SANTRI MI QUDSIYYAH GELAR UPACARA DAN NOBAR “SANG KYAI”

QUDSIYYAH, KUDUS – Pada hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2017, ratusan santri MI Qudsiyyah Kudus menggelar upacara Hari Kesaktian pancasila, di lapangan MI Qudsiyyah, Kerjasan Kota Kudus. Ratusan santri berseragam batik “kangkung”, seragam khas Qudsiyyah, berjajar rapi dalam barisan.

Dalam amanat upacara, kepala MI, M. Afthoni, menyerukan kepada seluruh santri untuk tidak melupakan sejarah. Sejarah perjanalan panjang kemerdekaan bangsa ini seyogyanya dijadikan acuan bagi generasi muda sekarang untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat kesatuan dan persatuan serta kedamaian negeri ini.

Lebih lanjut, kepala MI yang bertempat tinggal di Karangampel Kaliwungu Kudus ini berharap para santri dapat meneladani keberanian serta perjuangan para pahlawan bangsa. “Di hari kesaktian Pancasila ini, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengamalkan isi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, bersamaan dengan momentum Asyuro di bulan Muharram, juga dilaksanakan santunan Yatim bagi santri Qudsiyyah yang Yatim. Selain upacara dan santunan yatim, kegiatan yang dilaksankan tepat sesuai Tes Mid semester ini adalah berbagai macam kegiatan hiburan, seperti lomba anak-anak, seperti lomba mewarnai, lomba gelang sarung dan lomba pindah botol.

Juga, tak ketinggalan, acara juga dimeriahkan dengan nonton bareng film perjuangan. Film yang dipilih adalah film “Sang Kiai” yang mengangkat profil dan perjuangan ulama terkemuka KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Film yang diproduksi tahun 2013 ini dipilih karena sebentar lagi juga berbarengan dengan momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober, dimana film tersebut menceritakan tentang resolusi jihad, yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, terjadi tepat pada tanggal 22 oktober tahun 1945 di Surabaya. Resolusi ini dikeluarkan untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri Arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945, ia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris yang tewas saat itu.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.

Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjaah dari bumi Indonesia. Itulah mengapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. (Kharis)

PPQ Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik

QUDSIYYAH, KUDUS- Training Pres Jurnallistik oleh Perstuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) dilaksanakan pada Sabtu Legi –Ahad Pahing, 19-20 Agustus 2017. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan santri Tsanawiyyah Maupun Aliyyah Qudsiyyah, yang bertempat di Aula Ma’had , Lab MA dan Aula MA Qudsiyyah.

Kegiatan ini mengambil tema “Penguasan Teknologi Jurnalistik Santri”, dan bertujuan agar santri tidak ketinggalan dengan teknologi karena sekarang orang-orang lebih sering bermain dengan teknologi. Diharapkan, para Santri Qudsiyyah harus menguasai teknologi khususnya yang terkait dengan teknologi jurnalistik.

Secara khusus, Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan tentang dunia kejurnalistikan tetapi juga untuk memilih pimpinan redaksi (pimred) EL WIJHAH & EL QUDSY untuk tahun depan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan crew El WIjhah dan EL Qudsy dapat lebih baik dari tahun sebelumnya.

Acara ini berlanggsung dengan meriah. Pasalnya acara ini dapat mendatangkan Alumni Qudsiyyah yang sudah lama menggeluti dunia tulis menulis. Salah satu pemateri,Nor Kholidin, dari Jepara mengatakan, dunia kejurnalistikan itu dunia yang seru. “ Selain bisa menambah pengetahuan juga bisa menambah teman,” kata dia.

Pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan supaya Madrasah Qudsiyyah tidak tertinggal dengan madrasah lain. “Mereka sudah sanggat canggih dalam jurnalistik,” ujar Yusrul Wafa, alumni yang kini aktif di dunia bloger dan Youtube ini. (M Khoirul umam-Saiful effendi-Salahudin Yusri/Kharis)

PERINGATAN RAJABIYYAH MI QUDSIYYAH MENGAJAK GIAT SHOLAT

QUDSIYYAH, KUDUS – Setelah sukses dengan Peringatan Rajabiyyah dan MBSR di gedung YM3SK pada Sabtu, 13 Mei 2017, hari ini (Ahad, 14/05/2017) PPQ menggelar acara yang sama dengan peserta santri pada tingkatan Ibtidaiyyah. Acara ini berlangsung mulai pukul 08.00 – 10.30 yang bertempat di Aula Tanah Mas MA Qudsiyyah.

