AMANAT DAN DALIL-DALIL SYAR’IYYAH (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI 22-5-2018)

QS. An-Nisa’ [4]: 57-59
بسم الله الرحمن الرحيم
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا (57) إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Artinya : (57) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman (58) Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (59) Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Ayat 57

Tafsiran Ayat

وقوله: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا} هذا إخبار عن مآل السعداء في جنات عدن، التي تجري فيها الأنهار في جميع فجاجها ومحالها وأرجائها حيث شاؤوا وأين أرادوا، وهم خالدون فيها أبدا، لا يحولون ولا يزولون ولا يبغون عنها حولا. وقوله: {لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ} أي: من الحيض والنفاس والأذى. والأخلاق الرذيلة، والصفات الناقصة، كما قال ابن عباس: مطهرة من الأقذار والأذى. وكذا قال عطاء، والحسن، والضحاك، والنخعي، وأبو صالح، وعطية، والسدي. وقال مجاهد: مطهرة من البول والحيض والنخام والبزاق والمني والولد. وقال قتادة : مطهرة من الأذى والمآثم ولا حيض ولا كلف. وقوله: {وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا} أي: ظلا عميقا كثيرا غزيرا طيبا أنيقا..

Allah berfirman (وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا) “Sedangkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya selama-lamanya” Ini adalah informasi tentang tempat kembalinya su’ada (orang-orang yang beruntung) di dalam surga ‘Adn , yang mengalir sungai-sungai di seluruh lembahnya, diseluruh tempatnya dan di seluruh penjuru dimanapun dan ke mana pun mereka kehendaki. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Setelah pembicaraan dalam segmen ini selesai menyebutkan keimanan dan tindakan menghalangi keimanan di kalangan keluarga Nabi Ibrahim, maka diakhirilah pembicaraan ini dengan kaidah umum mengenai pembalasan bagi orang-orang yang mendustakan dan bagi orang yang beriman. Di balik pemanangan yang menyedihkan dan memilukan, kita dapati “ orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh” berada di dalam taman-taman surge yang teduh yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Sungai-sungai tersebut untuk setiap orang bukan kelompok orang atau masyarakat yang mana didalamnya terdiri dari:
1) Sungai yang berisi air yang jernih (kinclong)
2) Sungai yang berisi air susu
3) Sungai yang berisi arak
4) Sungai yang berisi madu

Kita jumpai pula dalam pemanangan itu kemantapan, keabadian, ketenangan, dan ketentraman yang berisi kenikmatan, tidak pernah merasakan mulas, kepingin buang air kecil/besar, dan tidak merasakan sakit. Oleh karenanya di surga tidak ada WC atau rumah sakit (RS).

Firman Allah (لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ) “Di dalamnya mereka memiliki istri-istri yang suci” yaitu dari haid, nifas, kotoran, akhlak-akhlak tercela dan sifat-sifat hina, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Sedangkan Qatadah berkata: yaitu suci dari kotoran, dosa, haid, dan beban tanggung jawab (tidak beranak). Dan firmanNya (وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا) “Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. Yaitu naungan yang luas, lebat, rindang, indah dan bagus. Sehingga setiap orang tidak perlu repot memilih tempat yang teduh untuk mendapatkan kenyamanan seperti keadaan saat di dunia.

Ayat 58

Asbabun Nuzul

قال ابن جرير: حدثني القاسم حدثنا الحسين، عن حجاج، عن ابن جريج [قوله: { إِنّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا } ] قال: نزلت في عثمان بن طلحة قبض منه النبي صلى الله عليه وسلم مفتاح الكعبة، فدخل به البيت يوم الفتح، فخرج وهو يتلو هذه فدعا عثمان إليه، فدفع إليه المفتاح، قال: وقال عمر بن الخطاب لما خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من الكعبة، وهو يتلو هذه الآية: فداه أبي وأمي، ما سمعته يتلوها قبل ذلك..

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ustman bin Thalhah di saat Rasulullah mengambil kunci Ka’bah darinya, lalu beliau masuk ke dalam Baitullah pada Fathu Makkah. Di saat beliau keluar beliau mambaca ayat ini. Lalu Beliau memanggil Utsman dan menyerahkan kunci itu kambali.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa yang meminta kunci adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib namun ia meminta kunci kepada juru kunci Makkah (Ustman bin Thalhah bin Abdullah bin Abdul Uzza bin Ustman bin Abdud Daar bin Qushoi bin Kilab Al-Quraisy) dengan keras dan sedikit memaksa. Setelah itu Nabi Muhammad dating dan menegur Ali untuk mengembalikan dengan membacakan ayat ini seusai menggunakanya dengan nada yang lemah lembut. Dan berangkat dari kelembutan itu yang menjadikan sabab Ustman bin Thalhah masuk islam. Subhanallah…

Ayat ini turun baik berkenaan dengan peristiwa tersebut atau tidak, yang pasti hukumnya tetap berlaku umum dengan indikasi penggunaan bentuk plural atau jamak (yang memiliki makna lebih dari satu) pada lafadl الأمانات. Untuk itu Ibnu Abbas dan Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata:

هي للبر والفاجر، أي: هي أمر لكل أحد
“Hukumnya untuk orang yang baik dan yang zhalim, yaitu perintah untuk setiap orang (bukan golongan atau kelompok)”

Dalam ayat ini Allah mengabarkan, bahwa Dia memerintahkan untuk menunaikan amanat kepada ahlinya. Di dalam hadis al-Hasan dari Samurah bahwa Rasulullah bersabda:

أد الأمانة إلى من ائتمنك، ولا تخن من خانك

“Tunaikanlah amanah kepada yang memberikan amanah dan jangan khianati orang yang berkhianat kepadamu” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan)

Hal itu mencakup seluruh amanah yang wajib bagi manusia, berupa hak-hak Allah terhadap para hamban-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, kafarat, nadzar dan lain sebagainya, yang kesemuanya adalah amanah yang diberikan tanpa pengawasan hambaNya yang lain. Serta amanah yang berupa hak-hak adami (hamba dengan hamba yang lainnya) seperti titipan yang hal tersebut dilakukan tanpa pengawasan saksi. Itulah yang diperintahkan oleh Allah untuk ditunaikan. Barangsiapa yang tidak melakukanya di dunia ini, maka akan dimintai pertanggungjawabannya di hari Kiamat, sebagaimana yang terdapat di dalam hadis shahih bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

لتؤدن الحقوق إلى أهلها، حتى يقتص للشاة الجماء من القرناء
“Sungguh kamu akan tunaikan hak kepada ahlinya, hingga akan diqishah untuk (pembelasan)seekor kambing yang tidak bertanduk terhadap kambing yang bertanduk”

Diantara amanat-amanat ini –yang masuk ditengah-tengah amanat yang disebutkan di muka- adalah amanat dalam bermuamalah sesame manusia dan menunaikan amanat kepada mereka. Amanat dalam bermuamalah seperti amanat yang berupa titipan materi, amanat berupa kesetiaaan rakyat kepada pemimpin dan kesetiaan pemimpin kepada rakyat, amanat untuk memelihara anak-anak kecil, amanat menjaga kehormatan jamaah-harta benda dan wilayahnya serta semua kewajiban dan tugas dalam kedua lapangan kehidupan itu secara garis besar. Inilah amanat-amanat yang diperintahkan Allah untuk ditunaikan.

Tafsiran Ayat selanjutnya

وقوله: { وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ } أمر منه تعالى بالحكم بالعدل بين الناس؛ ولهذا قال محمد بن كعب وزيد بن أسلم وشهر بن حوشب: إنما نزلت في الأمراء، يعني الحكام بين الناس.

Firman Allah (وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ) “Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia, supaya kamu menetapkan dengan adil”adalah perintah dari-Nya untuk menetapkan hukum di antara manusia dengan adil. Untuk itu Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Syahr bin Hausyab berkata:

إنما نزلت في الأمراء، يعني الحكام بين الناس
“Sesungguhnya ayat ini diturunkan untuk para umara, yaitu pemutus hukum di antara manusia”

Keadilah merupakan hak setiap manusia hanya karena dia diindentifikasi sebagai manusia. Maka identitas sebagai manusia inilah yang menjadikanya berhak mendapat keadilan menurut manhaj rabbani. Identitas ini dikenakan untuk semua manusia, muknin ataupun kafir, teman ataupun lawan, orang berkulit putih atau berkulit hitam, orang Arab ataupun orang Ajam (non Arab) dan lain sebagainya.

