SIFAT DENGKI ORANG-ORANG YAHUDI (NGAJI MBAH K.H SYA’RONI AHMADI 21 Mei 2018)

QS. An-Nisa’ [4]: 53-56
بسم الله الرحمن الرحيم
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52) أأَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا (53) أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (54) فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا (55) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا (56)

Artinya : (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya (53) Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia (54) ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar (55) Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya (56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

Ayat 52
Asbabun Nuzul

وقال الإمام أحمد: حدثنا محمد بن أبي عدي، عن داود، عن عكرمة، عن ابن عباس قال: لما قدم كعب بن الأشرف مكة قالت قريش: ألا ترى هذا الصنبور المنبتر من قومه؟ يزعم أنه خير منا، ونحن أهل الحجيج، وأهل السدانة، وأهل السقاية! قال: أنتم خير. قال فنزلت { إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ } [الكوثر:3] ونزل: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ } إلى { نَصِيرًا } .

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “Ketika Ka’ab bin Al-Asyraf mendatangi kota Makkah, maka orang-orang Quraisy berkata: “Cobalah engkau perhatikan, laki-laki hina yang terputus keturunanya (Nabi Muhammad) dari kaumnya ini, ia menyangka bahwa ia lebih baik dari kami. Padahal kami ini adalah pembesar haji dan pelayan Ka’bah, serta penyedia air minum”. Maka Ka’ab berkata: “ Kalian Lebih Baik”. Karena hal tersebut lalu Abu Sufyan mengutuk Ka’ab dan turunlah ayat:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا (51) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52)

Artinya: (51) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman (52) Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya

Berangkat dari sinilah, Allah mengutuk mereka (Orang Yahudi) dan menempatkannya di neraka level 3 yang diberi nama neraka Khutomah.

Tambahan: Macam-macam Neraka berdasarkan Levelnya:

1. Jahannam: adalah tingkat yang atas sekali, yaitu tempat mukminin-mukminat, muslimin-muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar.

2. Neraka Ladhoh: adalah tingkat kedua orang yang mendustakan agama dan Iblis Laknatullah dan orang majusi beserta orang-orang yang mengikuti Iblis dan Majusi.

3. Neraka Khutamah: adalah tingkat ketiga tempat bagi orang-orang yahudi dan para pengikutnya

4. Neraka Sair: adalah tingkat keempat tempat bagi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dan orang nasrani.

5. Neraka Saqar: adalah tingkat kelima untuk orang-orang yang menyembah berhala.

6. Neraka Jahim: adalah tingkat ke enam untuk orang yang menyekutukan Allah

7. Neraka Hawiyah: adalah tingkat ke tujuh yang terletak paling bawah (dasar) dan paling dahsyat siksaanya yakni untuk orang-orang munafiq, orang kafir, termasuk keluarga Fir’aun.

Ayat 53-55
Tafsiran Ayat

يقول تعالى: { أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ } ؟! وهذا استفهام إنكار، أي: ليس لهم نصيب من الملك ثم وصفهم بالبخل فقال: { فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا } أي: لأنهم لو كان لهم نصيب في الملك والتصرف لما أعطوا أحدا من الناس -ولا سيما محمدا صلى الله عليه وسلم-شيئًا، ولا ما يملأ “النقير”، وهو النقطة التي في النواة، في قول ابن عباس والأكثرين. وهذه الآية كقوله تعالى { قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ } [الإسراء:100]أي: خوف أن يذهب ما بأيديكم، مع أنه لا يتصور نفاده، وإنما هو من بخلكم وشحكم؛ ولهذا قال: { وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا } [الإسراء:100]أي: بخيلا. ثم قال: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ } يعني بذلك: حسدهم النبي صلى الله عليه وسلم على ما رزقه الله من النبوة العظيمة، ومنعهم من تصديقهم إياه حسدهم له؛ لكونه من العرب وليس من بني إسرائيل. قال الطبراني: حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي، حدثنا يحيى الحماني، حدثنا قيس بن الربيع، عن السدي، عن عطاء، عن ابن عباس قوله: { أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ [عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِه] } الآية، قال ابن عباس: نحن الناس دون الناس، قال الله تعالى: { فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا } أي: فقد جعلنا في أسباط بني إسرائيل -الذين هم من ذرية إبراهيم-النبوة، وأنزلنا عليهم الكتب، وحكموا فيهم بالسنن -وهي الحكمة-وجعلنا فيهم الملوك، ومع هذا { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بهذا الإيتاء وهذا الإنعام { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } أي: كفر به وأعرض عنه، وسعى في صد الناس عنه، وهو منهم ومن جنسهم، أي من بني إسرائيل، فقد اختلفوا عليهم، فكيف بك يا محمد ولست من بني إسرائيل؟. وقال مجاهد: { فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ } أي: بمحمد صلى الله عليه وسلم { وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ } فالكفرة منهم أشد تكذيبا لك، وأبعد عما جئتهم به من الهدى، والحق المبين. ولهذا قال متوعدا لهم: {وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا} أي: وكفى بالنار عقوبة لهم على كفرهم وعنادهم ومخالفتهم كتب الله ورسله..