Acara ini berlangsung cukup meriah. Selain diisi mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz, acara ini juga dihadiri oleh pihak kepolisian Polsek Kota Kudus.

Kepada seluruh santri yang hadir, pihak kepolisian menyampaikan pesan tentang ajakan untuk menjauhi narkoba. Selain itu juga menyampaikan pentingnya disiplin lalu lintas. Gemuruh suara santri-santri Ibtidaiyyah pun pecah seketika saat para polisi berinteraksi dengan santri-santri Qudsiyyah.

Pesan-pesan yang disampaikan dalam mauidhoh hasanah oleh Ustadz Muhammad Hamdan Al Hafidz antara lain menggemakan ajakan bagi para santri untuk lebih giat melaksanakan sholat. Ini karena sebagai buah manis dari perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Acara ini berlangsung dengan lancar. Alunan nada terbang dari Al-Mubarok Kids pun menutup acara ini dengan wajah bahagia dari santri-santri Ibtidaiyyah yang beranjak pulang. Rangkaian acara yang berlangsung antara lain, pembukaan, pembacaan ayat suci al Qur’an dan Sholawat Asnawiyah, tahlil, sambutan ketua panitia, sambutan kepala MI, sosialisasi dari kepolisian, mauidhoh hasanah dan terakhir penampilan Renana dari santri-santri MI Qudsiyyah yang tergabung dalam Al-Mubarok Kids. (M Iqbal Marzuqi/Kharis)

Puluhan Santri Khataman Alfiyyah di Makam KH Ma’ruf Asnawi

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada pemandangan yang berbeda di pagi ini. Pada Kamis 14 Sya’ban 1438 H bertepatan tanggal 11 Mei 2017 TU sekitar pukul 10.00 di bawah pohon kamboja di area pemakaman Sedio Luhur Bakalan krapyak sejumlah santri sedang berkumpul di dekat makam shohibul fadlilah simbah KH Ma’ruf Asnawi.

Mereka adalah para santri kelas 12 MA Qudsiyyah. Dengan mengenakan baju batik “Kangkung” dan bersarung santri-santri itu berkumpul membentuk setengah lingkaran menghadap ke timur. Mereka melantunkan bait demi bait Nadham Alfiyyah Ibnu Malik, dan ditashih hafalannya. Mereka “sema’an” Nadham Alfiyah bersama para santri yang telah hafal 1002 bait utuh. Sebanyak 17 santri kelas 12 Aliyah berani unjuk gigi disimak dan disaksikan teman-temannya. Santri yang dinyatakan lolos akan mendapatkan syahadah yang akan dibagikan saat Muwadda’ah. Adapun tim pentashih khataman tersebut salah satunya H. Ashfal Maula.

Dipilihnya lokasi di makam simbah KH Ma’ruf Asnawi selain tempatnya yang adem juga untuk mengenalkan sosok Mbah Ji (sebutan akrab untuk simbah KH Ma’ruf Asnawi) kepada para santri. Semasa hidupnya, mbah Ji adalah pribadi yang sangat cinta terhadap Alfiyyah. “Saat masih sugeng mbah ji suka wiridan dan mendengarkan alfiyyah, jadi kita baca menurut apa yang disenangi beliau” ujar gus Apank menjelaskan.

Adapun santri yang ikut hafalan Alfiyyah tersebut adalah Ahmad Multazam, Achmad Aan Nahruddin, Atsnan Naja, Auva Nashan Mushoffa, Eko Nuristianto, Khusnil Mubarok, M. Haqul Muttaqin, M. Irfan Maulana, M. Bahrul ‘Ulum, M. Zuhal Fahmi, M. Shofiyullah, M. Agil Mubarok, Sani M Asnawi, M. Faiz Muzakki, M. Noor Halim, Agung Sulistyo, M. Nouris Sakhok, Lukman Nur Romadlon, Zusrul Hana, dan M. Wahyu Waliyyur Rohman.

Setiap tahun Madrasah Qudsiyyah memberikan apresiasi khusus bagi mereka yang dengan suka hati telah menghafal Alfiyyah utuh 1000 bait. Apresiasi itu berbentuk Syahadah yang ditandatangani oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah dan dibagikan saat Muwada’ah umum yang dihadiri wali santri kelas 6 MI, 9 MTs dan 12 MA.

Diharapkan para santri Qudsiyyah bisa meneladani para seniornya yang mampu menjaga hafalan Alfiyyah hingga lulus sebagai modal menghadapi tantangan zaman. Nadham Alfiyyah Ibnu Malik merupakan salah satu kitab terkenal di kalangan pesantren yang berisi tentang struktur bahasa Arab sebagai salah alat untuk membaca dan memahami kitab kuning. (Yasfin/Kharis)

MTS – MA Qudsiyyah Siap Jalankan UNBK

QUDSIYYAH, KUDUS – Madrasah Tsanawiyah Qudsiyyah dan Madrasah Aliyah Qudsiyyah Kudus siap melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2017 ini. Berbagai langkah dan persiapan sarana prasarana telah rampung dilakukan.

Persiapan yang telah dilaksanakan adalah dengan menyiapkan dua ruang lab komputer yang terintegrasi dengan server. Masing-masing lab terdiri atas 36 unit komputer dan satu unit server yang telah rampung dilakukan singkronisasi. Dari jumlah siswa yang ikut UNBK di MTs dan MA, dua lab komputer sudah cukup dengan asumsi pelaksanaan tiga sesi, yakni sesi pagi, siang dan sore.

Untuk tahun ini, jumlah siswa Aliyah Qudsiyyah yang ikut UNBK sebanyak 184, sedang untuk MTs jumlah siswa kelas IX yang ikut UNBK sebanyak 183 orang.

Sebagaimana dirilis oleh website resmi Kemdikbud, UNBK disebut juga Computer Based Test (CBT), yakni sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Pada tahun 2016 dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1298 SMA/MA, dan 2100 SMK.

Penyelenggaraan UNBK tahun 2017 ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online. (Kharis)

Empat Piala Diraih MI Qudsiyyah pada Bangau Ruyung Cup

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebanyak Empat piala diraih oleh altet-atlet pencak silat dari MI Qudsiyyah dalam Bangau Ruyung Cup VII antarpelajar tingkat SD/MI, SMP-SMA sederajat tingkat kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak 2017. Kejuaraan ini rutin digelar setiap tahun secara berkala dan pada tahun ini dilaksanakan di GOR Kudus, pada Ahad-Senin, 28-29 Januari 2017.

Empat santri yang meraih juara tersebut adalah Panca Akbar, Luthfi Hakim, Mirza Royyani dan Ahmad Rezal Efendi.keempatnya merupakan siswa kelas VI MI Qudsiyyah Kudus yang mengikuti ekstra kulikuler pencak silat dan ikut lomba dalam event Bangau Ruyung Cup.

Panca Akbar sukses meraih juara I putra dalam kategori tanding kelas D tingkat SD/MI. Luthfi Hakim meraih juara dua dalam kategori tanding kelas bebas, Mirza Royyani meraih juara III kategori tanding kelas bebas dan Ahmad Rezal Efendi sukses menyabet juara tiga Putra dalam kategori tanding kelas C.

Kesuksesan tersebut merupakan salah satu prestasi yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Padepokan Bangau Ruyung adalah salah satu kelompok pencak silat besar di kabupaten Kudus. Dalam hal ini, selama kurang lebih tiga tahun terakhir, ektra kulikuler pencak silat yang diadakan di Madrasah Qudsiyyah adalah hasil kerjasama dengan pedepokan Bangau Ruyung. Ekstra Kulikuler Pencak silat di Qudsiyyah sendiri digelar setiap dua kali dalam sepekan yang dilaksanakan di lapangan Qudsiyyah dan diikuti oleh santri MI, MTs dan santri Aliyah. (Kharis)

Hari Santri Nasional di Qudsiyyah

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebagai lembaga pendidikan peninggalan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KHR Asnawi, Madrasah Qudsiyyah tak mau ketinggalan dalam merayakan momentum Hari Santri Nasional. Berbagai event dan kegiatan dilaksanakan oleh lembaga yang telah berusia seratus tahun ini. Diantaranya, diskusi, pembacaan Sholawat Nariyah, istighosah dan Upacara Hari Santri.

Pada Sabtu pagi (22/10/2016) sekitar 1500 santri melaksanakan upacara hari santri di Lapangan Qudsiyyah, di Jl KHR Asnawi Kudus. Dalam kesempatan tersebut seluruh santri mengenakan sarung dan baju putih. Seluruh santri mulai dari santri MI, MTs, dan MA berbaur menjadi satu di lapangan di Jl KHR Asnawi No 32 Kudus.

Selain melaksanakan upacara di lapangan Qudsiyyah, sebagian santri Qudsiyyah juga turut serta melaksanakan upacara di alun-alun simpang tujuh Kudus. Sekitar 50 santri Ma’had, 50 santri MTs dan 50 santri MA mewakili upacar di pusat kota kretek tersebut bersama ribuan santri lain seluruh kabupaten.

Sehari sebelumnya, ratusan santri Ma’had Qudsiyyah juga menggelar event “Diskusi Kalem” dengan tema “Mengenal Karakter Santri berdasarkan Jenis Golongan Darah”. Dalam kesempatan tersebut, salah satu motivator yang didatangkan adalah Herni Soesongko. Melalui game yang menarik, dia memberikan motivasi dan gambaran karakter dengan pendekatan golongan darah.

Terlihat, para santri cukup antusias dan tertarik pada acara yang digelar pada Kamis malam (20/10/2016) dengan materi yang diberikan. Ditambah, dalam kesempatan tersebut, salah satu produk makanan memberikan “bonus” mie instan siap saji lengkap dengan minumannya kepada seluruh santri Ma’had. (*)

QUDSIYYAH RAYAKAN MOMENTUM HARI SANTRI

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebagai lembaga pendidikan peninggalan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KHR Asnawi, Madrasah Qudsiyyah tak mau ketinggalan dalam merayakan momentum Hari Santri Nasional.

Berbagai event dan kegiatan dilaksanakan oleh lembaga yang telah berusia seratus tahun ini. Diantaranya, diskusi, pembacaan Sholawat Nariyah, istighosah dan Upacara Hari Santri. Pada Sabtu pagi (22/10/2016) sekitar 1500 santri melaksanakan upacara hari santri di Lapangan Qudsiyyah, di Jl KHR Asnawi Kudus.

Dalam kesempatan tersebut seluruh santri mengenakan sarung dan baju putih. Seluruh santri mulai dari santri MI, MTs, dan MA berbaur menjadi satu di lapangan di Jl KHR Asnawi No 32 Kudus. Selain melaksanakan upacara di lapangan Qudsiyyah, sebagian santri Qudsiyyah juga turut serta melaksanakan upacara di alun-alun simpang tujuh Kudus.

Sekitar 50 santri Ma’had, 50 santri MTs dan 50 santri MA mewakili upacar di pusat kota kretek tersebut bersama ribuan santri lain seluruh kabupaten. Sehari sebelumnya, ratusan santri Ma’had Qudsiyyah juga menggelar event “Diskusi Kalem” dengan tema “Mengenal Karakter Santri berdasarkan Jenis Golongan Darah”. Dalam kesempatan tersebut, salah satu motivator yang didatangkan adalah Herni Soesongko. Melalui game yang menarik, dia memberikan motivasi dan gambaran karakter dengan pendekatan golongan darah. Terlihat, para santri cukup antusias dan tertarik pada acara yang digelar pada Kamis malam (20/10/2016) dengan materi yang diberikan. Ditambah, dalam kesempatan tersebut, salah satu produk makanan memberikan “bonus” mie instan siap saji lengkap dengan minumannya kepada seluruh santri Ma’had. (*)

K.H. Mahfudz Durry Tutup Usia

QUDSIYYAH, KUDUS – Keluarga besar Qudsiyyah Kudus berduka. Salah satu guru sepuh, KH. Mahfudz Durry meninggal dunia saat menjalani pengobatan di RS Karyadi Semarang, sekitar pukul 07.00 hari Sabtu Legi, 7 Muharram 1437 H bertepatan dengan 8 Oktober 2016 Tahun Umum (TU).