وقوله: { إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ } أي: يأمركم به من أداء الأمانات، والحكم بالعدل بين الناس، وغير ذلك من أوامره وشرائعه الكاملة العظيمة الشاملة. وقوله: { إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا } أي: سميعا لأقوالكم، بصيرا بأفعالكم، كما قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو زُرْعَة، حدثنا يحيى بن عبد الله بن بكير، حدثني عبد الله بن لهيعة، عن يزيد بن أبي حبيب، عن أبي الخير، عن عقبة بن عامر قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يقرئ هذه الآية { سَمِيعًا بَصِيرًا } يقول: بكل شيء بصير

Firman Allah (إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ) “Sesungguhnya Allah member pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu” Artinya, Allah perintahkan kalian untuk menunaikan amanah, menetapkan hukum di antara manusia dengan adil dan hal lainya yang mencakup perintah-perintah dan syariat-syariat-Nya yang sempurna, agung dan lengkap. Kemudian firman-Nya (إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا) “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat”. Yaitu mendengar seluruh perkataan kalian dan melihat seluruh perbuatan kalian. Sebagaimana Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW membaca ayat ini (سَمِيعًا بَصِيرًا) “Maha mendengar lagi Maha melihat, beliau bersabda:

بكل شيء بصير
“Allah Maha melihat segala sesuatu”

Kita berhenti sebentar di sini untuk melihat ungkapan ini dari sudut metode penyampaianya. Susunan kalimat aslinya semestinya, “Innahuu ni’ma maa ya’izhukumullah bih (إنه نعم ما يعضكم الله به) , tetapi diubah menjadi kalimat tranformatif dengan mendahulukan lafadz Jalalah (Allah) dan dijadikanya sebagai “isim inna”, sedangkan perkataan “nikma maa / نعم ما” diidzghomkan menjadi “ni’imma / نعمّا” beserta semua mutaalliqat (pergantunganya) dalam posisi sebagai “khabar inna” sesudah membuang khabarnya. Hal ini untuk memberikan kesan betapa eratnya hubungan antara Allah dan pengajaran yang diberikan kepada mereka itu.

Sebenarnya itu bukanlah ‘izhah ‘pengajaran atau nasehat’, melainkan ‘perintah’. Hanya saja dalam kalimat ini diungkapkan dengan ‘izhah ‘pengajaran atau nasehat’, karena ‘izhah itu lebih berkesan dalam hati, lebih cepat masuk perasaan dan lebih dekat untuk menunaikanya, yang didorong oleh perasaan suka rela, keingginan dan rasa malu.

Kemudian pada ujung ayat diakhiri dengan kalimat yang menghubungkan perintah itu dengan Allah, menimbulkan rasa muraqabah, takut, dan berharap kepada-Nya.

“Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat”

Keserasian antara tugas-tugas yang diperintahkan yaitu menunaikan amanat-amanat dan memutuskan hukum dengan adil di antara manusia dengan Allah sebagai Zat Yang Maha Menderngan lagi Maha Melihat, memiliki relevansi yang jelas dan halus. Maka Allah senantiasa mendengar dan melihat masalah-masalah keadilah dan amanat. Keadilan itu juga memerlukan pendengaran dan penglihatan serta pengaturan yang baik. Juga memerlukan pemeliharaan semua hal yang melingkupi dan semua gejala, dan perlu memperhatikan dan memikirkan secara mendalam apa yang ada di balik fenomena-fenomena luar yang melingkupinya. Dan terakhir, perintah terhadap kedua hal ini bersumber dari Zat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat segala urusan

Ayat 59

Wa Ba’du, apakah gerangan yang menjadi ukuran amanat dan keadilan itu? Bagaimana kriterianya? Bagaimana gambaran, batasan dan pelaksanaanya dalam semua lapangan kehidupan dan semua aktifitas kehidupan?

Apakah akan kita serahkan madlul ‘materi / apa yang ditunjuki’ amanat dan keadilah dengan segala sarana pelaksanaan dan realisasinya kepada tradisi dan istilah masyarakat? Atau, kepada keputusan akal dan hawa nafsu mereka?

