SANTRI MI QUDSIYYAH GELAR UPACARA DAN NOBAR “SANG KYAI”

QUDSIYYAH, KUDUS – Pada hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2017, ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menggelar upacara Hari Kesaktian pancasila, di lapangan MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Ratusan santri berseragam batik “kangkung”, seragam khas Qudsiyyah, berjajar rapi dalam barisan.

Dalam amanat upacara, kepala MI, M. Afthoni, menyerukan kepada seluruh santri untuk tidak melupakan sejarah. Sejarah perjanalan panjang kemerdekaan bangsa ini seyogyanya dijadikan acuan bagi generasi muda sekarang untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat kesatuan dan persatuan serta kedamaian negeri ini.

Lebih lanjut, kepala MI yang bertempat tinggal di Karangampel Kaliwungu Kudus ini berharap para santri dapat meneladani keberanian serta perjuangan para pahlawan bangsa. “Di hari kesaktian Pancasila ini, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengamalkan isi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, bersamaan dengan momentum Asyuro di bulan Muharram, juga dilaksanakan santunan Yatim bagi santri Qudsiyyah yang Yatim. Selain upacara dan santunan yatim, kegiatan yang dilaksankan tepat sesuai Tes Mid semester ini adalah berbagai macam kegiatan hiburan, seperti lomba anak-anak, seperti lomba mewarnai, lomba gelang sarung dan lomba pindah botol.

Juga, tak ketinggalan, acara juga dimeriahkan dengan nonton bareng film perjuangan. Film yang dipilih adalah film “Sang Kiai” yang mengangkat profil dan perjuangan ulama terkemuka KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Film yang diproduksi tahun 2013 ini dipilih karena sebentar lagi juga berbarengan dengan momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober, dimana film tersebut menceritakan tentang resolusi jihad, yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, terjadi tepat pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya. Resolusi ini dikeluarkan untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris yang tewas saat itu.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.

Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjaah dari bumi Indonesia. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. (Kharis)

Pemprioritasan Pendidikan Antikorupsi

Pendeklarasian pemuda antikorupsi oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) se-Solo Raya (SM, 29/10/14) setidaknya dapat kita maknai dua hal. Pertama; deklarasi itu sejatinya sebagai peringatan terhadap dunia pendidikan yang saat ini seolah-olah telah melupakan pentingnya pendidikan antikorupsi di sekolah. Gaung dan semangat menanamkan jiwa antikorupsi pada generasi muda di sekolah kian hari justru semakin redup.

Bahkan diskusi-diskusi perihal pendidikan antikorupsi pun sekarang nyaris tak lagi terdengar. Padahal mengimplentasikan pendidikan antikorupsi di sekolah menjadi keniscayaan yang tak bisa ditawar.
Tentu dengan satu tujuan utama untuk menyelamatkan generasi muda bangsa dari praktik ataupun budaya korupsi. Kedua; deklarasi itu dapat menjadi pesan terhadap penentu kebijakan pendidikan. Yakni, pesan betapa penting dan mendesaknya untuk benar-benar merealisasikan pendidikan antikorupsi secara sungguh-sungguh dalam pemerintahan sekarang.

Apabila dalam lima tahun pemerintah mampu melaksanakan, hasilnya dapat kita nikmati bersama. Tidak sedikit generasi muda bangsa yang sekarang memegang jabatan strategis baik itu di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, ’’mahir’’ berkorupsi.

Apabila keadaan ini berjalan terus tanpa ada upaya mencegah dan menanggulangi, sampai kapan pun budaya korupsi tak akan musnah. Pemangku kepentingan pendidikan harus bertindak cepat menyelamatkan generasi muda dari praktik korupsi. Sebagai langkah praksisnya upaya menanamkan dan membangun spirit antikorupsi siswa, hendaknya menjadi tanggung jawab semua guru mata pelajaran.

Dalam konteks ini, seluruh guru mempunyai tanggung jawab menanamkan jiwa antikorupsi pada siswa. Meminjam istilah Azyumardi Azra, penanaman jiwa antikorupsi menggunakan pendekatan integratif. Pada tataran aplikasi bisa terintegrasi ke dalam sejumlah mata pelajaran.

Namun pada tataran formal, lebih baik dan lebih efektif bila penanaman jiwa antikorupsi pada siswa itu menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran PKn dan Pendidikan Agama. Walaupun semua guru memiliki tanggung jawab sama, leading sector- nya guru dua mapel itu, Materi tentang kantiorupsi harus dimasukkan dan dibahas tuntas lewat dua mata pelajaran tersebut.

Contoh konkretnya, materi Pendidikan Agama secara khusus ada yang membahas hukum korupsi secara lengkap. Semisal, bahasan dalam pandangan haram karena termasuk kategori mencuri, dalam hal ini uang negara yang notabene uang rakyat.

Memberi Contoh
Supaya proses penanaman jiwa antikorupsi pada siswa tersebut berjalan baik dan efektif maka seluruh lingkungan pendidikan hendaknya terlebih dahulu terbebas dari praktik korupsi. Korupsi sekecil apa pun jangan sampai terjadi di lingkungan pendidikan.

Dalam hal ini, kepala sekolah dan jajarannya wajib bersih dari korupsi. Keterbebasan dari korupsi juga harus melingkupi elemen yang terkait semisal komite sekolah, yayasan, dewan pendidikan, penilik sekolah, dan jajaran pada Kemdikbud. Kemenyeluruhan itu menjadi sebuah keniscayaan bila benar-benar ingin memerangi korupsi melalui jalur pendidikan. Dunia pendidikan harus bisa memberikan contoh nyata.

Sebagai wahana latihan bagi siswa maka menjadi keharusan bagi tiap sekolah untuk mendukung keberadaan kantin antikorupsi. Formatnya adalah kantin kejujuran, dalam arti tidak ada orang yang perlu menghitung pembayaran. Guru atau siswa yang membeli makanan/ minuman di kantn, melayani pembayarannya sendiri.

Andai perlu uang kembalian, guru atau siswa bisa menghitung dan mengambil sendiri dari kotak kasir. Hidup matinya kantin kejujuran yang berspirit antikorupsi bergantung pada kejujuran pembeli, terutama siswa. Bila bisa berjalan dengan baik, itu bisa menjadi indikator bahwa siswa benar-benar telah memahami jiwa antikorupsi. (*)

M Saifuddin Alia, mantan pemred Majalah Edukasi UIN Walisongo Semarang dan Majalah El Qudsy Qudsiyyah Menara Kudus, tinggal di Putatsari Grobogan

Tulisan ini terbit pada Jumu’ah 14 November 2014 di Harian Suara Merdeka

PENDIDIKAN BERORIENTASI KESANTUNAN

Pendidikan di Indonesia selalu mengalami inovasi yang tidak pernah berhenti. Akhir-akhir ini pemerintah sedang menggalakkan konversi kurikulum 2013. Sekolah sedang sibuk menjalankan proses penyesuaian kurikulum baru itu—yang diyakini mampu membuat pendidikan semakin berkualitas dan berdaya saing. Siswa dari sekolah dasar hingga atas sudah ditanamkan untuk kritis dan berpartisipasi dalam setiap pembelajaran.
Peran guru di kelas diharapkan menjadi pendidik, fasilitator, motivator dan inovator untuk siswanya. Kelas yang semula “mati” harus dihidupkan dengan ragam materi dan model pembelajaran yang menyenangkan. Dengan model demikian diharapkan lahir generasi bangsa yang cerdas dan mampu menangkap peluang di era global.
Walau demikian, impian mulia itu jangan sampai melupakan karakter bangsa Indonesia, yakni kesantunan. Pendidikan dengan model partisipatif secara prinsip sangat ideal untuk menggugah jiwa kritis-konstruktif. Jangan sampai “ruang kelas yang mulia” berubah menjadi bebas dan tidak terkendali, karena siswa semakin bebas dan tidak lagi menghormati gurunya. Kalau demikian yang terjadi, berarti budaya santun sudah mulai luntur.
Untuk mewujudkan pendidikan berorientasi kesantunan ini dibutuhkan empat hal prinsip dalam menjaga suasana kelas tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Pertama, kewibawaan guru. Kedua, menjaga psikologi siswa. Ketiga, membentuk lingkungan sekolah sebagai lingkungan keluarga—bukan sekedar lingkungan pendidikan yang membatasi status antara guru dan murid. Dan keempat, peran serta orang tua.
Menjaga wibawa guru di kelas sangatlah penting. Sebab guru merupakan suri tauladan yang sangat dinantikan ilmu-ilmu dan inovasinya di kelas. Bagi anak yang cerdas dan berjiwa kritis pasti selalu menunjukkan ketidakpuasan di kelas. Rasa ingin tahunya yang begitu besar akan memunculkan permasalah atau pertanyaan di dalam diskusi. Jika guru tidak siap dengan jawaban yang memuaskan, siswa ini akan selalu menggalinya hingga tuntas.
Untuk menjaga kewibawaan guru ini dibutuhkan tiga langkah praktis: penguasaan materi, persiapan bahan ajar dan penyediaan metode belajar yang tepat guna. Dengan tiga pola yang dipersiapkan ini, guru akan hadir dengan penuh kepercayaan diri dan mampu menjelaskan materi dengan sistematis. Termasuk siswa juga akan menikmati proses pembelajaran.
Setiap materi yang disajikan, jika guru melalukan persiapan dalam mengajar, maka siswa akan melihat bahwa gurunya benar-benar menguasai materi. Siswa juga akan cepat menyerap materi pelajaran jika gurunya memanfaatkan media dengan ICT dan model pembelajaran yang tidak monoton. Kelas dibuat senyaman mungkin dengan mendudukkan siswa benar-benar terlibat aktif dalam pembelajaran.
Setelah itu semua dengan matang dijalankan, maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan psikologi siswa. Secara mendasar, bahwa psikologi siswa di usia anak-anak dan remaja sangat membutuhkan perhatian di kelas. Ketika guru mengajar dengan tanpa komunikasi, maka anak cenderung berontak dan menganggap kelas itu hampa dengan kasih sayang. Itulah yang harus dibuang jauh-jauh. Bahwa kelas merupakan media komunikasi paling efektif dalam menata psikologi siswa.
Peran guru dalam hal ini adalah memberikan penjelasan bagi siswa untuk menempatkan dirinya sebagai siswa yang sedang mencari ilmu. Seorang pencari ilmu butuh kejiwaan sebagai orang yang membutuhkan. Sehingga dibutuhkan jiwa yang sehat, pikiran yang sehat dan sikap serius (sregep) dalam mencari ilmu.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dua hal: pertama, membendung jiwa malas yang sering diderita siswa. Dan kedua, menghadirkan guru di hati siswa dengan penuh kasih sayang. Lahirnya kasih sayang inilah yang akan melahirkan siswa yang santun dan menghormati gurunya. Siswa juga akan mencintai ilmu dengan penuh harapan agar kelak menjadi anak yang cerdas dan sukses. Dalam bahasa agama, pencari ilmu itu disebutkan sedang mencari berkah dari para gurunya.

Membentuk Lingkungan
Selain kesempatan melahirkan kesantunan siswa lewat kelas, adapula cara lain yang perlu diterapkan adalah dengan membentuk “lingkungan keluarga” di sekolah. Sekolah harus dijadikan tempat berlindung, bernaung dan bercerita untuk mencari solusi masa depan siswa. Suasana kekeluargaan ini dimulai dari tidak adanya dikotomi ekonomi, anak miskin dipisahkan dengan anak kaya, anak pejabat dibedakan dengan anak rakyat dan lain sebagainya.
Semua siswa adalah anggota keluarga bagi guru dan pegawai di sekolah. Prinsip pelayanan prima juga harus diterapkan di sekolah sejak siswa hadir hingga pulang ke rumah masing-masing. Pembiasaan kesalihan dalam beragama juga patut ditanamkan sejak dini, mulai dari shalat berjama’ah, rajin beribadah, rajin shadaqah dan melatih bertoleransi sejak dini. Pola ini akan menjadikan siswa kelak akan terbiasa dengan karakter tersebut yang pada ujungnya akan menjadikan anak santun dalam bersikap.
Ini akan menjadi beda jika lingkungan sekolah dibuat seperti lembaga formal dengan model birokrasi yang feodal. Siswa hanya menjadi “robot” yang selalu dijejali dengan aneka ragam ilmu dengan target nilai kuantitatif. Termasuk anak juga menjadi bagian dari eksploitasi ekonomis untuk menopang biaya operasional pendidikan yang sangat mahal. Hal ini jangan sampai terjadi, karena akan menjadikan anak “berontak” dan cenderung tidak memiliki akhlaq mulia.
Satu hal yang teramat penting untuk membentuk anak berkepribadian santun adalah oleh orang tua masing-masing. Peran orang tua menjadi kunci pencetak generasi santun—selain di sekolah, rumah dan keluarga juga sangat berperan besar. Untuk itu, rumah perlu menjadi tempat belajar pertama sebelum sekolah. Orang tua diharapkan selalu mendidik anaknya dengan kesantuan, baik dalam bertutur, berpikir, bersikap dan bergaul dengan masyarakat.
Lingkungan keluarga yang dipenuhi dengan masalah akan berdampak pada pembentukan jiwa anak menjadi broken home. Sebisa mungkin anak dijauhkan dari pertengkaran orang tua, sehingga yang dilihat oleh anak hanyalah keharmonisan ayah dan ibunya. Keluarga yang harmonis ini akan menjadikan anak terinspirasi oleh ayah dan ibunya.
Sejak di rumah, anak sangat butuh perhatian orang tuanya sebagai pendamping belajar untuk meraih cita-citanya. Jika orang tua terlalu sibuk bekerja, maka tugas pendampingan dapat didelegasikan kepada tentor les privat atau lembaga bimbingan belajar. Namun demikian, kasih sayang dan perhatian orang tua pada anak dalam hal pendidikan tetap diutamakan untuk menjadikan anak tumbuh belajar dengan baik. Ini salah satu modal utama agar anak menghormati orang tua karena dirinya merasa dihormati ayah-ibunya.
Pendidikan demikian inilah yang sangat dinantikan oleh bangsa Indonesia ini. Dimana anak didik yang terpelajar mampu mempunyai sikap sopan santun di masa depannya. Bangsa ini sudah capek sekali dijajah oleh koloni. Jika pola pendidikan yang dilakukan kepada anak-anak kita seperti era kolonial, maka anak kita akan terlahir dengan jiwa penjajah dan tidak punya sopan santun. Hilangnya sopan santun pada anak, akan menjadikan hilangnya budaya timur.
Jika budaya timur hilang, maka generasi mendatang tidak akan lagi mampu menghormati leluhur dan pendiri bangsa ini. Alhasil, liberalisme dan kapitalisme yang akan menjadi raja di Indonesia—yang mengedepankan sikap kritis, destruktif, penuh perhitungan dan tidak memiliki sopan santun.
Bangsa Indonesia akan menjadi terhormat di mata dunia jika warga Indonesia mempunyai lima dasar kehidupan: ilmu pengetahuan luas, jaringan internasional yang bagus, moralitas tinggi, toleransi dan berdaya saing. Itu semua akan didapatkan jika bangsa kita dididik dengan pembelajaran yang berbasis kesopanan.
Dengan pribadi yang sopan, maka ilmu pengetahuan akan hadir dengan penuh kemuliaan—bukan ilmu pengetahuan hasil keangkuhan. Pendidikan kesantunan ini juga akan mendorong tumbuh suburnya nasionalisme dan demokrasi di Indonesia.*)

Tulisan ini dimuat di Koran Joglosemar, Selasa 14 Oktober 2014

M. Rikza Chamami, MSI
Alumni Qudsiyyah, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo Semarang
Email: rikzakudus@gmail.com

PROFESIONALISME GURU AGAMA

MELIHAT jumlah guru agama Islam di Jateng yang ’’baru’’ 81.123 orang, tergolong relatif sedikit mengingat di provinsi ini ada 31.328.341 penduduk beragama Islam dari total populasi 32.643.612 jiwa. Ketidakberimbangan itu lebih kentara bila melihat usia produktif penduduk usia sekolah sebanyak 9.616.732 orang.

Dari jumlah yang relatif sedikit itu, banyak guru madrasah belum bersertifikat, termasuk 74.280 guru di bawah Ke­men­dikbud. ’Mereka termasuk kategori “guru yang tidak profesional”, dan harus segera diselesaikan. Program sertifikasi guru hingga 2015 merupakan salah satu upaya mencetak guru profesional.

Selain sekolah, masih ada lembaga pendidikan agama, seperti pondok pesantren, seminari, pasraman, pesantian, pabbajja, dan syuyuan untuk memper­kuat enam macam pendidikan keagamaan di Indonesia. Hal itu sesuai dengan PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pen­didikan Agama dan Keagamaan.

Khusus agama Islam, ponpes dan madrasah diniyah mempunyai peran strategis dalam membantu pemberdayaan agama. Di Jateng ada 4.473 ponpes dengan 35.769 kiai dan 451.501 santri. Adapun MI, MTs, dan MA berjumlah 124.193 dengan 987.704 murid dan 81.123 guru.

Banyak hal yang perlu dikritisi dari guru agama. Saat ini guru agama di sekolah (umum) selalu diidentikkan sebagai ustadz yang hanya bisa berceramah dan menasihati siswa. Materi yang diajarkan juga susah dipahami karena menggunakan Bahasa Arab dengan model pembelajaran monoton.

Akibatnya, peserta didik kurang atau tidak tertarik mengikuti pelajaran agama. Perlu membangun komunikasi untuk menghidupkan suasana kelas agar siswa lebih tertarik mengikuti pelajaran itu. Permasalahan lain adalah belum semua materi disampaikan secara interaktif. Pola pembelajaran masih didominasi ceramah.

Yang juga jadi persoalan adalah kualitas guru agama madrasah yang belum me­rata. Banyak guru be­lum bergelar S-1. Butuh akselerasi dan pola peningkatan kualifikasi mereka supaya bergelas sarjana yang benar-benar menguasai 4 kompetensi guru: sosial, kepribadian, pedagogik, dan profesional.

Guru madrasah juga harus mempunyai jejaring kemasyarakatan yang baik dan luas mengingat agama bukan hanya teori. Agama butuh penerapan di tengah masyarakat dan itulah pentingnya kompetensi sosial bagi guru madrasah. Jika guru agama tidak aktif terjun di masyarakat, dipastikan cara bersosialisasinya pun tidak baik, dan menjadikan pandangan agamanya doktriner.

Penunjang Praktik

Untuk itulah dibutuhkan guru agama Islam yang benar-benar profesional. Guru harus paham dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik sesuai UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bentuk profesionalitas guru agama Islam dapat diterapkan melalui lima hal dasar.

Pertama; penguasaan ilmu. Guru agama butuh keluasan bahan referensi sehingga tidak akan mengedepankan paham literal dan radikal. Termasuk menjawab kebutuhan siswa terkait penjelasan agama yang bersifat kekiniaan. Pembe­lajaran agama yang teoritis perlu diimbangi dengan penunjang praktik.

Kedua; mampu mengenalkan agama dengan baik dan menyenangkan. Inilah yang dinantikan oleh siswa, bahwa materi agama perlu diajarkan secara menyenangkan di kelas. Pemberian materi dapat ditunjang dengan bahan ajar VCD interaktif, wisata religius hingga diskusi kontemporer.

Ketiga; kesesuaian ucapan dan perilaku. Guru agama harus mampu menjadi orang saleh yang ramah bertutur dan cerdas bersikap. Keempat; menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat. Guru agama selalu menjadi tum­puan dan harapan mulia bagi siswa, maka teladan darinya betul-betul dinantikan.

Kelima; sukses menerapkan jiwa toleransi beragama. Hal ini menjadi sangat penting, sebab enam agama di Indonesia harus dikenalkan dengan baik.

Satu umat agama dengan umat lainnya dituntut hidup rukun. Jika guru agama tidak mempunyai sikap profesional, sangat dikha­watirkan agama dijadikan alat untuk memecah-belah bangsa ini.(*)

(Sumber: Suara Merdeka, 3 Juni 2013)

Tentang penulis:
M Rikza Chamami, Alumni Qudsiyyah dan  dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo Semarang

 

Guru dan Budaya Menulis Siswa

Masyarakat patut bersyukur atas peningkatan perkembangan budaya menulis pada kalangan pelajar, bahkan dari tingkat SLTP, di Jawa Tengah. Bukti tumbuh kembang  budaya menulis itu, setidak-tidaknya bisa kita lihat dalam tiga hal. Pertama; makin banyak sekolah atau madrasah di provinsi ini yang memiliki majalah, buletin, atau majalah dinding (mading).Kedua; makin banyak sekolah atau madrasah mengadakan pelatihan jurnalistik, khususnya pada musim liburan panjang sekolah dan bulan Ramadan. Ketiga; makin banyak siswa sekolah dan madrasah bersilaturahmi ke kantor redaksi surat kabar, untuk melihat lebih dekat proses peliputan, editing, dan cetak.Itulah bukti nyata keberkembangan budaya menulis pada kalangan pelajar di Jateng. Mengingat peningkatan perkembangan budaya menulis itu memiliki manfaat sangat besar bagi siswa, mau tidak mau seluruh civitas sekolah ataupun madrasah, khususnya kepala sekolah dan guru harus terus mendorong budaya menulis itu.

Dalam konteks ini, kepala sekolah dan guru hendaknya tidak henti-hentinya memotivasi siswa untuk terus menulis, topik apa saja. Terlebih, dengan dukungan teknologi informatika, siswa bisa menggali banyak data. Semisal belum bisa menulis tuntas pun, artikel setengah atau tiga per empat jadi itu pun dapat disimpan dulu di hard disk, untuk nantinya dilanjutkan bila ada mood atau tidak lagi ujian/ ulangan.

Kepala sekolah dan guru di Jateng hendaknya mampu memberi gambaran segamblang-gamblangnya perihal prospek dan manfaat menulis kepada siswa. Bahwa sesungguhnya menulis itu secara cepat dapat menambah ilmu, memperluas pengetahuan, sekaligus mengasah kekritisan.  Sejatinya, menulis itu merupakan kegiatan mental atau kegiatan berpikir tingkat tinggi. Saat seseorang menulis, tanpa disadari di dalam diriya terjadi proses reaksi diri atas informasi-informasi yang terkait, lalu dari informasi-informasi itu diolah menjadi informasi baru. Proses ini mampu mengasah kemampuan intelektual (Mulyoto SPd; 2006).

Selain itu, menulis mempunyai dua prospek yang begitu menjanjikan. Pertama; prospek dalam hal finansial. Dengan menulis maka siswa bisa mendapat uang dari honor tulisan. Jangan tanya berapa nilainya karena berapa pun nominalnya pasti dapat membantu orang tua. Minimal bisa untuk beli buku atau  pulsa internet atau ponsel. Dalam hal ini ada banyak bukti bahwa seseorang dari golongan ekonomi lemah berhasil menyelesaikan sekolah dan kuliah berkat ketrampilan menulis di media massa.

Contoh Nyata

Kedua; prospek popularitas. Dengan menulis maka siswa memperoleh popularitas dengan mudah. Bayangkan, sekali tulisannya muncul di media massa, entah itu dalam bentuk puisi, cerpen, artikel, opini, atau karikatur dan sebagainya, pada hari itu juga nama diri dan nama sekolahnya ikut terpopulerkan.

Namun, lebih penting dari itu semua adalah ada  uswah hasanah ataupun contoh nyata dari kepala sekolah dan guru. Dalam konteks ini, kepala sekolah dan guru hendaknya bisa menunjukkan dan memberi contoh budaya menulis kepada siswa. Jangan sampai guru hanya memerintah siswa menulis, tetapi ia tidak pernah menulis.

Karena itu, bila kita menginginkan siswa memiliki budaya menulis yang baik dan kuat, mau tidak mau ke depan tiap kepala sekolah dan guru sanggup dan mampu memberi teladan dalam menulis. Alangkah bangganya siswa-siswi kita, bila hari ini tulisan kepala sekolah dan guru muncul di media A, esoknya tulisan guru yang berbeda terbit di media B, dan hari selanjutnya tulisan guru yang lain terbit di media C, begitu seterusnya.

Penulis sangat yakin bila kepala sekolah dan guru mampu memotivasi siswa untuk terus menulis dan sekaligus mampu memberi teladan dalam menulis maka budaya menulis di kalangan siswa-siswi di Jateng tumbuh makin subur. (*)

Oleh: M Saifuddin Alia

mantan pemred Majalah El-Qudsy MA Qudsiyyah Menara Kudus, dan Majalah Edukasi IAIN Walisongo Semarang, fasilitator pelatihan jurnalistik siswa
** Tulisan ini dimuat pada Harian Suara Merdeka pada 10 Desember 2012

KURIKULUM DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwasanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melakukan perubahan kurikulum untuk tahun ajaran 2013-2014. Perubahan tersebut (menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) sudah seharusnya diaplikasikan guna memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia yang selalu mengalami kemerosotan dan keterpurukan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan perubahan kurikulum pendidikan perlu dilakukan karena tuntutan zaman yang terus berkembang agar peserta didik mampu bersaing di masa depan.

Memang masih terjadi banyak perdebatan tentang layak tidaknya perubahan kurikulum dalam pendidikan di Indonesia. Alasan yang jelas dan tepat belum mampu dipaparkan sehingga polemik tersebut masih menjadi isu yang sedang aktual.

Semakin maraknya tawuran antar pelajar, pergaulan bebas dan dekadensi moral pelajar di Indonesia disinyalir menjadi penyebab perlunya pembenahan dalam sistem pendidikan terutama kurikulum yang harus diterapkan di masing-masing sekolah di seluruh Indonesia. Penambahan mata pelajaran yang menekankan nilai-nilai akhlak dan pendidikan karakter agaknya perlu diimplementasikan. Sehingga dengan lebih banyaknya mata pelajaran yang bermuatan agamis diharapkan mampu mengatasi kasus dan problematika pelajar dewasa ini.

Masih menurut kemendikbud, perubahan karakter harus dimulai dari TK hingga SMA, sedangkan perguruan tinggi bersifat otonom. Intinya, perubahan kurikulum pendidikan itu akan menyederhanakan sejumlah mata pelajaran. Penyederhanaan itu diperuntukkan bagi mata pelajaran yang bersifat umum ke dalam Ilmu Pengetahuan Umum, sedangkan ilmu sains (MIPA) dan ilmu sosial yang merupakan “basic” ilmu pengetahuan akan tetap ada. Jadi, kurikulum pendidikan yang baru nanti akan mengubah mindset pendidikan yang bersifat akademik menjadi dua paradigma yakni akademik dan karakter, bahkan pendidikan karakter akan lebih banyak di tingkat pendidikan dasar atau TK dan SD, karena karakter itu merupakan pondasi pendidikan.

Pendidikan karakter itu juga tidak harus berupa mata pelajaran tersendiri.Mata pelajaran Biologi yang memberikan penugasan observasi/penelitian secara berkelompok itu akan mengajarkan cara kerja sama, leadership, komunikasi melalui presentasi hasil penelitian, kompetisi melalui persaingan antarkelompok, dan seterusnya. Semua itu termasuk pendidikan karakter. Perubahan kurikulum dimaksudkan untuk mencetak sumberdaya manusia yang profesional secara akademik dan tangguh atau kreatif secara karakter.Yang jelas, perubahan kurikulum itu memang akan membuat mata pelajaran lebih sedikit dari sebelumnya. Mata pelajaran yang bersifat hafalan juga berkurang, karena banyak praktik lapangan dan studi kasus, sehingga teknik pembelajaran akan mengarahkan siswa menjadi inovatif, kreatif, dan kompetitif.

Terlepas dari deal tidaknya perubahan kurikulum dalam tahun ajaran 2013-2014, maka sudah selayaknya kita mempersiapkan diri guna mengatasi permasalahan pelajar yang semakin kompleks. Oleh karena itu setiap satuan pendidikan harus mampu mengkover dan mengarahkan pelajarnya masing-masing guna menatap masa depan yang progresif.

 

Definisi kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani Kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang.[1] Banyak orang tua bahkan juga guru-guru, kalau ditanya tentang kurikulum akan memberikan jawaban sekitar bidang studi atau mata-mata pelajaran. Lebih khusus mungkin kurikulum hanya sebagai isi pelajaran.

        Pendapat-pendapat yang muncul selanjutnya telah beralih dari menekankan pada isi menjadi lebih memberikan tekanan pada pengalaman belajar. Diantara penganut pendapat ini adalah Caswel dan Campbell dalam buku mereka yang terkenal Curriculum Development (1935) dan Ronald C. Doll (1974). Definisi Doll tidak hanya menunjukkan adanya perubahan penekanan dari isi kepada proses, tetapi juga menunjukkan adanya perubahan lingkup, dari konsep yang sangat sempit kepada yang lebih luas. Apa yang dimaksud dengan pengalaman siswa yang diarahkan atau menjadi tanggung jawab sekolah mengandung makna yang cukup luas. Pengalaman tersebut dapat berlangsung di sekolah, di rumah ataupun di masyarakat, bersama guru atau tanpa guru, berkenaan langsung dengan pelajaran ataupun tidak. Definisi tersebut juga mencakup berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya pengalaman tersebut serta berbagai fasilitas yang mendukungnya.[2]

Perubahan Kurikulum di Indonesia

1. Segi Politik

Diakui ataupun tidak, dunia politik di Indonesia semakin menunjukkan titik nadir yang mengarah pada keterpurukan bangsa Indonesia. Pengadaan proyek-proyek sering disalahgunakan demi meraih keuntungan dan kepentingan satu golongan. Fenomena ini juga telah merambah di dunia pendidikan dalam hal ini adalah kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Adanya perubahan kebijakan dan sistem pendidikan sering kali dijadikan kedok untuk mendapatkan proyek dengan anggaran dana yang super besar. Pengungkapan kasus korupsi di berbagai instansi pemerintahan menunjukkan betapa buruk dan bobroknya para pemimpin Indonesia. Memang sangat disayangkan jika dana pendidikan yang begitu besarnya tidak dapat disalurkan kepada masyarakat khususnya pelajar di seluruh Indonesia.

Banyak kalangan yang menanyakan substansi dari perubahan kurikulum dari waktu ke waktu. Ada anggapan bahwa setiap ada pergantian kabinet pasti ada pergantian kebijakan tak terkecuali dunia pendidikan. Kurikulum periode sebelumnya belum maksimal dilaksanakan sudah ada opini pergantian atau perubahan. Jika hal ini berjalan terus-menerus besar kemungkinan masyarakat semakin tidak percaya kepada pemerintah.

2. Segi Agama (Syari’at)

Salah satu konsep terpenting untuk maju adalah “melakukan perubahan”, tentu yang kita harapkan adalah perubahan untuk menuju keperbaikan. Sebuah perubahan selalu disertai dengan konsekuensi-konsekuensi yang sudah selayaknya dipertimbangkan agar tumbuh kebijakan-kebijakan yang lebih signifikan.

Jika perubahan kurikulum tersebut membawa kebaikan (maslahat) maka sudah selayaknya untuk diterapkan. Namun jika perubahan kurikulum tersebut hanya sekedar perubahan image atau demi kepentingan satu golongan, maka hal itu merupakan suatu kemunduran dunia pendidikan. Dalam syariat (fikih) kemaslahatan ada tiga macam : kemaslahatan yang bersifat wajib, kemaslahatan yang bersifat sunnah, dan kemaslahatan yang bersifat mubah/boleh.[3]

Maslahat juga dibagi menjadi tiga :[4]

1.      Kemaslahatan Ukhrowi

Kemaslahatan Ukhrowi yaitu kemaslahatan (kebaikan) yang dicapai di akhirat saja. Kemaslahatan Ukhrowi sangat diharapkan hasilnya karena setiap orang tidak tahu akhir hidupnya (khusnul khotimah atau su’ul khotimah). Seandainya mereka tahu maka belum bisa dipastikan apakah amal ibadahnya diterima Allah swt atau tidak. Dan seandainya dipastikan diterima oleh Allah maka belum bisa dipastikan hasil pahala dan kebaikan akhiratnya karena bisa saja hilang ketika ditimbang dan ketika diambil balasannya (diqishos).

2.      Kemaslahatan Duniawi

Kemaslahatan Duniawi yaitu kemaslahatan (kebaikan) yang dicapai di dunia saja. Kemaslahatan ini dibagi menjadi dua :

a.         Pasti hasilnya

Seperti kemaslahatan makanan, minuman, pakaian, pernikahan, perumahan, dan sarana transportasi.

b.         Diharapkan hasilnya

Seperti berdagang untuk menghasilkan keuntungan sebagaimana menjalankan harta anak yatim demi memperoleh keuntungan, mengajarinya berdagang dan menyekolahkannya demi kebaikan mereka di masa datang. Membangun rumah, bercocok tanam, dan berkebun merupakan kemaslahatan yang sangat diharapkan hasilnya.

3.      Kemaslahatan Duniawi dan Ukhrowi

Kemaslahatan Duniawi dan Ukhrowi yaitu kemaslahatan (kebaikan) yang bisa dicapai di dunia dan di akhirat. Seperti membayar kifarat dan ibadah maliyyah (misal zakat dan sebagainya). Kemaslahatan duniawi bagi si penerima, sedangkan kemaslahatan ukhrowi bagi si pemberi. Kemaslahatan duniawi bersifat pasti, sedangkan kemaslahatan ukhrowinya masih bersifat harapan.

Perubahan kurikulum pendidikan merupakan masalah duniawi dan mungkin juga termasuk masalah ukhrowi. Terlepas dari ada tidaknya kemaslahatan dalam perubahan kurikulum tersebut, sudah selayaknya jika perubahannya tidak serta-merta mengganti. Namun lebih bersifat merevisi dan menambah sistem yang lebih baik serta masih mempertahankan sistem lama yang masih baik. Sebagaimana kaidah :

“Almukhafadhatu alal qodim assholih wal akhdu bil jadid al aslah”

Menjaga sistem lama yang masih layak dan mengambil sistem baru yang lebih kompetitif.

Adanya perubahan kurikulum dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa penerapan pembaharuan pendidikan di Indonesia tidak selalu berjalan dengan mulus seperti yang diharapkan. Inovasi-inovasi yang coba diterapkan oleh kemendikbud selaku otoritas yang membawahi pendidikan di Indonesia tidak bisa diterima oleh sekelompok masyarakat. Menurut Rogers (dalam Ibrahim, 1988) mengemukakan bahwa karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi cepat lambatnya penerimaan inovasi tersebut harus memiliki unsur-unsur berikut :[5]

1.                          Keunggulan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya.

2.                          Kompatibilitas, yaitu tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (value), pengalaman masa lalu, dan kebutuhan penerima.

3.                          Kompleksitas, yaitu tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima.

4.                         Trialabilitas, yaitu dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima.

5.                         Dapat diamati (observability) yaitu mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi.

Jika inovasi kurikulum yang ditawarkan oleh kemendikbud telah mampu diterima oleh masyarakat selanjutnya proses pengajaran juga harus lebih bervariasi. Kemajuan di bidang teknologi dan informatika harus bisa dimanfaatkan seefisien mungkin. Pemanfaatan laboratorium, komputerisasi, internet, digital library dan sebagainya harus bisa digunakan semaksimal mungkin.

Kegiatan pengajaran memang sering kali dipandang sama dengan mengajar. Dalam konteks ini mengajar merupakan  kegiatan yang dilakukan seseorang yang memiliki profesi sebagai pengajar. Memberikan kuliah adalah salah satu penerapan strategi atau teknik pengajaran, dan termasuk komponen sistem pengajaran. Tanggapan seperti itu tidak tepat, sebab kegiatan pengajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada sekedar mengajar, yaitu cara yang dipakai oleh pengajar, ahli kurikulum, perancangan bahan pelajaran, perancangan media, dan sebagainya yang ditujukan untuk mengembangkan rencana yang terorganisir guna keperluan belajar (Gagne dan Briggs, 1978).[6]

Jika kurikulum dan sistem pengajaran telah berjalan dengan baik maka diharapkan mampu menciptakan pelajar yang berkualitas. Pelajar yang mampu menghadapi perkembangan serta mampu bersaing di masa depan. Semoga dengan adanya perubahan kurikulum tahun ajaran 2013-2014, sistem pendidikan di Indonesia bisa lebih maju. Semoga bermanfaat.

M. Isbah Kholili, Alumni Qudsiyyah tahun 2006, Guru MTs Qudsiyyah Kudus
Tulisan ini dimuat dalam majalah El-Qudsy, Edisi 21 Tahun 2013


[1]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum : Teori dan Praktek, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1999), Hal.4.

[2]Ibid

[3]Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam, Qowa’idul Ahkam Fi Mashalihil Anam, (Darul Ma’arif, Bairut Libanon), Juz 1 hal. 36

[4]Ibid. Hal 37

[5]M. Sulthon Masyhud dkk, Manajemen Pondok Pesantren, (Diva Pustaka, Jakarta, 2003), hal. 71

[6] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Teknologi Pengajaran, (Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2003), hal. 44

INTEGRASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Belakangan ini pemerintah gencar mengampanyekan Pendidikan Karakter di Indonesia. Pendidikan Karakter diyakini mampu menjadi “obat mujarab” penyembuh problem kemasyarakatan yang semakin terjerembab dalam kasus asusila, anarkhisme dan tindakan koruptif di berbagai bidang kehidupan.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang pendidikan karakter, perlu diketahui bahwa karakter yang penulis maksud bukan sekedar berupa baiknya perkataan dan sikap an sich, melainkan sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. Dalam konteks ini, karakter bukan sebuah anugerah yang tiba-tiba ada, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan, kebiasaan, keberanian usaha keras dan bahkan dibentuk dari kesulitan hidup.

Kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa seseorang yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognitive development) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan akan nilai kebaikan tersebut.

Sebagai contoh saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai buruk oleh orang lain, bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan pendidikan karakter diperlukan penguatan aspek perasaan (affective development). Komponen ini dalam pendidikan karakter disebut desiring the good atau keinginan untuk berbuat kebaikan. Ketika tanpa aspek tersebut, seseorang hanya akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham dan hanya mengerjakan sesuatu ketika mendapatkan komando serta perintah.

 

 Desain Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan karakter mencoba membantu anak untuk melaksanakan perilaku yang baik, santun dan disiplin secara terus menerus, sehingga hal-hal tersebut secara relatif menjadi mudah untuk dilakukan oleh anak serta secara relatif anak menjadi merasa tidak biasa untuk melakukan hal-hal sebaliknya.

Sebagaimana diketahui, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilai-nilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius –seorang filsuf terkenal Cina– menyatakan bahwa anak pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah anak dilahirkan, maka anak dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi.

Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki anak sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan.

Perlu diketahui bersama, bahwa desain pendidikan karakter bergerak dari knowing menuju doing atau acting. William Kilpatrick menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Berangkat dari pemikiran ini maka kesuksesan pendidikan karakter sangat bergantung pada ada tidaknya knowing, loving, dan doing atau acting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter.

Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu Pertama, kesadaran moral (moral awareness), yaitu kesediaan seseorang untuk menerima secara cerdas sesuatu yang seharusnya dilakukan. Kedua, pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), yaitu mencakup pemahaman mengenai macam-macam nilai moral seperti menghormati hak hidup, kebebasan, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, tenggang rasa, kesopanan dan kedisiplinan. Ketiga, Penentuan sudut pandang (perspective taking), yaitu kemampuan menggunakan cara pandang orang lain dalam melihat sesuatu. Keempat, Logika moral (moral reasoning), adalah kemampuan individu untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu dikatakan baik atau buruk. Kelima, Keberanian mengambil menentukan sikap (decision making), yaitu kemampuan individu untuk memilih alternatif yang paling baik dari sekian banyak pilihan. Keenam, pengenalan diri (self knowledge), yaitu kemampuan individu untuk menilai diri sendiri. Keenam unsur adalah komponen-komponen yang harus diajarkan untuk mengisi ranah kognitif mereka.

Selanjutnya, Moral Loving atau Moral Feeling merupakan penguatan aspek emosi anak untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh anak, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), kerendahan hati (humility).

Setelah dua aspek tersebut terwujud, maka Perilaku moral (Moral Acting) sebagai outcome akan dengan mudah muncul baik berupa competence, will, maupun habits. Perilaku moral adalah hasil nyata dari penerapan pengetahuan dan perasaan moral. Orang yang memiliki kualitas kecerdasan dan perasaan moral yang baik akan memiliki kecenderungan menunjukkan perilaku moral yang baik pula.

Penanaman karakter pada anak merupakan proses penyesuaian kepribadian yang perlu memperhatikan bermacam-macam prinsip dasar pertumbuhan. Mekanisme penyesuaian tersebut pada dasarnya merupakan sebagian dari usaha kependidikan yang dilakukan oleh keluarga, sekolah, maupun masyarakat, serta berlangsung seumur hidup. Itulah sebabnya, perencanaan pembelajaran yang praktis, aplikatif dan memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak sangat diperlukan, dalam upaya pembelajaran nilai yang membawa muatan karakter bagi anak.

Salah satu nilai yang dapat dijadikan sebagai pijakan pembangunan karakter anak adalah nilai-nilai kebaikan sebuah daerah yang sudah mengakar kuat sebagai sistem budaya, yang kemudian disebut sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal menjadi sebuah tawaran yang menarik untuk pengembangan pendidikan karakter, karena pada dasarnya pengembangan karakter harus diikuti dengan pengintegrasian jati diri kebangsaan pada diri anak, jati diri kebangsaan atau nasionalisme pasti akan berkait erat dengan jejaring kebudayaan bangsa yang menjadi basis kebudayaan nasional.

 Kearifan Lokal Sebagai Basis Pendidikan Karakter

Kenapa kearifan lokal menjadi penting dalam pendidikan karakter? Karena pada dasarnya kearifan lokal merupakan kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai kebaikan yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas.

Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. Sehingga dengan mengintegrasikan kearifan lokal dalam desain pembentukan karakter anak, secara tidak langsung anak akan mendapatkan gambaran yang utuh atas identitas dirinya sebagai individu, serta identitas dirinya sebagai anggota masyarakat yang terikat dengan budaya yang ungul dan telah lama diugemi para pendahulunya.

Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari periode panjang, yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat, dapat menjadikan kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat, untuk hidup bersama secara dinamis dan damai.

Kearifan lokal yang digali, dipoles, dikemas, dipelihara dan dilaksanakan dengan baik bisa berfungsi sebagai alternatif pedoman hidup manusia. Nilai-nilai itu dapat digunakan untuk menyaring nilai-nilai baru atau asing, agar tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Khalik, alam sekitar dan sesamanya. Selain itu, kearifan lokal dapat menjadi benteng kokoh menanggapi modernitas dengan tidak kehilangan nilai-nilai tradisi lokal yang telah mengakar dalam sebuah komunitas masyarakat atau daerah.

Dalam pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, pedoman nilai-nilai kearifan lokal merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan anak. Sebagai sebuah kriteria yang menentukan, nilai-nilai kearifan lokal bisa menjadi sebuah pijakan untuk pengembangan sebuah pembelajaran yang lebih berkarakter. Kebermaknaan pembelajaran dengan lingkup kearifan lokal akan menampilkan sebuah dimensi pembelajaran yang selain memacu keilmuan seseorang, juga sekaligus bisa mendinamisasi keilmuan tersebut menjadi kontekstual dan ramah budaya daerah.

Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara inheren melalui pembelajaran, dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri, sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya “lain”. Nilai-nilai kearifan lokal itu meniscayakan fungsi yang strategis bagi pembentukan karakter dan identitas bangsa. Pendidikan yang menaruh peduli terhadapnya, akan bermuara pada munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif, santun dan kreatif.

Salah satu aplikasi pemanfaatan nilai-nilai kearifan lokal sebagai basis pendidikan karakter, misalnya apabila di daerah terdekat sekolah itu terdapat filosofi hidup yang merupakan landasan nilai kehidupan daerah tersebut, seperti filosofi alon-alon asal klakon (masyarakat Jawa Tengah),  rawe-rawe rantas malang-malang putung  (masyarakat Jawa Timur),  atau Gusjigang (masyarakat Kudus) dan masih banyak lagi. Maka guru dalam pembelajaran harus memulai memunculkan dan menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, sebagai pijakan dan spirit dalam setiap mendidik siswanya. Sehingga dari pola yang demikian, guru akan menjadi seorang fasilitator yang baik bagi internalisasi nilai-nilai kearifan lokal pada diri peserta didik yang bersinggungan langsung dalam proses pembelajaran.

Pada posisi ini, nilai yang terkandung dalam bingkai kearifan lokal sebuah daerah akan menjadi senjata yang ampuh untuk membangun karakter anak bangsa, agar memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sekaligus mampu menjadi penjaga kelestarian kearifan lokal tersebut melalui sikap keseharian yang berkarakter kuat.

Uraian tersebut di atas menjadi sangat logis, karena diakui atau tidak nilai-nilai kearifan lokal yang notabene merupakan sedimentasi dari nilai-nilai kebaikan yang dianut di sebuah daerah, nantinya akan memberikan warna positif bagi pembangunan karakter anak. Ketika warna positif kearifan lokal dominan dalam proses pembangunan karakter anak, maka kearifan lokal tersebut akan mampu mendinamisasi perkembangan karakter anak menuju arah yang lebih baik di masa yang akan datang.[]

Oleh: Khasan Ubaidillah, Alumni Qudsiyyah Kudus, Dosen IAIN Walisongo Semarang

Tulisan ini diambil dari Majalah El-Qudsy, Edisi 21 tahun 2013

FORMULA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM YANG HUMANIS DAN RELIGIUS

 

A. Pendahuluan

Pendidikan, memiliki  peran  strategis  sebagai sarana  human resources  dan  human  investment. Selain bertujuan  menumbuhkembangkan  kehidupan  yang lebih  baik, pendidikan  juga telah  nyatanyata ikut mewamai dan menjacli landasan moral dan etik dalam proses pemberdayaan  jati diri bangsa.[1]  Sedemikian pentingnya pendidikan, terutama pendidikan agama Islam, maka wajar jika hakekat pendidikan merupakan proses humanisasi, yang berimplikasi pada proses kependidikan dengan  orientasi  pengembangan  aspek­aspek  kemanusiaan  manusia, yakni  aspek fisik-biologis  dan   ruhaniah-psikologis.[2]  Aspek   rohaniah­ psikologis inilah yang dicoba didewasakan dan di-insan kamil-kan melalui pendidikan sebagai elemen yang berpretensi   positif   dalam  pembangunan  kehidupan  yang  berkeadaban.[3]  Dari   pemikiran   ini,  maka pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan  fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil).[4]

Sementara itu, beberapa ahli mensinyalir terjadinya “dehumanisasi” pendidikan, dengan indikasi terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Bahkan pendidikan mengalami“kegagalan” apabila kita  lihat dari  beberapa  kasus  yang  muncul  ke  permukaan.  Kasus  kekerasan  yang  merebak  dalam kehidupan  kebangsaan dan  kemasyarakatan  kita, mengindikasikan bahwa  pendidikan belum mempunyai peran   signifikan  dalam   proses   membangun   kepribadian   bangsa   kita  yang punya jiwa sosial  dan kemanusiaan. Radikalisme agama adalah salah satu problem  nasional yang perlu dipecahkan. Salah satu upaya  strategisnya  adalah  dengan  membangun paradigma  pendidikan yang  berwawasan  kemanusiaan (humanis).  Pendidikan sesungguhnya  bukan  semata-mata  momen  “ritualisasi”,  tetapi  implemntasi  dua variabel  pokok  yaitu  teoritis  dan  praktis[5]   untuk  menghasilkan  insan-insan  pendidikan yang  memiliki karakter manusiawi dan sarat keilmuan yang meniscayakan jaminan atas perbaikan kondisi sosial yang ada.

Secara normatif,  Islam  telah  memberikan  landasan  kuat  bagi pelaksanaan  pendidikan. Pertama,Islam  menekankan  bahwa  pendidikan merupakan  kewajiban  agama  dimana  proses  pembelajaran  dan transrnisi Ilmu sangat bermakna  bagi kehidupan manusia. Inilah latar belakang turunnya wahyu pertama dengan  perintah  membaca,  menulis,  dan  mengajar.[6]   Kedua,  seluruh  rangkaian  pelaksanaan  pendidikan adalah  ibadah  kepada  Allah  SWT.  Sebagai  sebuah  ibadah,  m.aka pendicliktn merupakan   kewajiban individual sekaligus kolektif , Ketiga, Islam memberikan derajat tinggi bagi kaum terdiclik, sarjana maupun ilmuwan. Keempat, Islam memberikan  landasan  bahwa pendidikan merupakan  aktivitas sepanjang  hayat. (long life  education). Sebagaimana Hadist Nabi  tentang  menuntut  ilmu  dari sejak buaian ibu  sampai liang kubur).[7]  Kelima,  kontruksi   pendidikan  menurut   Islam  bersifat  dialogis,  inovatif   dan  terbuka  dalam menerima ilmu pengetahuan baik dari Timur maupun Barat.

Kemajuan teknologi dan globalisasi menghilangkan sekat dunia. Peristiwa yang terjadi eli belahan dunia sana, pada saat bersamaan bisa disaksikan eli dalam rumah kita sendiri melalui layar televisi, internet, dan fasilitas teknologi informasi  lainnya yang secara langsung maupun  tidak akan dapat mempengaruhi  perkembangan jiwa anak-anak  pada  usia  remaja  yang,  memiliki  kecenderungan   untuk  mencoba-coba sesuatu, tidak sabar, mudah  terbujuk  dan selalu ingin menampakkan egonya. Fakta tersebut memerlukan perhatian dari pendidikan, utamanya pendidikan agama Islam.

Pendidikan Agama Islam  (PAI)  pada sekolah, madrasah  dan  Perguruan  Tinggi selama ini lebihberorientasi pada norma agama daripada problem subyek diclik. Ajaran agama Islam dipaharni kemudian disistematisasi menjadi lima aspek yaitu Al-Qur‘an-Hadis,  Aqidah/Keimanan, Akhlak, Fikih/Ibadah dan SKI.  Sedangkan  para  ahli  merancang  pendidikan berangkat  dari  kondi.si obyektif  subyek  diclik secaramendalam,  kemudian  melakukan  analisis  halhal  apa  saja yang  diperlukan  oleh  subyek  didik  bahkan melakukan  diagnosis sampai ditemukan  persoalan-persoalan  yang ada pada subyek  didik. Dati  temuan­ temuan  itu  kemudian  mereka  rancang  sistem,  pola, atau  model  pendidikan. John  P.  Miller, misalnya, melakukan penelitian terhadap  subyek didik lebih dati tujuh tahun  dan menemukan  bahwa keterasingan siswa di sekolah menjadi pemicu  munculnya  berbagai penyimpangan,  seperti  tawuran,  pergaulan bebas, putus  sekolah, kecanduan  narkoba  bahkan  sampai bunuh  diri. Kemudian  dia rancang model pendidikanyang terkenal dengan nama Humanizing the Classroom, Models of Teaching in Affective Education.

Dua  konsep  tersebut  perlu  dikoneksikan  agar  terbentuk  sinergi antara  teks  ajaran  teiutama  al Quran  sebagai landasan  normatif  umat  Islam  dengan  praktek  pendidikan  Islam  di  era  global  seperti sekarang ini. Artinya, pendidikan Islam (PAI) sebagai misi pembentukan  insan kamil di era modem  dapat dianggap gagal dalam membumikan  universalitas ajaran Islam dan  terjebak  dalam dehumanisasi,  karena kurang  memperhatikan   aspek  peserta  didik.  Dalam  prakteknya,  Institusi  pendidikan  lebih  merupakan proses  transfer  ilmu  dan  keahlian  daripada  usaha  pembentukan   kesadaran  dan  kepribadian  anak  didik sebagai  pembimbing   moralnya   melalui   ilmu   pengetahuan   yang   dimiliki.   Padahal,   kecenderungan pendidikan yang sekedar transfer ilmu dan keahlian dan mengabaikan pembangunan  moralitas merupakan ciri utama dehumanisasi pendidikan.[8]

 

B. Konsep Pendidikan Humanis dan Religius

Merujuk pada  rumusan  dasar negara Republik Indonesia,  praktik  pendidikan  yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini  adalah pendidikan  yang bercorak  humanis religius. Konsep  ini ditarik dan diabstraksikan dari sila “Ketuhanan yang Maha Esa”, serta “Kemanusiaan  yang Adil dan Beradab”. Untuk menjaga dan menumbuhkan nilai-nilai humanis religius, bangsa Indonesia memiliki cara yang unik. Bukan sekulerisme radikal yang menjadi pilihan, sebab ia tidak mempedulikan  agama di ranah publik. Juga bukan kebijakan teokratis yang serba agama. Politik pendidikan agama konvensional yang menjadi pilihan. Melalui kebijakan ini, negara mengakui pluralitas agama sekaligus bertanggung  jawab mendidik warga agar menjadi pemeluk  agama  yang  taat.  Orang-orang  yang  taat  beragama diharapkan dapat  memantulkan cahaya religiusitasnya itu ke dalam sikap dan perilaku yang terpuji.

Gagasan pendidikan  yang humanis dan religius dapat dipertimbangkan  secara normatif  konseptual,termasuk  kebijakan politik pendidikan  agamanya. Namun  yang menjadi masalah adalah mengapa dalam perjalanan 68 tahun, gagasan dan  kebijakan  tersebut  diimplementasikan  belum  terlihat, bahkan  tampak semakin  kabur   dan   menjauh.   Bahkan   ada  kecenderungan   orang-orang   berpendidikan   tinggi,  yang seharusnya mampu menjadi teladan dalam menampilkan kepribadian luhur, menjadi sebaliknya yaitu gaya hidupnya hedonistik, serba permisif, menjarah kekayaan bangsa tanpa rasa bersalah, pamer kemilau kuasa dan  harta  semakin  kasat  mata  sementara  sebagian  besar  rakyat  hidup  dalatrt belitan  kemiskinan, dan penderitaan   yang  akut.  Alih-alih  menjadi  warga  negara  yang  berkarakter   humanis   religius,  outputpendidikan  kita  malah  melahirkan  dan  menumbuhkan  orang-orang yang  berkarakter  memiliki  (having char cter).  Merebaknya  karakter  ini  terlihat  begitu  mencolok dalam  bentuk  lahirnya  orang-orang  yangbermental serakah dan dan mabuk kekuasan.

Ada dua konsep yang perlu dirujuk, yaitu pendidikan humanis di satu sisi dan pendidikan religius disisi  yang  lain.  Pendidikan   humanis   merupakan   tanggapan   dan   kritik  terhadap   praktik   pendidikan tradisional.[9]  Ciri pendidikan  tradisional yang ditolak kalangan humanis  adalah: guru  otoriter,  pengajaranmenekankan buku  teks, siswa pasif hanya mengingat informasi  dari guru, ruang belajar terbatas di kelasyang terasing dari kehidupan  nyata dan  menggunakan  hukuman  fisik dan  menakut-nakuti siswa untuk membangun kedisiplinan. Konsep humanisme adalah  memanusiakan  manusia sesuai dengan  perannya sebagai khalifah di bumi ini.

Al-Qur’an  menggunakan  empat  term untuk  menyebutkan  manusia, yaitu basyar, al-nas, bani adamdan al-insan. Term basyar secara umum digunakan untuk menjelaskan bahwa manusia itu sebagai makhluk biologis. Sedangkan term al-nas (disebut 240 kali) digunakan untuk menjelaskan bahwa manusia itu sebagai makhluk  sosial. Kemudian,  term  bani adam diulang dalam al-Quran  sebanyak 7 kali[10]  menunjukkan bahwa manusia itu sebagai makhluk rasional dan kata keempat menggunakan  term al-insan diulang di dalam al-Qur’an sebanyak  65  kali dan  24  derivasinya yaitu  insa 18  kali dan  unas 6  kali[11]   digunakan  untuk menjelaskan  bahwa  manusia  itu  sebagai  makhluk  spiritual.  Dengan  demikian,  maka  manusia  memiliki potensi   unik   pada   ranah biologis,   sosial,  intelektual   dan   spritual,   yang   sangat   potensial   untuk dikembangkan oleh dan melalui proses pendidikan.

Praktik pendidikan  humanis bertujuan  memanusiakan  manusia  sehingga  seluruh  potensinya  dapat tumbuh  secara penuh dan  menjadi  pribadi  utuh  yang bersedia  memperbaiki  kehidupan.  Prinsip-prinsip  pendidikan  humanis  meliputi:  guru  sebagai  ternan  belajar, pengajaran  berpusat  pada  anak,  fokus  pada keterlibatan  dan  akivitas siswa, siswa belajar dari pengalaman  kehidupan  dan  membangun  kedisiplinan secara kooperatif  dan dialogis. Seorang  pendidik  humanis  selalu membuka  ruang  kebebasan  pada setiap individu  untuk  membangun   diri  sesuai  cita-cita  yang  dicanangkan.  Tujuan   pendidikan  religius  untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral dan menyiapkan siswa untuk hidup sederhana dan bersih hati.[12]

Integrasi dan sinergi keduanya dapat melahirkan konsep pendidikan yang ideal sesuai falsafah bangsa Indonesia. Pendidikan  humanis  religius adalah pendidikan  yang dapat  membangun moral  manusia yang baik (akhlakul karimah) dan  menumbuhkan kapasitas (kemampuan)  diri secara  penuh  sehingga mampu merealisasikan tujuan  kehidupan  secara produktif.[13]  Hakikat  pendidikan  humanis  menurut  Abdul  Munir Mulkhan  mencakup   tiga  entitas,  yaitu; 1)  Pendidikan  sebagai  proses   peneguhan   keunikan  manusia. Maksudnya,  kesadaran   keunikan   diri  sebagai  pengalaman   otentik   perlu   ditempatkan   sebagai  akar pendidikan,  pengembangan   politik  kebangsaan,  dan  kesalehan  religius. Keunikan  adalah  basis  pribadi . kreatif dan kecerdasan setiap orang dengan  kemampuan  dan sikap hidup berbeda.  2) Pendidikan sebagai proses  akumulasi pengalaman  manusia.  Ma ksudnya, proses pendidikan  perlu ditempatkan  sebagai media pengayaan  (akumulasi)   pengalaman.   3)  Pendidikan   sebagai  proses   penyadaran.   Hakikat   pendidikan menurut Mulkhan tidak lain sebagai proses penyadaran diri dari realitas universum. Penyadaran bukan awal sebuah  dinamika  kehidupan  melainkan  akar  dari  seluruh· dinamika  kehidupan   yang  terus  aktual  dan terpelihara. Sementara itu, aplikasi konsep  pendidikan humanis Abdul  Munir Mulkhan dalam pendidikan agama Islam menyentuh wilayah tujuan, kurikulum, evaluasi, metode, pendidik dan peserta didik.

Sesungguhnya, praktikpendidikan di Indonesia  bercorak religius sebab  pendidikan  agama diajarkan sejak usia dini sampai perguman  tinggi. Terlebih dilembaga pendidikan yang bernapas  keagamaan seperti madrasah maupun sekolah-sekolah  keagamaan. Hanya penyajiannya masih bersifat parsial dan te.rlalu berat pada dimensi ritual. Dalam  perspektif  humanis  religius, pendidikan  agama dis,uguhkan  untuk: memupuk sikap positif terhadap kehidupan, memahami  kenyataan sosial dan kontradiksi  yang ada dalam masyarakat dan   merangsang  siswa  untuk   mengamalkan   iman   dalam  seluruh   dimensi   kehidupan.   Sebagaimana dikemukakan eli atas, tidak begitu mengejutkan  bahwa praktik pendidikan eli sekolah kita cenderung  tidak humanis.

 

C. Pendidikan Agama Islam Berbasis Pesantren

Secara umum esensi perubahan  yang dialami oleh madrasah adalah untuk meningkatkan  kualitas dan mensejajarkan madrasah dengan sistem persekolah  (sekolah umum). Meskipun pada kenyataannya sampait saat ini masih terjadi perbedaan  persepsi dalam implementasi,  terutama  dalam memaknai,  merumuskan, dan mewujudkan ciri khas Islam. Apa dan bagaimana implementasi pendidikan  yang dijiwai ajaran agama Islam? Satu hal yang mereka sepakati adalah rumusan dan implementasi  dijiwai ajaran agama Islam ini harus diberikan dalam bentuk  formal yang terumuskan  dalam kurikulum  yang tersimbolkan  dalam mata pelajaran. Rumusan  implementasi[14]  “pendidikan  yang dijiwai suasana  keagamaan”,  sesuai kapasitas dankonteks masing-masing relatif sudah  terumuskan  dan terlaksana. Karena  pemahaman  untuk  rumusan ini lebih mudah untuk elipahami dan eliwujudkan dalam praktik. Secara umum, madrasah mewujudkan suasana keagamaan ini dilaksanakan dalam bentuk penciptaan lingkungan madrasah dengan berbagai kegiatan yang bersumber  dari nilai/ajaran  islam· yang berujung  pada  terciptanya  budaya  yang Islami, mulai dari cara berpakaian, bertutur kata, pergaulan sampai pada berbagai bentuk latihan/  praktik ritual keagamaan. Secara teknis p.elaksanaan kegiatan tersebut ada yang terstruktur dalam format  kurikuler, hiden curriculum maupunekstra kurikuler.[15]

Berangkat dari beberapa  fakta bahwa  pesantren  adalah model  pendidikan agama islam yang telah terbukti berhasil mencetak generasi tafaqquh fi al diin dan berakhlak karimah. Tentunya, tanpa melupakan beberapa kelebihan dan kelemahannya.  Melihat dan berangkat dari keunggulan pesantren,  perlu dilakukan sintesa yang mengarah pada sistem pendidikan agama Islam berbasis pesantren. Maknadan pengertian “basis”  harus  disikapi secara  luas  dan  komprehensif.  Artinya,  kata  basis  tidak  hanya  merujuk pada pengertian  fisik, akan  tetapi  yang  jauh  lebih  urgen  adalah  basis  nilai  dan  kultur  pesantren.  Secara institusional, madrasah  memang  memiliki kelebihan dibanding pesantren  dalam hal tata administrasi dan birokrasi  pendidikan. Hal  ini  merupakan  pengelolaan  modern  atas  sistem  pendidikan, yang membuat sistem madrasah terukur, jika elibanding dengan pola pesantren yang lebih bersifat kultural. Disamping itu, pesantren  di sisi lain memiliki kelebihan yang bisa menyempurkan  sistem pendidikan Islam dimadrasah. Kelebihan ini terletak pada sistem pendidikannya yang mengakar  pada tradisi keilmuan Islam dan tradisi dari peradaban Islam itu sendiri. Dengan  demikian, upaya penyempurnaan pendidikan Islam kita haruslah mengarah pada pendasaran kembali sistem pendidikan Islam kepada tradisi Islam, meskipun tetap dengan tata kelola institusional ala madrasah. Di dalam proses penyempurnaan  ini, tentu ada hal-hal dari madrasah yang dikurangi. Upaya ini merupakan  usaha  untuk  mendedominasikan sistem  sekolah  atas  pendidikan Islam. Salah satunya melalui penambahan  mata pelajaran keilmuan Islam, sehingga pelajaran Islam tidak lagi minimalis, melainkan maksimalis.

Memang di satu titik telah terjadi persilangan antara madrasah  dan pesantren.  Hal ini terjadii pada pesantren  yang  mendirikan   madrasah   dii   dalamnya.  Serta  madrasah   yang  memiliki  sistem  nilai  dan kurikulum   pesantren.   Pada  . yang   pertama,   pesantren   telah   menyempurnakan    diri   sehingga   mau memasukkan pola sistem sekolah ke dalam sistem pendidikan tradisionalnya. Hal ini tentu menggugutkan tesis keterbelakangan pesantren.  Hal yang sama terjaeli pada madrasah yang telah mengadopsi sistem nilai dan kurikulum pesantren.  Dalam  kaitan ini, madrasah telah menyempurnakan  diri melalui pesantrenisasi sistem pendidikannya.

Seperti telah dijelaskan  di atas, konsep pendidikan agama Islam berbasis pesantren  adalah adopsi nilai dan sistem pesantren  dalam pengelolaan  madrasah sebagai  “sekolah  umum”  dengan  Islam sebagai “ciri khasnya”. Tujuan  dari konsep ini adalah dalam rangka penguatan  atas berbagai kekuarangan yang terjaeli pada  madrasah,  terurtama   bidang  PAI.        Merujuk  pada  SI  dan  SKL,  perbedaan   antara  sekolah  dan madrasah adalah t’erletak pada tujuan dan cakupan materi PAL Tujuan mata pelajaran PAl  eli SMP/SMA adalah: (1) memberikan wawasan terhadap  keberagaman agama di Indonesia,  (2) meningkatkan  keimanan danketaqwaan  siswa. Karena  rumusan   tujuannya  yang lebih  simpel  (global), maka  PAl  untuk  SMA diberikan secara global dalam satu mata pelajaran. Berbeda dengan SMP /SMA, karena Islam menjadi ciri khasnya maka komposisi PAI  untuk  MTs./MA  menjadi lebih banyak (mata pelajaran dan alokasi waktu),dan  pembahasannya  lebih  mendalam   dalam  rangka  mencapai  tujuan  spesifiknya.  Sebagai  sub-sistem  pendidikan nasional, ada  tiga  tujuan  yang harus  dicapai  oleh  MTs./MA,  yaitu: (a) tujuan  pendidikan nasional, (b) tujuan pendidikan menengah, dan (c) tujuan spesifik pendidikan MTs./MA.

Karena mengadopsi  nilai dan sistem pesantren  maka operasional  kegiatan madrasah   menerapkanmodel boarding  school (asrama) dengan  mengadopsi  konsep  sistem “pondok” atau pemondokan bagi para santri sebagaimana telah lama eliterapkan dalam sistem pendidikan pesantren. Unsur esensial yang diadopsi dari sistem ini adalah pada aspek sistem full days school, dimana proses belajar mengajar bisa dilaksanakan tidak hanya pada aspek  kurikulum  formal  saja tetapi  juga pada  aspek  hidden  curriculum, sistem  nilai dan kultur pesantren.

Pesantrenisasi  madrasah  dan  sekolah  sebagai upaya penguatan  kembali  pendidikan agama Islam didasarkan dari adanya  sebuah  kesadaran  bahwa  madrasah  kita perlu  dikembalikan  kepada  basis nilai kultur, dan  arah  pendidikan  yang menjadi  pijakan awalnya.[16]  Hal ini  terjadi  karena  lembaga  pendidikah Islam kita tersebut  cenderung  semakin  dijauhkan  dari basisnya. Madrasah  adalah  modernisasi  pesantren yang mengadopsi  sistem  kelas  sekolah  modern,  berstandarkan   pendidikan  Barat.  Hanya  saja di  dalam madrasah,  nilai, corak, silabus pendidikan,  dan arah pengetahuan  berbeda  dari sekolah  karena ia berpijak dari nilai-nilai Islam. Namun  dalam konteks  Indonesia,  termasuk  dalam konteks  Kudus,  madrasah  amat dekat dengan  pesantren,  karena pesantrenlah  yang menjadi lembaga pendidikan  awal Islam di negeri ini, yang  merupakan   kesinambungan   kultural  dari  tradisi  pendidikan   Nusantara   era  Hindu-Budha,   yakni padepokan  dan Mandala.

Memang jika tidak hati-hati, pergeseran   dari   sistem   kepesantrenan   menjadi madrasah bisa berdampak  pada  bergesemya  nilai-nilai keislaman anak  didik. Hal ini terjadi karena  nilai kepesantrenan tidak selalu bisa diakomodir  oleh  sistem  madrasah  yang mengadopsi  sistem  sekolah.  Perges ran ini bisa kita lihat dari beberapa  hal. (1) Pesantren  yang menganut sistem everyday lift kyai dengan kepemimpinannya  menjadi model bagi bagi para santri dalam pendidikan  maupun  dalam kehidupan  sehari-hari. (2) Kualitas guru madrasah yang tidak sebijak kiai pesantren. (3) orientasi pendidikan di  madrasah cenderung pragmatis, sementara  di pesantren  para santri lebih tulus dalam belajar untuk  mendalami  dan menguasaiilmu keislaman.[17]

Pada titik inilah madrasah  sebenarnya  diharapkan menutup  “lubang  hitam” pendidikan  kita, dengan menggerakkan  nuansa  keislaman  di  sistem  sekolah.  Namun  madrasahpun kurang bisa memaksimalkan potensi keislaman tersebut,  karena pada level sistem, ia masih terkonstruk dalam paradigma sekolah yang memiliki kelemahan fundamental  tersebut. Hal ini terjadi karena dalam madrasah ada dua kurikulum, yakni kurikulum pendidikan  nasional dan kurilmlum lokal madrasah.  Dualisme  kurikulum inilah yang membuat madrasah  tidak  bisa  memaksimalkan   potensi  keislaman.  Selain  dualisme  ini,  sistem  pendidikan,  baik menyangkut   metode   pengajaran   guru,  standar   penilaian,  dan  capaian  akhir  pendidikan,   yang  masih mengekor  pada  sistem  sekolah.  Dari  sini  jelas terlihat,  bahwa  madrasah  an  sich tidak  bisa  diharapkan menjadi penyempurna  sistem  pendidikan  kita yang penuh  kelemahan.  Perlu  ada  terobosan  radikal yangmemijakkan konsep, sistem, dan praktik pendidikan  pada ranah filosofis dari pendidikan  itu sendiri, yang merupakan usaha manusia untuk memanusiakan  dirinya.

 

D. Penguatan Madrasah dan Sekolah  Berbasis Pesantren

Pola  madrasah   berbasis   pesantren   berangkat  dari  kebutuhan   untuk   merumuskan   suatu  sistem pendidikan  Islam  yang  baru.  Kebaruandari  sistem ini  terletak  dalam  basis  filosofisnya,  yang  hendak menjadikan  kepesantrenan  sebagai  basis pendidikan dari madrasah.[18]  Disebut basis  filosofis,  karena madrasah berbasis pesantren  berangkat  dari kehendak untuk mengembalikn sistem pendidikan  madrasah kepada dasar filosofis dari pendidikan Islam yang menurut penulis terdapat di pesantren. Secara jujur harus diakui  bahwa  saat ini  telah  terjadi defliosofisasi  pendidikan  Islam  di  madrasah,  yang  berujung  pada tercerabutnya dari landasan filosofis pendidikan  Islam itu sendiri. Proses defilosofi ini terjadi akibat prosesinstrumentalisasi, pragmatisasi, fungsionalisasi, dan mekanisasi pendidikan Islam   madrasah, yang membuatnya tercerabut dari nilainilai dasar pendidikan Islam.

Hal tersebut tentu bertentangan dengan  filsafat pendidikan  Islam yang  berangkat  dari rasionalitasnilai[19] bukan  rasionalitas  instrumental.  Rasionalitas  nilai  dalam  pendidikan   Islam  menyatakan  bahwa hakikat pendidikan dalam Islam  adalah  pembentukan karakter manusia berdasarkan  ontologi  keislaman. Ontologi manusia  ini berisi  tentang konsep “manusia ideal”  menurut   Islam,  yaitu  sebagai  hamba  (‘abdullah) dan· wakil Tuhan(khalifatullah). Sebagai hamba, manusia  harus mengarahkanhidupnya untuk beribadah.  Menjadi hamba  Tuhan.  Sementara  sebagai khalifatullah, manusia  adalah  pengejawantah  nilai­ nilai ketuhanan sehingga dunia bisa ditata dengan nilai-nilai tersebut.

Dari ontologi  keislaman  manusia  inilah, pendidikan  Islam dibangun. Jadi  pendidikan  Islam adalahpendidikan  yang dibangun  berdasarkan  rasionalitas nilainilai ontologi  Islam  atas  hakikat manusia; Olehkarena  itu,  elemen  keilmuan  dalam  pendidikan  Islam,  haruslah  mampu   memenuhi kebutuhan bagi pembentukan  manusia Islami. Dalam kaitan ini, pemenuhan  tersebut  akhirnya memuara  pada dua tugas manusia sebagai ‘abdullah dan khalifatullah.[20]   Dari dua tugas kehambaan  dan kekhalifahan ini, maka tidak ada lagi dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum. Sebab demi pemenuhan  tugas kekhalifahan, muslim haruslah mengetahui seluk-beluk dunia, agar ia bisa menata dunia dengan baik. Muslim haruslah menguasai ilmu  politik, ailtropologi,  ilmu  budaya, ilmu  bahasa, ilmu  sosial, filsafat, ilmu  teknik, dan segenap tradisi pengetahuan tentang manusia dan masyarakat yang tidak berasal dari khasanah keislaman. Standar keislaman dalam tugas penataan dunia kemudian bisa berarti dua macam. Bisa bersifat formalis, dalam artian, pelajar Islam menggunakan konsep Islam (misalnya politik Islam) sebagai rumusan penataan dunia atau bersifat substantif,yakni memasukkan nilai-nilai dasar keislaman dalam ruang lingkup yang tidak Islami.

Pada titik inilah, praktek  filsafat pendidikan  Islam hanya bisa diterapkan  dalam bentuk  madrasah berbasis  pesantren.  Tentu,  pola  idealnya sudah  diterapkan  secara  nyata  di  pesantren.  Dalam  hal ini, pesantren sebagai sub-kultur yang secara ideal telah memuat tiga sistem nilai pesantren. Hanya saja karena secara legal, lembaga pendidikan Islam formal di Indonesia adalah madrasah, maka pembentukan  sistem . pendidikan Islam yang ideal, berarti  pertemuan  antara konsep  madrasah  dan  konsep  pesantren.  Dalam kaitan ini,  pesantren  sebagai  nilai dan  sistem  pedagogis  penulis  jadikan basis pedagogis dari  sistem pendidikan madrasah. Oleh  karenanya, perumusan  sistem baru pendidikan ini tidak harus membuahkan lembaga pendidikan  yang benar-benar  baru,  yang belum  ada selama ini:  Perumusannya  terdapat  pada penempatakn kepesantrenan sebagai basis pedagogis dati madrasah. Dari sini basis pedagogis itu meliputi beberapa hal. (1) basis nilai, (2) basis pengajaran, (3) basis kultural.

Dengan cara ini, paradigma instrumental[21]  yang menjadi landasan pembentukan  madrasah, akhirnyaberganti dengan rasionalitas nilai. Madrasah dijalankan untuk mengabdi kepada nilai-nilai mendasar Islam. Dengan cara ini pula, siswa tidak akan terjebak dalam sistem tertutup  madrasah. Mereka mampu kembali kepada na ruralitas dan kulrurnya. Artinya, madrasah akan mengembalikan siswa kepada kewajaran natural sebagai manusia yang berhak berkembang, berinovasi dan merubah cliri. Sifat natural dari manusia ini yang meniscayakan sistem pendidikanterbuka. Sebab naturalitas manusia selalu berkembang  dan berubah, dan ia  tentu  membutuhkan  sistem  dinamis  yang memenuhi kebutuhan  bagi pengembangan  diri  tersebut. Dengan  gagasan madrasah  berbasis  pesantren,  siswa tidak akan terjebak menjadi  objek pedagogis dari sistem birokratis, tetapi berkultural pesantren.

Dengan mengadopsi sistem pesantren ini, secara umum ada empat hal penting yang dapat dicapai atau diperoleh secara simultan oleh madrasah dalam kapasitas dan statusnya sebagai  sekolah menengah umum berciri khas Islam. Capaian ini sekaligus merupakan keunggulan dan kelebihan madrasah bila dibandingkan dengan sekolah atau pendidikan Islam tradisionallainnya.  Bila hal ini dapat  diwujudkan, maka akan tercipta  produk  (output outcome)  dari proses  pendidikan  di madrasah  yang sesuai dengan ekspektasi  para penggunanya. Empat  hal tersebut  meliputi: (1) penguatan  atau pendalaman ‘ulum al-din sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan keberagamaan peserta didik. (2) Pendalamanmateri science (mata pelajaran umum) sebagai upaya untuk mencapai keunggulan komparatif sejalan dengan arus besar kebijakan pendidikan nasional. (3) Pemberian latihan ketrampilan untuk memberi bekal life skillsebagai bekal bagi lulusan untuk terjun dalam kehidupan bermasyarakat dengan keunggulan kompetitif. (4) Optimalisasi kegiatan ekstra dalam rangka  meirujudkan  “pendidikan   yang  dijiwai  dengan   suasana keagamaan”.            .

Model penguatan madrasah yang tidak hanya cocok untuk pengelolaan madrasah, tetapi lebih dari itu sistem dan/atau  model ini dipandang akan mampu mendekatkan kembali sistem pendidikan madrasah dengan “induk” yang melahirkan dan  membesarkan,  yaitu pesantren.  Dengan  model  ini  diharapkan. mampu  memenuhi  kekurangan  yang  selama  ini  menjadi  keprihatian  kita  bersama,  yaitu  minimnyapemahaman agama Islam. Model penguatan pendidikan agama Islam (PAI) dengan mengadopsi sistem pendidikan pesantren ini secara konseptual merupakan manifestasi dari divinity based education. Secara teknis model ini mengadopsi konsep boarding school  dan/ atau  full days school. Dengan konsep ini diharapkan tidakakan ada lagi kendala keterbasan waktu untuk proses pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kualitas. Karena dengan konsep ini pendidikan dan pembelajaran di madrasah  tidak hanya dalam formal kurikulum tetapi juga hidden curriculum.  Berangkat dari realitas objektif dan tipologi madrasah secara umum, penguatan pendidikan agama Islam pada madrasah dapat  diimplementasikan sesuai konteks dan kapasitas masing-masing  madrasah,  yaitu; (1) Model  Madrasah Pesantren   (MP),  (2) Model  Madrasah Lingkungan Pesantren (MLP), dan (3) Madrasah Sistem Nilai Pesantren  (MSNP).

 

E. Pola Pendidikan Agama Islam pada  Sekolah Umum

Secara spesifik, realitas kurikulum PAl  pada sekolah umum masih terpilah-pilah menjaeli aspek Al­Qur’an/Hadits, aqidah akhlak, fiqih dan tarikh Islam, mengkonsentrasilmn pada masing-masing mapel saja. Orientasi mempelajari al-Qur’an masih cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman  arti dan penggalian makna secara tekstual dan kontekstual. Sehingga, masing-masing aspek aqidah  akhlak, ibadah  dan  syari’ah  yang  eliajarkan hanya  sebagai  tata  aturan  keagamaan  dan  kurang elitekankan sebagai proses  pembentukan  kepribaelian sebagai ·konsekwensi  dari pengajaran agama islam tersebut. K.urang terciptanya suasana religius eli sekolah, madrasah maupun  PT yang seharusnya tercipta sebagai manifestasi dari potret lingkup terkecil dari efek pembelajaran pendidikan agama Islam.

Kurangnya ruang dan  waktu  bagi  peserta  didik untuk  mengeksplorasi  potensi  masing-masing individu sebagai wahana  ekspresi  PAI,  yang hanya dalam  durasi  dua   jam pelajaran  di  kelas memang tidaklah  akan  cukup  untuk menyampaikan  informasi  keagamaan yang begitu komplek. Apalagi jika tidak pandai mensiasati proses  pembelajarannya,  tidak  tertutup  kemungkinan  informasi  yang diterima pelajar hanya akan menyentuh aspek kognitif, tidak sampai pada domain afektif dan psikomotor.  Upaya untuk mensiasati keterbatasan ruang dan waktu, pembelajaran PAI dapat dilakukan secara integral antara intra dan ekstra kurikuler, diantaranya adalah:

1)  Menyelenggarakan pembinaan Rohani Islam

Kegiatan pembinaan rohani Islam, dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh pelajar yang beragama Islam. Untuk mewujudkan kegiatan ini perlu elibuat program kerja yang matang sehingga dalam pelaksanaannya tidak berbenturan  dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya,  didanai  dengan dana yang cukup, materi yang disampaikan dapat menunjang materi intrakurikuler dengan  menggunakan  metode  yang menyenangkan  tapi tetap  edukatif  serta memanfaatkan tenaga pengajar yang ada di lingkungan sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam.

2) Mengkondisikan Sekolah Dengan Kegiatan Keagamaan

Suasana keagamaan atau dengan istilah ekstrim Islamisasi kampus, dimaksudkan agar seluruh warga sekolah terutama  yang beragama  Islam bisa menjalankan sebagian syariat Islam di lingkungan sekolah sehingga situasi kondusif bisa tercipta di lingkungan sekolah tersebut. Ini sesungguhnya adalah dalam rangka memenuhi ruang dan waktu pelajar agar tidak mencari atau memanfaatkan  jarak waktudan jarak ruang untuk hal-hal yang mengarah kepada tindakan anarkhis dan tawuran.

3) Menggunakan Metode Integrasi dalam KBM mapel.

Secara  sederhana,   integrasi   lebih   mudah   elijalankan dengan   metode   Insersi,  yaitu  car. menyajikan  bahan   pelajaran  dengan   cara;  intisari  ajaran  Islam  atau   jiwa  agama/emosi   religiusdiselipkan/ disisipkan di dalam mata pelajaran umum.[22]   Untuk  menggunakan  metode ini guru agama harus  bekerja  sama  dengan  guru  mata pelajaran  lain  (mata  pelajaran  umum)   agar  pesan-pesan keagamaan bisa disampaikan melalui pelajaran umum dengan cara yang sangat halus, sehingga hampir tidak terasa bahwa sesungguhnya saat itu para pelajar sedang mendapatkan  suntikan  keagamaan oleh guru mata pelajaran yang bukan pelajaran agama. (*)

Oleh: DR. M. Ihsan, M.Ag, Ketua Umum IKAQ

Tulisan ini disampaikan dalam Seminar dan Lokakarya “Tawuran Pelajar: Problem Tradisi, karakter, atau Kurikulum?”, 20 Oktober 2012 di Hotel Griptha Kudus



[1] Kamadi Hasan “Konsep Pendidikan Jawa”, dalam ]urnal Dinamika  Islam dan Budaya Jawa, No 3 tahun 2000, Pusat PengkajianIslam Strategis, lAIN Walisongo Semarang, 2000, hal. 29

[2] Paulo  Freire  dalam  Pendidikan:   Kegelisahan  Sepanjang  Zaman (Pilihan  Artikel  Basts),  Sindhunata  (editor), Kanisius, 2001, sebagaimana dikutip dalam Resensi Amanat, Edisi 84/ Februari 2001,hal. 16

[3] Baca Pengantar Malik Fadjar dalam Imam Tholkah, Membuka Jendela Pendidikan, Jakarta,Raja Grafindo Persada, 2004, hal. v

[4] Achmadi, Islam paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta : Aditya Media, 1992, hal. 16

[5]Muslim Kadir, Dasar-Dasar Praktikum keberagamaan dalam Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1992, hal 296

[6]Perintah ini harus dimaknai seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya yaitu melakukan observasi, eksplorasi ilmu, eksperinemntasi, kajian, studi, analisis, penelitian, riset, penulisan ilmu secara komprehenshif.

[7]Simak Hadits yang dikutip Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, kairo, 1969, hal 5 dan 89

[8] Humanisasi dan deh anisasi adalah dua hal yang bersifat antagonistik. Dehumanisasi dalam pendidikan dimaksudkan sebagai proses pendidikan yang terbatas pada pemindahan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). Sedangkan humanisasi merupakan proses pemberdayaan masyarakat melalui ilmu pengetahuan. Lil1at Paulo Freire, Politik  Pendidikan:  Kebudayaan, Kekuasaan danPembebasan, terj. Agung Priliantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto, Yogykarta,  Pustaka Pelajar & READ, 2002, hal. 190

[9]Munir Mulkhan, Nalar Spritual Pendidikan, Yogyakarta, Tiara wacana, 2002, hal. 127

[10]Ibid., hal 32

[11]Ibid., hal 119-120

[12] Zamakhsyari Dhofier, 1994, hal 21.

[13] Abd. Rachman Assegaf, Politik Pendidikan Nasional,· Pergeseran Kebijakan  Pendidikan Islam dari Proklamasi ke Reformasi, Yogyakarta, Kurnia Kalam, 2005

[14]Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingakat satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta, Raja Garfindo Persada, 2007, hal 211

[15] Nasution, Pengembangan Kurikulum,Bandtmg: PT Citra Aditya Bakti,1993, hal. 11

[16] Lihat  Marzuki  Wahid,  Pesantren Masa Depan;  Wa cana  Pemberdqyaan  dan TranifOrma si Pesantren,Bandung,Pustaka Hidayah,1999, hal. 223

[17] Zamakhsyari Dhofier,  Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta, LP3ES, 1994, hal. 16

[18] H.A.  Malik Fadjar  dalam  Kontekstualisasi Ajaran Islam 70 Tahun Munawir Sjadzal, Jakarta: kerja sama  IPHI  dan  Paramadina,1995, hal 513-514

[19] Dra. Zuhairi, dkk., Filsafat Pendidikan Islam,Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hal. 107-120

[20] Syed  Muhammad  Al-Naquib  Al-Attas,  The Concept  of  Education   in  Islam: A Framework   for  an  Islamic Philosop_of Education (Kuala  Lumpur:   Muslim  Youth Movement  of Malaysia, 1980), 90. Lihat pula Syed Muhammad Al-Naqwb Al-Attas, Islam and Secularism,Kuala  Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1978, hal. 18

[21] Ronald Alan Lukens-Bull, Jihad ala Pesantren di Mata Antropolog Amerika,Yogyakarta,Gama Media, 2004, hal. 149

[22]Interkoneksi dapat digunakan sebagai metode integrasi dan islamisasi. Lihat: Amin Abdullah dan Muslim Kadir

Studi Terapan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Al Qur’an sebagai sumber utama ajaran islam, Alqur’an dalam membicarakan suatau masalah sangat unik, tidak tersusun secara sistematis sebagaimana buku-buku ilmiah yang dikarang manusia. Alqur’an jarang sekali membicarakan suatu masalah secara rinci kecuali menyangkut masalah aqidah, pidana dan beberapa masalah tentang hukum keluarga. Umumnya Al Qur’an lebih banyak mengungkapkan suatu persoalan secara global, parsial dan sering kali menampilkan suatu masalah dalam prinsip-prinsip dasar dan garis besar. Dengan mengandalkan Al Quran semata sebagai sumber ajaran Islam belumlah cukup. Ini bukan karena kekurangan kitab tersebut tetapi untuk memahami dan menjabarkan ajaran perlu memperhatikan penjelasan Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapannya yakni As sunnah atau Hadits.

Sebagai penjelasan isi kandungan Al Qur’an, Sunnah mempunyai peranan yang penting terutama untuk menjelaskan secara rinci ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, zakat, haji dll.1

Cara menerapkan Al Qur’an dan As Sunnah dalam realitas terapan ada 3 cara :

  1. Menumbuhkan kesadaran pada Al Qur’an dan As Sunnah
  2. Mengaplikasikan ajaran-ajaran agama yang ada di Al Qur’an
  3. Menjaga eksistensi Al Qur’an

Dari 3 cara diatas, kita harus mengetahui bahwasanya umat Islam diperintahkan untuk membaca Al Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Artinya membaca Al Qur’an tidak hanya sekedar membaca, tetapi harus mengetahui maknanya dan isi kandungan Al Qur’an..Setelah kita mengetahui isi kandungan, maka kita harus mengaplikasikan atau mengamalkanya.

Al Quran dan As Sunnah dipandang dari sudut ilmu harus dibedakan, tapi dipandang dari sudut terapan keduanya harus menyatu, karena kedua-duanya harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Al Qur’an mengintroduksikan dirinya sebagai “pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS 17:19). Petunjuk-petunjuknya bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut. Rosulullah SAW yang dalam hal ini bertindak sebagai penerima Al Qur’an bertugas untuk menyampekan petunjuk-petunjuk tersebut.

Wajah Ganda BHP

Sebagian kita bersyukur dengan kehadiran UU No. 9 tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (UU-BHP), sebagian lain merutukinya. Apapun itu, yang jelas bila politik pendidikan relatif stabil seperti sekarang, tidak lama lagi unit-unit pendidikan formal-sekolah, madrasah, universitas-akan beralih rupa menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Sejumlah elemen, yang dapat kita sebut “kontra BHP”, secara hiperbolik meramalkan kelak ‘sekolah’ akan hilang, dilibas ‘badan hukum pendidikan’ (lihat misalnya buku Darmaningtyas, Subkhan, dan Fahmi-Panimbang,Tirani Kapital dalam Pendidikan: Menolak UU BHP [Badan Hukum Pendidikan] hal. 68). Kalau ini benar, nantinya kamus-kamus baru mungkin akan menempatkan ‘sekolah’ sebagai jenis kata archaic, kuno, old-fashioned.