Keluarga Qudsiyyah Sambangi Pekalongan

QUDSIYYAH, PEKALONGAN – Dalam rangka , IKAQ wilayah Pekalongan mengundang keluarga besar Madrasah Qudsiyyah untuk maulid nabi di Kanzus Sholawat Pekalongan. Pengajian tersebut diadakan pada Rabu malam (20/7) dan dihadiri juga oleh para santri Maulana Habib Luthfi. Acara tersebut digagas oleh IKAQ wilayah Pekalongan dan Alumni Santri Kudus Pekalongan.

Meskipun habib Luthfi tidak dapat hadir karena menemani istri yang dirawat di Jakarta, namun kekhidmahan acara yang dipimpin oleh Habib Abidin teta[ berjalan khusyuk. Bersama para habaib dari Pekalongan, pembacaan simthud duror oleh para vokalis masyhur seperti Ust Fathur, Ust Apang, dan Ust Ilham. Kehadiran Grup rebana dari Pekalongan dan Jam’iyyah Al-Mubarok  memeriahkan pula acara yang maulid yang selesai pada pukul 23.00 WIB

Seusai maulid, perwakilan Qudsiyyah diminta untuk memberikan sambutan. KH Nadjib Hassan menceritakan perjuangan KHR. Dakwah yang memprakarsai komite Hijaz hingga akhirnya menjadi Nahdlatul Ulama. Habib Abidin pun memberikan sambutan balik dan berterimakasih atas kedatangan keluarga Qudsiyyah ke Pekalongan dan ikut membawa semangat KHR. Asnawi dalam berdakwah secara ikhlas dan tegas.

Selamat Tahun Baru Hijriyyah

selamat tahun baru 1436 H

PERBEDAAN KRITERIA MEMBUAT AWAL BULAN BERBEDA

QUDSIYYAH, KUDUS – Salah satu hal yang mengemuka dalam Workshop Pengembangan Ilmu Falak bertema “Implementasi Teori dan Praktik Ilmu Falak dalam Pembelajaran; Upaya Penguatan Model dan Keunggulan Madrasah”  pada Sabtu pagi (26/4/2014) di Aula MA Qudsiyyah Kudus adalah seringnya perbedaan dalam penetapan awal puasa maupun IdulFitri.

Narasumber utama, H. Muhyiddin Khazin, dari UIN Yogyakarta mengungkapkan, perbedaan tersebut salah satu faktor utamanya terkait  persoalan kriteria dan landasan yang berbeda.

Dijelaskan, pendapat-pendapat yang berbeda salah satunya adalah kemungkinan bisa terlihatnya hilal (imkanurrukyah).  “Ada yang menggunakan kriteria tinggi duaderajat, ada yang kriteria 6,4 derajat baru bisa terlihat, bahkan ada yang berpendapat yang penting wujud hilal,” terang anggota Lajnah Falakiyah PBNU ini.

Perbedaan pandangan inilah yang membuat para ormas suli tuntuk disatukan ketika menentukan awal bulan puasa maupun hari raya Idul Fitri. “Tetapi kita tidak boleh menyerah, kita terus berusaha untuk sering melakukan diskusi dengan para ahli falak di masing-masing ormas untuk melakukan kesefahaman dan meminimalisir perbedaan,” kata dia.

Kendati demikian, Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bersyukur di era sekarang, walaupun sering berbeda tetapi tetap menghormati satu sama lain. “Sekarang ini tidak seperti dahulu, yang begitu memperuncing perbedaan dalam penetapan awal puasa ataupun Idul Fitri. Kebersamaan harus tetap diutamakan untuk persatuan dan kesatuan umat muslim di negeri ini,” pungkasnya.

Hal lain dalam memotivasi para guru dan siswa dalam acara tersebut adalah karena ilmu falak merupakan salah satu ilmu bantu dalam ibadah. Dari lima rukun Islam, empat diantaranya bersinggungan langsung dan menggunakan ilmu falak.

“Sholat, zakat, puasa, dan haji adalah rukun Islam yang berkaitan dengan ilmu falak,” terangnya.

Ibadah sholat haruslah diketahui waktu menjalankannya. “Kita sholat dhuhur jam berapa, sholat Isya’ jam berapa, itu dengan metode ilmu falak. Begitu juga menghadap kiblat, itu menggunakan hitungan falak,” terangnya. Begitu pula dengan zakat fitrah, puasa dan ibadah haji penentuannya juga dengan menggunakan ilmu falak. (*)

Buku Tamu

Silahkan tinggalkan pesan dan komentar anda di sini.

Terima Kasih