KONTRADIKSI ORANG MUNAFIK; PENGAKUAN BERIMAN TAPI BERTAHKIM KEPADA THAGHUT (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI/23-5-2018) 

QS. An-Nisa’ [4]: 60-65
بسم الله الرحمن الرحيم
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63) وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (64) فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)

Artinya : (60) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya (61) Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu (62) Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna” (63) Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka (64) Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (65) Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Setelah selesai menetapkan kaidah kulliyah ‘kaidah umum’ tentang syaray uman dan batasan Islam, juga tentang peraturan pokok bagi umat Islam, serta mengenai manhaj penetapan hukum dan prinsip-prinsipnya, maka nash berikutnya menoleh kepada orang-orang yang menyimpang dari kaidah ini tetapi kemudian mengaku sebagai orang-orang mukmin. Padahal mereka merusak syaray iman dan batasan Islam karena mereka ingin bertahkim kepada selain syariat Allah.

Nash ini menoleh kepada mareka karena merasa heran dan menganggap mungkar sikap mereka itu, serta untuk mengingatkan mereka terhadap keinginan setan untuk menyesatkan mereka. Ayat ini juga menjelaskan keadaan dan sikap mereka ketika diajak mengikuti apa yang diturunkan Allah dan untuk mengikuti Rasul, tetapi kemudian mereka tidak mau bahkan menghalang-halangi orang lain untuk mengikutinya. Ayat ini menganggap sikap menghalang-halangi ini sebagai tanda kemunafikan sebagaimana ia menganggap bahwa keinginan untuk bertahkim kepada thaghut ini berarti sudah keluar dari iman. Selain itu ayat ini juga menjelaskan alasan-alasan mereka yang lemah dan dusta ketika mereka mengikuti jalan yang mungkar itu, pada waktu mereka ditimpa bahaya dan bencana. Disamping itu, ayat ini juga memberikan arahan kepada Rasulullah untuk berlaku tulus dan senantiasa menasihati mereka.

Kemudian segmen ini ditutup dengan menjelaskan apa yang dikehendaki Allah dalam mengutus para rasul itu yaitu untuk ditaati. Selanjutnya melalui nash yang jelas dan tegas, Dia menegaskan kembali syarat iman dan batasan Islam.

Ayat 60-63

Tafsiran Ayat
هذا إنكار من الله، عز وجل، على من يدعي الإيمان بما أنزل الله على رسوله وعلى الأنبياء الأقدمين، وهو مع ذلك يريد التحاكم في فصل الخصومات إلى غير كتاب الله وسنة رسوله، كما ذكر في سبب نزول هذه الآية: أنها في رجل من الأنصار ورجل من اليهود تخاصما، فجعل اليهودي يقول: بيني وبينك محمد. وذاك يقول: بيني وبينك كعب بن الأشرف. وقيل: في جماعة من المنافقين، ممن أظهروا الإسلام، أرادوا أن يتحاكموا إلى حكام الجاهلية. وقيل غير ذلك، والآية أعم من ذلك كله، فإنها ذامة لمن عدل عن الكتاب والسنة، وتحاكموا إلى ما سواهما من الباطل، وهو المراد بالطاغوت هاهنا؛ ولهذا قال: {يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ [وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا . وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنزلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا] وقوله: {يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا} أي: يعرضون عنك إعراضا كالمستكبرين عن ذلك، كما قال تعالى عن المشركين: { وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا } [لقمان:21]هؤلاء وهؤلاء بخلاف المؤمنين، الذين قال الله فيهم: { إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا [وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ]} [النور: 51] فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا . ثم قال تعالى في ذم المنافقين: { فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ } أي: فكيف بهم إذا ساقتهم المقادير إليك في مصائب تطرقهم بسبب ذنوبهم واحتاجوا إليك في ذلك،. { ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا } أي: يعتذرون إليك ويحلفون: ما أردنا بذهابنا إلى غيرك، وتحاكمنا إلى عداك إلا الإحسان والتوفيق، أي: المداراة والمصانعة، لا اعتقادا منا صحة تلك الحكومة، ثم قال تعالى: { أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ } [أي] هذا الضرب من الناس هم المنافقون، والله يعلم ما في قلوبهم وسيجزيهم على ذلك، فإنه لا تخفى عليه خافية، فاكتف به يا محمد فيهم، فإن الله عالم بظواهرهم وبواطنهم؛ ولهذا قال له: { فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ } أي: لا تعنفهم على ما في قلوبهم { وَعِظْهُمْ } أي: وانههم على ما في قلوبهم من النفاق وسرائر الشر { وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا } أي: وانصحهم فيما بينك وبينهم بكلام بليغ رادع لهم.

ِAyat ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang mengaku beriman dengan apa yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya, dan Nabi-nabinya yang terdahulu, tetapi bersamaan dengan itu, dalam memutuskan berbagai persengketaan, mereka berhukum bukan kepada Kitabullah dan Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam sebab turunya ayat ini, bahwa ada seorang laki-laki Anshar dan seorang laki-laki Yahudi sedang bersengketa, lalu orang Yahudi itu berkata : “Antara aku dan engkau ada Muhammad”. Sedangkan orang Anshar itu berkata: “Antara aku dan engkau ada Ka’ab bin Al-Asyraf”.

Sejumlah gambaran yang disebutkan dalam nash-nash ini member kesan bahwa semua itu terjadi pada masa-masa awal hijrah, masa ketika kaum munafik masih begitu gencar melakukan serangan, dan kaum Yahudi –yang bekerja sama dengan kaum munafik itu- masih kuat.

Mereka yang hendak berhakim kepada selain syariat Allah yakni kepada thaghut, itu mungkin golongan munafik sebagaimana secara eksplisit disebutkan dalam ayat kedua dari segmen ini. Mungkin juga mereka adalah golongan Yahudi yang diserukan untuk bertahkim kepada kitab Allah (Taurat) dan kepada hukum Rasulullah SAW dalam menyelesaikan kasus yang terjadi di antara mereka atau antara mereka dan penduduk Madinah, tetapi mereka menolak seruan itu dan bertahkim kepada tradisi jahiliyyah yang berlaku.

Kami menguatkan pendapat yang pertama, mengingat firman Allah mengenai mereka yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Sedangkan orang-orang Yahudi tidak pernah menyatakan masuk Islam atau mengaku telah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Rasulullah , hanya kaum munafiklah yang mengaku dirinya beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan kitab yang diturunkan sebelumnya.

Peristiwa ini tidak pernah terjadi melainkan pada tahun-tahun pertama hijrah, sebelum dicabutnya duri-duti Yahudi di kalangan Bani Quraidhah dan di Khaibar. Juga sebelum lumpuhnya kaum munafik dengan berakhirnya peran kaum Yahudi di Madinah.

Dan dikatakan, bahwa sebab turunya ayat ini bukan itu, akan tetapi ayat tersebut mencakup lebih umum dari hal itu semua. Karena ia mengandung celaan terhadap orang yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunah. Sedangkan berhukum kepada selain kedunaya merupakan kebathilan dan itulah yang dimaksud dengan thaghut dalam ayat ini. Untuk itu Allah berfirman (يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ) “Mereka hendak berhakim kepada thaghut” hingga akhir ayat.

Firman Allah (يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا) “Mereka menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu”, yaitu mereka berpaling darimu seperti orang-orang yang sombong hal itu. Kemudian Allah berfirman mencela orang-orang munafiq (فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ) “Maka bagaimanakah halnya apabila mereka ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri”. Artinya, bagaimana keadaan mereka jika takdir menggiring mereka kepadamu dan mereka pun butuh kepadamu di saat berbagai musibah dating silih berganti menerpa mereka disebabkan dosa-dosa mereka.

(ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا) “Kemudian mereka dating kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selaian penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Yaitu, mereka mohon maaf kepadamu dan bersumpah: “Kepergian kami kepada orang lain dan berhukumnya kami kepada musuh-musuhmu itu tidak lain kecuali kami menhendaki kebaikan dan perdamain, yaitu hanya berpura-pura bukan karena keyakinan kami tengang sahnya (benarnya) tahkim tersebut.

Kemudian Allah berfirman (أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ) “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka”. Manusia kelompok ini adalah kaum munafik. Dimana Allah Maha Mengetahui apa yang terdapat di dalam hati mereka dan mereka pun akan dibalas oleh Allah atas perbuatanya itu. Kerena tidak ada suatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Maka merasa cukuplah dengan-Nya tentang mereka, ya Muhammad! Karena Allah Maha mengetahui zhahir dan batin mereka. Untuk itu Allah berfirman kepada beliau (فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ) “Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka. Yaitu, jangan engkau bersikap kasar terhadap apa yang ada di dalam hati mereka (وَعِظْهُمْ) “dan berilah mereka pelajaran”, Yaitu laranglah mereka dari kemunafikan dan rahasis-rahasia jahat yang tertanam dalam hati mereka. (وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا) “Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang dapat membekas jiwa mereka” Yaitu, berilah nasehat kepada mereka dalam semua perkara yang terjadi antara engkau dan mereka, dengan kata-kata yang berbekas yang dapat mencegah mereka.