Allah berfirman (أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ) “Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?” Kalimat ini adalah istifham inkari (sebuah pertanyaan yang menunjukkan penyangkalan), artinya mereka tidak memiliki bagian kekuasaan. Kemudian Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dalam firman-Nya ( فَإِذًا لا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا) “Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia”. Karena, seadainya mereke memiliki bagian kekuasaan atau kerajaan pun, niscaya mereka tidak akan memberikan apapun kepada manusia, apalagi kepada Muhammad. Dan mereka tidak akan member sesuatu seberat naqir pun, yaitu satu titik pada biji, menurut pendapat Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama, disebabkan kebakhilan dan kekikiran mereka

Setelah memeparkan keheranan terhadap urusan, sikap dan perkataan kaum Yahudi, serta mengumumkaan kutukan dan kehinaan atas mereka, maka ayat berikutnya menyatakan keingkaran terhadap sikap mereka kepada Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Juga terdapat kebencian mereka karena Allah memberi karunia kepada Rasulullah dan kaum muslimin, yaitu karunia berupa agama Islam, kemenangan dan kekuasaan.Ayat selanjutnya mengingkari sikap mereka (kaum Yahudi) yang iri hati dan dengki terhadap karunia Allah yang diberikanNYa kepada kaum muslimin, padahal mereka tidak dapat memberi karunia sedikit pun. Pada waktu yang sama diungkapkanlah tabiat mereka yang keras dan kering, dan menganggap banyak setiap pemberian yang diperoleh orang lain. Padahal, Allah sudah melimpahkan karunia atas mereka dan nenek moyang mereka. Akan tetapi limpahan karunia ini tidak juga menjadikan mereka berlapang dada dan tidak mencegah dari dengki dan iri hati.

Sungguh mengherankan! Mereka sama sekali tidak dapat memberikan nikmat sedikitpun kepada seseorang sebagaimana yang dilakukan Allah. Apakah memang mereka itu sekutu-sekutu bagi Allah? Mahasuci Allah! Apakah mereka memiliki andil di dalam kekuasaan-Nya, untuk memberi dan melimpahkan karunia? Kalau mereka punya andil, niscaya mereka -sesuai dengan sifat yang keras kepala dan kikir- tidak akan memberikan sedikitpun kebajikan kepada manusia. Kaum Yahudi yang amat kikir dan pendendam itu –seandainya mereka memiliki andil dalam kekuasaan- tidak akan memberikan kebajikan dan kenikmatan kepada orang lain, walaupun hanya setebal kulit luar biji tumbuhan. Alhamdulillah, kaum Yahudi tidak mempunyai andil dalam kekuasaan. Sebab, seandainya mereke memiliki andil dalam kekuasaan ini, niscaya akan binasa seluruh manusia. Karena, mereka tidak akan mau memberi, walau hanya setebal kulit ari.

Allah berfirman (أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ) “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” Yaitu kedengkian mereka kepada Nabi atas rizqi kenabian yang Agung, yang diberikan Allah kepadanya dan keengganan mereka membenarkan nubuwwah. Kedengkian mereke itu dikarenakan Beliau dari keturunan Arab dan bukan dari keturunan Bani Israil.

Kedengkian orang Yahudi kepada Nabi atas rizqi kenabian ini berupa khususiyyat beristri berjumlah 12 istri:

1. Khadijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah s.a.w. di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun ( Janda 2 kali ). Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah s.a.w memiliki 2 anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki- laki beliau ( Qasim & Abdullah ) meninggal saat berumur 2 tahun. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Khodijah meninggal usia 65 tahun (saat itu usia Nabi 50 Tahun). Rasulullah s.a.w. tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Hikmah Nabi menikahi Siti Khadijah karena dia adalah wanita pertama yang AKAN memeluk Islam dan mendukung dakwah Nabi.

2. Saudah binti Zam’ah RA (70 tahun ), wanita kulit hitam dari Sudan dinikahi oleh Rasulullah pada saat beliau berumur 52 tahun pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khadijah. Ia adalah seorang janda (2 kali) yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amral yang menjadi perisai Nabi di medan perang. Memiliki 12 anak dari pernikahan dengan suami pertama. Hikmah Nabi menikahinya adalah menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin

3. Aisyah binti Abu Bakar RA, seorang gadis yang cantik dan cerdas, dinikahi oleh Rasulullah bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah dan Rasulullah mengajarkan tentang kewanitaan agar disampaikan kepada umatnya kelak.

4. Hafsah binti Umar bin Al-Khattab RA (35 tahun), janda yang ditinggal mati oleh suaminya dalam perang Uhud, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah pada tahun ketiga Hijriyah ketika beliau berumur 55 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah untuk menjaga keotentikan Al Qur’an karena Hafsah akan menjadi wanita pertama yang HAFAL 30 Juz Al Qur’an.

5. Zainab binti Khuzaimah RA (50 tahun), dari Bani Hilal dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi fakir miskin. Sebelumnya ia bersuamikan Abdullah bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah pada saat beliau berumur 56 tahun. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW.. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah, untuk menjadi teladan bersama-sama Rasulullah dalam menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

6. Ummu Salamah binti Abu Umayyah RA (62 tahun), Wanita yang pandai berbicara, berpidato dan mengajar ini sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya meninggal di bulan Jumadil Tsani tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki- laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah pada bulan Syawwal di tahun yang sama pada saat beliau berumur 56 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk membantu Rasulullah dalam berdakwah dan mengajar kaum wanita.

7. Zainab binti Jahsyi RA (45 tahun), dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah . Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah di bulan Dzulqo’dah tahun kelima Hijriyah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghapus kebiasaan jahiliyah perihal nasab anak angkat yg harus mengikuti ayah aslinya (tidak mengikuti nasab ayah angkat) sekaligus menegaskan tuntunan syariat perihal konsekuensi pengangkatan anak.

8. Juwairiyah binti Al-Harits RA (65 tahun), putri pemimpin kabilah Bani Mustholiq dari Khuza’ah yang mempunyai 17 anak dari pernikahan pertamanya. Ia merupakan tawanan perang yang dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah pada saat beliau berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk syariat memerdekakan budak dan pembebasan tawanan perang dan meraih simpati dari kabilahnya untuk memasuki ajaran Islam.

9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA (47 tahun), sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nasrani dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharram tahun 7 Hijriyaah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah ketika Nabi berumur 57 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menghibur dan menjaga keimanan Habibah agar tidak ikut murtad dengan mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik.

10. Shafiyyah binti Huyay RA (53 tahun), wanita dari bani israil yang menjadi muslimah janda 2 kali dari Salam bin Misykam dan Kinanah bin Abil Huqoiq, memiliki 10 anak dari perkawinan sebelumnya, ia merupakan tawan perang Khaibar lalu Rasulullah memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khaibar tahun 7 Hijriyah ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT, untuk menjaga keimanan Shafiyyah dari boikot orang yahudi dan menjaga kedudukannya sebagai putri dari pemuka kabilah.

11. Maimunah binti Al-Harits RA (63 tahun), wanita dari suku yahudi bani kinanah janda Abu Ruham bin Abdul Uzza dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijriyah pada saat melaksanakan Umrah Qadha’ ketika Nabi berumur 58 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk menjaga dan mengembangkan dakwah di kalangan Bani Nadhir.

12. Mariyah Qibtiyyah RA (25 tahun) , seorang gadis budak yang dihadiahkan oleh raja Muqauqis dari Iskandaria Mesir kepada Rasulullah kemudian dinikahinya pada tahun 8 hijriyah ketika Nabi berumur 59 tahun. Hikmah Nabi menikahinya adalah petunjuk Allah SWT untuk membebaskan perbudakan dan menjaga keimanan Mariyah Qibtiyyah.

Beliau Nabi Muhammad meninggal dunia meninggalkan 9 istrinya selain khadijah (karena sudah meninggal sebelum Nabi Muhammad), Hafsah (wanita yang dicerai Rasulullah karena sifat cemburunnya yang menguasai dirinya lupa daratan) dan wanita yang diceraikan Rasulullah lantaran punya penyakit baros.

Allah berfirman, (فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا) “Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepadanya keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar”. Yaitu sesungguhnya Kami telah menjadikan kenabian pada keturunan Bani Israil yang merupakan anak cucu Nabi Ibrahim, kami turunkan kitab-kitab kepada mereka dan mereka (para Nabi) menghukumi Bani Israil dengan sunah-sunah yaitu berupa hikmah serta kami jadikan diantara mereka (Bani Israil) raja-raja

Maksud ayat ini adalah bantahan atas apa yang dihasuti oleh orang-orang yahudi? Jikalau yang dihasud atau iri dari Nabi Muhammad adalah jumlah istri, maka nabi-nabi mereka dari kalangan bani israil malah melebihi jumlah istri Rasulullah, contoh:
· Nabi Daud istrinya 99 dan tambah 1 (istrinya Jendral Area)
· Nabi Ismail istrinya 1000 bahkan memiliki kerajaan yang meliputi seluruh dunia dari kalangan manusia, jin dan syaitan
· Dan Nabi-nabi lainya dari bani israil

Di antara dengki yang lebih tercela ialah dengkinya orang-orang yang telah diberi nikmat seperti itu. Kalau orang yang tidak mendapatkan nikmat yang seperti itu bersikap dengki, itu pun sudah tercela. Apalagi kalau yang dengki itu justru mereka yang sudah mendapatkan nikmat yang banyak, maka kedengkian semacam ini amat buruk, mendasar dan mendalam, seperti kedengkian orang Yahudi yang memang aneh dan unik.

Tetapi dalam waktu yang sama, diantara mereka ada yang beriman dengan pemberian dan kenikmatan itu dan ada pula yang mengingkarinya, yaitu mengkufurinya, berpaling dari petunjuknya dan berupaya menghalangi manusia darinya. Padahal dia (Nabi lain) itu adalah bagian dari mereka dan merupakan jenis (golongan) mereka, yaitu Bani Israil, itu pun membuat mereka berselisisih. Maka bagaimana pula denganmu ya Muhammad sedang engkau bukan dari Bani Israil?

Nabi Muhammad adalah keturunan kaum ummi (keturunan Nabi Ismail) bukan merupakan ahlul kitab (bani Israil / bani ishaq). Jadi sebenarnya dari Nabi Ibrahim lahirlah dua kelompok: kelompok bani israil dan kelompok bani ismail. Sejarah kenabian yang berasal dari keturunan bani israil cukup jelas sementara kenabian yang berasal dari dari bani ismail tidak banyak disebut dalam sejarah. Kenabian dari kalangan bani israil jelas dengan silih bergantinya kelahiran (para) nabi sedangkan kenabian dari keturunan bani ismail hanya dapat disaksikan dalam praktek ibadah dan adat istiadat yang berkembang dalam masyarakat. Adapun kiblat kelompok bani israil adalah baitul maqdis sedangkan kiblat kelompok bani ismail adalah baitullah yang terletak di kota makkah. Yang menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Syariat kelompok pertama adalah hukum-hukum dan syariat kelompok kedua hanya memelihara tradisi menjaga kesucian Masjidil Haram. Musuh kelompok pertama adalah orang-orang kafir seperti Firaun dan Hamman, dan musuh kelompok kedua adalah orang-orang musyrik seperti penyembah berhala.

Mujahid berkata: “Di antara mereka ada yang beriman kepadanya yaitu kepada Nabi Muhammad dan ada pula yang berpaling darinya” untuk itu, Allah mengancam mereka, (وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا) “Cukuplah Jahannam sebagai tempat kembali mereka”. Artinya cukup api Neraka sebagai hukuman atas kekufuran, pembangkangan dan penentangan mereka terhadap kitab-kitab dan Rasul-rasul Nya.

Ayat 56

Setelah pembicaraan dalam segmen ini selesai menyebutkan keimanan dan tindakan menghalangi keimanan di kalangan keluarha Nabi Ibrahim, maka diakhirilah pembicaraan ini dengan kaidah umum mengenai pembalasan bagi orang-orang yang mendustakan dan bagi orang yang beriman. Ditampilkan balasan ini dalam pemandangan hari sebagai berikut:

(56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S An-Nisa’: 56)

“Setiap kali mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab”. Sungguh ini merupakan pemandangan yang hamper tidak berujung dan tak berkesudahan. Pemandangan yang tampak berulang-ulang. Tampak wujudnya dalam khayalan dan tak dapat dipalingkan. Ia sangat menakutkan dan mengerikan. Kengerianya memiliki daya tarik yang menekan. Kalimat ini menggambarkan pemandangan itu secara berulang-ulang dengan menggunakan kata “kullama / كلما” yang artinya ‘setiap kali’. Di samping itu, juga dilukiskan dengan sangat mengerikan dan menakutkan.

Itulah balasan kekefiran, padahal sebab-sebab untuk beriman sudah disediakan. Balasan inilah yang dimaksudkan, dan ia merupakan balasan yang sangat tepat.

Oleh:

MOHAMMAD BAHAUDDIN, M.Hum

 

NGAJI TAFSIR MBAH K.H SYA’RONI AHMADI (Jumu’ah Fajar di Masjid Menara Kudus/5 Ramadlan 1439 H-21 Mei 2018)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply