GEDUNG QUDSIYYAH PUTRI MULAI DIBANGUN

QUDSIYYAH, KUDUS – Pembangunan gedung baru di tanah Qudsiyyah yang berada di wilayah desa Singocandi kecamatan Kota kabupaten Kudus, mulai dibangun pada Sabtu Pahing (20/8/2016). Di tanah seluas sekitar 3548 meter persegi ini direncanakan bakal dibangun gedung untuk pondok pesantren putri dan sekolah Qudsiyyah putri.

Pencangkulan pertama dilakukan oleh ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah, KH Em Nadjib Hassan, dilanjutkan oleh Al Mudirul Am Qudsiyyah, KH Nur Halim Ma’ruf, Wakil Al Mudirul Am, KH Fathur Rahman, para sesepuh Qudsiyyah, KH Sugiarto, KH Ahmad Sudardi dan KH Nur Hamid.

Sebelum pencangkulan, acara dimulai dengan doa rasul oleh Nadhir Qudsiyyah, KH M Sya’roni Ahmadi, di kediaman beliau di Pagongan Kajeksan Kota Kudus. dilanjutkan dengan istighosah dan manaqib yang dilaksanakan di tanah Qudsiyyah di desa Singocandi.(*)

SANTRI QUDSIYYAH GELAR UPACARA HUT RI

QUDSIYYAH, KUDUS – Madrasah Qudsiyyah yang didirikan oleh KHR Asnawi menggelar upacara bendera dalam rangka HUT RI ke 71. Acara yang berlangsung di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 32 Kudus pada Rabu (17/8/2016) berjalan lancar dan hikmat.

Dalam sambutannya, kepala MA Qudsiyyah, Fahruddin,M.Pd.I menekankan perlunya merawat dan memperkuat jiwa Nasioalisme sebagaimana KHR Asnawi dulu ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. “100 tahun sudah simbah KHR Asnawi mendirikan madrasah. Saat itu mendirikan madrasah adalah tantangan besar karena harus berhadapan denga kolonial penjajah,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan semoga Qudsiyyah mampu mencetak generasi Santri yang melek peradaban serta mampu menjaga NKRI.

Selain doa kepada para pahlawan yang telah Gugur, dalam upacara yang digelar di lokasi yang sama dengan acara puncak satu abad Qudsiyyah tersebut juga dinyanyikan lagu 17 Agustus dan Syukur karya Habib Husein Al-Mutohar. Tidak ketinggalan Sholawat Asnawiyyah yang didalamnya berisi doa-doa untuk Indonesia juga didengungkan dengan penuh hikmat. (*)

PENTING, SINERGI GURU DAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK

QUDSIYYAH, KUDUS – Mendidik anak harus sinergi antara guru dan wali santri. Karenanya perlu adanya persamaan persepsi dan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru sehingga tidak timbul kegaduhan semacam orang tua menyalahkan Guru atau sebaliknya. Oleh karenanya, MA Qudsiyyah Kudus melakukan sosialisai dan sharing pendapat dengan orang tua santri yang diselenggarakan di aula MA pada Ahad (14/8/16).

Kegiatan ini dilaksanakan guna menemukan titik temu dan persamaan persepsi antara guru dan wali santri dalam mendidik anak. Sebanyak 210 Wali santri kelas 10 hadir untuk mendapatkan informasi tentang tata tertib madrasah, materi pelajaran, guru pengampu dan lain sebagainya.

Dalam sambutannya, al Mudirul Am Qudsiyyah, KH. Nur Halim Ma’ruf berpesan kepada para wali santri agar jangan bosan mengingatkan anak sendiri dan berdoa kepada Allah untuk kebaikan anak kita. Beliau menambahkan agar anak kita menjadi anak yang sholeh ada baiknya disedekahi dengan cara menyisihkan sebagian rejeki kita kepada anak yatim karena doa anak yatim sangat mustajab.

Kepala MA Qudsiyyah, Fahruddin, M.Pd.I, mengatakan, meskipun di MA Qudsiyyah Kudus sudah menggunakan absensi finger print dan ada CCTV di masing-masing kelas, namun kontrol orang tua sangat diperlukan. “Kita harus sama-sam mendidik untuk mewejudkan anak yang sholeh dan berkualitas,” kata Fahruddin.

Dengan kegiatan seperti ini diharapkan agar orang tua dan guru satu pemahaman dalam hal mendidik anak. Sehingga kejadian seperti yang menimpa guru Dasrul di Makassar tidak perlu terjadi di Kudus. (*)

Qudsiyyah Gelar Rajabiyyah dan MBSR

Rajabul Ashom, bulan yang dimuliakan oleh Allah dimana Nabi-Nya diberangkatkan dan diangkat dalam prosesi Isra’ Mi’raj. Sebagai generasi penerus umat Muhammad SAW memperingati Rajabiyyah adalah cara kita merayakan dan merefleksi kejadian agung silam. Bersama PPQ, Qudsiyyah menggelar Rajabiyyah dan MBSR (Menyongsong Bulan Suci Ramadlan) pada Rabu (4/5) di 2 tempat sekaligus. Santri MI bertempat di Lantai 2 Gedung MI Qudsiyyah, sedangkan kegiatan untuk santri MTs dan MA dipusatkan di Gedung YM3SK.

Menurut panitia pelaksana, Kegiatan rajabiyyah tidak hanya memperingati isra’ mi’raj tetapi sebagai bentuk ta’dhim bulan rajab yang penuh dengan fadhilah. Adapun MBSR memang telah menjadi tradisi di Qudsiyyah dalam menyambut bulan Ramadlan.

Dengan mengadakan pengajian dan menyerukan akan dekatnya bulan puasa, santri dibekali bentuk-bentuk ibadah dalam Bulan Ramadlan. Tradisi MBSR telah ada di Qudsiyyah sejak lama dan diprakarsai oleh KH. Sya’roni Ahmadi. Sebuah hadits menerangkan bahwa bahagia memasuki Bulan Ramadlan akan dijamin dari api neraka.

Menurut Salah satu staf guru, Ali Yahya, untuk tahun ini, MBSR dibarengkan dengan rajabiyyah karena tuntutan kalender pendidikan, biasanya MBSR diadakan pada bulan Sya’ban akan tetapi tahun ini tidak sesuai jadwalnya.

 

Qudsiyyah Buka Pendaftaran Santri Baru

Menanamkan ajaran islam dan ilmu terkait secara tepadu melalui pendidikan formal, non-formal maupun informal dilaksanakan Madrasah Qudsiyyah yang telah berusia 1 abad dengan sepenuh hati.

Meneruskan amanah dari KHR. Asnawi yang merintis madrasah Qudsiyyah tahun 1337 H. / 1919 M., Qudsiyyah merupakan instansi akademis yang beakidahkan ahlus sunnah wal-jama’ah berdasarkan ajaran ulama salaf. Serta, mengadopsi kurikulum dari kementerian Agama Republik Indonesia yang mencakup mata pelajaran yang diujikan dalam UAMBN, UN dan UM.

Diasuh oleh para pendidik dan pengajar yang berkualitas, berintegritas dan berpengalaman;

  • KH. M. Sya’roni Ahmadi
  • KH. Nur Halim Ma’ruf
  • KH. Fathur Rahman
  • Para Mutakhorrijin Pondok Pesantren Salaf
  • Sarjana D2, D3, S1, S2

Didukung dengan fasilitas yang memadai seperti laboratorium IPA, Bahasa dan Komputer. Lapangan dan Kelas yang telah memenuhi standar untuk kenyamanan peserta didik.

Download Brosur Pendaftaran Santri Baru Qudsiyyah tahun ajaran 2016-2017 disini.

Pendaftaran santri baru secara resmi dilaksanakan pada 7 – 17 Ramadlan 1437 H. /12 – 22 Juni 2016 M. namun santri dapat mendaftarkan diri sebelum tanggal tersebut di Kantor Tata Usaha Madrasah Tsanawiyyah Qudsiyyah Kudus.

Konferensi Pers Jelang Rangkaian Kegiatan 1 Abad

QUDSIYYAH, KUDUS – Tiga hari sebelum  dimulainya rangkaian event 1 Abad Qudsiyyah, panitia dan YAPIQ (Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah) mengadakan Konferensi Pers yang bertempat di MA Qudsiyyah. Konferens

i pers dihadiri puluhan media baik cetak, siar maupun online. Dipimpin langsung oleh Ketua panitia, DR. Ihsan, M.Ag didampingi Sekretaris panitia, DR. Abdul Jalil, M.E.I. dan dihadiri oleh Drs. Em. Nadjib Hassan selaku Ketua YAPIQ.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperjelas informasi perihal kegiatan 1 abad yang akan berlangsung bulan April sampai Agustus 2016.  Mengankat tema “Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”, rangkaian kegiatan 1 Abad Qudsiyyah melaksanakan 23 kegiatan yang dibalut kearifan lokal khas Kudus. Gusjigang sendiri merupakan term jawa yang berarti Bagus, Ngaji dan Dagang. Menurut Ihsan, di Kota Kudus, Gusjigang sendiri merupakan patron dan perlu dibumikan secara nasional.

Abdul Jalil menjelaskan situs “Menara Kudus” sebagai latar belakang event 100 abad ini. Merupakan bangunan yang dibangun dengan semangat pluralism dan mengenyampingkan fundamentalisme dan egoisme etnis dan agama. Karenanya, sudah seharusnya dengan semangat kebersamaan ini, Qudsiyyah menghadirkan kegiatan demi kegiatan berbasis local wisdom. Jalil menambahkan kegiatan 1 abad tidak hanya mencerminkan bagus saja, kegiatan akademis juga ditonjolkan memaknai term “ngaji”, sedangkan dagang direalisasikan dengan kegiatan expo.

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Ketua Panitia Memberikan Penjelasan Event 1 Abad Qudsiyyah Terdekat

Menara diangkat oleh panitia sebagai logo 1 abad qudsiyyah, menanggapi hal itu, Abdul Jalil memaparkan eksistensi Menara Kudus sebagai simbol pluralism. Secara arsitekstur, tubuh Menara bercorak Hindu dengan atap khas Islam dan tempat wudlu ala budha yang disatukan di satu tempat peribadatan. Ia menambahkan bahwa sejarah mengungkapkan bahwa Kudus didirikan atas 3 etnis yakni Jawa, Cina dan Arab. Nadjib Hassan menambahkan bahwa kawasan Menara adalah pusat penyebaran islam di Kudus, dan Qudsiyyah mengakar disana. Bukannya tidak sengaja, Qudsiyyah didirikan oleh Mbah Asnawi yang juga cucu Sunan Kudus dalam rangka melestarikan dan melanjutkan dakwah dalam bentuk klasikal (berdasarkan kelas).

Lewat rangkaian kegiatan yang direncanakan, Qudsiyyah hendak memperkenalkan sholawat asnawiyyah dari Mbah Asnawi sebagai sholawat kebangsaan. Ihsan menyinggung usaha Qudsiyyah agar sholawat asnawiyyah tidak hanya milik orang Kudus, akan tetapi lebih luas di lingkungan nahdliyyin. Jalil mengklaim bahwa syair sholawat asnawiyyah adalah satu-satunya yang menyebutkan dan mendoakan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara jelas. Sehingga sudah sepatutnya sholawat Asnawiyyah menjadi sholawat kebangsaan dan dikenal secara nasional. Untuk itu, panitia juga telah menyiapkan seminar nasional yang didedikasikan untuk mendaulat sholawat asnawiyyah yang akan dihadiri oleh Cak Nun. Selain itu secara simbolis, Qudsiyyah akan menyerahkan sholawat Asnawiyyah ke Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai kampanye sholawat kebangsaan.

Rencananya, puncak acara akan dilaksanakan Agustus 2016 dengan kegiatan “Jagong Kamulyan”. Even ini merupakan pertemuan yang akan melepas semua atribut agama dan ego etnis yang menjadi sekat di dalam kultur masyarakat. Mbangun Kudus sebagai agenda utama dengan meneladani mbah Asnawi dan mengembalikan lagi pluralisme yang kian luntur di masyarakat. Jalil menambahkan sudah saatnya masyarakat duduk bersama dan Qudsiyyah sebagai civic menjadi yang terdepan melaksanakannya.

Di akhir, konferensi pers, Nadjib Hassan berharap 1 abad usia Qudsiyyah menjadi momentum revitalisasi madrasah dimana peran madrasah dituntut untuk tetap eksis mencerdaskan bangsa. Qudsiyyah akan terus mencoba menangkap dan mewujudkan visi misi pendirinya, Mbah Asnawi secara presisi dan meneruskan dakwah beliau.

Qudsiyyah Gelar Maulid Nabi

QUDSIYYAH, KUDUS – Sebelum libur semesteran, Madrasah Qudsiyyah Kudus, pada Sabtu (19/12/2015) melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bertempat di lapangan MTs Qudsiyyah, acara ini berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar 1500 santri dari MTs dan MA Qudsiyyah.
Dalam rangkain acaranya, dimulai dengan pembacaan ayat suci al Qur’an dilanjutkan dengan shalawat Asnawiyyah dan pembacaan Maulid Simtud Duror. Dengan iringan grup rebana Al Mubarok, acara maulid tersebut semakin meriah. Dalam Mauidhoh yang disampaikan oleh sesepuh Qudsiyyah, KH Sya’roni Ahmadi. Beliau berpesan agar saat peringatan Maulid Nabi menghadirkan rasa cinta terhadap Nabi.

Beliau mencontohkan apa yang dilakukan Abu Lahab, paman Nabi, saat mendengar kelahiran Nabi. Abu Lahab riang gembira dan juga memerdekan budaknya yang bernama Tsuwaibah.“Karena kegembiraan Abu Lahab itu, ia yang telah dicap kafir dan masuk neraka, setiap hari Senin siksanya dikurangi,” ungkap KH Sya’roni.
Beliau melanjutkan, orang kafir saja bisa dikurangi siksanya, apalagi orang mukmin yang cinta dan mengagungkan Nabi. Selanjutnya, Mbah Yai Sya’roni berpesan agar dalam peringatan Maulid Nabi ini setelah cinta dan mengungkan nabi dan meniru dan meneladani akhlak Nabi. “Kalau belum bisa sepenuhnya, maka dimulai sedikit demi sedikit,” katanya. Terakhir, Nadhir Qudsiyyah ini berpesan kepada seluruh santri Qudsiyyah agar menjadi santri yang Shalih, yang ibadahnya tekun serta perilakunya baik di masyarakat.

Mauidhoh berikutnya, disampaikan oleh Al-Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah, KH. Nur Halim Ma’ruf. Dalam pesannya, beliau menyampaikan pentingnya meningkatkan ibadah bagi santri, khususnya sholat jama’ah.
Dalam acara tersebut juga di akhir acara dibagikan hadiah bagi para pemenang yang telah mengikuti lomba classmeeting yang digelar oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) selama lima hari sebelumnya, yakni pada Ahad – Kamis, 13-17 Desember 2015. Sementara itu untuk santri tingkat MI, pada hari yang sama juga digelar peringatan Maulid Nabi yang bertempat di Aula MI Qudsiyyah Kudus. (*)

QURBAN DAN BAKSOS DIMERIAHKAN TARI SUFI

QUDSIYYAH, KUDUS – Ada yang berbeda dalam kegiatan Qurban dan Baksos tahun ini. Kegiatan yang rutin digelar setiap Idul Adha oleh Persatuan Pelajar Qudsiyyah (PPQ) ini digebyar dengan nuansa satu abad Qudsiyyah.
Acara yang dihelat selama tiga hari pada Kamis-Sabtu (23-25/09/2015) di lapangan Peganjaran Kudus ini memang menjadi bagian dari rangkaian gebyar satu abad Qudsiyyah Kudus yang puncaknya akan digelar pada Juli 2016 mendatang.

Berbagai acara turut memeriahkan acara utama Qurban dan Baksos ini, antara lain kegiatan bazar dan pameran oleh alumni dan Madrasah Qudsiyyah Kudus. Serta acara puncak pada peringatan ini adalah pengajian umum yang dimeriahkan dengan grup rebana Al Mubarok, Tari sufi serta dengan pembicara utama KH. Ahmad Asnawi Kudus.

IMG_7040Sebanyak empat penari sufi turut memeriahkan pembacaan maulid nabi Simtudduror dalam pengajian tersebut. Selain tari sufi yang menjadi banyak perhatian masyarakat adalah adanya pameran dan bazar dari produk dari alumni Qudsiyyah. Sebanyak 20 stan disiapkan untuk menampung pameran dan produk-produk dari alumni dan pemaran andalan dari Qudsiyyah sendiri.

Salah satu stand yang banyak menjadi tujuan adalah stand kaligrafi. Di sini di stand madrasah Qudsiyyah ini diberikan kaligrafi gratis penulisan nama dengan kaligrafi arab. Setiap pengunjung mendapatkan tulisan kaligrafi arab yang diberikan secara cuma-cuma dari karya para siswa dan santri Qudsiyyah yang menjadi andalan.

Ratusan masyarakat berbondong-bondong menyerbu stand ini. Selain stand kaligrafi juga yang menjadi andalan adalah stand falak. Di sini dipamerkan berbagai macam alat falak yang menjadi rujukan dan pameran, diantara theodolit untuk meneropong hilal dan sebagainya. Secara umum kegiatan ini sangat meriah dengan peserta kemah juga berasal dari sekitar 15 ambalan dari tamu undangan di sekolah MA/SMA sekitar.(*)

MERINTIS “ASNAWIYAH” MENJADI SHOLAWAT NASIONAL NU

QUDSIYYAH, JOMBANG – Qudsiyyah Kudus berupaya terus melestarikan dan mengembangkan ajaran-ajaran dari pendiri dan sesepuh Qudsiyyah Kudus. Salah satu yang terus digencarkan adalah dengan memopulerkan Sholawat Asnawiyah, karya pendiri madrasah Qudsiyyah, KHR Asnawi di level nasional.

Selain aspek kesenian melalui Grup Rebana Al Mubarok Qudsiyyah, yang selalu memopulerkan Sholawat Asnawiyah, Qudsiyyah Juga berupaya mengenalkan Sholawat kebangsaan ini di kancah nasional. Salah satunya melalui pameran dalam Muktamar ke 33 Nahdlatul Ulama, di Jombang pada 1- 5 Agustus 2015.

Dalam pameran tersebut, Qudsiyyah mengambil peran untuk mengenalkan karya-karya KHR Asnawi yang merupakan salah satu pendiri NU dari Kudus. Salah satu karya monumental KHR Asnawi adalah sholawat Asnawiyah, dimana dalam liriknya merupakan wujud kecintaan dan nasionalisme KHR Asnawi terhadap Indonesia. Dalam teks sholawat Asnawiyah tersebut beliau berharap negeri ini selalu aman, damai dan masyarakatnya sejahtera, menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.

Melalui pameran tersebut, diharapkan masyarakat luas semakin mengenal karya pendiri NU, Sholawat Asnawiyyah, dan juga semakin mengenal lembaga Pendidikan Qudsiyyah. Madrasah Qudsiyyah ini merupakan Madrasah yang didirikan oleh KHR Asnawi pada tahun 1919 M, sebelum beliau mendirikan ponodk pesantren Raudlatut Tholibin. Upaya lain untuk memopulerkan sholawat Asnawiyah juga dilakukan para alumni Qudsiyyah, utamanya mereka yang duduk di dalam jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama tingkat pusat. Harapannya, sholawat pendiri NU ini menjadi salah satu sholawat “wajib” di ormas dengan jumlah angngota terbesar di Indonesia ini.

Dalam pameran di Mukatamar NU tersebut, Qudsiyyah bekerjasama dengan Yayasan masjid, Menara dan Makam sunan Kudus (YM3SK) dan menempati salah satu lokasi standa di komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selain karya sholawat, berbagai keunggulan Qudsiyyah juga ditampilkan di sana, mulai dari penerbitan almanak (kalender), yang sejak lima tahun terakhir menyusun sendiri, kitab-kitab Qudsiyyah, yang merupakan karya asli dari para Masyayikh Qudsiyyah, produk jurnalistik karya santri, seperti majalah dan bulletin, hingga foto-foto Qudsiyyah tempo dulu, juga menghiasi stand Qudsiyyah Kudus. (*)

QUDSIYYAH KUDUS, SONGSONG SATU ABAD

QUDSIYYAH, KUDUS – Semenjak lahir pada 1919 M yang didirikan oleh KH Raden Asnawi, Madrasah Qudsiyyah sudah meluluskan ribuan santrinya. Hingga menjelang satu abad berdirinya kini, banyak hal yang dipersiapkan oleh pihak Qudsiyyah, salah satunya dari Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ).

Sebagaimana disampaikan Ketua IKAQ, DR. H. M. Ihsan, mengajak kepada alumni di berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam mengadakan kegiatan dalam rangka satu abad Qudsiyyah Kudus, membantu sesuai bidang masing-masing.

Pihaknya menjelaskan, banyak kegiatan yang akan disiapkan dalam rangka peringatan satu abad Madrasah yang didirikan oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu.

“Penulisan buku satu abad pengajian akbar, lomba, dakwah keliling, bazar, halaqoh, sepeda santai, dan lain sebagainya,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan dalam Halalbihalal IKAQ di halaman MTs Qudsiyyah, Kamis (30/7/2015) siang.

“Oleh karena itu, dalam rangka menyongsong satu abad ini, kami harap kepada semua alumni Qudsiyyah dimohon partisipasinya agar pelaksanaan peringatan satu abad Qudsiyyah bisa sukses sesuai dengan harapan para masyayikh (guru-guru sepuh-red),” tambah dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus itu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) KH Nadjib Hassan dalam sambutannya menegaskan, bahwa Halalbihalal bukanlah puncak dari kegiatan alumni, tetapi peran besar dari alumni adalah bagaimana menjaga keutuhan terutama di dalam menjaga aqidah Aswaja NU.

“Jangan sampai setelah keluar dari Qudsiyyah mengikuti aliran-aliran yang bertentangan dengan Aswaja NU. Kita itu punya Guru Besar yang namanya Mbah Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU), kenapa mengikuti guru-guru aneh yang tidak jelas sanad keilmuannya,” jelasnya.

Peran yang tidak kalah penting, lanjut Kiai Nadjib, mengangkat perekonomian para alumni. “Untuk itu, dua pokok tugas yakni aqidah dan perekonomian yang sangat penting diperhatikan untuk saat ini,” ujar mantan Ketua Paguyuban Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa itu.

Dalam halal Bihalal tersebut, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH M Sya’roni Ahmadi. Dalam pesannya beliau menekankan pentingnya meneladani metode dakwah Nabi Muhammad SAW. Mustasyar PBNU dari Kudus mencontohkan metode dakwah Nabi saat Fathu Makkah, dimana masyarakat Mekah ditaklukkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan diplomasi yang menarik. Sehingga masyarakat berduyun-duyun memeluk Islam. (*)