Guru sepuh yang telah mengabdikan diri pada madrasah Qudsiyyah lebih dari 40 tahun ini meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Lahir pada 31 Desember 1952, sosok guru yang berdomisili di Singocandi Rt 03 Rw 02 Kecamatan Kota kabupaten Kudus ini mulai mengabdikan di Qudsiyyah sejak Juni 1976.

Rencananya almarhum akan dimakamkan di makam desa Singocandi pada Sabtu sore (08/10/2016) sekitar pukul 16.00 WIB. Kelurga yang ditinggalkan almarhum adalah seorang istri, 9 putra putri dan 10 orang cucu.

Keluarga besar Qudsiyyah dan redaksi Qudsiyyah.com berdo’a semoga semua amal kabaikan diterima dan dilipatgandakan pahalanya dan segala kekhilafan diampuni Allah, Rabb Yang Maha Pengampun.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأدخله فسيح جنته، له الفاتحة …..

SANAD ALFIYYAH DI QUDSIYYAH BERSAMBUNG PADA MBAH KHOLIL BANGKALAN

DI kalangan pesantren, nama Syaikhona Kholil Bangkalan sangat popular sebagai ulama pertama yang membawa nadzom Alfiyyah ke tanah Jawa. Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah KH. Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim. Kiai Abdul Karim adalah putra Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sedang Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sewaktu menjadi Santri, Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan kitab, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran dan bahkan beliau juga mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Selama nyantri di Makkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Adapun gurunya yang lain ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sanad Alfiyyah di Qudsiyyah

Madrasah Qudsiyyah, salah satu madrasah tua di Kudus masih mempertahankan kurikulum salaf yang diantaranya adalah mapel Nahwu dan Shorof. Dalam fan ini, Qudsiyyah masih konsisten menggunakan nadzam Alfiyyah sebagai rujukan materinya. Adapun ketika di MTs Qudsiyyah maka menggunakan kitab tarjamah Alfiyyah hasil karya guru Madrasah Qudsiyyah sendiri. Sedang di MA Qudsiyyah menggunakan kitab syarah Ibnu Aqil.

Sanad nadzam Alfiyyah di Qudsiyyah sendiri bersambung pada saikhona Kholil Bangkalan, salah satu ulama’ yang terkenal dengan kewaliannya. Adapun jalur sanad tersebut adalah :
1. KH. Nur Halim Ma’ruf (beliau mendapatkan sanad Alfiyyah dari ayah beliau sendiri, KH. Ma’ruf Asnawi)
2. KH. Ma’ruf Asnawi mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Ahmad Tarwadi Solo
3. Syekh Ahmad Tarwadi Solo mendapat sanad dari guru beliau, Syekh Kholil Rembang
4. Syekh Kholil Rembang mendapat sanad dari guru beliau, Saikhona Kholil Bangkalan

Di madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1919 ini, hafalan nadzom Alfiyyah merupakan materi wajib yang harus dihafalkan oleh santri sebagai syarat kenaikan kelas. Hal ini dilakukan untuk menjaga tradisi ulama terdahulu dalam menghafal nadzom yang berjumlah 1002 bait tersebut. Dan bagi santri yang telah hafal 1002 bait akan diberi syahadah/piagam sebagai apresiasi terhadap santri ketika Muwada’ah kelulusan kelas 12 MA Qudsiyyah.

Alfiyyah memang menarik dan menjadi materi wajib untuk setiap santri di berbagai pondok pesantren Nusantara ini tak terkecuali Qudsiyyah. Menghafal Alfiyyah memang membutuhkan usaha keras, namun ketika kita sudah menghafalnya maka janji dari Syekh Ibnu Malik pasti akan terwujud.
تقرب الاقصى بلفظ موجز * وتبسط البذل بوعد منجز
Semoga dengan masih mempertahankan ajaran salafuna al sholih kita selalu mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Amiin.