Sebuah ungkapa deskriptif. Seakan-akan perkataan itu memberikan bekas secara langsung pada jiwa, dan menetap secara langsung di dalam hati.

Itu adalah perkataan yang mempersuasi mereka untuk sadar kembali, bertobat, bersikap istiqomah dan merasa tenang dibawah lindungan Allah dan jaminan Rasulullah, setelah tampak jelas dari mereka kecenderungan untuk bertahkim kepada thagut dan tidak mau mengikuti Rasulullah ketika mereka diseur untuk bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ayat 64-65

يقول تعالى: { وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ } أي: فرضت طاعته على من أرسله إليهم وقوله: { بِإِذْنِ اللَّهِ } قال مجاهد: أي لا يطيع أحد إلا بإذني. يعني: لا يطيعهم إلا من وفقته لذلك، كقوله: { وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ } [آل عمران:52] أي: عن أمره وقدره ومشيئته، وتسليطه إياكم عليهم. وقوله: { وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا} يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى الله عليه وسلم فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك تاب الله عليهم ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: { لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيم}. وقوله: { فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ } يقسم تعالى بنفسه الكريمة المقدسة: أنه لا يؤمن أحد حتى يُحَكم الرسول صلى الله عليه وسلم في جميع الأمور، فما حكم به فهو الحق الذي يجب الانقياد له باطنا وظاهرا؛ ولهذا قال: { ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا } أي: إذا حكموك يطيعونك في بواطنهم فلا يجدون في أنفسهم حرجا مما حكمت به، وينقادون له في الظاهر والباطن فيسلمون لذلك تسليما كليا من غير ممانعة ولا مدافعة ولا منازعة، كما ورد في الحديث: “والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به”. وقال البخاري: حدثنا علي بن عبد الله حدثنا محمد بن جعفر، أخبرنا مَعْمَر، عن الزهري، عن عُرْوَة قال: خاصم الزبير رجلا في شُرَيج من الحَرَّة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “اسق يا زُبير ثم أرْسل الماء إلى جارك” فقال الأنصاري: يا رسول الله، أنْ كان ابن عمتك ؟ فَتَلَوَّن وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال: “اسق يا زبير، ثم احبس الماء حتى يرجع إلى الجدْر، ثم أرسل الماء إلى جارك” واستوعى النبي صلى الله عليه وسلم للزبير حَقّه في صريح الحكم، حين أحفظه الأنصاري، وكان أشار عليهما بأمر لهما فيه سعة. قال الزبير: فما أحسب هذه الآية إلا نزلت في ذلك: { فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ } الآية. وهكذا رواه البخاري هاهنا أعني في كتاب: “التفسير” من صحيحه من حديث معمر: وفي كتاب: “الشرب” من حديث ابن جُرَيْج ومعمر أيضا، وفي كتاب: “الصلح” من حديث شعيب بن أبي حمزة، ثلاثتهم عن الزهري عن عروة، فذكره وصورته صورة الإرسال، وهو متصل في المعنى.

Allah berfirman (وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ) “Dan tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati”.Artinya aku wajibkan utnuk mentaati orang yang diutus kepada mereka. Dan Firman-Nya (بِإِذْنِ اللَّهِ) “Dengan izizn Allah” Mujahid berkata: “Yaitu, tidak ada seseorang pun yang taat kecuali dengan izin-Ku; yakni, tidak ada seorang pun yang mentaatinya, kecuali orang yang Aku beri taufik, seperti firman-Nya (وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ) “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya (Q.S Ali Imran : 152) Yaitu dari perintah, qadar, kehendak, dan kekuasan-Nya dan penguasaan-Nya untuk kalian terhadap mereka.

Sedangkan firman-Nya (وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ) “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya” Allah mengarahkan para pelaku maksiat dan para pelaku dosa, jika terjatuh dalam kekeliruan dan kemaksiatan untuk dating kepada Rasulullah dalam rangka meminta ampun kepada Allah di sisinya serta meminta kepada beliau untuk memohonkan ampunan bagi mereka. Jika mereka melakukan demikian, niscaya Allah akan menerima taubat mereka, mengasihi dan mengampuni mereka. Untuk itu, Allah berfirman, (لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيم) “Tentulah mereka mendapati Allah Maha penerima taubat Maha Penyayang”.

Firman-Nya, (فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ) “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”. Allah bersumpah dengan diri-Nya yang Mahamulia, bahwa seseorang tidak beriman hingga ia berhukum kepada Rasulullah dalam seluruh perkara. Hukum apa saja yang diputuskannya, itulah yang wajib dipatuhi secara total, lahir dan batin. Untuk itu Allah berfirman (ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) “Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. Yaitu apabila mereka berhukum kepadamu, mereka mentaatimu dalam hati mereka dan tidak didapati dalam jiwa mereka rasa keberatan terhadap apa yang telah engkau putuskan, mereka pun mematuhinya secara dhahir dan bathin, serta menerimanya dengan penuh tanpa keengganan, penolakan dan pembangkangan. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadis:

والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
“Demi Rabb yang jiwaku ada dikekuasaan-Nya. Salah seorang kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa”

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Urwah ia berkata : “Az-Zubair bersengketa dengan seorang laki-laki tentang saluran air. Lalu Nabi bersabda: “Siramlah hai Zubair, lalu salurkanlah kepada tetanggamu” kemuadian orang Anshar itu berkata: “Ya Rasulallah, apakah karena ia anak pamanmu?” Maka wajah Nabi pun berubah, lalu bersabda: “Ya Zubair! Siramlah, kemudian tahanlah air hingga memenuhi parit. Kemudian, alirkanlah air itu ke tetanggamu”. Maka Nabi mengambilkan Zubair semua haknya dalam keputusan yang jelas, ketika orang Anshar membikin marah. Dan adalah Nabi memberikan jalan keluar kepada keduanya terhadap urusan kedunya yang mengandung keluasan”. Az-Zubair berkata: “Saya kira ayat ini tidak turun, kecuali berkenaan dengan masalah tersebut (فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ) “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”. Demikian yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab at-Tafsir, bentuknya adalah mursal dan secara makna adalah muttasil.

Umat Nabi Muhammad SAW memang beragam. Dikisahkan dari Abu Hurairah bahwa ada seorang sahabat menemui Rasulullah SAW:

فَقَالَ هَلَكْتُ فَقَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَاقَعْتُ امْرَأَتِي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ فَأَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ لَيْسَ عِنْدِي قَالَ فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا أَجِدُ قَالَ فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ تَصَدَّقْ بِهَذَا فَقَالَ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنْ أَهْلِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرَ مِنَّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْتُمْ إِذًا وَضَحِكَ

Kemudian ia berkata, “Aku telah celaka! “ Beliau bertanya: “Apa yang membuatmu celaka?” Ia menjawab, “Aku telah menggauli isteriku pada bulan Ramadan.” Beliau bersabda: “Bebaskanlah seorang budak.” Ia berkata, “Aku tidak memiliki budak.” Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Ia berkata, “Aku tidak mampu.” Beliau bersabda: “Berilah makan enam puluh orang miskin.” Ia berkata, “Aku tidak mendapatkan makanan.” Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi keranjang yang berisi kurma“, kemudian beliau berkata: “Dimanakah orang yang bertanya? Bersedekahlah dengan ini.” Orang itu lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus bersedekah kepada orang yang lebih fakir dari keluargaku? Demi Allah, tidak ada di antara dua daerah yang berbatu hitam (yaitu Madinah) yang lebih fakir daripada kami.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau begitu untuk kalian saja.” Beliau berikan kurma tersebut sambil tertawa hingga nampak gigi-gigi taringnya.”

Kafarat bagi orang batal puasa karena menggauli istri pada waktu berpuasa adalah tertib sesuai urutan berikut:
1. Memerdekakan budak, jika tidak mampu maka
2. Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa putus, jika tidak mampu maka
3. Memberi makan 60 orang miskin tiap satu orang 1 mud
Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat dermawan. Dalam Syarh Bukhari karya Abi Jamrah disebutkan dari Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا مَدِيْنَةُ السَّخَاءِ وَأَبُوْ بَكْرٍ بَابُهَا

Saya adalah kota kedermawanan dan Abu Bakar adalah pintunya.

Penyataan Rasulullah SAW adalah nyata, sehingga tidak ada yang bisa menandingi kedermawanan Abu Bakar setelah kedermawanan beliau. Dikisahkan bahwa ketika menghadapi perang Tabuk Rasulullah mengajak umat Islam untuk mengumpulkan amal untuk biaya perang. Umar bin Khathab berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku.” Rasulullah bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?‘ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini (separuh harta).’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?‘ Abu Bakar menjawab, ‘Saya telah menyisakan Allah dan Rasulullah bagi mereka.’ Umar berkata, “Demi Allah, saya tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.’

Oleh:

MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum
Ngaji Tafsir Al Qur’an di Masjid Menara pada  Rabu, 7 Ramadlan 1439

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply