya akan diadakan pengajian umum yang diselenggarakan oleh keluarga besar Pondok pesantren Raudlatut Tholibin, peninggalan KHR Asnawi , pada Jumu’ah malam Sabtu, bertepatan dengan tanggal 26 Jumadal Akhirah 1438 H/24 Maret 2017 TU di halaman pondok pesantren Raudlatut Tholibin Kerjasan Kota Kudus. Pengajian ini insyallah akan menghadirkan Habib Musthofa Alaydrus dari Tuban dan Kh Haris Shodaqah dari semarang.

KHR Asnawi merupakan seorang ulama kharismatik di Kudus. Ia merupakan salah satu penggerak dan pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Lahir di Damaran Kudus dari pasangan dari H. Abdullah dan Raden Sarninah pada tahun 1861, beliau menyendang nama kecil sebagai Ahmad Syamsyi.

Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pendidikan agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Semenjak usia 15 tahun, orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang dan juga mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung.

Pada tahun 1886, Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, kemudian berganti nama menjadi KHR. Asnawi dan mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun dan kemudian kembali ke tanah air untuk berdakwan dan berdomisili di Kudus.

Beliau meninggal dunia pada usia 98 tahun tepat seminggu setelah pelaksanaan Muktamar NU XII di Jakarta yang beliau ikuti. Beliau meninggal pada subuh hari Sabtu Kliwon, 25 Jumadal Akhirah 1378 H, bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M pada pukul 03.00 WIB dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).

Semasa hidupnya beliau banyak berkiprah untuk kemajuan Islam ahlussunnah wal jama’ah. Selain aktif di organisasi NU beliau juga mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada tahun 1919 dan mendirikan pondok pesantren Raudlatut Tholibin pada tahun 1927. Beliau juga memelopori berdirinya Darusan Pitulasan di Masjid Menara Kudus yang terus eksis hingga sekarang. (Kharis)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply