Di Hari Pendidikan Nasional, Sesepuh Qudsiyyah Wasiatkan untuk Terus Belajar

QUDSIYYAH, KUDUS – Tepat di hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, sesepuh Qudsiyyah, KH. M. Sya’roni Ahmadi, berpesan agar terus ngaji dan belajar. Ngaji dan meneruskan pendidikan adalah salah hal pokok untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas keislaman santri.

Demikian salah satu petuah dari kyai sepuh Kudus dalam acara Muwadda’ah dan pelepasan Santri Madrasah Qudsiyyah, di aula kediaman KH. M. Sya’roni Ahmadi, Pagongan, Kota Kudus pada Kamis (2/5/2019) pagi.

Di hadapan dua ratus santri dan wali santri kelas XII MA Qudsiyyah, Mustasyar PBNU ini menerangkan pentingnya ngaji dan terus menerus belajar. Kyai yang dikenal sebagai Ahli Tafsir Kudus ini menyatakan, bahwa belajar dan ngaji tidak terhenti saat lulus sekolah. Ngaji serta belajar harus dilakukan terus menerus dan tidak terbatas dengan sekolah. Beliau berpesan, mumpung masih muda, silahkan melanjutkan mondok di pesantren dan melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. “Ojo kesusu nikah disek (jangan terburu-buru menikah-Red),” pesan beliau.

Selain itu, kyai sepuh yang kini berusia 87 juga mengingatkan para santri akan perjuangan dan dakwah Walisongo yang penuh kesantunan.  Dakwah para wali bisa menjadi teladan sekaligus menjadi sumber strategi dalam menyiaarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kyai sepuh yang telah memiliki 30 cucu dan 11 canggah ini mengingatkan jasa Walisongo dan ajaran para wali yang masih relevan dengan era sekarang. Sunan Kudus mewariskan petuah Gusjigang bagi masyarakat Kudus. “Para santri harus ingat Gusjigang yang bersumber dari Sunan Kudus. Artinya, para santri harus bagus akhlaknya, sregep ngaji, dan pinter berdagang,” ujar kyai sepuh yang menjadi Nadhir Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Kudus ini.

Santri Kudus, kata beliau, harus meneladani ajaran dan pesan dari Sunan Kudus tersebut. Artinya, santri Kudus harus terus berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas akhlak dan perilaku sehari-hari.  Ngaji dan belajar setiap saat untuk meningkatkan kualitas keilmuan santri, serta terakhir pandai dalam berdagang ataupun bekerja dalam memenuhi kebutuhan di dunia serta dalam rangka mendukung dalam kegiatan berdakwah dan mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lebih jauh, kyai sepuh yang kini berusia 87 tahun ini mengingatkan untuk meneladani para wali dalam berdakwah. Walisongo dikenal berdakwah dengan kesantunan dan kedamaian serta membaur di dalam masyarakat. “Sunan Kalijaga Demak menciptakan lagu lir-ilir dalam berdakwah. Sampai kini, syair ini begitu dikenal luas masyarakat,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, melalui lagu, seni, dan budaya, Sunan Kalijaga dari Demak, mengajarkan Islam di tengah-tengah masyarakat. Hasilnya, masyarakat berduyun-duyun memeluk Agama Islam.

Oleh karena itu, sesepuh Kudus ini kembali mengingatkan kepada para santri, akan peran penting  dan strategi dakwah yang dulu dilakukan para wali dalam menyebarkan ajaran Islam. (Muhammad Kharis)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply