JURNALIS ALUMNI QUDSIYYAH RAIH DIVERSITY AWARD 2016

QUDSIYYAH, JAKARTA – Salah satu kado indah diberikan alumni Qudsiyyah pada momentum ulang tahun ke 100 Madrasah Qudsiyyah Kudus. Furqon Ulya Himawan, alumni Qudsiyyah yang berkarir di dunia jurnalistik, meraih penghargaan Diversity Award 2016, akhir Agustus ini.

Karya jurnalistik yang dibuat oleh alumni Qudsiyyah tahun 2003 ini, terpilih menjadi berita media cetak terbaik versi Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (disingkat; Sejuk). Diversity Award 2016 adalah penghargaan karya jurnalistik tentang toleransi beragama. Program ini merupakan inisiatif Sejuk untuk memberikan apresiasi atas kerja-kerja jurnalistik yang mengimani bahwa keberagaman mesti dihargai dan dirayakan.

Karya Furqon Ulya Himawan yang bernaung di jurnalis Media Indonesia ini berjudul “Toleransi Memudar di Kota Pelajar”. Dalam berita itu, Yaya, sapaan akrabnya, mencoba memotret kejadian intoleransi yang ada di Kota Pelajar, Yogyakarta.

Ia bercerita, ide bermula ketika dirinya melihat banyak tindakan intoleransi yang terjadi di Yogyakarta. Padahal, kota pelajar itu terkenal sebagai ‘City of Tolerant’ sejak 2010-an.

“Kemudian dicoreng sendiri oleh orang-orang yang mengaku sebagai warga Jogja. Orang-orang yang mengaku beragama, tapi melakukan tindakan intoleran,” ungkap Yaya, sebagaimana dikutip dalam Metrotvnews.com usai menerima penghargaan di Goethe-Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Pada 2015 misalnya, banyak tindakan intoleransi terjadi di Yogyakarta. Mulai dari pembubaran acara diskusi, acara nonton film, dan acara-acara seni lainnya yang dinilai bertentangan dengan pemahaman keagamaan sejumlah warga. Pernah juga terjadi pembubaran terhadap pondok waria, bahkan sempat ada pula rencana penggusuran.

“Itu kan sebenarnya merupakan tindakan intoleran. Mereka membenarkan melakukan tindakan tersebut berdasarkan doktrin agama yang mereka miliki. Intinya, selain kelompok dia, salah semua,” terang Yaya.

Kebetulan, jelas Yaya, The Wahid Institute dan Setara Institute menobatkan Yogyakarta sebagai kota intoleran. Kota yang khas dengan makanan gudeg itu ada di deretan lima kota terbesar di Indonesia yang melakukan tindakan intoleran.

“Ini jadi dipertanyakan, karena Jogja sebagai City of Tolerant, tapi melakukan tindakan intoleran. Ini kan menarik jadi pertanyaan,” kata dia.

Alumni Qudsiyyah yang masih Jomblo ini berhasil menyisihkan dua jurnalis lainnya dalam daftar nominasi peraih Diversity Award 2016 kategori media cetak. Mereka adalah Kodrat Setiawan dari Koran Tempo, dan jurnalis Media Indonesia lainnya, Ardhy Winata Sitepu. Berita hasil karya Kodrat berjudul Pembongkaran Gereja Diwarnai Isak Tangis Jemaat, sementara berita hasil karya Ardhy yang masuk daftar nominasi berjudul Polemik Pendidikan Agama di Aceh Singkil.

Selain kategori media cetak, penghargaan Diversity Award 2016 juga diberikan untuk kategori radio. Jurnalis radio yang masuk nominasi antara lain Rio Tuasikal dari Radio KBR68H dan Margi Ernawati dari Radio Elshinta Semarang. Pemenang Diversity Award 2016 kategori Radio dimenangkan oleh Margi Enawati.

Sejuk juga memberikan penghargaan Diversity Award 2016 untuk kategori media foto. Ada tiga fotografer yang masuk daftar nominasi, yakni dua fotografer AFP Aman Rohman dan Hotli Simanjuntak (AFP), juga fotografer Antara Jessica H Wyusang. Penghargaan untuk kategori media foto diraih Jessica H Wuysang.

Sedangkan, dalam kategori media online, ada dua jurnalis yang masuk nominasi, yakni Abraham Utama dari CNN Indonesia dengan judul berita Yahudi dalam Bingkai Kebhinekaan Indonesia. Satu lagi Heyder Affan dari BBC Indonesia dengan judul berita Aliran Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia. Penghargaan dimenangkan oleh Heyder Affan. (*)

PROFIL IKAQ

Seiring dengan begulirnya waktu dan berkembangnya peradaban dunia, membuat segmentasi keilmuan dan keahlian mutakhorrijin Madrasah Qudsiyyah menjadi semakin kompleks dan beragam. Dari situlah akhirnya timbul semacam separasi tersendiri di antara sesama mutakhorijin Madrasah Qudsiyyah, khususnya dalam segmentasi kerja dan pola komunikasinya.

Pada posisi ini, tentunya dibutuhkan wadah organisasi alumni yang mampu melebur segala perbedaan yang ada dan berkembang di antara para alumni, yang dengan organisasi tersebut mampu kembali memperkuat spirit ke”Qudsiyyah”an yang kaffah dalam sanubari setiap alumni. Untuk mengakomodasi hal tersebut, maka dibentuklah Ikatan Alumni Qudsiyyah yang kemudian disingkat IKAQ sebagai media untuk merekatkan kembali antar mutakhorrijin dan madrasah Qudsiyyah.

Tak bisa dipungkiri Kelahiran IKAQ karena melihat perkembangan alumni Madrasah Qudsiyyah di mana tambah tahun semakin bertambah banyak jumlah alumninya.

Madrasah Qudsiyyah mulai eksis sejak 1917 dan menggunakan nama resmi “Qudsiyyah” sejak tahun 1919.  Saat itu madrasah Qudsiyyah hanya memiliki jenjang hingga Madrasah Ibtidaiyyah (MI). Kemudian pada 25 Mei 1952, Qudsiyyah mendirikan sekolah lanjutan pertama yang kemudian dikenal dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Menyusul kemudian Madrasah Aliyah Qudsiyyah berdiri pada 1 Oktober 1973.

Sejak itu alumni akan semakin banyak dan sulit untuk dipertemukan kembali. Berdasarkan hal tersebut, maka para alumni pun mempunyai inisiatif untuk membentuk organisasi yang menaungi para alumni. Organisasi ini dimaksudkan sebagai alat untuk mempersatukan kembali para alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Periode pertama kepengurusan IKAQ dipimpin oleh Mukhlisin sebagai ketua umum dan H Em Nadjib Hassan sebagai sekretaris. Salah satu kegiatan besar adalah peringatan wolu windu Madrasah Qudsiyyah pada Rabi’ul Awwal 1420 H bertepatan dengan Januari 1982, hasil kerja bareng IKAQ dengan Madrasah Qudsiyyah. Dalam peringatan kegiatan tersebut salah satunya menerbitkan majalah El Wijhah untuk pertama kalinya, yakni pada Januari 1982.

Pada tahun tahun 1994, IKAQ kemudian kembali bangkit setelah sebelumnya pernah beberapa tahun tidak aktif dan dibentuk kepengurusan baru yang dipimpin oleh H Durrun Nafis, SE sebagai ketua umum dan Ali Faiz, S. Ag sebagai sekretaris umum.

Dalam kepemimpinan H. Durrun Nafis, SE, berbagai kegiatan dilakukan. Salah satu kegiatan yang menjadi andalan kegiatan IKAQ adalah pertemuan besar tahunan yang berjuluk Halal bihalal alumni Madrasah Qudsiyyah. Kegiatan ini selalu dilaksanakan pada bulan Syawwal dengan mengudang seluruh alumni Madrasah Qudsiyyah dengan menghadirkan nara sumber para tokoh besar, baik sekaliber regional maupun nasional. Selain kegiatan halal bihalal, kegiatan IKAQ lainnya antara lain adalah mubahasah Diniyyah, halaqah alumni yang dilaksakan secara kondisional.

Perkembangan IKAQ kemudian ingin semakin berbenah dan ada penyegaran di tubuh kepengurusan. Hingga pada akhirnya dalam pertemuan halaqah II tahun 2009 pada malam Ahad Wage 30 Rabiul Awwal 1430 H dan bertepatan dengan 26 April 2009 M dibentuklah kepengurusan IKAQ yang baru, juga menentukan periodeisasi kepengurusaan IKAQ selama 5 tahun. Sebelumnya, kepengurusan IKAQ belum ada pembatasan periode.

Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, dalam Halaqah II yang bertempat di Aula Rumah KH Sayroni Ahmadi, serta dengan pemikiran yang mendalam dari peserta halaqah dari alumni madrasah Qudsiyyah, akhirnya terpilih H. Ihsan, M.Ag sebagai ketua umum IKAQ untuk periode 2009-2014.

Proses pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat di antara para alumni dengan dihadiri langsung oleh Nadhir Madrasah Qudsiyyah KH Sya’roni Ahmadi. Bahkan, KH Sya’roni Ahmadi menjadi penentu kemenangan H.M Ihsan, M.Ag setelah sebelumnya terjadi perdebatan yang cukup alot. Apakah pemilihan ketua IKAQ tersebut dilakukan secara voting atau secara musyawarah. Dan akhirnya pemilihan diserahkan kepada KH Sya’roni Ahmadi yang akhirnya memilih H Ihsan, M. Ag memangku jabatan ketua umum IKAQ hingga saat ini.

Pada pertengahan 2009 hingga tahun 2010, kepengurusan IKAQ berusaha melebarkan sayap. Ini dibuktikan dengan pembentukan kepengurusan IKAQ tingkat wilayah di masing-masing kecamatan serta koordinator di masing-masing desa, bahkan juga yang berada di luar Kudus. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mengorganisir seluruh alumni yang berpencar di berbagai daerah. Beberapa kepengurusan di tingkat wilayah yang sudah terbentuk antara lain, wilayah KOTA, wilayah BAE & DAWE, wilayah JATI, wilayah MEJOBO, wilayah KALIWUNGU, dan wilayah GEBOG. Sedangkan yang di luar Kudus antara lain wilayah KARANGANYAR DEMAK, wilayah MIJEN DEMAK, wilayah NALUMSARI JEPARA, wilayah MAYONG JEPARA, wilayah KOTA JEPARA, wilayah BATEALIT JEPARA, serta wilayah JAKARTA.

Selain IKAQ sebagai organisasi induk untuk mutakhoriijin Qudsiyyah, di beberapa daerah juga ada organisasi yang merupakan cabang dari IKAQ pada daerah tersebut. Organisasi tersebut antara lain :

  • Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS – Semarang)
  • At Tasywiq lil Qudsiyyah (ALQY – Jogja)
  • Forum Santri Qudsiyyah (FORSAQ – Jakarta)