Sesungguhnya akal manusia memiliki pertimbangan dan penilaian karena ia adalah ia adalah salah satu alat untuk mengetahui dan alat petunjuk pada manusia. Hal ini adalah benar. Akan tetapi akal manusia adalah akal perseorangan dan masyarakat yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu, yang terpengaruh oleh berbagai macam pengaruh. Disana tidak ada yang disebut “akal manusia” secara muthlak, tetapi yang ada adalah akalku dan akalmu, pikiran si fulan dan si anu, atau pemikian sejumlah orang di suatu tempat dan pada suatu masa. Semua ini tidak lepas dari berbagai pengaruh yang bermacam-macam, yang menyebabkanya cenderung ke sini dan ke sana.

Oleh karena itu, harus ada timbangan yang mantap yang menjadi rujukan semua akal pikiran yang beraneka ragam. Sehingga, akal dan pikiran itu akan mengetahui sejauh mana kesalahan dan kebenaran-Nya dalam memutuskan hukum-hukum dan pola pikirnya, sejauh mana kebohongan dan kelebihanya, atau sejauh mana kekurangan dan keterbatasan hukum-hukum dan persepsinya. Penilaian akal manusia di sini juga sebagai alat bagi manusia untuk mengetahui bobot keputusannya dengan menggunakan timbangan yang mantap dan tidak akan pernah cenderung kepada keinginan hawa nafsu serta tidak akan terpengaruh oleh aneka macam pengaruh.

Tidak ada gunanya timbangan-timbangan yang dibuat oleh manusia. Karena dalam timbangan itu sendiri terdapat kerusakan yang akan marusak semua tata nilai, kalau manusia tidak mau kembali kepada timbangan yang mantap dan lurus itu.

Maka Allahlah yang membuat timbangan yang mantap dan lurus bagi manusia, amanat, keadilan, semua nilai, semua norma, semua hukum dan keputusan dalam semua lapangan kehidupan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Artinya : (59) Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Asbabun Nuzul

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (59) } قال البخاري: حدثنا صدقة بن الفضل، حدثنا حجاج بن محمد الأعور، عن ابن جريج، عن يعلى بن مسلم، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس: { أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ } قال: نزلت في عبد الله بن حذافة بن قيس بن عدي؛ إذ بعثه رسول النبي صلى الله عليه وسلم في سرية. وهكذا أخرجه بقية الجماعة إلا ابن ماجه من حديث حجاج بن محمد الأعور، به. وقال الترمذي: حديث حسن غريب، ولا نعرفه إلا من حديث ابن جريج . وقال الإمام أحمد بن حنبل: حدثنا أبو معاوية، حدثنا الأعمش، عن سعيد بن عبيدة، عن أبي عبد الرحمن السلمي، عن علي قال: بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم سرية، واستعمل عليهم رجلا من الأنصار، فلما خرجوا وَجَد عليهم في شيء. قال: فقال لهم: أليس قد أمركم رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تطيعوني؟ قالوا: بلى، قال: اجمعوا لي حطبا. ثم دعا بنار فأضرمها فيه، ثم قال: عزمت عليكم لتدخلنها. [قال: فهم القوم أن يدخلوها] قال: فقال لهم شاب منهم: إنما فررتم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من النار، فلا تعجلوا حتى تلقوا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإن أمركم أن تدخلوها فادخلوها. قال: فرجعوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه، فقال لهم: “لو دخلتموها ما خرجتم منها أبدا؛ إنما الطاعة في المعروف”. أخرجاه في الصحيحين من حديث الأعمش.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang firman-Nya, (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ) “Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu”. Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi, ketika diutus oleh Rasulullah di dalam satu pasukan khusus. Demikianlah yang dikeluarkan oleh seluruh jama’ah kecuali Ibnu Majah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali, ia berkata: “Rasulullah mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada mereka dalam suatu masalah, lalu ia berkata: “Bukanlah Rasulullah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?” Mereka menjawab: “Betul”. Dia berkata lagi: “Himpunlah untukku kayu bakar ileh kalian”, Kemudian ia meminta api, lalu membakarnya, dan ia berkata: ‘Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya’, maka seorang pemuda di antara mereka berkata: ‘sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah dari api ini’. Maka jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu dengan Rasulullah. Jika beliau perintah kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah. Lalu mereka kembali kepada Rasulullah dan mengabarkan tentang hal itu. Maka Rasulullah pun bersabda kepada mereka:

لو دخلتموها ما خرجتم منها أبدا؛ إنما الطاعة في المعروف
“Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf (Dikeluarkan dalam kitab Ash-Shahihain dari hadis al-A’masy)”

Dalam nash yang pendek ini, Allah SWT menjelaskan syarat iman dan batasan Islam. Dalam waktu yang sama dijelaskan pulalah kaidah nizam asasi (peraturan pokok) bagi kaum muslimin, kaida hukum dan sumber kekuasaan. Semuanya dimulai dan diakhiri dengan menerimanya dari Allah saja dan kembali kepada-Nya saja mengenai hal-hal yang tidak ada nashnya, seperti urusan-urusan parsial yang terjadi dalam kehidupan manusia sepanjang perjalanannya dan dalam generasi-generasi berbeda yang notabene berbeda-beda pula pemikiran dan pemahaman dalam menanggapinya. Untuk itu semua, diperlukan timbangan yang mantap, agar menjadi tempat kembalinya akal, pikiran dan pemahaman mereka.

Sesungguhnya kedaulatan hukum itu hanya milik Allah, bagi kehidupan manusia dalam urusan yang besar maupun yang kecil. Untuk semua itu, Allah telah membuat syariat yang dituangkan-Nya dalam Al-Qur’an dan diutus-Nya Rasul yang tidak pernah berbicata dengen memperturutkan hawa nafsunya untuk menjelaskan kepada manusia. Oleh karena itu, Syariat Rasulullah termasuk syariat Allah (Al-Hadis)

Allah wajib ditaati. Diantara hak preogatif uluhiyyah ialah membuat syariat. Maka syariat-Nya wajib dilaksanakan. Orang-orang yang beriman wajib taat kepada Allah dan wajib taan pula kepada Rasulullah karena mentaati Rasul berarti mentaati Allah yang telah mengutusnya untuk membawa syatiat dan menjelaskanya kepada manusia di dalam Sunnahnya.

Kemutlakan mentaati Allah dan Rasulnya ini terindikasi dengan gaya uslub yang menggunakan kata أطيعوا yang berarti “Taatilah” berbeda dengan teks selanjutnya yang menafikan term أطيعوا. Sehingga tidak dibaca أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأطيعوا أولى الأمر منكم ‘taatilah Allah, taatilah Rasulullah dan taatillah ulil amri’ akan tetapi sengaja dihilangkan oleh syari’ yakni Allah. Hal ini membuat isyarat bahwa kemutlakan mentaati hanya kepada Allah dan Rasulullah semata walaupun dalam hal yang kelihatanya jelek contoh Allah pernah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih putranya Ismail. Meskipun demikian Nabi Ibrahim wajib mentaatinya untuk melaksanakan perintahnya. Lain halnya ketaatan ulil amri yang tidak disertai kata أطيعوا , maka kewajiban melaksanakan ketaatan dalam batas-batas yang makruf dan sesuai dengan syariat Allah, dan dalam hal yang tidak terdapat nash yang mengharamkanya. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Al-A’masy, sabda Nabi SAW:

إنما الطاعة في المعروف
“Ketaaan itu hanya pada yang ma’ruf”

Diriwayatkan dalam Shahihain juga dari Yahya al-Qaththan, sabda Nabi SAW:

السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة
“Wajib atas orang muslim untuk mendengar dan taat terhadap apa yang ia sukai atau tidak sukai, asalkan tidak diperintah berbuat maksiat, apabila diperintah kepada maksiat, maka tidak boleh mendengar dan mentaatinya sama sekali”

Ini mengenai masalah yang terdapat nashnya yang sharih. Sedangkan mengenai masalah-masalah yang tidak terdapat nashnya dan persoalan-persoalan yang berkembang seiring dengan perkembangan waktu dan kebutuhan manusia serta perbedaan lingkungan yang dalam hal ini tidak terdapat nash qath’I yang mengaturnya, maka hal itu tidak dibiarkan terombang-ambing, tidak dibiarkan tanpa ada metode yang digunakan untuk memecahkan hukum dan pengembanganya. Nash yang pendek ini telah meletakkan manhaj ijtihad dalam menghadapi semua itu dengan ijma’ dan qiyas.

oleh:

Muhammad Bahauddin

Ngaji di Menara, 6 Ramadlan 1439 H

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply